Anak UI, Kalau Kalian Sakit, Begini Caranya Berobat di PKM

Hayoo siapa di antara kalian anak UI yang sering sakit waktu di kosan atau di asrama terus bingung mau berobat ke mana? Soalnya penulis masih sering nih nemuin anak UI yang ngekos atau tinggal di asrama dan masih bingung harus berobat ke mana waktu sakit. Hey, masa sih kalian masih bingung? Kampus kita kan punya PKM yang sekarang terletak di Klinik Satelit UI, depan Fakultas Teknik UI!

Dengan banyaknya kegiatan semasa kuliah di kampus perjuangan, apalagi jauh dari orang tua, merupakan hal wajar bagi para mahasiswa jika mengalamai sedikit gangguan kesehatan. Kepadatan kuliah dan sering sulitnya tugas yang diberikan kepada mahasiswa memang sering kali membuat mahasiswa kekurangan waktu istirahat yang berakibat buruk bagi kesehatan.

Anyway, nggak cuma mahasiswa aja sih yang bisa nikmatin pelayanan di PKM UI, staf dan masyarakat sekitar UI juga bisa loh dateng dan berobat di sana.

 

PKM itu apa sih?

PKM di sini bukan Program Kreativitas Mahasiswa loh ya, PKM itu singkatan dari Pusat Kesehatan Mahasiswa. PKM UI ditujukan untuk melayani kegiatan mahasiswa yang membutuhkan obat-obatan dan tenaga medis di kampus. PKM UI dulunya masih bertempat di Rumpun Ilmu Kesehatan, tapi semenjak Klinik Satelit UI selesai dibangun 2015 lalu, PKM UI dipindahkan ke sana.

 

Pelayanannya apa aja?

Layanan yang diberikan PKM UI antara lain pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan gigi, pengobatan umum, ambulans, general check up, rontgen, tes buta warna, tes dahak/lendir, tes darah, tes feses, tes jantung, tes narkoba, tensi darah, tes urin, dan vaksinasi tetanus teksoid. Selain itu, bertempat di Klinik Satelit UI, kita juga bisa konsultasi kesehatan mental. Pelayanan yang dilakukan Badan Konsultasi Mahasiswa (BKM) UI itu berupa memberikan solusi bagi kesehatan mental para mahasiswa dengan dilayanai oleh psikiater UI.

 

BACA JUGA: Mental Illness, Salah Satu Penyebab Hidup menjadi Kelabu yang Masih Dianggap Tabu

 

Gimana caranya?

Mahasiswa UI bisa langsung datang ke PKM secara pribadi atau dirujuk oleh pimpinan fakultas di kampus makara. Tapi perlu diingat, untuk bisa menikmati pelayanan kesehatan di PKM dan BKM UI, kita harus terlebih dahulu menjadi anggota PKM UI, guys.

Jangan khawatir, buat kamu yang belum menjadi anggota, caranya gampang banget, yaitu dengan mendaftar di bagian administrasi (loket PKM) untuk membuat kartu anggota. Pembuatan kartu anggota ini membutuhkan Kartu Tanda Mahasiswa dan foto ukuran 2×3 sebanyak dua buah. Setelah kamu penuhi semua berkas yang dibutuhkan, kalian resmi jadi anggota PKM UI dan bisa menikmati layanan di PKM UI.

 

Waktu Operasional?

Jam operasional PKM UI adalah Senin-Kamis pukul 08.00-18.00 (istirahat 12.00-14.00). Jumat pukul 08.00-18.00 (istirahat 11.00-14.00). Sabtu pukul 08.00-12.00. Sementara untuk hari Minggu, PKM UI tutup atau libur.

Sementara itu, para mahasiswa dan staf UI tidak dipungut biaya loh ketika berobat di PKM dan BKM UI, kecuali bagi mereka yang membutuhkan penanganan ronsen. Sedangkan, untuk masyarakat luas sepertinya sudah bisa loh pakai BPJS Kesehatan di PKM UI, sebab pada Oktober lalu para pegawai Klinik Satelit UI sudah melakukan pelatihan dan workshop Provider FKTP BPJS.

 

BACA JUGA: 56 Tahun FKGUI, “Bersatu Mengabdi Sehatkan Negeri”

 

Nah, cukup mudah bukan cara mendaftar anggota PKM biar bisa berobat di sana? Mari bagikan artikel ini di akun Facebook, Twitter, dan Line kalian biar anak UI nggak bingung lagi harus kemana waktu sakit!

Zefa, Mahasiswa Vokasi Komunikasi yang Terjatuh dari Lantai 3 Asrama UI. #YukBantuZefa

Kabar duka kembali terdengar di Universitas Indonesia, kali ini datang dari Vokasi Komunikasi. Gimana nggak, salah satu rekan kita, Zefanya Louis angkatan 2015 mengalami luka parah karena terjatuh dari lantai 3 gedung D1 Asrama UI. Zefanya atau akrab disapa Zefa ditemukan oleh petugas cleaning service Asrama UI pada Rabu, 23 November 2016 pukul 08.00. Bukan hanya itu, ketika ditemukan, tubuhnya masuk selokan sehingga tulang rusuknya patah.

