Untuk Kamu yang Sering Melintasi Gang Sawo/Kober di Belakang Stasiun UI, Apakah Menyadari Hal Ini?

Stasiun UI

Sedikit cerita teruntuk kamu…
Kamu yang sering pulang pergi kampus atau melewati jalan belakang stasiun UI atau yang lebih terkenal disebut Kober.
Aku bingung mau mulai darimana sebenarnya, jadi maaf ya kalau nanti random, tapi semoga maksud dari tulisan ini bisa sampai di kamu. 🙂

***

Biasanya kapan sih kamu lewat jalan belakang stasiun UI itu?

Kalau Aku biasanya pagi saat ingin menuju halte st. UI, menunggu bikun biru atau kadang merah untuk menuju ke Teknik.

Atau sore hari ketika pulang, menyebrang jalan margonda untuk kemudian naik angkot menuju ke terminal Depok.

Ada yang menarik perhatianmu kah selama perjalanan di belakang st. UI itu?

Ayo coba pikir-pikir lagi….

 

 

Sering atau selalu kamu lihat kakek-kakek penjual kue lepet, bapak penjual kue semprong, kakek-kakek penjual tissue yang sering ada di situ?
Terbayang gak tadi, saat Aku bertanya apa yang menarik perhatianmu adalah pertanyaan ini? hehe

Jadi ceritanya begini,

beberapa bulan yang lalu Aku sempat membuat tulisan tentang kakek penjual lepet. Cek disini.
Nah ternyata sekarang, si kakek ini sudah tidak lagi berkeliling kampus menjajakan lepetnya (atau mungkin masih, tapi Aku gak memperhatikan dengan seksama), sekarang beliau membuka lapak dagangannya di halte stasiun UI. Sering lihat gak?
Kakek tua pakai peci, sering pakai batik, dagangannya ada di dua tempat anyaman bambu yang biasa dipikul (gatau apa namanya).

Atau

Seorang bapak penjual semprong yang duduk di pinggir jalan kecil di situ?

Selalu tersenyuk ramah dan berkata pada tiap orang yang lewat, “semprongnya neng/mas?”

Atau

Seorang kakek penjual tissue, pakai tongkat berkaki, biasanya jual tissue ukuran kantong, mondar-mandir dari halte sebelah kiri ke sebelah kanan, menjajakan tissue nya.

Ternyata bukan di halte stasiun saja yang seperti ini. Hampir di semua tempat ada ya?

Tapi tulisan kali ini Aku coba fokuskan untuk kamu.

Untuk kamu yang sering lewat jalan belakang stasiun UI, pasti sering melihat mereka kan?

 

Aku mengajak kamu untuk berfikir sejenak, sejenak saja, lalu bertindak. 🙂

Coba sesekali beli dagangan mereka, tidak usah setiap hari. Cukup sesekali.

Pasti kamu sudah sangat sering mendengar ajakan ini, bahkan mungkin banyak tulisan-tulisan semacam ini di mana-mana. Tapi kondisi ini dekat denganmu loh, ada di lingkungan sekitarmu, lingkungan tempat kamu menimba ilmu 🙂

Mereka masih berusaha untuk berdagang, tidak mengemis.

Kalau kamu beralasan, “dagangannya mahal, kalau ngasih ke pengemis kan cuma seribu juga gapapa.”

Seberapa mahal sih dibanding uang jajanmu sehari? hehe kan tidak untuk setiap hari kamu beli, tapi sesekali saja. Seminggu sekali, atau sebulan empat kali :p

Andaikan, ada 10 orang saja yang berpikir sama seperti kamu itu, 1000×10 = 10.000, cukup buat beli satu bungkus semprong. Dari ke-10 orang itu semuanya melakukan hal yang sama, memberikan seribu rupiahnya pada pengemis, yang (maaf) hanya menengadahkan tangan saja di sudut jalan, bukannya berusaha.

Bukan berarti melarangmu berderma pada pengemis, silakan saja.

Tapi, paham maksudku kan? 🙂

Ini belum uji ataupun survei apapun sih, hanya selintas pikiranku saja, “Bagaimana kalau pedagang-pedagang itu berpikiran bahwa lebih baik mengemis daripada berjualan? Toh lelahnya tidak seberapa tapi hasilnya sama bahkan lebih banyak. Mungkin ini berlebihan tapi bagaimana kalau ini memang benar yang mereka pikirkan? dan kita (aku dan kamu) adalah salah satu penyebab mereka berpikiran seperti itu? :(“

Astaghfirullah…

Sebelum menulis ini, Aku agak ragu, takut dikira sok atau mau pamer karena telah membeli dagangan mereka. Tapi Bismillah, Aku luruskan niat menulis ini untuk mengajak kamu.

Jadi..

Sudah merasa ku ajakkah kamu? 🙂

 

Photo Credit: Mohamad Sani via Compfight cc

Pengemis Gerbatama

Dulunya di jembatan ini tidak pernah ditemukan seorang pengemis pun. di pertengahan 2008, minimal 2 pengemis selalu stand-by dari pagi hingga menjelang makan siang di sisi jembatan.