FKM UI Bebas Rokok

Pada tanggal 10 September 2007, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mengeluarkan surat keputusan tentang FKM UI sebagai Kawasan Tanpa Rokok. Surat Keputusan Bernomor 156/SK/FKMUI/2007 itu berisi Tentang Larangan bagi setiap orang di lingkungan FKM … Baca Selengkapnya

Yuk, Intip Warna-Warni Anak RIK dibalik Gedung Putih-nya!

Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK) mungkin terdengar sedikit asing di kalangan anak-anak mahasiswa universitas lain, tapi tidak untuk kampus kuning Universitas Indonesia. Secara akademik, UI sendiri sebenarnya terbagi ke dalam tiga rumpun ilmu besar yaitu saintek, soshum, dan kesehatan. Rumpun Ilmu Kesehatan ini memang sengaja dibedakan dengan ilmu saintek yang mana terdiri dari 5 fakultas kesehatan, yaitu: Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Farmasi, dan Fakultas Ilmu Keperawatan. Kelima fakultas tersebut sekarang berkumpul di satu gedung besar RIK dan seringkali berintegrasi bersama dalam pembelajarannya.

Nah, kalau berkunjung ke gedung RIK otomatis kamu akan menemui anak-anak RIK dari berbagai fakultas. Hal itu tentunya tak jarang membuat kita susah membedakan dari fakultas mana mahasiswa itu berasal. Padahal itu cukup penting lho kalau misalkan kalian berniat untuk stalking cogan atau cecan (cewek cantik) RIK. Nah, anakui.com mau kasih bocoran tentang tipe-tipe anak RIK buat kamu berdasarkan hasil survey kecil beberapa anak ui.

 

Fakultas Kedokteran

Cadok (via bunchoffeeling)

Mahasiswa kedokteran di universitas manapun memang selalu jadi idaman di kampusnya, apalagi kalo FK UI. Nah anak FK di UI itu sebenarnya mudah banget lho untuk dikenali. Anak-anak FK ini biasanya selalu berpakaian rapi, celana bahan, tampilannya super bersih, dan biasanya selalu memakai name tag makara hijau di dada mereka. Udah kayak dokter-dokter di rumah sakit aja ya, gengs! Selain itu, anak FK itu selalu kelihatan yang paling rajin. Walau nggak semua anak FK itu bawa buku tebel, tapi at least gadget mereka berisi buku-buku anatomi dan lain sebagainya. Jadi, jangan heran kalau kebanyakan anak FK emang mukanya agak lebih serius dan kalem dari anak-anak fakultas RIK lainnya. Tapi jangan salah, banyak juga lho anak FK yang cerewet abis!

 

Fakultas Kedokteran Gigi

Mahasiswa FKG UI dengan alat-alat andalannya (via provoke-online)

Nggak kalah rajin dari anak FK, anak-anak FKG juga merupakan mahasiswa-mahasiswa terajin di RIK. Masih sama bersih dan rapinya, anak FKG memang lebih banyak senyum. Mungkin karna unjuk gigi kali ya (?) Nah, bedanya dengan anak FK, anak FKG biasanya lebih cengegesan. Tapi, mereka tetap jago dalam hal belajar dan menghapal anatomi, terutama anatomi mulut dan gigi. Memang seringkali cukup susah untuk membedakan anak FK dan FKG karena kebanyakan memiliki tipikal yang hampir sama.

 

BACA JUGA: Artikel ini Membantu Kamu Menjawab Pertanyaan, “Anak FK Masih Sering Bolak-Balik Depok-Salemba nggak Sih?

