Teknologi Maju Ternyata Bikin Kamu Beruntung Kuliah Pada Masa Sekarang

Pernah ada dosen yang bilang bahwa selain teknologi itu memudahkan, juga bisa bikin males. Terutama dalam hal perkuliahan. Memang bener sih, kuliah saat ini tuh banyak banget kemudahannya. Coba aja bayangin, seberapa parah kuliah kamu kalau gak ada teknologi-teknologi seperti yang ada di bawah ini:

Komputer dan Laptop Kini Sudah Menjadi Kebutuhan

Bayangin hidup tanpa komputer atau laptop via
Bayangin hidup tanpa komputer atau laptop via Photo Credit: Marco Wessel via Compfight cc

Ini paling essential. By the time you read this, penulis sedang asik nonton film atau tv series atau malah main game di laptop. Iya sih, komputer ada banyak, tapi ya jelas banget kalau laptop itu essential-nya udah akut dewasa ini. Bayangin kalau gak ada komputer dan kamu masih harus ngetik pake mesin tik….bayangin bunyinya. Rusuh. Kalau salah ketik, sedihnya gak ketulungan. Masih inget kalau kamu udah ngantuk dan maksain ngerjain tugas dan ujungnya typo, sampe nama si dia ketulis dalam makalah yang lagi bahas kalkulus?

BACA JUGA: Sering Mangku Laptop Pas Ngerjain Tugas Bisa Bikin Impotensi Loh

Lebih essential lagi, kamu mobile. Itu benda bisa memudahkan kamu untuk kerja di mana pun, mau di kelas, di café, di café tradisional (warkop maksudnya), dan lain sebagainya. Sayangnya ya ini juga bisa bikin males, seperti sabda dosen tadi. Kamu lagi di café, kopi di tangan, sofanya nyaman. Boong kalau gak tergoda ngebuka file atau aplikasi apa pun selain word dan temen-temennya di office.

 

Saat Ini Sudah Ada Mbah Google

Gimana jadinya hidup kamu tanpa di Mbah Google
Gimana jadinya hidup kamu tanpa adanya Mbah Google

Bayangin susahnya kalau gak ada si mbah yang satu ini! Ya coba bayangin kalau kamu kuliah di tahun 70-an atau 80-an yang waktu itu Google belum ada. Kamu harus melakukan semuanya secara manual. Dateng ke perpustakaan, cari buku. Sekarang? Ketik aja keyword-nya. Kamu mau file apa? PDF? EPUB? Atau mau ngutip satu kalimat aja? Mau tau penelitian orang lain yang sejenis. Google it. Tuh, dia udah jadi verba sekarang.

Namun, doi juga bikin males. Kamu gak lagi terfokus untuk mencari suatu hal. Kalau dulu gak ada Google, orang-orang harus ke perpustakaan dan ketika mereka udah nyampe, mereka gak mau buang waktu dan nyari sampe dapet, karena kalo gak ketemu, rumit semua perkara.

 

BACA JUGA: 7 Aplikasi Ponsel Pintar yang Maba Harus Punya!

Lah sekarang? Googling udah bisa dari hp. Kamu lagi di toilet pun bisa. Buku apa juga banyak yang ada di web, kamu bajak seenak jidat juga gak ada yang peduli-peduli banget. Eh, udah segampang itu kamu malah googling namanya si dia, atau googling artis idola kamu, atau buka google chrome dan liat ui.cantik…yah kalo ui.cantik agak gak bisa disalahin sih.

 

Ga Perlu Nyalin Satu-satu Lagi dengan Mesin Fotokopi 

Males nyatet, solusinya ya mesin ini via hukumonline
Males nyatet, solusinya ya mesin ini via hukumonline

Ini sangat memberi kemudahan buat kamu yang suka cari referensi dan lain sebagainya. Mau punya buku tapi yang lebih murah atau mau punya buku yang udah gak dicetak lagi. Dulu, waktu mesin fotokopi baru muncul, disembah macam dewa; gak perlu lagi ke perpustakaan pinjem buku dan ngantri gara-gara satu orang boleh pinjem sampe dua minggu, dan harus pinjem berkali-kali karena emang baca sekali gak mempan. Ada mesin fotokopi, dikopilah itu buku. Selesai perkara.

