Mahasiswa dan Revolusi Pembebasan Politik Borjuasi

Sudah 11 bulan sejak demo Rancangan Undang-Undang (RUU) serta pelemahan KPK di suarakan oleh mahasiswa, sekarang terlihat bahwa kesadaran revolusioner mahasiswa surut begitu saja dan hilang tanpa jejak. Awalnya saya percaya bahwa aksi massa yang dilakukan oleh mahasiswa sejak september 2019 merupakan upaya pembebasan dari selubung-selubung politik Borjuasi yang melekat pada perpolitikan Indonesia, tetapi siapa sangka bahwa kelas mahasiswa yang dianggap dapat membebaskan masyarakat ternyata juga mengalami reifikasi.

Dengan reifikasi yang saya maksud adalah senada dengan apa yang ditulis oleh filsuf Hongaria Gyorgy Lukacs yaitu apa yang sebenarnya hubungan antara manusia bebas kelihatan seperti hubungan antara benda. Masyarakat modern atau industri sebenarnya secara tidak sadar mereka mengalami reifikasi, seluruh hubungan antar-manusia dikuasai oleh hukum pasar, dan dipahami sebagai bentuk komoditas yang bisa diperjualbelikan. Masing-masing dari kita melihat yang lain hanya sebagai sarana untuk mendapatkan untung. Cinta, kerjasama, pertemanan, cita-cita, semua itu dilihat menurut nilai jualnya.

Moses Hess seorang filsuf Prancis pernah memperlihatkan reifikasi di dalam masyarakat modern dalam bentuk keterasingan uang.

Uang yang semula alat menjadi tujuan, sementara manusia yang semula tujuan menjadi alat –Moses Hess

Komoditas diciptakan oleh manusia, tetapi kemudian manusia lupa dan menganggap komoditas memiliki kekuatan mutlak atas proses kehidupan masyarakat. Dengan demikian hubungan antar-manusia di pahami sebagai hukum pertukaran komoditas. Itulah sebabnya mengapa mahasiswa pada bulan september 2019 mengalami kesadaran revolusioner untuk melakukan demo mengenai RUU ataupun pelemahan KPK, hal ini bukan sekedar dilakukan sebagai tuntutan moral akan kepedulian tetapi sebagai bentuk bahwa mahasiswa melihat negara yang didalamnya terdiri dari para birokrasi sudah mengalami reifikasi.

BACA JUGA: Intip Kisah O, Mahasiswa UI Yang Berjuang Melawan COVID-19

Kekuasaan, hubungan antara politisi, koalisi partai, perumusan undang-undang, lembaga-lembaga pemerintah, semua itu telah jatuh dalam reifikasi dimana semua dilakukan hanya dalam rangka mencapai keuntungan politis. Kelas mahasiswa sadar akan reifikasi di dalam masyarakat modern, mahasiswa berusaha mengambil inisiatif untuk membebaskan reifikasi yang terjadi di dalam kekuasaan negara serta masyarakat.

Mengapa mahasiswa mempunyai inisiatif membebaskan masyarakat serta negara dari reifikasi? Hal itu dikarenakan hanya mahasiswalah yang mempunyai kesadaran revolusioner. Bagaimana kesadaran revolusiner muncul dalam kelas mahasiswa? Kesadaran revolusioner mahasiswa merupakan hal yang muncul secara spontan dikarenakan mahasiswa adalah satu-satunya kelas yang terisolasi dari proses berjalannya masyarakat.

Revolusi Mahasiswa (savanapost.com)

Kelas mahasiswa adalah kelas intelektual serta terisolasi sehingga dapat mengamati proses reifikasi yang terjadi dalam negara serta masyarakat modern, mahasiswa adalah kelas yang terisolasi dari kekuasaan, terisolasi dari segala kepentingan pragmatis, serta kelas ilmuwan yang dapat secara objektif mengamati dari atas proses reifikasi yang terjadi di masyarakat karena mereka terisolasi.

Itu sebabnya saya menganggap demo RUU ataupun pelemahan KPK tersebut sebagai awal dari kesadaran revolusioner untuk pembebasan dari reifikasi, tetapi melihat keadaan sekarang dimana proses reifikasi makin menjadi-jadi dan mahasiswa diam saja, membuat saya berfikir bahwa sebenarnya mahasiswa juga tercemar dengan ideologi borjuasi dan mengalami juga proses reifikasi.

BACA JUGA: 4 Stigma Ini Nggak Bisa Lepas dari Mahasiswa Sastra Indonesia

Jika kita melakukan analisis secara mendalam, pada kenyataannya mahasiswa adalah kelas sosial yang dipersiapkan untuk mengisi posisi-posisi kelas dalam masyarakat modern. Mereka datang memasuki universitas tidak dengan maksud untuk melakukan emansipasi dan pembebasan terhadap masyarakat melainkan justru para mahasiswa datang ke kampus dengan maksud menjadikan diri mereka sarana eksploitasi borjuasi.