 

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Teman-teman FKM UI dengan ciri khas warna ungu nya (via anakui.com)

Turun aksi? Anak FKM jagonya! Fakultas ungu ini memang agak sedikit berbeda dengan fakultas-fakultas lain di RIK. Mungkin karena ilmunya yang lebih sosial daripada fakultas-fakultas lainnya kali ya. Anak FKM yang mayoritas perempuan ini, dibandingkan dengan fakultas di RIK lainnya terbilang lebih santai. Tidak semua berpakaian rapi ala anak RIK yang diwajibkan menggunakan pakaian bahan. Kalau kamu main ke RIK dan menemukan anak-anak dengan bawahan jeans atau menggunakan kaos, sudah pasti itu anak FKM. Selain itu, biasanya anak FKM adalah para ukhti berhijab yang sholehah nan anggun. Anak FKM biasanya juga lebih berisik dibanding anak-anak RIK lainnya.

 

Fakultas Farmasi

Fakultas Farmasi Berprestasi (via uiupdate)

Butuh obat pelipur lara? Kalau ini cuma anak farmasi yang punya. Fakultas Farmasi ini bisa dibilang punya proporsi yang seimbang antara mahasiswa dengan mahasiswinya. Nah, anak farmasi ini juga terbilang anak-anak yang terlihat santai di RIK. Masih sesuai dengan penampilan anak RIK, anak farmasi biasanya selalu terlihat rapi. Sayangnya, anak-anak farmasi memang seperti jarang terlihat di kawasan RIK. Mungkin mereka sibuk mengobati hati yang terluka.

 

Fakultas Ilmu Keperawatan

Kaka-kaka perawat FIK ramah-ramah banget ya (via okkmabimfikui2016)

Last but not least, fakultas yang siap merawatmu 24 jam setiap hari, yaitu Fakultas Ilmu Keperawatan. Fakultas yang mahasiswanya rajin bawa-bawa box P3K, alat-alat kesehatan, dll ini memang sedikit banyak mudah dikenali. Ngomong-ngomong, FIK ini jadi saingan FKM lho, karena sama-sama sedikit mahasiswa cowoknya. Nah, anak-anak FIK ini biasanya kalem-kalem dan sabar-sabar. Mungkin karena mereka nantinya akan menjadi perawat-perawat handal yang harus menghadapi kegalauan hidupmu kali ya.

 

BACA JUGA: Kira-Kira Seperti Apa ya Kalau Awkarin Beneran jadi Anak FKUI?

 

Itu tadi tipe-tipe anak RIK UI ala anakui.com. Satu hal yang paling gampang banget sih untuk membedakan anak RIK dengan fakultas-fakultas lainnya di UI adalah pakaian mereka yang rapi dan formal. Nah, sekarang pasti sudah bisa memastikan dong anak fakultas mana yang kalian incer tadi. Semoga tipe-tipe tadi mencerahkan pilihan anda ya! Happy stalking!

Stereotype Fakultas yang Sering Kita Denger di UI – Bagian 1

Beberapa hari yang lalu anakui.com lewat official account sempat menanyakan pendapat temen-temen mengenai stereotype apa aja sih yang terbentuk di mahasiswa-mahasiswanya mengenai fakultas-fakultas yang ada di UI? Nah, kali ini anakui.com akan mengelaborasi mengenai hal tersebut, memadukannya menjadi satu, biar stereotype tersebut makin melekat di masyarakat. Gak deng, biar stereotype tersebut kalo baik ya semoga tambah berfaedah, kalo buruk ya semoga pergi jauh-jauh. Hehehehe.

Yuk, langsung aja dibaca!

FIB

“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang! via pujiekalestari
“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang! via pujiekalestari

Nah, dari sekian banyak pesan yang masuk, yang curhat mengenai FIB ini paling banyak. Kenapa, ya? Mungkin paling banyak terkena stereotype masyarakat kali, ya? Atau karena gak ada kerjaan saking santainya makanya nge-chat mulu? Entahlah. Katanya, anak FIB itu tukang pesta, rokok di mana-mana, gak ada dua anak yang rambutnya sama (lol, mungkin semuanya warna-warni rambutnya), dan selalu ada baazar! Bener sih, beberapa kali dalam sebulan kalo kamu lewat FIB pasti nemuin aja tuh tenda tenda makanan bertebaran.