“Dia ditemukan sekitar jam 8 pagi sama cleaning service dengan posisi terjatuh ke selokan dan tulang rusuknya patah,” Ujar Syita yang merupakan salah satu teman dekat Zefa.

Sampai saat ini belum bisa dipastikan penyebab Zefa sampai bisa terjatuh dan luka-luka. Zefa langsung dilarikan ke Pusat Kesehatan Mahasiswa (PKM) untuk mendapatkan pertolongan pertama. Akan tetapi karena keterbatasan alat, Zefa langsung dirujuk ke Rumah Sakit Bunda Margonda. Saat ini, kondisi Zefa sudah sadarkan diri dan masih mendapat perawatan intensif.

s__4612253
Kondisi Zefa di Rumah Sakit Bunda Margonda

BACA JUGA: Fasilitas Kampus Kurang Memuaskan? Merasa Suaramu Belum Didengar? Coba Baca Dulu Audiensi Ini

 

Rencananya, keluarga Zefa akan membawa Zefa ke RSCM karena peralatan yang tersedia di RS Bunda Margonda juga masih terbatas. Zefa membutuhkan perawatan yang lebih intensif dan butuh operasi karena tulangnya terkena paru-paru.

“Kondisinya saat ini udah sadar, tapi terakhir saya dengar dia harus dioperasi karena tulangnya kena paru-paru jadi susah nafas,” ujar Syita.

jarkom
Broadcast yang menyebarkan informasi mengenai kondisi Zefa

 

Oleh karena itu, Zefa sangat membutuhkan doa serta bantuan dari teman-teman agar kondisinya lekas membaik dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Yuk, sama-sama kita bantu Zefa! Untuk donasi dapat disalurkan melalui rekening BNI, 0429430721 atas nama Vidya. Kalau kamu belum bisa donasi, mari kita bantu Zefa dengan cara yang paling sederhana; sejenak berdoa untuk kesembuhan Zefa, semoga operasinya lancar dan segera kembali ke kampus perjuangan ya!

 

BACA JUGA: Memasuki Bulan November, UI Dikejutkan dengan Ditemukannya Mayat Bayi di Danau Agatis

Beberapa Alasan Kenapa Anak Makara Hijau itu Terkesan “WOW” Banget

Universitas Indonesia merupakan wadah bagi bibit-bibit penerus bangsa untuk mengembangkan segala minat dan bakat yang dimilikinya, agar kelak dapat menjadi generasi yang berguna bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara. Berbagai macam makara ada di sini dengan ciri khasnya masing-masing. Biru tua dengan tekniknya, merah dengan hukumnya, putih dengan budayanya, jingga dengan sosial politiknya, dan masih banyak lagi tentunya.

Ada lagi nih, makara hijau yang sudah tidak asing lagi bagi kita dan sungguh mengagumkan. Tidak lain dan tidak bukan adalah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia! Pernah gak sih temen-temen ngerasa “WOOOW” banget ketika ada satu atau beberapa temen kita yang menjadi bagian dari makara hijau ini, atau ada mahasiswa yang lewat di depan kita pake jakun bermakara hijau. Keren banget gak sih? Ya bagi yang menganggap biasa aja mungkin udah jadi dokter beneran. Tapi bener deh, kira-kira kenapa sih anak makara hijau itu bisa terkesan “WOW” banget? Berikut ulasannya!

BACA JUGA: Sudahkah Kamu Memikirkan Hal Ini dengan Serius Sebelum Jadi Anak FKUI?

 

Gak usah diragukan lagi: pinter-pinter

Gak usah diragukan lagi: pinter-pinter via bunchoffeeling
Gak usah diragukan lagi: pinter-pinter via bunchoffeeling

Semua orang pasti tau kalo masuk kedokteran itu perjuangannya gak gampang dan butuh usaha serta niat yang keras. Alhasil, mindset yang terbentuk di kepala kita adalah “Anak kedokteran pasti pinter-pinter”. Gak usah diragukan lagi sih, semua anak kedokteran pasti pinter dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Mungkin yang udah ngerasa jadi anak kedokteran bakal bilang “Ah, ga semuanya pinter kok”, tapi percayalah, pintar itu gak selalu dapet A di tiap mata kuliah, yang penting survive dan paham akan mata kuliahnya. Intinya: masuk kedokteran itu bergengsi. Hal ini dapat dibuktikan dengan passing grade Fakultas Kedokteran UI yang mencapai 59%. Meski gak bisa dijadikan tolak ukur pasti, tapi setidaknya passing grade itu bisa jadi gambaran seberapa ketat persaingan masuk sana.