Sebelumnya, sempet dibahas yang namanya membajak. Salah satu oknumnya adalah mesin fotokopi. Iya sih, ini sangat memudahkan, say kamu bikin makalah dan kamu butuh ngasih ke dosen dan satu di-keep. Print dua kali mahal dong, jadi dikopiin aja.

BACA JUGA: UI Mendidik Untuk Membajak? (Hanya Pemikiran Seorang Mahasiswa)

Lain cerita ketika kamu ngopi itu buku catetan temen. Menjelang UAS, kamu kopi catetan dia satu semester, berharap kamu bisa melahap segala materi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Iya sih, yang punya catetan mungkin gak mempermasalahkan catetannya dibajak, toh dia udah ngerti semua materi. Lah, kamu? Selesai fotokopi, liat catetan setebel itu langsung nyerah, gak mood baca. Di awal semester, kamu udah males nyatet dan berpikiran, ah nanti fotokopi catetan si A aja. Tuh kan, males.

BACA JUGA: Ada 5 Tipe Males Mahasiswa. Nah, Kamu yang Mana?

Beberapa orang juga pakai kamera buat ‘ngopi’ catetan. Ketika dibuka di hp itu foto catetan, slide-slide scroll-scroll, akhirnya malah tamasya liat-liat koleksi foto-foto pribadi. Dasar narsis. Jadi males dan gak belajar deh.

Nah, liat kan betapa mudahnya kuliah sekarang ini? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line supaya temen kamu pada rajin belajar (tampaknya gak bakal ngaruh), atau mungkin mereka tahu teknologi apa lagi yang memudahkan kehidupan perkuliahan mereka dan mau berbagi.

 

KALE11DOSKOP: 11 Hal yang Cuma Dirasakan Anak UI Angkatan 2011!

Halo civitas academica semuanya! Bagaimana kabar SIAKNG-nya? Menjulang setinggi langit SCBD, apa membumi seperti ilmu padi? Well, dari semua angkatan, gue yakin bahwa angkatan 2011-lah yang paling senang dengan keluarnya grafik di SIAKNG kali ini. Soalnya, kalo sesuai dengan jadwal, semester ini adalah grafik SIAKNG terakhir bagi angkatan 2011 yang telah melewati masa-masa sidang dan tengah revisi.

Sebagai salah satu bagian angkatan paling tua di program S1 saat ini, gue tergerak untuk merangkum apa saja yang udah dirasakan sama angkatan 2011 selama ngampus di belantara hutan selama empat tahun belakangan. Nah langsung aja, ini dia sebelas hal yang terangkum dalam KALE11DOSKOP!

 

1. Abad Kejayaan Perpustakaan Pusat

Kadang Gambar Brosur Tak Seindah Aslinya (sumber: http://griyarsitektur.wordpress.com)
Kadang Gambar Brosur Tak Seindah Aslinya (sumber: http://griyarsitektur.wordpress.com)

Keuntungan pertama yang dirasakan oleh angkatan 2011 adalah bisa merasakan kemegahan Mall of Universitas Indonesia Crystal of Knowledge yang menyandang predikat perpustakaan terbesar di Asia Tenggara di awal masa peresmiannya. Meski belum ada istilah check-in di social media, Perpusat saat itu menjadi titik favorit bagi para maba untuk saling kopdar, ngapalin yel-yel, atau sekadar berselancar di Kebun Apel tanpa perlu tawaf mencari PC mana yang connect internet. Setelah empat tahun kuliah di sini, kita pun merasakan perkembangan Perpusat yang sangat pesat, salah satunya ditandai dengan masuknya kapitalisme lewat keberadaan toko kelontong, warung popmie, juga warung-warung kopi. Tidak hanya itu. Demi mempertegas kesan go green, Perpusat juga menambahkan fasilitas air terjun temporer yang hanya muncul di saat hujan tiba. Yha… siapa tahu tahun depan ada wahana arung jeramnya.

Kita tunggu saja.