Dan yang paling sering dibilang orang-orang adalah…

“Yaelah lo mah enak FIB belajar bahasa doang!

“BASI!”

Tau gak sih, belajar sastra dan budaya itu gak semudah apa yang kalian bayangin loh!

 BACA JUGA: Fakultas Teristimewa Di UI? Ya, FIB Jawabannya. Emang Ada yang Lain?

FISIP

Katanya, anak muda banget lah pokoknya kalau FISIP via bem.fisip.ui.ac.id
Katanya, anak muda banget lah pokoknya kalau FISIP via bem.fisip.ui.ac.id

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini melekat dengan mahasiswanya yang keren-keren, nyentrik, super kritis akan masalah sospol di sekeliling kita, tapi sayangnya… males-males. Ah masa iya semuanya males sih? Bener gak tuh? Tapi ya kalo diliat-liat, anak FISIP tuh kayanya paling menikmati masa-masa kuliah di kampus deh, anak muda banget lah pokoknya.

 

FKM

Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas via nohanarum
Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas via nohanarum

Sering dipelesetin jadi Fakultas Kebanyakan Muslimah/Fakultas Kurang Mas-Mas. Yak, katanya sih emang kebanyakan ukhti-ukhti di sini. Eh tapi gak juga kok, banyak juga yang gak kerudungan baik cewek maupun cowok (yaiyalah!) Ada juga yang bilang kalo sekarang FKM dibenci perokok wkwkw. Iya, mungkin gara-gara usulan harga rokok yang menjadi Rp50 ribu per bungkus itu merupakan kajian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI ini kali, ya.

 

FEB

Katanya orang-orangnya ambisius via rri
Katanya orang-orangnya ambisius via rri

Anaknya sih kata orang-orang pada ambisius semua. Hmm, iya juga sih kalo kita lihat secara sekilas, gak tau kalo kebenarannya gimana. Menurut gue sendiri sih, FEB merupakan salah satu fakultas yang selalu totalitas dalam menyelenggarakan suatu acara; JGTC, contohnya. Bayangin aja, meski bukan merupakan proker BEM UI, di masyarakat udah terbentuk mindset dan stigma bahwa JGTC ini merupakan acara yang khas UI banget, saking megah dan berkelasnya!

Nah empat dulu aja ya, gimana? Biar penasaran dan pada nungguin gitu, hehehehehe. Kalo kamu punya masukan mengenai stereotype fakultas kamu, boleh banget chat di Official Line anakui.com (@tkg4665m). Ditunggu ya!

Isu Kenaikan Harga Rokok Rp50 Ribu Per Bungkus ini Ternyata Kajian Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Loh!

Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan isu kenaikan harga rokok yang meningkat jauh menjadi Rp50 ribu per bungkusnya. Tentu saja, hal ini menjadi perbincangan hangat di semua kalangan, baik perokok maupun bukan perokok. Soalnya kalau usulan ini telah ditetapkan menjadi sebuah kebijakan, pasti akan banyak hal yang terkena dampak positif maupun negatifnya.

Temen-temen tau gak, sih? Ternyata usulan kenaikan harga rokok ini dicetuskan oleh Profesor Hasbullah Thabrany, Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI loh! Berdasarkan hasil survei penilitian yang dilakukan beliau, didapatkan bahwa Rp50 ribu per bungkus itu merupakan harga yang ideal untuk mencegah pelajar dan orang miskin merokok.

 

Isu kenaikan rokok via infokediri
Isu kenaikan rokok via infokediri

Pengumpulan data dilakukan sejak Desember 2015 – Januari 2016 dengan jumlah responden 1.000 orang. Hasilnya, 82 persen responden setuju harga rokok dinaikkan. Bahkan, 72 persen responden menyatakan setuju harga rokok dinaikkan menjadi di atas Rp50 ribu untuk mencegah pelajar merokok.

