Hal-Hal Murah yang Bisa Kamu Lakukan Saat Malas Kuliah Menyerang

Rasa malas yang datang saat kuliah berjalan memang seperti akun UI Cantik. Bikin khilaf, tapi susah dilepaskan. Tapi akun UI Cantik masih mending, seenggaknya masih bisa di-stalk dan bisa dijadiin referensi jodoh. Lah rasa males? Udah bikin khilaf, nggak bisa di-stalk, nggak berfaedah buat jodoh pula, bah!

Memang benar kalau ada yang bilang bahwa rasa malas itu adalah hakikat kehidupan: Ia pasti ada dalam episode kehidupan manusia. Tanpa rasa malas, manusia bakal ngelakuin semuanya sendirian tanpa bekerjasama dengan orang lain karena saking semangatnya. Tanpa rasa malas, banyak inovasi zaman modern ini yang mungkin nggak akan hadir dan menemani, kayak kamu. Tanpa rasa malas, nggak bakal ada lift di jagad UI, nggak bakal ada bikun yang menemani, dan mungkin belanja online, harbolnas, dan nego cincay juga nggak akan ada, yang kesemuanya itu adalah berkah kehidupan.

Walaupun rasa malas adalah hakikat kehidupan, bukan berarti rasa malas harus dipiara dan ditumbuhkembangkan dan menjadi panutan remaja di seluruh SMP se-kecamatan. Rasa malas itu harus disikapi secara tepat karena apabila dibiarkan, maka rasa malas itu akan berbahaya bagi kehidupan dan mahasiswa UI nggak bisa lagi mengabdi Tuhan, bangsa, dan negara Indonesia. Apabila keadaannya begitu, maka hanya ada satu kata: LAWAN!

Eit, tapi tunggu dulu! Sebagaimana YangLeks Al-Zimbabwewiyah memberikan nasihat bijaknya “Tapi masih batas wajar”, maka ngelawan rasa males di sini juga harus dalam batas wajar. Terus juga harus ekonomis, biar bisa nabung beli dinamo kilikan. Yang kesemuanya itu bakal dibocorin di sini. Nah, kuy nggak nih? Kuy lah…

 

1. Cek Absen

Siapa di sini yang nggak pernah titip absen? Kamu hebat! (via wartawantanpabayaran)

Hal pertama dan yang paling utama saat kamu merasa malas saat kuliah adalah dengan mengecek absen kamu. Selain itu, kamu juga harus perhatiin kesepakatan dengan dosen dalam mata kuliah yang kamu ambil mengenai kehadiran. Kalau kesepakatan dengan dosen kamu membolehkan untuk tidak seratus persen hadir dalam suatu mata kuliah dalam satu semester, maka kamu beruntung. Dengan demikian, kamu bisa memanfaatkan satu (benar-benar “satu” secara harfiah) pertemuan mata kuliah untuk hal lain yang dapat menumbuhkan semangat kuliahmu kembali. Yang “hal lain” itu akan dijelaskan pada poin-poin berikutnya.

 

2. Naik KRL

Bersyukurlah, kita nggak harus kayak gini setiap hari (via nyoozee)

Hal berikutnya ini bisa kamu lakukan kalau kamu sudah memenuhi langkah pertama. Kalau kamu nggak memenuhi, mendingan cari hari lain yang nggak ada kelas, hari Minggu misalnya. Buang jauh-jauh pikiran untuk titip absen walaupun kamu bisa karena di kuliah ini integritasmu sedang diuji. Juga buang jauh-jauh pikiran untuk cabut kelas, apalagi kalo kamu belum paham materi dan belum siap UAS.

Nah, kalo kamu udah memenuhi, bisa lanjut…

Langkah kedua ini memang cukup memakan banyak waktu. Pertama, kamu harus beli tiket KRL, kalo bisa sih tiket KMT, biar lebih leluasa, tapi kalo nggak ada bisa pake tiket yang lain, atau pinjem ke temen. Abis itu, kamu naik kereta pagi di weekdays yang ke arah Cikini/Sudirman/Gondangdia. Dari situ, kamu harus merhatiin orang-orang kerja yang berdesakan di sepanjang gerbong KRL. Lihat, perhatikan, hayati, resapi, dan insafi. Pikirkanlah bahwa kondisi kamu sebagai mahasiswa sesungguhnya tidaklah lebih berat dari beban mereka yang setiap harinya harus ngejar kereta-ngejar waktu buat masuk kerja. Berdesak-desakan pula. Semoga, dari situ kamu bisa mulai mensyukuri apa yang ada sama kamu dan mulai melakukan hal-hal terbaik dalam status “mahasiswa”-mu.

 

BACA JUGA: Gelang Multitrip Commuter Line pasti Keren Banget Kalo Bisa Ngelakuin Hal-Hal Ini

 

3. Makan di Warteg Depan Kosan

Coba deh sekali-kali nggak usah bawa uang ke warteg! (via firdoloto)

Langkah yang ini juga nggak kalah penting. Syaratnya, kamu harus makan di wartegnya (kalo kamu anak PP, kamu bisa makan di warteg depan kosan temen kamu). Jangan dibungkus. Bawa uang yang kurang dari harga makanan yang kamu makan. Kalo bisa setengahnya, atau kalo mau lebih mantap lagi nggak bawa uang sama sekali.