2. Saksi Hidup Dibangunnya Gedung-gedung Baru

ayosebarkan
Sekilas sih syahdu. Semua buyar pas perlintasan Pocin teriak tungtungtungtung. (sumber: ayosebarkan.com)

Nggak cuma soal Perpusat, sebagai anak yang masuk saat kampus ini sedang giat-giatnya membangun, angkatan 2011 juga menjadi saksi hidup betapa pesatnya pembangunan gedung baru di kampus kita. Meski nggak secepat cerita legenda Loro Jonggrang, masih lekat di pikiran kita gimana kondisi kampus saat pertama kali masuk. Gedung vokasi baru ada dua, wajah PKM masih sederhana, RIK yang segede gaban pun dulunya cuma berupa parkiran. Sayangnya, nggak semua bernasib baik seperti mereka. Pembangunan gedung baru Fasilkom dan Sekolah Seni dan Perancangan Lingkungan (pecahan Arsitektur dari Teknik) misalnya. Dari zaman desainernya masih kinyis-kinyis hingga sekarang menjabat Wali Kota Bandung, saat ini kedua gedung tersebut mangkrak dan semakin lumutan. Bahkan terakhir gue ke sana, Auditorium Fasilkom udah menjelma jadi kandang raksasa bagi kelelawar dan keluarga besarnya.

 

3. Lahirnya Fakultas Baru

Selain gedung yang terus bertambah, nggak ada angin nggak ada hujan, setahun belakangan kampus kita juga kedatangan keluarga baru yaitu Fakultas Farmasi (pecahan dari MIPA) dan Fakultas Ilmu Administrasi (pecahan FISIP). Nggak mau kalah, Fakultas Ekonomi juga ikut berganti nama dengan menambahkan embel-embel “Bisnis” di belakang nama fakultasnya. Sementara itu…. lagi-lagi Sekolah Seni dan Perancangan Lingkungan yang dari tahun 2008 direncanakan sebagai FSRD-SAPPK-nya Jakarta nasibnya kini masih hanya sebatas wacana.

Yha… Da aku mah apa.

4. Masa-masa Tanpa Rektor

Saat Ramai-ramai Hashtag #SaveUI (sumber: antarafoto.com)
Saat ramai-ramai hashtag #SaveUI (sumber: antarafoto.com)

Salah satu isu yang sempat dilalui oleh angkatan 2011 adalah hashtag #SaveUI yang semakin menyeruak ketika mantan rektor kita, Pakde Gumilar diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembangunan dan tata kelola kampus UI. Kisruh soal transparansi ini berlangsung selama bertahun-tahun. Barulah mulai menemukan titik terang ketika posisi rektor dipegang oleh Pjs dan berakhir setelah Prof. Anis terpilih pada Pilrek tahun 2013. Selama masa-masa kekosongan itu pula, berdasarkan yang gue alami sendiri, kita selalu disodori pertanyaan menyudutkan dari orang-orang perihal kasus ini begitu tahu kalo kita anak UI.

 

5. Balada Kandang Rusa

Hanya yang beriman yang bisa melihat padang rumput ini (sumber: anakui.com)
Hanya yang beriman yang bisa melihat padang rumput ini (sumber: anakui.com)

Mungkin angkatan muda saat ini akan bertanya-tanya tentang sebidang tanah semak belukar yang dipagar di seberang Stasiun UI. Bukan, itu bukanlah tanah sengketa apalagi pagar ghaib yang dipasang oleh Ustaz Solehpati. Adik-adik, dulunya tempat tersebut merupakan kandang bagi belasan rusa yang dipelihara oleh kampus kita. Bisa dibayangkan betapa syahdunya kalo berjalan sendirian saat itu. Ditiup angin, kejatuhan biji kapas, mendengar kicauan burung dan suara ringkikan aneh dari rusa yang kabur dari kandangnya. Ya, mirip pemeran putri di film Disney rasa-rasanya.

Ternyata, mereka tidak sebahagia yang kita duga. Berdasarkan riset Santa’s Missing Deer yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa, ditemukan bahwa dalam kandang tersebut banyak ditumbuhi tanaman semak yang menjadi racun bagi mereka. Selain itu, kangkung, wortel, juga makanan yang biasa dijual setiap Sabtu-Minggu ternyata juga nggak baik buat rusa-rusa tersebut. Demi hidup yang lebih baik, akhirnya mereka diselamatkan ke penangkaran yang lebih layak di Cariu dan Cibarusah. Semoga mereka bahagia.