Mereka dengan rela diperbudak oleh borjuasi untuk diperas tenaga kerjanya untuk menghasilkan keuntungan bagi borjuasi, hal ini karena mahasiswa juga menyenangi segala hal yang berbau komoditas, kekuasaan, dan uang yang juga memang disenangi oleh borjuasi.

Mahasiswa tidak datang ke universitas dengan motif menghacurkan kelas-kelas borjuasi tetapi justru ingin merasakan bagaimana menjadi kelas borjuasi. Itulah sebabnya mengapa kampus selalu memiliki visi yang sesuai dengan industri (yang mana tempat para borjuasi melakukan eksploitasi). Visi atau nilai-nilai kampus disesuaikan dengan basis material ekonomi borjuasi yang kapitalistis.

Intinya yang mau saya sampaikan adalah bahwa saya menganalisis bahwa kelas mahasiswa tidak dapat di jadikan tulang punggung bagi revolusi untuk membebaskan masyarakat serta negara yang telah mengalami reifikasi. Saya juga bertanya-tanya, akankah kita terus menerus mengalami keterasingan dan berhubungan sosial menurut pola komoditas? Semoga terdapat kelas-kelas sosial yang memang bisa diharapkan menjadi pembebas masyarakat modern dan negara dari reifikasi.

BACA JUGA: Serba-Serbi Kartu Tanda Mahasiswa UI, Canggihnya Bukan Main

Referensi

https://plato.stanford.edu/entries/lukacs/

https://www.coursera.org/lecture/international-relations-theory/rise-of-neo-marxism-zgEtd

https://www.hetwebsite.net/het/schools/neomarx.htm

https://www.researchgate.net/post/Post_modernism_neo_marxism_and_the_social_sciences_The_consequences

Kuliah Jurusan Filsafat Adalah Keputusan Cerdas Untuk Lepas Dari Kedangkalan Kehidupan

Tentu banyak dari kita ketika ingin memasuki perguruan tinggi maka kita akan menimbang-nimbang mengenai jurusan apa yang sebaiknya saya ambil? Masing-masing orang ketika dari kecil sudah punya cita-citanya sendiri, mungkin ada yang ingin menjadi dokter, atau mungkin ada yang ingin menjadi seorang politisi, seorang pengacara, hakim, jaksa, reporter, penerjermah, perawat, dan lain-lain.

Cita-cita tersebut ingin diraih karena beberapa alasan dan kebanyakan alasan adalah karena mungkin pekerjaan-pekerjaan tersebut menjamin kehidupan, menghasilkan banyak uang, atau mengikuti saran dari orang tua, mencari kekayaan, kenyamanan hidup, dan lain-lain. Tapi sebenarnya ada sesuatu yang sudah melekat pada kita dan kita tidak perlu mencari-cari hal itu, semua orang sudah memilikinya ketika lahir, tanpa perlu mewujudkannya kita sudah mempunyainya, apa itu? Yaitu identitas kita sebagai manusia.

BACA JUGA: FIB UI ber-MPKT-B(isa iya, bisa enggak), Mahasiswa Sastra, Budaya dan Filsafat UI Belajar Ilmu Kimia-Fisika?

Mungkin hal ini akan terdengar bodoh bagi kalian jika saya mengatakan mengapa saya harus menjadi manusia? Mengapa saya harus menjalani kehidupan? Atau mungkin bahkan mengapa saya mempertaruhkan seluruh hidup saya untuk bekerja dan mencari uang yang secara akal sehat hanyalah sebuah kertas dan bernilai karena sebuah kesepakatan antara manusia? Kenapa saya harus menjadi seorang dokter, politisi, pengacara, hakim jaksa, reporter, penerjemah, perawat, dan lain-lain? Seandainya saya telah masuk perguruan tinggi terhebat, mendapatkan pekerjaan yang saya cita-citakan, memiliki kekayaan yang banyak, kenyamanan hidup, dan lain-lain, apakah jika semua itu tercapai akan dapat menjelaskan keberadaan saya sebagai manusia?

Para pembaca mungkin menganggap pertanyaan-pertanyaan diatas adalah pertanyaan bodoh. Hal ini terjadi karena kita biasanya tenggelam di dalam urusan-urusan umum dan duniawi tanpa merenungi alasan kita menjalani kehidupan. Pada nyatanya kita hidup hanya sekejap mata, untuk kemudian tenggelam di telan zaman dan dilupakan sama sekali. Apakah kehidupan kita yang sekejap ini benar-benar ingin digunakan untuk mencari hal-hal yang bersifat dangkal? Lihatlah lorong waktu di depan dan dibelakangmu, panjang tak bertepi di depan dan dibelakangnya.