Teknisnya, kamu dateng ke warteg (oiya, ini harus warteg banget, ya. Jangan kafe. Jangan kantin fakultas. Jangan juga rumah makan, walaupun judulnya “sederhana”), abis itu makan, terus pas bayar dengan mengeluarkan semua uang (yang sengaja dibawa kurang) dengan wajah tanpa dosa. Begitu si ibu wartegnya bilang “Wah, kurang, Dek”, kamu jawab “Wah kurang ya Bu? Tapi sekarang saya cuma ada segitu, Bu. Boleh bayar nanti nggak bu?”.

Kalo kamu udah sampe tahap itu, selamat. Tapi jangan dulu lepas wajah tanpa dosanya. Kamu harus mastiin dulu si Ibu meng-iya-kan permintaan kamu. Udah gitu, baru deh pas pulangnya kamu mulai melakukan refleksi atas kejadian tadi. Bahwa sesungguhnya kuliah tidaklah sama dengan makan di warteg yang bisa bayar nanti-nanti kalo udah sukses. Juga, kuliah itu nggak murah. Maka dari itu, jangan buang-buang kesempatan berharga ini dengan bermalas-malasan.
Oh iya, jangan lupa lunasin utang di wartegnya ya! Kasian si Ibunya : (

 

4. Buka Grup WA Keluarga

Kalau di grup WA keluargamu nggak ada yang kayak gini, bersyukurlah.

Berikutnya, untuk membuat usaha melawan rasa malasmu semakin mantabsoul, kamu harus coba langkah sederhana (secara teknis dan secara finansial) ini. Caranya gampang banget. Kamu bisa make paket data, Wi-Fi kampus, Wi-Fi kosan, atau minta tethering temen untuk bisa connect internet. Berikutnya, kamu buka grup WA Keluarga kamu yang selama ini hanya penuh oleh broadcast Ayah dan Ibu kamu. Tapi jangan dulu baca broadcastnya. Buka album, liat foto-foto keluarga kamu satu-satu. Insafi bahwa kamu tidak hidup sendirian di dunia yang kejam ini. Kamu masih punya tanggung jawab terhadap orangtua kamu, adik kamu, dan kakak kamu. Kamu memikul harapan yang dihaturkan oleh keluarga kamu. Jangan sia-siakan harapan mereka.

 

5. Liat Akte Kelahiran

Sudah berapa lama kamu tinggal di dunia ini? (via jogja.tribunnews)

Kalo keempat langkah di atas belom juga berhasil ngilangin atau ngurangin rasa malasmu, ini langkah mutakhir yang mungkin bisa kamu lakukan. Ultimate. Caranya, kamu perlu ngubek-ngubek dokumen-dokumen penting kamu. Cari dan temukan akte kelahiranmu. Liat tanggal lahirnya dan itung udah berapa tahun, berapa bulan, dan berapa hari kamu hidup. Sadari bahwa sesungguhnya kita sudah hidup di dunia cukup lama dan kamu punya banyak target yang belum tercapai. Dari situ, kamu akan terpelatuk untuk sesegera mungkin tidak membuka toleransi terhadap rasa malas dan melanjutkan kehidupan dengan lebih semangat dan lebih berfaedah.

 

BACA JUGA: Kamu Suka Malas Belajar? Hilangkan Kebiasaan Buruk Tersebut dengan Trik Ini

 

Nah, itu dia lima langkah yang bisa kamu lakukan untuk melawan rasa malasmu. Apabila kamu lakukan dengan baik dan benar, maka kamu nggak cuma akan menjalani dunia perkuliahan dengan baik, melainkan juga kamu bisa menjadi pengabdi Tuhan, bangsa, dan negara Indonesia yang paten. Lebih lagi, kalo kamu udah bisa menjalani kuliah dengan baik dan menjadi pengabdi Tuhan, bangsa, dan negara Indonesia, kamu bisa mengurusi hal lain yang juga nggak kalah substantif. Bikin konspirasi dalam pemilu Kazakhstan, misalnya.

Emangnya MUI Udah nggak Punya Kantin ya?

Akhir tahun yang sunyi di sekitaran MUI, kala itu, Desember 2016. Bunyi-bunyian alat memasak, bau-bauan makanan rakyat, dan keceriaan yang hadir di setiap sudut Kantin MUI kehilangan auranya. Asing, hanya terdengar riuhan suara pembangunan gedung di sebelah MUI. Kemana? Kemana aroma Mie Ayam yang menggugah selera, kemana aroma siomay yang sambalnya membuat air luar terurai, kemana teh manis yang manisnya mampu menghilangkan rasa lelah?

Ya kalo itu sepi gara-gara emang lagi liburan.

Kalo beberapa bulan ke depan, akan ada banyak orang yang mungkin juga menanyakan hal yang sama. Kemana para juru masak itu pergi? Kemana perkakas masak itu hilang? Kemana kantin ini lenyap? Nampaknya, akan hanya menjadi rindu yang membeku untuk menikmati sajian para juru masak sambil menikmati pemandangan Danau Kenanga, hanya akan menjadi saksi bisu sebagai tempat penghilang dahaga ketika usai melaksanakan solat, dan hanya menjadi sebongkah masa lalu perjalanan panjang kehidupan mahasiswa kampus perjuangan.

View yang disuguhkan Kantin MUI, asri bukan? (via juliantohandoko66)

Padahal, para pedagang yang berjualan di Kantin MUI telah dianggap menjadi keluarga besar di sana. Mereka ikut membayar sewa, mereka berkontribusi membangun dan menjaga MUI hingga saat ini, dan mereka sering kali menjadi penyumbang makanan buka puasa di masjid saat bulan Ramadhan tiba. Namun, setelah manajemen kepengurusan masjid diambil alih DPPF yang notabene memang penanggung jawab fasilitas UI, hubungan bukan lagi kekeluargaan, tapi menjadi konkrit layaknya pemilik tanah-pemilih usaha.