“Hasil survei menjadi viral tidak bisa dikontrol. Memang kenyataannya Indonesia juara dunia tingkat perokok tertinggi, yakni sudah mencapai 34-35 persen dari total penduduk. Dari jumlah itu, 67 persen perokok laki-laki dan perempuan 4 persen. Oleh karena itu jumlahnya harus dikendalikan dan salah satu caranya adalah dengan menaikkan harganya,” ucap beliau.

Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan, jumlah perokok pemula (usia 10–14 tahun) naik dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Pada 2001 jumlahnya hanya 5,9 persen, pada 2010 naik menjadi 17,5 persen.

Yup, kalau dilihat dari segi kesehatan, tentu kenaikan harga rokok ini akan berdampak baik bagi masyarakat sehingga pembeli rokok, terutama pelajar maupun orang yang kurang mampu, akan berhenti merokok. Akan tetapi, kebijakan tidak semata-mata dibuat dan dikaji dari satu aspek saja, bukan? Pasti aspek lain, terutama ekonomi juga terkena dampaknya karena hal ini berkaitan dengan harga dan pendapatan negara.

Apabila dilihat dari aspek ekonomi, kenaikan harga rokok ataupun cukai pasti berdampak pada seluruh mata rantai dalam industri tembakau nasional seperti petani, pekerja, pabrikan, pedagang, dan konsumen. Terlebih lagi, kondisi industri dan daya beli masyarakat akan berubah seiring dengan kenaikan harga rokok tersebut.

Kebijakan cukai yang terlalu tinggi akan membuat rokok menjadi mahal sehingga tidak sesuai dengan daya beli masyarakat. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat yang tinggi akan rokok tetapi tidak memiliki kondisi ekonomi yang cukup memadai, akan dimanfaatkan oleh beberapa oknum untuk menjual produk rokok ilegal yang dijual dengan harga sangat murah karena mereka tidak membayar cukai.

Jumlah perokok pemula naik 2 kali lipat dalam 10 tahun terakhir via ROZAQ
Jumlah perokok pemula naik 2 kali lipat dalam 10 tahun terakhir via ROZAQ

Dengan tingkat cukai saat ini, perdagangan rokok ilegal telah mencapai 11,7 persen dan merugikan negara hingga Rp9 triliun. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan upaya pengendalian konsumsi rokok, peningkatan penerimaan negara, dan perlindungan tenaga kerja. Bisa dibayangkan apabila dengan harga rokok yang sekarang saja tingkat perdagangan rokok illegal telah mencapai 11,7 persen, bagaimana nanti apabila harga rokok menjadi Rp50 ribu rupiah?

Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani, menerangkan bahwa beliau telah mengetahui kajian soal rokok yang dibuat Fakultas Kesehatan Masyarakat UI tadi. Namun, beliau menegaskan bahwa tarif cukai dan harga jual eceran akan disesuaikan dengan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017 yang sedang dibahas. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara pun menjelaskan bahwa hingga saat ini Pemerintah masih membahas besaran kenaikan cukai rokok tahun depan.

Kesimpulannya, berita kenaikan harga rokok menjadi seharga Rp 50 Ribu ini masih dalam tahap kajian dan belum ditetapkan menjadi kebijakan. Berbagai pihak baik dari bidang kesehatan maupun bidang ekonomi juga masih berdiskusi atas usul ini untuk mendapatkan jalan tengah dan keputusan yang bijaksana. Nah, kalau menurut kamu, baiknya gimana sih biar meminimalisir efek negatif yang timbul dari rokok itu sendiri? Yuk diskusi bareng-bareng di kolom komentar!

5 Profesor yang Diabadikan Sebagai Nama Jalan di Kawasan Kampus UI

Enam tahun yang lalu, tepatnya bulan Juni 2009, 19 tokoh Indonesia dari berbagai bidang, terutama pendidikan, diabadikan namanya menjadi nama-nama jalan di dalam kompleks UI Depok. Dari 19 tokoh itu, kami ambil lima tokoh untuk dibahas pencapaian dan kontribusinya bagi UI dan Indonesia sehingga dijadikan nama jalan di UI.

