5 Manfaat Ini Bisa Kamu Dapatkan dengan Mengikuti Pengabdian Masyarakat Untuk Mahasiswa

Benefit melakukan pengabdian masyarakat. Pengabdian masyarakat yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memberi penyuluhan, mengedukasi masyarakat tentang menjaga lingkungan alam, mengajar anak-anak yang kurang mampu, membuat kegiatan amal untuk disalurkan kepada masyarakat, dan masih banyak lagi. Kenapasih kita sebagai mahasiswa harus repot-repot melakukan kegiatan pengabdian masyarakat? Tentu saja karena kegiatan ini akan memberikan kamu banyak manfaat, seperti:

1. Memberi dampak positif bagi masyarakat

Sumber: rizkadriana.blogspot.com

Pengabdian masyarakat yang kamu lakukan dalam bentuk apapun akan memberikan dampak positif bagi masyarakat,  entah itu berdampak langsung atau tidak, besar atau kecil, banyak atau sedikit, pengabdian masyarakat dapat menjadi sesuatu yang berharga bagi masyarakat itu sendiri. Sebagai mahasiswa kita sudah selayaknya menebar hal yang positif bagi masyarakat, siapa tau setelah kita melakukan pengabdian, karakteristik atau kebiasaan orang-orang di daerah tersebut dapat berganti ke arah yang lebih baik.

2. Memperbanyak relasi

Sumber: sidomuktijaken.wordpress.com

Saat melakukan pengabdian masyarakat mau tidak mau kamu akan berhubungan dengan banyak orang, bukan hanya di tim kamu, atau tim lainnya, namun juga berhubungan langsung dengan tokoh masyarakat, pengusaha, dan pemerintah setempat. Hal ini dapat kamu manfaatkan untuk menjalin relasi yang luas, siapa tau setelah lulus kamu bisa mengembangkan lagi daerah tempat kamu melakukan pengabdian masyarakat, dan mengubah tempat tersebut menjadi lebih sejahtera.

BACA JUGA: Serunya Ikut Kepanitiaan, Kalian Udah Ngerasain?

3. Meningkatkan soft skill dalam berkomunikasi

Sumber: vokasi.ui.ac.id

Melakukan kegiatan pengabdian masyarakat, berarti kamu harus berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat, jika kamu melakukan pengabdian ini di luar kota, maka kamu harus bisa berbicara bahasa mereka, walaupun kamu bisa menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, bahasa daerah akan membuat kamu lebih dekat dengan masyarakat setempat, selain itu kamu dipaksa untuk lebih komunikatif lagi dalam berinteraksi dengan masyarakat yang datang dari berbagai usia dan latar belakang yang berbeda dengan kamu.

4. Belajar hal baru

Sumber: ikd.ugm.ac.id

Saat melakukan pengabdian masyarakat secara tidak langsung kamu akan belajar mengenai adat istiadat, karakteristik dan kebiasaan orang di daerah tersebut. Hal tersebut dapat memperkaya pengalaman serta wawasan kamu yang tidak bisa dimiliki atau dicuri oleh orang lain, contonya, kamu bisa belajar bernegosiasi dengan orang yang lebih tua usianya dari usiamu, belajar tentang menghargai pendapat orang lain, belajar untuk lebih peka dengan lingkungan sekitar, dan masih banyak lagi yang bisa kamu pelajari.

BACA JUGA: Rekan Kerja di Kantor, Organisasi, atau Kepanitiaan Nyebelin? Ini Kiat-Kiat Menghadapinya

5. Menumbuhkan sifat simpati dan sabar

Sumber: its.ac.id

Tidak dapat dipungkiri jika melakukan kegiatan seperti ini akan menumbuhkan kepekaan terhadap jiwa sosialmu, dengan melihat keadaan masyarakat yang sebenarnya kamu bisa menjadi lebih kritis dan peduli terhadap lingkungan sekitar sehingga menambahkan rasa simpati dan empati dalam diri kamu. Dengan melakukan kegiatan ini kamu juga bisa belajar untuk lebih bersabar, bersabar jika ide atau opini kamu ditolak, bersabar ketika apa yang kamu inginkan tidak berjalan sesuai rencana, sifat-sifat ini sangat berguna bagi kamu untuk menghadapi hidup di kemudian hari, sehingga kamu bisa lebih bijak dalam memilih keputusan.

***

Nah, jadi itu dia manfaat-manfaat yang bisa kamu dapatkan ketika kamu melakukan pengabdian masyarakat, sebenarnya masih ada banyak manfaat lainnya ketika kamu melakukan hal ini, tapi secara garis besar kira-kira inilah manfaat yang paling saya rasakan ketika melakukan pengabdian masyarakat. Biasanya banyak dosen yang mengajak mahasiswanya untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat loh, kamu bisa Tanya-tanya langsung ke dosen mu atau teman-teman lainnya mengenai info pengabdian masyarakat di UI. Intinya pengalaman ini sangat berharga dan sangat sayang untuk kamu lewatkan!

BACA JUGA: 8 Fakta Pusgiwa UI yang Cuma Diketahui Aktivis UKM dan Organisasi

Menambah Pengalaman dengan Ikut Kepanitiaan Pengabdian Masyarakat

Selain kegiatan akademik, salah satu opsi yang bisa dipilih mahasiswa untuk mengisi perkuliahan adalah mengikuti kepanitiaan. Kepanitiaan ini pun banyak pilihannya, mulai dari bidang seni dan olahraga, lingkungan, hingga sosial kemasyarakatan. Dengan mengikuti kepanitiaan, mahasiswa bisa mendapat pengalaman dan relasi baru.

bisa buat header (dokumentasi Baksos IKM FIB UI)

Sampai dengan semester lima, aku telah mengikuti beberapa kepanitiaan, mulai dari tingkat jurusan sampai universitas. Namun, kepanitiaan yang paling berkesan adalah kepanitiaan pengabdian masyarakat. Dari tujuh kepanitiaan yang pernah kuikuti, tiga di antaranya adalah kepanitiaan pengabdian masyarakat.