Usut punya usut, ternyata penggusuran yang dilakukan terbilang mendadak, dengan alasan karena ketidaksesuaian peruntukkan wilayah tersebut dengan master plan yang ada dan akan dilakukan pelebaran bangunan Masjid Ukhuwah Islamiyah pada tahun 2018. Terlihat dari isi surat rektorat seperti biasa, di bulan Februari tahun lalu, pedagang tetap memenuhi perjanjian-perjanjian umum yang diberikan tiap tahun, dengan tanpa keterangan adanya master plan teranyar di UI. Tak ada informasi apapun mengenai master plan anyar tersebut. Dilanjutkan pada November 2016, dengan membawa itikad baik, para pedagang mengajukan kontrak perpanjangan sewa tempat. Namun, kali ini, cinta bertepuk sebelah tangan, pedagang pulang dengan beban. Bagaimana tidak, mereka pulang dengan membawa surat perintah menghilangkan seluruh aktivitas penimbun nafkah bagi keluarganya, mereka wajib mengosongkan tempat pencair peluh mereka.

 

BACA JUGA: Belum Pernah Nongkrong di Kantin-kantin Ini? Jangan Ngaku Anak UI Deh

 

Suasana di Kantin MUI (via kodeposindo)

Tanpa ketengaran, tanpa informasi yang jelas sebelumnya, tiba-tiba surat perintah itu muncul dengan hanya memberikan waktu 14 hari, atau dua minggu, untuk mengosongkan tanah MUI segera. Mungkin bagi mereka mudah hanya untuk mengangkat dan mengosongkan, tapi batin mereka sakit, teriris, dan bingung karena tak tau lagi kemana akan berlabuh dalam waktu singkat itu. Tanpa ada informasi, tanpa ada pemberitahuan, dan tanpa ada keterangan sebelumnya!

Informasi kian terombang-ambing tak tahu benar atau salah. Gosip beredar, mereka semua akan dipindahkan di Rumah Sakit UI dan Gedung Kesenian yang ada tepat di sebelah MUI. Mendengar itu, tentu ada kelegaan tersendiri, namun kelegaan itu justru menjadi kekhawatiran lagi ketika tahu bahwa kantin itu akan dirubah menjadi konsep kafe. Tentu akan membutuhkan biaya sewa, dan dagangan yang bernilai lebih tinggi dari sebelumnya, mengingat modal para pedagang itu kecil dan pas-pasan. Semilir angin membawa informasi yang lain, yakni pedagang dengan modal yang kurang akan diberikan dana pinjaman dari Bank untuk menyewa tempat dan pelunasan jatuh tempo 30 Juni mendatang.

Oleh karena itu, pada Rabu (1/2), BEM UI ikut berdialog dengan DPPF UI, pedagang di Kantin Tenda Biru Pocin, dan pedagang di kantin MUI. Diperoleh kesepakatan bagi pedagang kantin MUI bahwa DPPF akan menunda penggusuran Kantin MUI sampai 30 Juni 2017 tanpa biaya sewa, memberikan kompensasi penggusuran Rp 5.000.000,- dan memberikan rekomendasi kepada pengelola kantin untuk menempatkan para pedagang kantin MUI di Rumah Sakit UI dan Gedung Kesenian.

Suasana Kantin MUI dan sekitarnya pada Rabu, 8 Februari 2017

 

BACA JUGA: Wah, Tempat Makan Favorit Anak UI Mau Ditertibkan, Nih?

 

Jadi, buat kamu yang cinta banget sama makanan di kantin MUI, buruan borong sebelum kehabisan sampai tanggal 30 Juni nanti! Mari, bagikan artikel ini di akun Facebook, Twitter, dan Line kalian! Bantu mereka mewujudkan tempat yang nyaman dan tak memeras, bantu mereka mempermudah segala aktifitas mencari nafkah dengan harga yang umumnya kita rasakan saat masih di lokasi yang lama!

Wah, Tempat Makan Favorit Anak UI Mau Ditertibkan, Nih?

Tempat makan favorit mahasiswa, termasuk penulis, kabarnya mau ditertibkan nih, guys! Itu lho, tempat makan yang letaknya persis di depan Gedung Biru (kantor Unit Pelaksana Teknis Pengamanan Lingkungan Kampus – UPT PLK UI). Masih kurang juga clue-nya? Tenda Biru! Inget, kan? Yap, tempat makan favorit anak UI yang satu itu emang favorit banget deh, apalagi kalau buat anak kos!

Kantin Tenda Biru ini memang terkenal dengan menu masakan yang nggak kalah deh sama masakan Padang, bedanya di Kantin Tenda Biru ini harganya murah meriah! Alias sahabat mahasiswa dan anak kos banget!

Eh, tapi bisa-bisa kita bakal kehilangan kenikmatan masakan kantin favorit itu, lebih tepatnya ‘kenikmatan’ harganya hehehe. Sebab, pada Rabu (14/12) lalu terdapat informasi yang berisi rencana UI bakal melakukan penertiban pedagang Pocin itu, guys. Pihak kampus makara sendiri mulanya berencana menertibkan mereka pada 2 Januari tahun depan. Informasi yang tersebar luas itu membuat para pedagang Tenda Biru keberatan, karena kurangnya sosialisasi dan mepet waktu tenggang yang diberikan kampus.