Banyak orang-orang yang sudah menyadari pentingnya pertanyaan-pertanyaan diatas, orang-orang ini berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan segenap kemampuan manusiawi mereka. Siapa orang-orang tersebut? Mereka adalah para filsuf-filsuf, mereka selalu bertanya bukan sekedar alasan keberadaan manusia tetapi para filsuf ini secara radikal bertanya tentang struktur dasar realiatas? Tentu para filsuf ini bertanya mengenai hal-hal tersebut tanpa imbalan apapun baik kertas yang disebut uang yang dangkal ataupun sekeping logam berwarna yang dapat berkarat. Para filsuf menyadari ada yang lebih penting dari hal-hal dangkal tersebut. Bertanya dan bertanya adalah pekerjaan para filsuf, bukan sekedar bertanya pertanyaan tertutup dan tetapi bertanya dalam upaya menggerus dasar-dasar realitas.

Filsuf A: Bagaimana pengetahuan itu mungkin bagi manusia?

Filsuf B: Karena adanya pengalaman

Filsuf A: Bagaimana pengalaman di mungkinkan bagi manusia?

Filsuf B: Karena adanya indra-indra yang mempersepsi realitas.

Filsuf A: Apakah seluruh pengetahuan kita hanya didasarkan pada indra kita?

Filsuf A: Jika iya, apakah setiap indra dari makhluk hidup dapat menghasilkan persepsi yang sama terhadap realitas?

Filsuf A: Apakah ketika saya melihat meja di depan saya, akan menghasikan gambaran yang sama di pikiran seekor semut yang melihat meja, atau seekor macan yang melihat meja?

Filsuf A: Bukankah ketajaman mata manusia, semut, dan macan berbeda?

Filsuf A: Tidakkah dengan begitu persepsi yang dihasilkan juga akan berbeda?

Filsuf A: Tidakkah ini berarti pengetahuan saya mengenai meja di pikiran saya berbeda dengan di pikiran semut dan macan dikarenakan gambaran meja yang dipersepsi juga berbeda akibat ketajaman mata yang berbeda?

Filsuf A: Lalu apakah dunia dan realitas itu benar-benar eksis independen dan apakah pengetahuan yang kita miliki benar-benar mencerminkan realitas?

Para filsuf selalu bertanya-bertanya hingga ke akar dari realitas tersebut dan hal ini tanpa disadari oleh para filsuf akan menghasilkan berbagai manfaat yaitu lahirnya ilmu-ilmu.

Ilmu fisika dibangun dari asumsi filosofis bahwa ada yang namanya dunia fisika dan bekerja berdasarkan prinsip mekanis. Psikologi dibangun dari asumsi filosofis bahwa manusia memiliki keadaan mental yang terkadang disebut kejiwaan. Antropologi dibangun dari asumsi filosofis bahwa manusia adalah makhluk berbudaya dan simbol. Sosiologi dibangun dari asumsi filosofis bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Ilmu hukum dibangun dari asumsi filosofis bahwa manusia merupakan makhluk egois sehingga perlu hukum untuk membendung ke-egoisan tersebut.

Patung Socrates (sumber: medium.com)

Lucunya ilmu hukum dan ilmu sosiologi sebenarnya mempunyai asumsi filosofis yang bertentangan dan kontradiksi tetapi tidak ada yang menyadarinya, sosiologi dibangun dari asumsi manusia makhluk sosial, ilmu hukum dibangun dari asumsi manusia makhluk egois, tapi dua ilmu ini dapat bekerja beriringan di dunia akademisi tanpa ada yang menyadari kedua ilmu ini memiliki asumsi filosfis yang berbeda. Banyak para pakar hukum, mahasiswa hukum, mahasiswa sosiologi belajar dengan nyaman tanpa mengetahui bangunan dasar dari ilmu mereka memiliki asumsi filosofis yang berbeda.

Sebenarnya saya dapat menyebutkan lebih banyak dasar asumsi filosofis dari ilmu-ilmu, tetapi saya rasa akan terlalu bertele-tele dan saya hanya ingin mengatakan bahwa filsafat sesuatu yang harus di pelajari bagi siapa saja yang sadar bahwa sayang sekali kehidupan dihabiskan hanya dengan mencari hal-hal dangkal seperti uang, harta, dan lain-lain, tanpa mencari tahu hakikat realitas.