Ir. R.M. Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo

Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo. (Sumber: Wikipedia)
Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo. (Sumber: Wikipedia)

Kalau kamu tahu Pusat Pendidikan Kelautan FMIPA (kalau nggak tau, sana sering-sering main sama bikun dan anak asrama) jalan yang ada di depannya itu dinamai dengan nama rektor pertama Universitas Indonesia, Ir. Raden Mas Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo? Beliau merupakan sarjana teknik kimia lulusan Sekolah Tinggi Teknik bagian Kimia Delft, Belanda, tahun 1920. Tahun segitu, baru beliau, tuh, yang jadi sarjana teknik kimia. Selain menjabat sebagai rektor pertama UI pada tanggal 2 Februari 1950 (tanggal ini dijadikan hari kelahiran UI), beliau juga pernah menjabat menjadi Menteri Keuangan dan Menteri Kemakmuran Indonesia. Perannya juga signifikan dalam menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia dan pembentukan UI.

 

Prof. Dr. Mr. Soepomo

MR Supomo (Sumber: kebudayaanindonesia)
MR Supomo (Sumber: kebudayaanindonesia)

Tokoh ini, featuring Moh. Yamin dan Ir. Soekarno, adalah perumus UUD 1945 yang tiap hari Senin waktu zaman kamu masih pake baju putih merah sampai putih abu-abu, dibacain pembukaannya dengan nada yang sama persis dari Sabang sampai Merauke. Tokoh ini juga muncul di buku-buku sejarah SD dengan nama Mr. Soepomo. Beliau juga merupakan Menteri Kehakiman pertama Indonesia, loh! Gimana nggak, orang dia ikut bikin UUD-nya?

Mr. Soepomo juga merupakan lulusan perguruan tinggi di Belanda dan dibimbing langsung oleh Cornelis van Vollenhoven, seorang profesor hukum yang juga merupakan konseptor PBB. Mr. Soepomo menjabat sebagai rektor UI periode 1951-1954 dan digantikan oleh Bahder Djohan.

 

Prof. Dr. Ir. Sumantri Brodjonegoro

Sumantri Brodjonegoro.  (Sumber: Wikipedia)
Sumantri Brodjonegoro. (Sumber: Wikipedia)

Pernah main ke Kuningan? Bukan yang di Jawa, yang di Jaksel itu. Nah, kalau pernah, harusnya kamu tahu Stadion Soemantri Brodjonegoro di Kuningan situ, terus kamu pasti nggak asing dengan nama tokoh yang satu ini. Beliau adalah Menteri Pendidikan Indonesia ke-14 dan juga merupakan rektor ke-6 UI sekaligus rektor termuda UI sepanjang sejarah, umurnya baru 38 tahun sewaktu dilantik menjadi rektor. Menjabat selama hampir 9 tahun dalam dua kali periode (1964-1968 dan 1968-1973), Ir. Sumantri merupakan rektor UI dengan masa jabatan terlama sepanjang sejarah. Namanya dijadikan nama jalan yang melintas di depan Stadion UI.

Sama seperti Ir. R.M. Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo, Ir. Sumantri Brodjonegoro juga merupakan lulusan teknik kimia dan juga salah satu guru besar teknik kimia ITB.

 

Prof. Dr. Selo Soemardjan

Selo Soemardjan. (Sumber: Wikipedia)
Selo Soemardjan. (Sumber: Wikipedia)

Merupakan sebuah dosa besar bagi mahasiswa FISIP jika tidak mengetahui tokoh ini, dosanya segede bikun. Prof. Dr Selo Soemardjan merupakan pendiri sekaligus dekan pertama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI. Ia mendapatkan gelar profesor dari Fakultas Ekonomi UI dan hingga akhir hayatnya mengajar di Fakultas Hukum UI.