Mendengar informasi itu, Badan Eksekutif Mahasiswa UI keesokan harinya, Kamis (15/12) berangkat bersama Brigade UI melakukan pertemuan dengan para pedagang Pocin. Hal itu dilakukan lembaga eksekutif mahasiswa guna mengetahui permasalahan sesungguhnya di lapangan. Nggak cuma melakukan pertemuan dengan para Pedagang Tenda Biru, tapi BEM UI juga melakukan pertemuan dengan pihak Direktorat Pengelolaan dan Pemeliharaan Fasilitas (DPPF) UI, Pak Gandjar Kiswanto dan Pak Baroto, selaku pimpinan DPPF UI, untuk mengetahui permasalahan yang ada.

Kantin Pondok Cina tempo dulu (via yendi-bengkulu)

 

BACA JUGA: Kantin Tenda Biru Pondok Cina – Rekomendasi Tempat Makan Murah, Enak, dan Banyak

 

Setelah melakukan pertemuan dengan kedua belah pihak, BEM UI mengambil sikap tengah, dengan mendampingi para pedagang menyampaikan Surat Keberatan kepada UI. Surat Keberatan itu bukan berarti mereka tak ingin ditertibkan, tapi meminta penundaan waktu penertiban dan juga meminta diadakan forum antara pedangang Tenda Biru Pocin dengan pihak DPPF UI untuk mendiskusikan dan mencari solusi dari permasalahan tersebut.

Permintaan yang disertai Surat Keberatan itu, disikapi positif oleh pihak kampus. DPPF UI akhirnya menyetujui penundaan penertiban yang mulanya bakal dilakukan pada 2 Januari. Penertiban itu bakal tetap ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. Pihak UI juga mengaku akan mengadakan forum diskusi bersama para pedagang guna mencari solusi penertiban Kantin Tenda Biru Pocin.

Teenda Biru Pondok Cina sekarang ini

 

BACA JUGA: Ingat-ingat Makanan Ini Jika Kamu Ngalamin Keracunan karena Makan Sembarangan

 

Wah, buat anak UI masih punya waktu nih buat nikmatin makanan dan ‘nikmatin’ harganya di Tenda Biru *eh. Jangan lupa bagikan artikel ini ke akun Facebook, Twitter, dan Line kalian agar anak UI nggak harap-harap cemas lagi!

Hal-Hal yang Wajib Kamu Tau tentang Mie Ayam Sengketa

Kamu tau gak sih? Ternyata di UI itu juga ada jajanan yang enak selain di kantin-kantin fakultasnya. Contohnya aja ada mie ayam di depan FIB ini nih. Eh FIB apa FISIP, ya? FIB kali, kan di depannya persis. Lah, tapi depan parkiran FISIP juga, anak-anak FISIP juga banyak kali yang makan di situ. Ah sudahlah daripada bingung, lebih baik kita baca aja yuk ini dia hal-hal seputar Mie Ayam Sengketa yang wajib kamu tau!

BACA JUGA: Panduan Wisata Kuliner: UI Food Guide by Foody Indonesia

 

Udah Ada Sejak Kapan, ya?

Mie Ayam Sengketa  legendaris ini udah ada sejak 1988
Mie Ayam Sengketa legendaris ini udah ada sejak 1988

Ternyata mie ayam yang legendaris ini udah ada sejak 1988, loh! Pak Wiwit, begitu orang biasa menyapanya, telah memulai awal pekerjaannya sebagai pedagang mie ayam keliling di lingkungan sekitar kampus Universitas Indonesia (UI). Pada awalnya, Pak Wiwit berjualan tidak menetap, yaitu hanya memutari lingkungan kampus UI saja. Rute-rute yang pernah ia lewati mulai dari depan Politeknik (Poltek), FE (Fakultas Ekonomi), Rektorat, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), danau UI, Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), hingga di Fakultas Ilmu dan Budaya (FIB) tempat berjualannya saat ini.  Pak Wiwit berjualan di FIB sejak tahun 2006, tepatnya di Parkiran atau perbatasan antara FISIP dan FIB, yang kemudian menjadi sengketa karena diperebutkan terus.

 

Direbutin Terus

Kayak gula yang dikerubuti semut, begitu juga Mie Ayam Sengketa via cikgucemerlang
Kayak gula yang dikerubuti semut, begitu juga Mie Ayam Sengketa via cikgucemerlang

Ada tiga versi cerita tentang perebutan mie ayam ini. Versi pertama, katanya mahasiswa FISIP beranggapan bahwa mie ayam ini ada di daerah FIB. Jadi, mereka menganggap kalo ini adalah mie ayam FIB. Kebalikannya dengan warga FIB, mereka justru beranggapan bahwa mie ayam ini ada di daerah FISIP, jadi mereka nyebutnya mie ayam FISIP. Bingung, gak? Bingung, sih.

Kalo ditinjau secara letak geografis, mie ayam ini letaknya lebih tepat di FIB, karena emang mangkalnya di parkiran dosen FIB. Tapi mungkin dulu mie ayam ini mangkal di deket parkiran FISIP, makanya warga FIB mengira bahwa mie ayam ini adalah mie ayam FISIP. Nah, loh pindah-pindah.