Perenungan dan pencarian realitas tersebut sangatlah berguna atau bahkan berkat para filsuf yang merenungi struktur dasar realitas kita bisa menghasilkan tumpukan ilmu pengetahuan. Perenungan tersebut di lakukan tanpa imbalan apapun kecuali atas dasar rasa ingin tahu, memang seperti itu cara bekerjanya sesuatu yang menghasilkan manfaat. Kita sudah sering mendengar para motivator dan orang sukses yang mengatakan jika kamu ingin sukses maka jangan bekerja dengan mengharapkan imbalan tetapi lakukanlah tanpa pamrih. Para filsuf adalah orang yang melihat cahaya di dalam kegelapan dan alasan ini lebih cukup bagi siapapun untuk mempelajari dan dengan demikian mengambil kuliah jurusan filsafat dalam upaya terlepas dari kedangkalan kehidupan.

BACA JUGA: Perspektif Mahasiswa UI Yang Menikah Saat Masih Berkuliah

Referensi gambar header: Philosophy Club

Dilema Agama Politeisme dan Monoteisme (Suatu Refleksi Filosofis)

dilema agama politeisme monoteisme

Apakah agama ada terlebih dahulu dibandingkan manusia atau manusia lebih dahulu ada dibandingkan dengan agama?Apakah agama hasil wahyu atau sekedar proyeksi manusia?

Pertanyaan yang sangat menarik dan sangat penting dalam segi intelektual. Tetapi bertolak secara deduktif sangatlah sulit, yang bisa kita lakukan adalah bertolak secara induktif dan melihat sejarah agama. Agama dari dulu hingga sekarang sebenarnya dapat di bagi dua kategori yaitu politeisme dan monoteisme, dua agama ini telah mempengaruhi manusia di segala abad baik peperangan maupun perdamaian.

Saya akan berusaha memberikan refleksi filosofis mengenai politeisme dan monoteisme dalam kontelasi sejarah manusia.

Agama politeisme adalah agama asali yang lebih dahulu ada dibandingkan dengan agama monoteisme. Pada zaman primitif banyak dari manusia menciptakan dewa-dewanya masing-masing. Dewa-dewa dalam agama politeisme selalu digambarkan dengan wujud-wujud berhingga yang terdapat di dalam alam empiris. Dewa zeus, dewa poseidon dan dewa-dewa yunani lainnya selalu digambarkan secara antropomorfisme yaitu berwujud manusia.

Uniknya dewa-dewa Yunani yang digambarkan secara antropomorfisme sangat mirip dengan ciri fisik orang-orang yunani. Dan jika kita bertolak kepada orang-orang Cina yang beragama politeisme, dewa mereka juga sangatlah mirip dengan ciri fisik orang Cina.

BACA JUGA: Filsafat Cinta Eksistensialis Gabriel Marcel

Dari refleksi induktif ini kita bisa mengatakan bahwa dewa-dewa dalam agama politeisme adalah proyeksi manusia belaka, mengapa? karena tidak mungkin Tuhan digambarkan dalam benda-benda berhingga yang terdapat di dalam alam.

Seorang filsuf dari kolophon yaitu Xenophanes pernah juga berkata:

“Jika bangsa Etiopia disuruh menggambarkan Tuhannya, maka Tuhannya itu akan berkulit hitam dengan hidung pesek, jika bangsa Thracia disuruh menggambarkan Tuhannya maka akan dihasilkan Tuhan yang berambut pirang dan bermata biru. Bahkan jika kuda dan sapi bisa menggambar, maka dia akan menggambarkan Tuhannya mirip kudan dan sapi juga”

Tetapi kendati dewa-dewa dalam agama politeisme hanyalah proyeksi manusia belaka ternyata suasana pada saat umat manusia memeluk agama politeisme sangatlah toleran dibandingkan pada saat umat manusia memeluk agama monoteisme.

Agama-agama (sumber: islam.nu.or.id)

Tuhan di dalam agama monoteisme sangatlah berbeda dengan agama politeisme, Tuhan dalam agama monoteisme tidaklah bergambar ataupun memiliki rupa dengan benda-benda di alam empiris. Maka dari itu kita tidaklah dapat mengatakan agama monoteisme adalah proyeksi manusia belaka seperti yang terjadi di dalam agama politeisme, satu-satunya kemungkinan adalah Tuhan dalam agama monoteisme berasal dari wahyu oleh sosok trasenden itu sendiri.

Tetapi ironinya kendati Tuhan dalam agama monoteisme bukanlah Tuhan hasil proyeksi masalahnya suasana keagamaan pada saat manusia memeluk agama monoteisme lebih berdarah dan tidak sangat toleran dibandingakan dengan politeisme. Pada saat umat manusia menganut politeisme, dunia sangatlah tenteram dan toleran, antara suku dengan suku lain tidak meributkan agama masing-masing karena mereka bisa menciptakan dewa-dewanya sendiri-sendiri.

BACA JUGA: Apa Kabar Kerukunan Umat Beragama di Indonesia?