Sebagai Profesor utama Sosiologi, beliau merupakan ‘penasihat’ sosial kemasyarakatan di bawah Sultan Hemengkubuwono IX dan X. Nama beliau diabadikan menjadi nama jalan yang menjadi pemisah antara FISIP UI dan FIB UI.

 

Prof. Dr. Miriam Budiardjo

Miriam Budiardjo. (Sumber: tomtomdj)
Miriam Budiardjo. (Sumber: tomtomdj)

Dosa besar lainnya bagi mahasiswa FISIP UI, terutama mahasiswa jurusan Ilmu Politik, jika tidak mengenal tokoh ini. Beliau merupakan penulis buku wajib FISIP se-Indonesia, yaitu Pengantar Ilmu Politik dan Dasar-dasar Ilmu Politik. Beliau juga pernah menjabat sebagai dekan FISIP UI serta merupakan diplomat perempuan pertama Indonesia. Iya, itu buku tebel yang warna sampulnya biru itu. Tuh, ‘kan ada nama beliau.

Ahli politik, Prof. Dr. Miriam Budiardjo juga pernah bertugas di New Delhi dan di Washington D.C. sebagai diplomat. Nah, selain aktif di luar, tokoh yang akrab disapa Ibu Mir ini juga berperan pada peristiwa mundurnya Soeharto pada Mei 1998, yang mengakhiri Orde Baru. Berdasarkan biografinya yang ditulis di tokohindonesia.com, Ibu Mir sendiri yang menyampaikan hasil Simposium Kepedulian UI terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia, yaitu meminta kesediaan Soeharto selaku Presiden RI saat itu untuk mengundurkan diri: “Menyambut baik kesediaan Bapak (Soeharto) untuk mengundurkan diri dari jabatan presiden…”

Keren nggak tuh? Kalo kata anak basket: In Your Face. Kalo kata anak 9gag: like a sir.

Wafat pada tahun 2007 pada usia 83 tahun, nama Prof. Dr. Miriam Budiardjo diabadikan menjadi nama salah satu jalan di dalam kompleks UI Depok.

Nggak nyangka kan, nama-nama jalan yang mungkin pernah kamu liat atau denger itu ternyata se-awesome itu? Kalau kamu baru tahu bahwa nama itu bukan nama tokoh sembarangan, yuk, buruan share artikel ini via Facebook, Twitter, dan Line, supaya temen-temen lain yang mungkin belum tahu soal ini. Ini penting loh!

 

SEXTION HEALTH CELEBRATION

SEXTION HEALTH CELEBRATION (Sexual Reproduction Health Celebration) Acara Sextion Health Celebration ini merupakan acara tahunan yang dilaksanakan organisasi independen di FKM yaitu Rumah Panda FKM UI dalam rangka memperingati  Hari HIV/AIDS sedunia yang setiap tanggal … Baca Selengkapnya

Gebyar Nurani

  1. Pasar Gebyar Nurani 2. Talkshow and Tutorial Hijab class Latar Belakang: Trend hijab sedang naik daun saat ini, padahal pada dasarnya hijab, jilbab, kerudung adalah hal yang sama, hanya berbeda dalam penyebutan atau … Baca Selengkapnya

Public Health Expo (PHE) 6

Cita-cita kami ingin adanya sebuah jaminan untuk kesehatan masyarakat Indonesia Jaminan kesehatan yang merata dan menyeluruh Jaminan kesehatan yang bukan hanya sebagai tindakan pengobatan dan rehabilitasi Jaminan kesehatan yang juga mencakup tindakan pencegahan dan promosi … Baca Selengkapnya

Training E-SPT

  Pelatihan elektronik e-SPT PPh Badan adalah pelatihan e-SPT PPh Badan yang berbentuk simulasi pelatihan e-SPT menggunakan aplikasi (software) khusus e-SPT yang dipandu oleh seorang pelatih berpengalaman di bidang pengisian e-SPT. setiap peserta akan ditemani … Baca Selengkapnya