Versi kedua dari cerita ini adalah katanya saking larisnya ini mie ayam dari dulu, warga FIB sama FISIP sama-sama mengklaim kalau mie ayam ini adalah milik mereka. Mereka merebutkan mie ayam ini dari dulu sehingga akhirnya nama Mie Ayam Rebutan muncul untuk menamai gerobaknya. Akan tetapi, nyatanya mie ayam ini tetep eksis dan makin laris aja tuh dari hari ke hari.

Versi ketiga dari cerita ini adalah masalah lokasi. Denger-denger, lokasi penjualan mie ayam ini letaknya di pinggir jalan dan gak mendapatkan izin resmi untuk berjualan dari Dekanat layaknya penjual-penjual di kantin. Oleh karena itu, timbulah desas-desus bahwa mie ayam ini menjadi dipermasalahkan lokasi penjualannya, makanya sering disebut Mie Ayam Sengketa. Pusing, gak? Terserah mau percaya yang mana.

 

Merakyat

Semangkok Mie Ayam Sengketa dihargai cuma Rp9.000 via foody
Semangkok Mie Ayam Sengketa dihargai cuma Rp9.000 via foody

Percaya nggak percaya, ternyata mie ayam yang selalu murah hati dalam memberikan pangsit goreng dan daun bawang ini pada tahun 2011 harganya hanya Rp5.000,00 saja. Sekarang, dengan berjalannya waktu dan melihat lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, mie ayam ini perlahan-lahan naik hingga sekarang mencapai harga Rp9.000,00! Tenang aja, mie ayam ini tetep merakyat kok kalo dibandingin dengan mie ayam mie ayam nun jauh di luar sana. Ada harga ada barang, Bro Sis.

 

Rasanya yang Khas

Ada banyak yang ngebedain Mie Ayam Sengket beda sama yang lain via foody
Ada banyak yang ngebedain Mie Ayam Sengket beda sama yang lain via foody

Meski ada yang bilang rasanya sama aja kayak mie ayam kebanyakan, tapi ada yang beda dari mie ayam yang satu ini. Selain harganya, mie ayam ini juga memberikan sensasi tersendiri: ayamnya yang super banyak dan menggugah selera, daun bawangnya yang masih hijau fresh from the oven, serta pangsit gorengnya yang kecil-kecil justru bikin teksturnya makin kriuk-kriuk. Oh iya! Satu lagi yang gak boleh ketinggalan, ya mienya dong; memiliki rasa yang khas banget dan gak bikin eneg. Bingung? Cobain aja langsung ya. Buat kamu yang gak terlalu tertarik sama mie ayam dan malah suka yang agak manis, di sini juga ada mie yamin. Wajib dicoba loh semuanya!

 

Ngantre Sembako

Biar gak sedih dan ngantre, nunggu dari Subuh via bintaelmamba
Biar gak sedih dan ngantre, nunggu dari Subuh via bintaelmamba

Yup, dikarenakan harganya yang pas banget buat kantong mahasiswa serta rasanya yang sangat khas, maka jangan heran kalo banyak banget yang mau nyobain mie ayam sengketa ini. Kalo kamu gak mau keabisan, silahkan dateng saat Subuh dan tungguin di depan FIB deket parkiran FISIP, ya! Pasti gak akan keabisan dan gak perlu nunggu lama.

 

Nomaden

Ilustrasi Mie Ayam Sengketa yang gak pernah menetap di satu tempat via kaskushootthreads
Ilustrasi Mie Ayam Sengketa yang gak pernah menetap di satu tempat via kaskushootthreads

Dalam catatan sejarah, mie ayam yang penuh dengan sengketa ini pernah mengalami beberapa kali perpindahan lokasi berjualan; di depan parkiran FIB-FISIP yang sering diperebutkan itu, pindah lagi ke deket pos satpam deket gedung X, dan kemudian pindah lagi di dalam gedung IX secara tiba-tiba dengan akses yang lebih mudah. Banyak kemisteriusan dan kejutan yang dilakukan oleh Mie Ayam Sengketa ini.

 

Pelita dalam Kegelapan

Pelita dalam Kegelapan via foody
Pelita dalam Kegelapan via foody

Eits, maksudnya bukan berarti mie ayam ini bisa glow in the dark, ya. Lebih tepatnya karena Mie Ayam Sengketa ini baru buka setelah Magrib, otomatis lampu teploknya akan terlihat mencolok banget ditambah dengan orang-orang yang ngantre buat makan di situ. Dijamin langsung jadi pusat perhatian dan gak akan ketakutan kalo malem-malem lewat depan FIB UI karena ada mie ayam ini yang selalu meramaikan suasana.

 

Langka!

"Duh, mie ayam sengketa belum dateng-dateng," via suaramahasiswa
“Duh, mie ayam sengketa belum dateng-dateng,” via suaramahasiswa

Sepertinya cuma tinggal satu di UI penjual mie ayam yang masih menggunakan gerobak seperti ini serta kualitasnya gak kalah jauh dari  mie ayam kebanyakan. Kalo pun ada lagi, paling juga tukang gorengan di Stasiun UI atau abang-abang sekoteng di FTUI menjelang tengah malem, itu pun tergolong makanan ringan. Coba silakan jalan malem-malem keliling UI deh, nanti kalo nemu tukang jualan serupa lagi baru kasih tau admin di kolom komentar, ya! Melihat kelangkaan Mie Ayam Sengketa ini, mari kita ramai-ramai makan di sana dan lestarikan bersama! Gak ada ruginya kan? Dompet riang, perut senang!