Tetapi ketika agama monoteisme lahir dimana dalam pandangan monoteisme hanya ada satu Tuhan, suasana toleran tersebut hilang, bahkan puncak tidak toleran dari agama monoteisme tergambarkan jelas dalam sejarah yaitu dengan terjadinya perang salib. Agama monoteisme juga mengajarkan sikap untuk tunduk terhadap Tuhan dan merasa tidak berdaya di hadapan Tuhan. Sikap tersebut membuat manusia lemah dan membuat manusia lari dari realitas sesungguhnya, agama menjadi semacam sikap menyerah diri dan lari dari dunia yang penuh dengan pertentangan dan kompetisi. Sikap sepeti itu sangatlah tidak mendidik manusia menjadi dewasa.

Jadi kita disini melihat dilema yang terjadi antara politeisme dan monoteisme. Benar-benar sangat ironis, agama politeisme yang merupakan ciptaan manusia lebih dapat menghasilkan suasana toleran dibandingkan dengan agama wahyu yaitu monoteisme.

Tulisan ini dimaksudkan dalam rangka akademis dan tidak untuk tujuan lainnya, penulis dalam membuat tulisan ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Filsuf David Hume mengenai analisisnya terhadap agama. Penulis dalam mempelajari pemikiran David Hume dibantu oleh para Dosen di Universitas Indonesia. Sekali lagi penulis memaksudkan tulisan ini untuk tujuan akademis dan tidak untuk tujuan lainnya

Daftar Pustaka

 Kennedy Sitorus,Fitzerald. “Sang Skeptis Radikal David Hume”. Komunitas Salihara (2016):14-17

Ari Yuana, Kumara. 100 Tokoh Filsuf Barat dari Abad 6 SM- Abad 21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis. (Yogyakarta : C.V ANDI OFFSET, 2010)

Sumber gambar header: Different Religion

Filsafat Cinta Eksistensialis Gabriel Marcel

Cinta, kata yang terdiri dari 5 huruf ini telah memiliki banyak sejarah di dalam kehidupan manusia. Baik itu kebahagiaan maupun kejahatan selalu terjadi karena alasan cinta.

“Apa itu cinta? Mengapa saya mencintai seseorang? Apakah cinta itu penting untuk diperjuangkan?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan filosofis dari cinta. Mungkin dari kalian yang sedang jatuh cinta, ada baiknya kalian mengerti dulu apa yang dimaksud cinta dan mengapa cinta itu sangat penting.

Ada satu orang filsuf yang telah merenungi apa arti cinta di dalam kehidupan, filsuf tersebut adalah Gabriel Marcel (1889-1973) yaitu seorang filsuf terkenal dari Prancis. Jika kita baca buku asli karangan Gabriel Marcel, mungkin sangatlah abstrak dan rumit terutama ada beberapa kosakata yang hanya dapat dimengerti dalam bahasa Prancis dan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan terdapat banyak penyimpangan makna. Sementara itu, penulis di sini akan berusaha menuangkan pemikiran Gabriel Marcel dalam bahasa Indonesia dikarenakan tulisan ini digunakan untuk khalayak umum di Indonesia.

Konsep Kehadiran

Sebelum membahas tentang cinta ada baiknya kita memahami dulu mengenai arti kata “presence” yaitu kehadiran. Gabriel Marcel mengatakan bahwa kehadiran bukanlah berada di dalam kategori ruang dan waktu. Keberadaan di dalam kategori ruang dan waktu tidak menyiratkan saya mengalami kehadiran. Sebagai contoh, saya duduk di dalam kereta yang penuh dengan penumpang tidak menyiratkan kehadiran saya, yang artinya belum berarti saya hadir bagi mereka atau mereka bagi saya. Bisa jadi seseorang yang berkomunikasi sebenarnya tidak mencapai tahap kehadiran karena tidak ada kontak sungguh-sungguh atau tidak ada ketertarikan.

Seseorang dikatakan mengalami kehadiran bagi saya jika saya mengarahkan diri terhadap dia begitupun sebaliknya dia mengarahkan diri kepada saya. Komunikasi yang terjadi antara saya dan dia jika mencapai tahap kehadiran berbeda dengan objek-objek lainnya. Saya dan dia merasa sebagai persona sehingga saya tidak melihat dia sebagai objek dan dia tidak melihat saya sebagai objek juga, kami saling tertuju pada persona masing-masing.

Bahkan kehadiran pun dapat diwujudkan ketika antara saya dan dia tidak pada kategori ruang yang sama yang artinya berjauhan. Kehadiran inilah yang terjadi di dalam cinta.