 

Masa depan cerah

Masa depan cerah via pendidikankedokteran
Masa depan cerah via pendidikankedokteran

Siapa sih yang gak butuh dokter? Gue yakin dari masa ke masa orang tetap membutuhkan dokter secanggih apa pun teknologi yang ada nanti. Masyarakat butuh konsultasi dan penanganan langsung atas kesehatan dan penyakit yang mereka derita. Endless-lah pokoknya profesi dokter ini. Salah satu alasan yang menyebabkan anak FK itu terkesan “WOW” banget ya ini: mereka udah pasti kerjanya mau jadi apa, lapangan pekerjaannya terbuka luas, bikin praktik sendiri pun bisa, ya meski prosesnya super panjang dan gak segampang yang kita bayangin.

 

Seksi, memesona dengan caranya sendiri

Seksi, memesona dengan caranya sendiri via dramafever
Seksi, memesona dengan caranya sendiri via dramafever

Pernah nonton drama Korea yang pemeran utamanya berprofesi sebagai dokter gak? Di situ dokter digambarkan dengan sosok yang charming, memesona, dan seksi abis deh pokoknya. Udah pinter, charming, baik hati, kurang apalagi coba? Meski ini stereotype dan gak bisa digeneralisir secara keseluruhan, setidaknya mindset masyarakat terhadap dokter itu udah keren banget lah pokoknya. Apalagi dokter muda. Apalagi… calon dokter!

 

Tangguh: passionate abis

Tangguh: passionate abis via beritatotabuan
Tangguh: passionate abis via beritatotabuan

Perjalanan menuju gelar dr. pasti butuh jatuh bangun berkali-kali, air mata, depresi, stress, dan berbagai macam gejolak batin lainnya. Semua jurusan pasti sama kok, tapi entah kenapa FK ini punya tantangan yang lebih. Untuk mencapai gelar dr. butuh yang namanya gelar Sarjana Kesehatan (S.Kes) yang ditempuh selama 3.5-4 tahun, itu pun gak bisa langsung praktik menangani pasien secara langsung, apalagi buka klinik sendiri. Sebelum itu, harus melewati masa koass selama 2 tahun di rumah sakit tertentu dan dibimbing oleh dokter senior. Pada masa koass ini, etika dan pengetahuan selama kuliah sarjana kemarin sangatlah diuji apakah layak menjadi dokter atau tidak. Apabila lulus dalam masa koass, barulah mereka mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), baru deh sumpah dokter.

Abis itu bisa langsung praktik menangani pasien secara langsung, dong? BELUM! Setelah sumpah dokter, mereka masih harus mengikuti internship selama 1 tahun: 8 bulan di rumah sakit dan 4 bulan di Puskesmas. Pada masa internship ini kayak ada misinya gitu, misal menangani 100 kasus diare selama 1 tahun (beserta kasus lainnya dalam jumlah yang berbeda-beda). Kalo misinya gak terpenuhi, harus nambah masa internship lagi sampe semua misinya terpenuhi. Jika sudah, baru deh bisa buka praktik! Bisa juga dilanjutkan dengan mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis.

Gila, lama banget ya berarti? Normal sih… mengingat jadi dokter emang harus sungguh-sungguh, karena nantinya akan menyangkut nyawa orang banyak. Gak jarang bahwa orang-orang yang pengin banget jadi dokter udah kepengin dari waktu kecil, dan emang butuh usaha yang sungguh-sungguh buat menjadi seorang dokter. Goyah dikit, berenti di tengah jalan. Jadi orang yang menempuh pendidikan sebagai dokter gue yakin udah menimbang-nimbang manis getirnya dan gak main-main. Semangat aja ya! Apalagi kalo di UI butuh bolak-balik Depok-Salemba karena ada beberapa alat dan laboratorium yang hanya ada di Salemba UI, Jakarta Pusat. 

 

Murah hati

Rela mengorbankan tenaga dan waktunya demi orang lain via jatimpro
Rela mengorbankan tenaga dan waktunya demi orang lain via jatimpro

Terlepas dari charming, seksi, pinter, dan lain sebagainya, dokter itu murah hati. Iya, mereka rela mengorbankan tenaga dan waktunya demi orang yang gak mereka kenal, demi kesembuhan orang tersebut. Kurang murah hati apalagi coba? Dedikasinya patut diacungi jempol deh pokoknya. Belum lagi mereka harus menyampaikan berita, baik maupun buruk, in a proper way kepada pasien mereka. Hal ini nih yang bikin masyarakat nurut dan mengagumi sekali sosok seorang dokter.

Soal ada yang bilang “Lah dokter kok sakit? Calon dokter kok sakit? Gak bisa jaga kesehatan, ya?” Hey, dude, dokter bukanlah robot yang kebal terhadap segala virus maupun bakteri. Dokter juga manusia, jadi ya wajarlah sakit. Gue yakin dokter juga menjaga kesahatannya secara maksimal kok, dia tau apa yang seharusnya dilakukan.

Loh, poin-poinnya kebanyakan membahas dokter ya daripada mahasiswa makara hijau itu sendiri? Wah itu berarti secara gak langsung admin mendoakan agar kelak mahasiswa-mahasiswa FKUI menjadi para Dokter yang ideal dan berhati mulia! Aamiin. Buat yang pengen banget jadi dokter tapi sekarang kuliahnya gak di kedokteran, semoga aja dapet jodoh dokter, deh. Oops!