Gimana? Nambah lagi dong pengetahuan kamu tentang kampus sendiri? Buruan juga cobain Mie Ayam Sengketa ini selama kamu masih jadi civitas academica Universitas Indonesia, jangan sampe nyesel ya! Kalo ada hal-hal yang ingin kamu tuangkan tentang UI maupun hal-hal lain, yuk gabung untuk menjadi bagian dari contributor anakui.com!

7 Hal Penting Jika Kamu Masih Bingung Cari Kosan

Jika pada artikel yang lalu berisikan tentang skill apa aja yang harus kamu miliki saat merantau, entah untuk urusan kuliah atau bekerja maka kali ini akan dibahas tentang tempat tinggal. Saat memutuskan jadi perantau, hal yang ada di benakmu adalah tempat tinggal a.k.a kost. Tentunya kamu akan mencari yang aman, nyaman, dan tenteram. Karena itu, demi mendukung terealisasinya keinginanmu, berikut adalah hal yang harus diperhatikan saat mencari tempat kost.

1. Cari sejak jauh-jauh hari

Cari kosan jauh-jauh hari (Sumber:)
Cari kosan jauh-jauh hari (Sumber:Photo Credit: Jeremy Wilburn via Compfight cc)

Cari tempat kost ini susah-susah gampang, cocok-cocokan, macem jodoh dan pdkt. Jadi mesti sabar, nggak boleh terburu-buru, yang pasti jangan mepet waktu dalam mencari kostan. Bukan apa-apa, bisa-bisa kamu malah nggak kebagian. Atau meskipun kebagian ternyata kamu nggak kerasan dan sreg di sana. Kan sayang. Maka dari itu, siapkan 2–3 bulan sebelum kamu pindah. Dengan rentang waktu lumayan lama, kamu bisa survei ke berbagai tempat kostan dan mencari yang paling pas di hati. Dijamin, kamu terhindar dari perasaan menyesal dalam dada. Ah, sedaaap.

 

2. Jika terpaksa mepet, pilih yang perbulan

4566995_980ff39d40_b
Kalau takut nggak betah, pilih yang bayar bulanan (Sumber:Photo Credit: The Rocketeer via Compfight cc)

 

Hah? Maksudnya gimana, deh? Jadi gini, ceritanya kamu masih di luar kota, tidak punya kenalan di tempat tujuan kost dan nggak bisa cari kostan dari jauh-jauh hari sehingga terpaksa h-1 atau pas hari H-nya baru nyari. Nah, carinya yang perbulan atau 3 bulanan aja. Jangan nekat ambil yang setahun. Kenapa? Supaya kamu tidak rugi terlalu banyak jika ternyata setelah tinggal di sana, kamu tidak merasa nyaman dan memutuskan untuk pindah.

 

3. Jika bawa kendaraan cari kost yang agak jauh

Naik motor ke kampus (Sumber:)
Naik motor ke kampus (SumberPhoto Credit: David, Bergin, Emmett and Elliott via Compfight cc🙂

Ceritanya kamu dibekali dengan kendaraan dari orangtua di rumah. Dengan kondisi seperti ini kamu harus memanfaatkannya dengan mencari kost yang agak jauh dari tempatmu kuliah atau kerja. Misalnya di daerah pinggiran kota. Karena kamu akan mendapatkan tempat nyaman dan aman dengan fasilitas serupa, tapi berharga lebih murah. Jauh sedikit tidak apa, kamu kan punya kendaraan. Jika kamu berhasil mendapatkan tempat nyaman dengan harga murah, keadaan ini akan berimbas kepada uang sakumu yang akan tersisa lebih banyak.

 

4. Cari kost dengan fasilitas lengkap

Fasilitas lengkap
Fasilitas lengkap (Sumber: Photo Credit: mikepetrucci via Compfight cc)

Kamu pendatang dari pulau seberang? Carilah kost dengan fasilitas lengkap. Hal ini akan memudahkanmu sehingga kamu ngga perlu repot membawa dan membeli barang-barang yang seenggaknya susah kamu angkut kembali saat pindahan nanti. Nggak mungkin, dong, kamu bawa lemari pake ekspedisi ke pulau seberang? Meskipun mungkin saja, biaya yang dikeluarkan tentu tak sedikit. Maka dari itu, solusi satu-satunya adalah mencari kost dengan fasilitas lengkap.

 

5. Untuk nocturnal hindari tempat kost dengan jam malam

Kamu suka pulang malam?
Kamu suka pulang malam? (Sumber:Photo Credit: vonderauvisuals via Compfight cc)

Ini nih yang akrab dengan kost. Jam malam. Peraturannya pun berbeda tiap kost, ada yang menetapkan pukul 20.00, 21.00, 22.00, atau bahkan bebas. Buat kamu yang aktif dari siang sampai malam tentu akan keberatan dengan hal ini. Sebagai aktivis yang sering kali rapat, mahasiswa yang part time sore hingga malam, atau yang mendadak dapat kelas tambahan dan mengerjakan tugas, tentu bakalan bete tak tentu arah saat capek-capek pulang, menemukan gerbang kost terkunci rapat. Belum lagi proses interogasi dari pemilik kost yang memakan waktu. Solusinya adalah, cari kost dengan jam malam fleksibel.

