Hal-hal Ini yang Bakal Kamu Temuin Kalau Jalan di Barel UI

Gak ada anak UI yang gak tau Barel. Barel atau Belakang Rel adalah istilah untuk menyebut gang kecil nan panjang yang menghubungkan Jalan Margonda Raya dengan UI dengan memotong jalur UI, karena jalurnya emang bener-bener di belakang rel stasiun UI.

Ada yang punya teori bahwa daerah itu sebenernya masih merupakan teritorial kober meskipun beberapa percaya bahwa kober itu daerah seberang Margonda. Ada juga yang menyatakan bahwa resminya Barel itu masih dalam teritori Pondok Cina, as in alamatnya masih termasuk Pondok Cina, Depok. Tapi, kita semua mengenalnya sebagai barel, tempat magis untuk belanja berbagai kebutuhan mahasiswa. Magis? Iya. Coba aja.

BACA JUGA: Untuk Kamu yang Sering Melintasi Gang Sawo/Kober di Belakang Stasiun UI, Apakah Menyadari Hal Ini?

 

Toserba of the Century

Ibaratnya, semua dagangan ada di Barel. Mirip kayak pasar malem via klikhotel
Ibaratnya, semua dagangan ada di Barel. Mirip kayak pasar malem via klikhotel

Ya, kamu yang fancy pasti prefer belanja di l’avenue Champs-Élysées di Paris atau Galleria Vittorio Emanuele II di Milan. Namun, magisnya Barel bukan karena fancy dan kawan-kawannya, tapi karena begitu lengkap isinya. Coba sebutin, kamu mau apa?

Fashion? Mereka jual baju, ada yang khusus UI, bahkan bisa pesen di situ sekalian pesen tas, jaket, atau cangkir. Ada jasa laundry yang jual belt, tas, pelindung tas, payung, jam tangan bahkan kacamata.

Keperluan akademik? Kamu bisa menemukan buku, apa pun itu untuk keperluan kamu.  Tukang buku sampai hapal kamu butuhnya apa, dan dia hapal hampir segala jenis buku yang dia jual, which is lebih dari ratusan judul. Tempat fotokopi sampe ada empat di jalur itu sendiri, termasuk tempat print dan juga jual peralatan tulis. Apa aja ada!

Aksesoris teknologi? Bung, situ bisa dapet berbagai jenis headset dan earphone, dari yang 15 ribu sampe yang Bluetooth, keyboard dan mouse buat iseng atau bahkan buat gaming, dari mini SD card, flashdisk sampai harddisk sekalipun. Kamu juga bisa dapet aksesoris buat aksesoris kamu. Ada pelindung kabel earphone dan charger dan lain sebagainya. Bahkan ada yang bisa menservis komputer kamu mulai dari masalah baterai sampai ke layar, bahkan harddisk internal juga!

Bahkan ada toko yang jual literally semuanya, earphone-headset-flashdisk-Panadol-Decolgen-lem UHU-spidol-kertas gambar-balon dekorasi-pajangan-alat tulis-tisu, dan, DAAN! Dan mereka bisa transaksi pake kartu kredit. Isn’t that something?

 

Live Music

Sambil belanja, sambil dengerin live music
Sambil belanja, sambil dengerin live music

Berawal dari satu-dua pengamen, kemudian jadi ramai. Kamu bisa mendengarkan berbagai lagu, dari dangdut sampai jazz, dari pagi (sekitar pukul 7 mereka udah on air) sampai sekitar pukul sepuluh malam! Ada yang main gitar, harmonica, clarinet, contrabass, bahkan saxophone! Saxophone, Bung. Kamu bisa milih-milih buku atau milih-milih makanan atau sekadar milih mau beli apa, sambil menikmati live music. Dan kalau kamu suka lagunya, kasih lah. Apresiasi.

 

Wisata Kuliner

Inilah gerbang utama yang membuat kamu bisa nikmatin banyaknya kuliner di Barel via robincorba
Inilah gerbang utama yang membuat kamu bisa nikmatin banyaknya kuliner di Barel via robincorba

Ada warung nasi, ada restoran padang, ada yang jual berbagai macam sate (udang, bakso), ada yang jual seblak, nasi goreng, donat, kue-kue, gorengan, pempek, kue cubit, somay, batagor, otak-otak, dan lain sebagainya! Nikmatin aja deh itu, kamu kalo ngekos sekitaran situ, kamu bisa milih sesukanya mau beli apa. Awas duit abis dan berat badan naik aja.

 

Outbound

Sesuai dengan namanya, Barel emang dekat dengan rel kereta antara Pocin dan UI via robincorba
Sesuai dengan namanya, Barel emang dekat dengan rel kereta antara Pocin dan UI via robincorbal

 

Ya, tempatnya bisa jadi tempat outbound. Kalau kamu datang ke Barel ketika hujan ataupun setelah hujan, itu tempat akan menjadi ajang buat kamu untuk menikmati outbound grtis. Well, berkat ada pembangunan dari PT KAI di deket Barel situ, dan betapa penuhnya barel ketika jam-jam tertentu, Barel bisa dibilang telah berubah menjadi arena haling rintang ala gameshow klasik Jepang, Benteng Takeshi. Ya, selamat bersenang-senang belanja di sana!

Gimana, ada hal lain yang belum disebutin tentang Barel, atau mau memperkenalkan Barel pada dunia? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line!