Di dalam cinta selalu ada kehadiran dan kehadiran tersebut terwujud dalam kesatuan “kita”

Menurut Gabriel Marcel kesatuan “kita” di dalam cinta tidak mungkin dipisahkan, bahkan seandainya ruang dan waktu pun memisahkan. Di dalam kesatuan “kita” yang saling mencintai akan selalu merasakan kehadiran masing-masing. Mencintai selalu mengandung imbauan kepada masing-masing.

filsafat cinta
Sumber: freepik.com

Di dalam cinta harus ada kesediaan untuk mendengarkan sehingga masing-masing bersedia untuk meninggalkan tahap egoismenya. Kebersamaan di dalam cinta akan berlangsung terus dan Marcel menyebutnya dengan kesetiaan kreatif.

BACA JUGA: Tuhan Memang Satu, Kita Saja Yang Tak Sama

Di dalam cinta yang ada hanyalah harapan dan bukan keinginan

Penting sekali untuk membedakan antara harapan dan keinginan. Keinginan selalu menyiratkan egoisme yaitu ingin memiliki orang lain karena menguntungkan. Sementara itu harapan tidaklah menyiratkan egoisme melainkan kesediaan untuk terbuka dan tertuju pada yang dicintai.

Misalnya saya mencintai Anis bukan karena Anis cantik, pintar, menyenangkan, soleh, dan lain-lain melainkan saya mencintai Anis karena dia adalah Anis yang artinya tertuju pada engkau. Itulah yang namanya cinta, bukan keinginan melainkan harapan.

Cinta dan cinta :v (Sumber: pinterest.com)

Cinta itu adala upaya untuk mewujudkan eksistensi manusia didalam kerangka “Kita”, itu sebabnya manusia selalu tertarik dengan cinta, bukan karena sekedar memenuhi kebutuhan seksual melainkan karena cinta adalah upaya kita untuk berada sebagai persona.

Jika kita membaca pemikiran Gabriel Marcel mengenai cinta sebenarnya sangatlah panjang dan penulis dalam hal ini hanya berusaha menyingkat pemikiran Gabriel Marcel mengenai cinta pada intinya saja. Silakan para pembaca merenungi sendiri arti cinta bagi diri masing-masing. Cinta terkadang tidak dapat dimengerti di dalam kerangka teori melainkan hanya dapat di mengerti dengan menghayatinya dan mengalaminya. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang mau menyempatkan merenungi arti cinta bersama penulis dan penulis berharap pembaca bukanlah jomblo :v.

BACA JUGA: Buku Pesta dan Cinta ala-ala Universitas Indonesia

Daftar Referensi

Van der Weij, P.A.2018. Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia.( Cetakan ke-4). Terjemahan oleh Dr.K.Bertens. Jakarta:PT.Gramedia Pustaka Utama.

Bertens.K.2019. Filsafat Barat Kontemporer.( Cetakan ke-6). Jakarta:PT.Gramedia Pustaka Utama

Kritik Terhadap Epistemologi Thomas Aquinas

Tulisan ini dibuat oleh penulis sebagai respon atas pembacaan karya Thomas Aquinas terutama mengenai justifikasi kebenaran. Penulis berharap tulisan ini bisa memicu diskursus filsafat di Indonesia dan jika kiranya pembaca dan penulis memiliki tafsir berbeda mengenai pemahaman terhadap Thomas Aquinas maka penulis hanya bisa mengatakan bahwa setiap realitas selalu mempunyai multi tafsir. Karya ini juga saya persembahkan untuk orang yang saya cintai yang mungkin suatu hari namanya akan disebut.

Kebenaran merupakan tema utama dari epitemologi Thomas Aquinas dan menurut Aquinas kebenaran ontologis dapat diketahui oleh manusia. Thomas Aquinas mendefinisikan kebenaran adalah kesesuaian antara akal dan realitas. Untuk mengetahui kebenaran menurut Aquinas akal harus menyesuaikan dengan realitas yang dipersepsinya. Tetapi disini saya ingin mengkritik pandangan Aquinas yang rancu itu.

Kebenaran ontologis tidaklah dapat diketahui dan dibicarakan oleh manusia, mengapa? karena kita tidak punya perangkat yang dapat mengenali ontologi realitas, yang kita bisa bicarakan hanyalah kebenaran epistemologi bukan kebenaran ontologi. Persepsi yang diterima oleh indra kita sudah selalu dibubuhi oleh kategori-kategori yang ada didalam pikiran kita. Layaknya sebuah kacamata hitam yang selalu kita kenakan membuat kita melihat realitas dunia menjadi berwarna hitam. Mungkin pembaca sulit membayangkan tentang kategori-kategori itu maka saya akan menjelaskannya. Untuk memahami kategori yang ada didalam pikiran kita maka kita harus bertanya apakah pensil yang saya lihat dimata saya sama dengan ketika seekor kucing melihat pensil tersebut ? Apakah Meja yang saya lihat di kelas sama dengan pandangan seekor semut ketika melihat Meja? Pertanyaan seperti ini sangat sulit  dijawab ketika Immanuel Kant belum menerbitkan karyanya yang terhebat yaitu “Kritik Atas Akal Budi Murni.”