 

6. Fasilitas dapur is a must

Kalau ada dapur, kamu bisa masak  (Sumber:)
Kalau ada dapur, kamu bisa masak (Sumber:Photo Credit: uncleboatshoes via Compfight cc)

Akhir bulan telah datang, uang saku menipis, job sepi orderan, dan masih ada beberapa hari sebelum uang bulanan berikutnya turun. Saat susah inilah keberadaan dapur sangat diidam-idamkan. Kamu bisa memasak mie, telur, atau apa pun persediaan yang kamu punya. Memasak sendiri di kostan adalah cara terampuh untuk menghemat. Dengan adanya dapur kamu juga bisa membuat bekal untuk dibawa kuliah. Dua kali lebih hemat dan sehat. Brilliant!

 

7. Ngekost berdua? Boleh juga

Selain murah, di kosan jadi punya teman curhat
Selain murah, di kosan jadi punya teman curhat (Sumber:Photo Credit: wharman via Compfight cc)

Mau ngekost di tempat yang lebih asik sedikit tapi harganya terlalu mahal? Carilah teman sekamar! Dengan tinggal berdua di satu kamar kost, kamu bisa menikmati kamar yang nyaman dan asik tanpa harus terkuras banyak uang. Karena biaya akan ditanggung secara bersama. Namun, jangan heran bila pemilik kost menambah charge di atas harga normal. Biaya maintenance kamar yang dipakai berdua tentunya berbeda dengan sendiri. Makanya pintar-pintarlah bernegosiasi dengan pemilik kost demi mendapatkan harga idaman.

Sekali lagi, kost itu jodoh-jodohan, mesti sabar jika kamu mau mendapatkan yang pas. Karena sebagai anak rantau, kost adalah rumah kedua, maka harus dicari dengan sungguh-sungguh sehingga nggak ada kejadian pindah rumah seperti kucing.

Fakta-fakta Salah Kaprah Tentang Mie Instan

Mulai mendekati tanggal tua nih. Uang buat makan harian menipis, saatnya makan mie instan! Siapa, sih, yang tidak menggemari makanan ini? Dari anak kecil sampai orang dewasa banyak yang suka. Apalagi anak kost, biasanya mereka penggemar nomor satu makanan yang mudah dimasak ini. Harganya yang murah dan rasanya yang enak membuat kita jatuh cinta padanya.

Eh, kan, mie instan itu nggak sehat tau, tapi apakah memang benar seperti itu adanya? Yuk, kita cek fakta salah kaprah dari mie instan ini.

1. Styrofoam dalam mie instant cup tidak beracun

Styrofoam dalam mie instant cup tidak beracun (Sumber:)
Styrofoam dalam mie instant cup tidak beracun (Sumber:Photo Credit: Aaron G (Zh3uS) via Compfight cc)

Ada kabar gembira, untuk kamu penggemar mi instan cup, kamu tak perlu takut akan status keamanan dari styrofoam yang digunakan sebagai kemasannya. Karena sudah dipastikan bahwa ia aman. Kemasan ini terbuat dari expandable polystyrene yang khusus digunakan untuk makanan dan telah melewati berbagai penelitian dan dinyatakan memenuhi syarat dari BPOM dan Kementrian Lingkungan Jepang. Mengapa aman? Karena saat diproduksi, ia melalui proses pressing yang ketat. Proses ini membuat molekul styrofoam tidak rontok dan larut bersama mie saat diseduh air panas.

 

2. Merebus mie instant berikut dengan bumbunya akan menyebabkan ‘racun’

1408973290_a20b69dce6_o
Masak mie bersama bumbu? (Sumber:Photo Credit: isriya via Compfight cc)

Pernah dengar info yang mengatakan bahwa merebus mie instan dengan bumbunya dalam suhu 120 derajat celcius  berisiko melepas senyawa karsinogen yang akan memicu sel kanker dalam tubuhmu? Jika ya, berbahagialah karena hal itu tidak benar. Alasan mengapa mereka tidak boleh dimasak bersamaan adalah karena hal itu dapat mengurangi cita rasanya. Jika hal itu terjadi, mi instan akan menjadi hambar dan tidak enak. Itu dia ternyata si ‘racun’.

 

3. Mie instan tidak mengandung zat lilin

Mie enak ini beneran ada lilinnya? (Sumber:)
Mie enak ini beneran ada lilinnya? (Sumber:Photo Credit: www.higbyphotography.com via Compfight cc)

Ini dia satu mitos salah kaprah lagi tentang mi instan. Percayalah, mi instan tidak mengandung zat lilin (wax) sama sekali. Mie instan tidak saling melekat satu sama lain karenanya adanya kandungan minyak di dalamnya. Sama sekali bukan karena lilin.

 

4. Mie + nasi = big no!

Indomie dan nasi? (Sumber:)
Indomie dan nasi? (Sumber:Photo Credit: Chandra Marsono via Compfight cc)

Mie instan dan nasi putih merupakan pasangan serasi yang tak dapat dipisahkan. Tahukah kamu, penyatuan duo maut ini harus dihentikan. Mengapa? Karena keduanya mempunyai kadar karbohidrat yang cukup tinggi sehingga tidak cocok dimakan bersama. Karena kebutuhan kalori manusia dalam sehari hanya berkisar 1700 – 2000, itu pun sudah termasuk dengan berbagai asupan gizi dalam 3 kali makan besar serta 3 kali makan ringan. Sedangkan dalam sekali makan mie dan nasi dapat menghasilkan 1100-1200 kalori. Bukan hanya itu, duo ini juga dapat meningkatkan gula darah dan menyebabkan diabetes. Hiii…

 

5. Air rebusan mie instant mengandung gizi

Air rebusannya bergizi (Sumber:)
Air rebusannya bergizi (Sumber:Photo Credit: syaphotography via Compfight cc)

Banyak kabar yang mengatakan bahwa agar aman mie instant diharuskan direbus sebanyak 2 kali agar terhindar dari zat kimia. Selain itu, air rebusan pertama pun tidak boleh digunakan karena terdapat banyak zat kimia. Tapi siapa sangka, semua hal yang disebutkan tadi sama sekali tidak benar? Menurut Prof. Dr. F. G. Winarno, di dalam air rebusan mie justru terdapat banyak kandungan zat besi, zinc, vitamin, dan betakaroten tinggi yang dibutuhkan tubuh.