1. Kampung Sahabat Budaya

Salah satu momen foto bersama di PKBM Nurul Jannah (dokumentasi KSB FIB UI)

Kepanitiaan pengabdian masyarakat pertama yang kuikuti adalah Kampung Sahabat Budaya (KSB) FIB UI 2018. Kegiatannya adalah mengajar anak-anak dan memberdayakan masyarakat di suatu kampung. Tempatnya di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Nurul Jannah di Desa Susukan, Citayam. Rangkaian acaranya berlangsung mulai bulan September sampai Desember dan diadakan seminggu sekali.

Saat itu, aku berperan sebagai pengajar SD. Pada saat acara pembuka, kami disambut baik oleh warga di sana. Kami mengadakan senam bersama dan bincang-bincang ringan agar mahasiswa dan warga bisa saling mengenal. Anak-anak di sana pun selalu antusias menyambut kami. Mereka selalu mengajak kami bermain. Sayangnya, keantusiasan mereka tersebut tidak berlaku saat waktu belajar dimulai. Para pengajar dituntut kreatif untuk membujuk anak-anak agar mau belajar.

BACA JUGA: Anak Harusnya Dididik dengan Pertanyaan dan Kritisisme!

2. Bakti Sosial

Salah satu mata acara Baksos IKM FIB UI (dokumentasi Baksos IKM FIB UI)

Kepanitiaan selanjutnya yang kuikuti adalah Bakti Sosial (Baksos) IKM FIB UI 2018. Konsep acaranya hampir sama seperti KSB, tapi seluruh panitia harus menginap di tempat pengabdian selama tiga hari dua malam. Acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 15—18 November 2018 di Desa Samudera Jaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.

Bisa dibilang, kegiatan ini adalah kepanitiaan pengabdian masyarakat yang paling berkesan buatku. Karena harus menginap, aku harus bisa berbaur dengan masyarakat di sana, terutama dengan anak-anaknya. Aku yang saat itu jadi staf dokumentasi harus aktif memotret setiap momen yang ada di sana. Lucunya, setiap aku membawa kamera, anak-anak di sana selalu minta difoto tanpa malu-malu.

Tak hanya serunya saja yang aku rasakan. Karena desa tersebut berada di daerah muara, air di sana terasa payau. Selain itu, air juga termasuk barang langka di sana. Aku pun terpaksa mandi sehari sekali. Untuk kebutuhan wudhu, aku harus berjalan kurang lebih 500 meter ke sumur warga. Lelah memang, tapi semua itu hilang ketika melihat semangat belajar anak-anak dan warga yang mengikuti semua rangkaian acara Baksos.

BACA JUGA: Rekan Kerja di Kantor, Organisasi, atau Kepanitiaan Nyebelin? Ini Kiat-Kiat Menghadapinya

3. Rumah Belajar (Rumbel) BEM UI

Pengajar dan siswa kelas 4 Rumbel BEM UI (dokumentasi pribadi)

Kepanitiaan pengabdian masyarakat terakhir yang kuikuti adalah Rumah Belajar (Rumbel) BEM UI 2019. Sebenarnya, ini bukan literally pengabdian masyarakat, sih. Kegiatannya adalah mengajar anak-anak SD, paket B, dan paket C di Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) setiap hari Sabtu. Bisa dibilang, sistemnya seperti les atau bimbingan belajar (bimbel), tapi gratis. Selain belajar, anak-anak SD juga dilatih untuk menari dan bermain mini drama. Kegiatan ekstrakulikuler tersebut akan ditampilkan pada acara Pagelaran Bocah (Pagecah) yang merupakan acara penutup dari Rumbel.

Di Rumbel aku jadi guru Bahasa Indonesia kelas 4 dan 5. Aku berpasangan dengan Farhan, mahasiswa FT UI. Bisa dibilang ini adalah pengalaman pertama aku mengajar anak-anak dengan serius alias nggak boleh main-main. Kenapa? Karena pada akhir masa belajar, anak-anak tersebut harus mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) dan mendapat laporan hasil belajar. Bahkan, aku harus membuat soal UAS-nya sendiri. Jadi, selama kegiatan belajar mengajar aku harus mengontrol murid-muridku untuk tetap fokus pada materi yang diajarkan. Tentunya ini menjadi hal yang tricky karena mereka berasal dari latar belakang yang berbeda.

BACA JUGA: Siapa Bilang UAS Cuma Bikin Stress Doang? Nih, Hikmah Tersembunyi di Balik UAS!

Itu tadi pengalamanku selama mengikuti kepanitiaan pengabdian masyarakat. Buat kalian yang mau mengisi masa-masa kuliah dengan kegiatan yang bermanfaat sekaligus mendapat pahala, kalian bisa ikut kepanitiaan seperti ini. Kepanitiaan pengabdian masyarakat bisa melatih social skills kalian, loh. Selain itu, dengan berada di tengah masyarakat dan melihat berbagai problematikanya, secara tidak langsung kalian diajak untuk merefleksikan diri agar lebih mensyukuri hidup yang kalian punya.