Fenomena Traffic Light UI

 

Udah lihat lampu lalu lintas aka Traffic Light UI yang ada di depan halte Stasiun UI? Nah, kali ini BMKG mau membahas fasilitas ini dari sudut pandang mahasiswa, karena BMKG kurang gawean.

 

Asal muasal

Asal mausal
Asal muasal

Asal muasal, atau bahasa kerennya Traffic Light U: Origin (berasa judul film), diakibatkan peliknya situasi di lokasi tersebut pada momen-momen tertentu, seperti sekitaran pukul 8 pagi dan sekitaran pukul 4 sore dan 6 sore. Seberapa pelik? Peliknya itu bisa sampai dibilang rusuh, macam bola muntahan di kotak penalti dengan sepuluh orang berebut itu bola. Agak nyebelin emang, kalau dipikir.

Pukul 8 pagi, sekitaran seratus orang mahasiswa berusaha dateng gak telat-telat amat. Mereka itu ada yang naik mobil, ada yang jalan, dan ada yang naik kereta lalu ada yang naik bikun. Nah, berebut lah mereka. Ada yang nunggu bikun dan berbaris dengan riang di sepanjang jalan, ada yang berusaha menerobos pager betis penunggu bikun karena mau nyebrang, ada mobil yang kehalangan mereka yang mau nyebrang, atau ada bikun yang ngalang-ngalangin semua orang yang mau nyebrang.

BACA JUGA: Susahnya Naik Bikun, Gara-gara Mahasiswa Egois yang Berdiri Di Dekat Pintu

Awalnya dipekerjakan beberapa pegawai lalu lintas (bukan polantas, bukan juga satpam tampaknya), tapi gak efisien dan gak terlalu ngebantu juga. Malah ada beberapa satpam yang miskoordinasi dan gak ngerti kapan saatnya menyebrangkan dan kapan saatnya membiarkan mobil lewat. Dan para pegawai lalu lintas ini juga hanya hadir pagi hari dan sore hari, gak bisa terus-terusan hadir ‘melayani’ pengguna lalu lintas. Entah ide dari mana, muncullah lampu lalu lintas yang cuma merah dan hijau itu.

 

Penting?

Seberapa pentingnya untuk mahasiswa UI? via PetaDepok
Seberapa pentingnya untuk mahasiswa UI? via PetaDepok

Penting gak sih? Penting sih penting, tapi ga selalu terlihat penting ga’ sih? Oke ketika hectic macam pukul 8 pagi memang penting karena semuanya tentu harus mematuhi aturannya si lampu supaya gak berebut dan tetep lancar. Tapi ketika bukan masa hectic, itu lampu cuma jadi gurauan belaka.

BACA JUGA: Demonstrasi yang Egois

Kadang itu lampu merah buat para penyebrang padahal gak ada mobil, jadi pejalan kaki ya nyebrang aja. Kadang hijau buat mobil tapi mobil malah ngalah dan memberikan pejalan kaki jalan, atau pejalan kaki ada yang batu udah tau merah masih jalan terus mobil juga jadi ikut bingung. Penting memang untuk keteraturan, namun sedih ketika melihat banyak mereka yang berlalu lalang udah terbiasa nyebrang seenak jidat. Langkah yang baik dari UI menyediakan itu tapi kurang disambut baik oleh kelakuan dan kebiasaan mereka yang sering lewat.

 

Efisien?

Apakah dengan adanya traffic light jadi efisien? via moertiannisa
Apakah dengan adanya traffic light jadi efisien? via moertiannisa

Kalau bahas efisiensi, sebenernya ada yang aneh dan harus dipertanyakan. Kombinasi pegawai lalu lintas dan lampu lalu lintas itu bagus, efektif. Teratur karena selain ada lampu, ada pegawai lalu lintas juga yang bisa negur mereka yang nyebrang atau nyetir seenaknya. Namun jadi gak efisien karena itu lampu tetep nyala ampe malem, dan pegawai hanya ada di jam-jam tertentu.

BACA JUGA: Cara Melamar Pekerjaan ke Banyak Perusahaan dengan Efisien

Kalau berpikiran positif, kelak semua bakal nurut sama lampu lalu lintas dan pegawai pun akan tidak diperlukan lagi, akan lebih efisien kalau cuma ada satu fasilitas. Tapi terus pegawainya mau dikemanain?

 

Realita

Apakah fungsinya sudah digunakans ecara baik? via inspirazis
Apakah fungsinya sudah digunakans ecara baik? via inspirazis

BMKG merasa kenyataannya lampu lalu lintas dan pegawainya sangat membantu. Namun, yang jadi permasalahan adalah pembatas-pembatas jingga yang mempersulit pejalan kaki untuk lewat. Pembatas itu tujuannya agar tidak ada yang parkir, tapi malah jadi menghalangi. Akan menarik kalau petugas lalu lintas yang punya pos persis di depan halte itu terus berjaga supaya tidak ada yang parkir, jadi pembatas jingga itu bisa disingkirkan supaya gak menghalangi dan petugas lalu lintas bisa hadir dan bertugas kalau bukan nyebrangin, ya mencegah orang parkir di depan halte. Lebih efisien dan gak mengganggu. Tapi gini juga udah lumayan kece, setidaknya zebra cross-nya lurus dan gak belok-belok. Saran doang sih, BMKG mah tau apaan. Cuma kurang gawean doang.

Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line, siapa tau kenyamanan pengguna lalu lintas di UI bisa lebih ditingkatkan dan efisien, dan mungkin mahasiswa UI lain punya ide yang lebih baik dan bisa sekalian menyuarakan idenya!