Pada proses pembuatannya, mie instan mengalami proses fortifikasi, yaitu penambahan zat gizi dan vitamin yang diperlukan tubuh. Saat perebusan itulah semua kandungan perpindah ke air rebusan. Yang mana apabila kuah tersebut dibuang gizinya pun akan hilang. Sayang kan jadinya?

Nah, sekarang sudah tau kan fakta salah kaprah yang benar mengenai mie instan? Jangan termakan isu lagi ya. Sebenarnya mie instan tidak seburuk itu kok. Tapi tetap dibatasi ya makannya, jangan sering-sering, semua yang berlebihan jelas tidak baik 😉

 

Referensi

5 Tips Mendapatkan Buku Kuliah Murah, bahkan Gratis!

Buku Kuliah

Memasuki semester baru adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu. Semester baru berisi banyak hal baru yang bisa mahasiswa eksplor. Namun, apakah semester baru tetap ditunggu-tunggu bila berhubungan dengan pengeluaran baru?

Mahasiswa dituntut untuk banyak membaca. Buku teks kuliah pun menjadi hal yang tidak bisa dihindari, sifatnya wajib untuk dimiliki. Bagaimana jika kantong tidak bisa diajak bekerjasama untuk membeli buku-buku teks kuliah tersebut? Tenang saja! Disini kamu bisa menemukan berbagai celah yang bisa kamu gunakan untuk menjaga kantongmu tetap sehat dan tidak kering kerontang.

 
Tablets and phones

1. Versi Digital

Hidup di tahun berapakah kamu saat ini? Jangan mau ketinggalan jaman. Saat ini sudah banyak buku teks yang tersedia dalam versi online. Rajin-rajinlah mencari, mengunduh, dan menyimpannya dengan rapi di laptop kesayanganmu.

 
J.H.Edits-12

2. Malu bertanya senior, kering di kantong

Ingatlah bahwa kamu hidup di dunia perkuliahan itu tidak sendiri. Ada banyak senior-senior yang sebelumnya sudah mempelajari apa yang kamu pelajari. Bangun koneksi dengan senior dan pinjam buku teks kuliah mereka! Bahkan kamu bisa mengusulkan pada himpunan jurusanmu untuk menggelar “Pekan Buku Kuliah”, dimana buku-buku senior dikumpulkan menjadi satu agar bisa dipilah-pilih dan dipinjam oleh mahasiswa di bawahnya.

 
Chinese Teacher

3. Jangan bosan dengan dosen

Selain senior, orang yang bisa kamu tanyakan mengenai buku teks kuliah adalah dosen. Dosen, yang mengajar kamu, tentunya tahu dan memiliki buku-buku teks kuliah yang kamu perlukan. Tak jarang, dosen memberikan bukunya untuk kamu perbanyak. Dosen juga memiliki kumpulan buku teks kuliah versi digital yang dapat dengan mudah kamu copy. Perlu diingat, bahwa sumber informasi itu terdapat dimana-mana, termasuk di dosen.

 
“I fell asleep reading a dull book and dreamed I kept on reading, so I awoke from sheer boredom.”

4. Toko buku alternatif

Jika kamu mengaku mahasiswa UI, kamu pasti pernah mendengar istilah barel. Hidup itu jangan mengendap di kosan dan kampus melulu, main-mainlah kamu ke barel karena disitu terdapat toko buku yang menyediakan berbagai buku teks kuliah dengan harga murah. Jangan lupa untuk mengasah skill persuasimu, karena disini kamu bisa menawar harga.

 
Books!

5. Perpustakaan

Buku teks kuliah wajib setiap mata kuliah memang hal yang perlu dimiliki oleh mahasiswa, akan tetapi jangan menutup kemungkinan untuk belajar dari buku-buku lain. Tengoklah perpustakaan universitas, fakultas, atau bahkan jurusan. Dari situ, kamu dapat mempelajari hal baru serta menambah wawasan. Wawasan yang luas dapat membantu kamu bersinar di proses belajar mengajar.

Jadi jangan lagi mau kantongmu dibuat kering oleh buku-buku kuliah. Jangan lagi bingung bagaimana mencari buku teks kuliah seperti anak kucing mencari induknya. Yang kamu perlukan adalah informasi-informasi di atas dan setelah kamu mengetahui informasi tersebut, ayo gercep!

Gerak cepat untuk mengunduh versi digital, bertanya pada senior, bertanya pada dosen, pergi ke toko buku alternatif, dan kunjungi perpustakaan. Jika kamu masih kesulitan, tandanya kamu perlu mencari lebih banyak informasi, tengoklah sekitarmu, terdapat banyak orang yang bisa kamu tanyai.

Mana cara yang pernah kamu pakai? Tulis di komentar ya!

Photo Credit: wohnai via Compfight cc