Setelah Kant menerbitkan bukunya tersebut kita menyadari bahwa persepsi manusia sangatlah terbatas. Apa yang dipersepsi manusia hanyalah fenomena atau gambaran mental yang selalu sudah dibubuhi oleh kategori-kategori yang terdapat didalam pikiran manusia. Dunia yang saya lihat adalah dunia penampakan bukan dunia sebagaimana sesungguhnya. Disinilah tamparan keras terhadap Epistemologi Thomas Aquinas yang mendefinisikan kebenaran adalah kesesuaian antara akal dan realitas dan kebenaran ontologi dapat diketahui. Pemikiran seperti Aquinas sangatlah absurd karena yang namanya realitas tidaklah dapat dibicarakan dan diketahui, yang kita lihat dan yang kita dapatkan dari persepsi hanyalah gambaran mental bukan realitas an sich sesungguhnya. Persepsi hanyalah tiruan atau copy dari objek melainkan bukan sebagaimana objek sebenarnya, lalu kita pasti bertanya-tanya didalam hati apakah jagad raya yang kita pikirkan dengan seluruh teori-teorinya hanyalah jagad raya ciptaan kita bukan sebagai mana jagad raya sebenarnya? Tepat sekali, jagad raya yang kita pikirkan bukanlah ontologi realitas melainkan epistemologi realitas yaitu realitas yang kita ketahui dari persepsi yang sudah dipengaruhi oleh kategori bukan realitas an sich.

Jagad Raya Ilusi

Richard Tarnas (Sumber: slideslive.com)

Richard Tarnas seorang sejarawan budayawan yang masih hidup sampai sekarang pernah mengatakan “Didepan mata manusia itu ada lensa yang memfilter penglihatan, lensa itu dipengaruhi oleh nilai, pengalaman, keterbatasan, trauma, dan harapan. Maka, kata Tarnas, yang ada dibenak manusia itu bukanlah jagad raya yang sebenarnya melainkan sesuatu jagad raya ciptaan manusia.

Memang kita manusia terkadang dapat memprediksi sebagian kejadian-kejadian dan fenomena-fenomena di alam ini tetapi kita jangan lupa adanya krisis ekologi dan banyaknya kejadian yang belum dapat dijelaskan oleh manusia menunjukkan bahwa jagad raya dalam akal dan pikiran kita adalah jagad raya ciptaan manusia bukan jagad raya sebagaimana sesungguhnya. Maka dari itu pandangan epistemologi Thomas Aquinas yang mengatakan kebenaran ontologis dapat direngkuh bahkan dapat diketahui oleh manusia sangatlah absurd, mengapa? karena kita tidak pernah punya akses terhadap ontologi realitas.

Thomas Aquinas harus mengetahui bahwa manusia selalu melakukan kebiasaan mereduksi realitas menjadi realitas yang sederhana sehingga apa yang manusia lihat didalam kerangka pemikirannya bukanlah realitas an sich sesungguhnya tetapi hanyalah ciptaan manusia semata yang sudah direduksi menjadi sederhana. Contohnya adalah permasalahan momentum, Apakah kalian pikir jumlah momentum sebelum tumbukan akan selalu sama dengan jumlah momentum sesudah tumbukan? Apakah tidak dipengaruhi oleh faktor lainnya, misalnya gaya gesek udara, gaya gesek permukaan, kita cenderung mengabaikan variabel gaya gesek didalam permasalahan momentum benda supaya perhitungan menjadi lebih mudah dan sederhana, kebiasaan dan  sikap seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa manusia selalu memotong dan mereduksi realitas itu sendiri menjadi realitas yang dinginkannya? Pada akhirnya ontologi realitas memang tidak dapat direngkuh oleh manusia.

Dulu di zaman Yunani (didalam mitologi Yunani) ada seorang raja yang dianggap sebagai raja yang bijaksana, nama raja itu adalah Procrustes. Setiap malam raja tersebut akan mengundang satu rakyatnya untuk tidur diranjang emasnya. Malam-malam si raja mengintip rakyatnya yang sedang tidur. Kalo tubuh rakyatnya itu lebih panjang dari panjang kasurnya si raja maka akan digergaji kakinya dan kalo lebih pendek maka  kakinya akan ditarik supaya fit dan proper atau pas dengan panjang kasurnya si raja. Melihat dari cerita itu Procrustes melayani rakyatnya dengan ukurannya sendiri padahal rakyatnya mempunyai ukurannya masing-masing. Persis seperti itulah manusia, seolah-olah manusia adalah Procrustes itu sendiri yang selalu memotong dan mereduksi realitas dengan ukurannya sendiri padahal realitas itu mempunyai ukurannya masing-masing. Manusia hanya dapat membuat model-model untuk realitas yang sebenarnya model itu sudah jauh dari realitas an sich sebenarnya. Jelas kita tidak dapat menyalahkan manusia, Mengapa? karena gejala Procrustes itu bukan disebabkan oleh manusia itu sendiri melainkan memang kelemahan persepsi manusia yang  selalu sudah dibubuhi kategori-kategori sehingga bergantung pada model-model.

BACA JUGA: Roh dan Materi Dalam Perspektif Filsafat Materialisme

Realitas Palsu

Stephen Hawking dan Leonard (Sumber: http://blog.bigpicturescience.org/2018/04/big-picture-science-hawkingravity-leonard-mlodinow-working-with-hawking/)

Diceritakan oleh Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow bahwa pada suatu waktu, walikota Monza melarang penduduknya untuk memelihara ikan maskoki didalam akuarium cembung. Alasannya, hal itu akan membuat penglihatan sang ikan terdistorsi sehingga hanya dapat melihat realitas dalam perspektif dan model garis lengkung. Ini merupakan kejahatan dan penipuan terhadap ikan sehingga sang ikan tidak akan dapat melihat realitas sesungguhnya.

Anggaplah ikan itu adalah manusia dan akuarium cembung itulah indra kita  yang sudah selalu dibubuhi kategori-kategori. Apakah realitas dalam perspektif garis lengkung yang dilihat ikan adalah salah si ikan atau manusia? Tentu tidak, kesalahan itu terjadi karena kita menempatkan ikan tersebut didalam akuarium cembung (persepsi indra) selama ikan itu berada didalam akuarium cembung (persepsi indra) maka seumur hidupnya dia tidak akan bisa melihat realitas an sich sesungguhnya dan itu merupakan suatu kejahatan.

Reduksi realitas ini selain akibat dari keterbatasan persepsi manusia juga disebabkan oleh asimetri epistemik. Apa itu asimetri epistemik? Asimetri epistemik adalah gap didalam pengetahuan kita dimana dunia pengalaman atau empiris memanglah sangat acak dan tidak pasti. Kerangka kita selalu menganggap dunia ini teratur dan tertata tetapi realitas sebenarnya sangatlah acak dan tidak dapat diprediksi. Contohnya adalah sejarah yang selama ini ada di buku-buku sejarah yang dianggap teratur dan tertata sebenarnya tidak sedemikian sebagaimana kita bayangkan. Sejarah bukanlah perjanjian antara umat manusia untuk menentukan masa depan tetapi sejarah adalah faktor-faktor dan variabel-variabel yang acak dan unobservable yang secara spontan ternyata membentuk realitas, itulah yang dimaksud sejarah.

Pada akhirnya kita sadar betul bahwa ontologi realitas tidak dapat diakses sehingga konsekuensinya kebenaran ontologis sebagaimana diharapkan oleh Thomas Aquinas tidak dapat diketahui. Yang dapat selalu dapat diketahui manusia hanyalah realitas epistemologis yaitu dunia penampakan bukan dunia an sich sesungguhnya. Jadi sebenarnya kebenaran dalam perspektif epistemologi Thomas Aquinas sangatlah absurd.

BACA JUGA: Anak Harusnya Dididik dengan Pertanyaan dan Kritisisme!

DAFTAR PUSTAKA

Sitorus, Fitzerald Kennedy. “Filsafat Kritisisme Kant.” Komunitas Salihara (2016) :6-10

Sitorus, Fitzerald Kennedy. “Rasionalisme.”Komunitas Salihara (2016) :23-24

Sitorus, Fitzerald Kennedy. “Empirisme/Skeptisisme.” Komunitas Salihara (2016) :7-13

Amirullah. “Krisis Ekologi: Problematika Sains Modern.“  Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Samarinda (2015) :3-17

Hawking, Stephen dan Leonard Mlodinow. 2010. The Grand Design (New York: Bantam Books)

Pratama, Herdito Sandi. “Realisme Bergantung-pada-Model.“ Departemen Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, untuk kelas Epistemologi.

Taleb, Nassim Nicholas. 2010. The Bed of Proscustes (New York :Random House)

Pratama, Herdito Sandi. “Skeptisisme Empiris.” Departemen Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, untuk kelas Epistemologi.

Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat Ilmu : Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan ( Bandung : PT Remaja BosdaKarya)

Bonjour, L., 1992. “Externalism/internalism” in E. Sosa & J. Dancy (eds.), A Companion To Epistemology, Oxford: Blackwell, pp. 132–136.

Sumber Gambar Thomas Aquinas