6. Metamorfosis Stasiun UI

Bekas puing-puing kios langganan para mahasiswa (sumber: viva.co.id)
Saksi sejarah dibumiratakannya surga-surga kecil langganan para mahasiswa (sumber: viva.co.id)

Ada yang masih inget, ada berapa loket masuk Stasiun UI beberapa tahun yang lalu? Ada yang masih inget deretan kios warung baso, somay, tempat ngeprint dan fotokopi, bahkan asesoris dan kunciran gemes yang ada di Peron arah Jakarta? Ya. Beberapa tahun yang lalu, peron stasiun UI ramai diisi parapedagang yang menjual segala macam kebutuhan dasar mahasiswa –sandang, pangan, papan, casan, kebetan ujian (Fotokopi perkecil, trims). Ketenangan tersebut berubah semenjak negara api menyerang. Rencana PT KAI yang hendak menertibkan pedagang langsung mendapatkan respons beragam dari mahasiswa. Ada yang setuju, tapi nggak juga sedikit yang menolak. Isu ini pun sempat menyita perhatian media nasional, hingga akhirnya jadilah Stasiun UI—yang menurut gue lebih tertib—seperti yang sekarang ini.

 

7. Eksklusivitas Kereta AC

Kereta bekas Crayon Shinchan, saat Misae saat belanja dari Kobe (sumber: viva.co.id)
Kereta bekas Crayon Shinchan, saat Misae saat belanja dari Kobe (sumber: viva.co.id)

Nggak cuma stasiun aja yang mengalami peremajaan. Mulai tahun 2013, PT KAI dan Commuter Jabodetabek juga melakukan penggantian armada kereta listrik mereka dengan yang menggunakan AC semua. Tapi, sebelum menggunakan sistem tiket elektronik yang mengandalkan cara tap and go, PT KAI membedakan layanan armadanya dengan dua kasta yang berbeda yakni Commuter AC dan KRL Ekonomi. Ada harga, ada rupa. Untuk mengejar kenyamanan, penumpang waktu itu dipatok tarif yang cukup mahal di awal-awal peluncurannya. Sebagai contoh, untuk pulang ke Planet Bekasi gue harus mengeluarkan kocek sebesar Rp16.500 cuma buat sekali jalan. Kalo dibandingin sama tarif yang sekarang dengan sistem hitungan elektronik per kilometer, uang segitu gue pake pergi pulang buat dua setengah kali jalan bolak balik Depok-Bekasi-Depok-Bekasi-Depok lagi.

Sampai gumoh, sampai pegel karena duduk terus hingga terserang ambeien.

 

8. Tangguhnya KRL Ekonomi

Ena (sumber: sindonews.net)
Senggol lagi Bang. Kurang dalem. Ntap. (sumber: sindonews.net)

Masih berbicara soal kereta, salah satu tujuh keajaiban dunia yang selama dua tahun sempat dirasakan sama angkatan 2011 adalah peninggalan artefak nenek moyang bernama KRL ekonomi. Seperti yang kita ingat, kereta ekonomi adalah salah satu jenis kendaraan umum berbasis rel yang sebagian besar penumpangnya pedagang asongan, spiderman, sisanya copet. Meski risikonya besar, kereta ekonomi menjadi alternatif bagi mahasiswa tahun-tahun pertama terutama angkatan 2011 untuk mengakali tarif karcis yang mahal buat sekadar bisa pulang ke rumah. Sayangnya, wahana praktik yang dapat mengajarkan kita menjadi ninja hokage nomor satu ini sekarang diistirahatkan di Dipo Purwakarta karena usianya yang kelewat tua.

 

9. One Stop Living Concept

Peninggalan sejarah tempat mahasiswa membajak buku-buku murah (sumber: kaskus.com)
Peninggalan sejarah Pondok Cina tempat mahasiswa membajak buku-buku murah (sumber: kaskus.com)

Sebelum Feni Rose menanggalkan profesinya sebagai penyiar infotainment dan menggemborkan konsep one stop living seperti di iklan properti, ternyata kampus kita udah lebih dahulu menerapkan konsep tersebut, di mana tempat makan, buku, hangout, dan hiburan campur aduk menjadi satu. Sebelum dilakukan penertiban oleh PT KAI, kawasan Kober dan Pocin menjadi tempat favorit bagi mahasiswa untuk mencari-cari kesenangan bersama teman sepermainannya. Selain jajanan yang bermacam-macam, anak-anak 2011 juga bisa dengan mudah mencari buku-buku cetak tahun pertamanya—seperti Kalkulus Purcell, Aljabar Liniernya…ah stahp- dengan harga yang miring ketimbang di toko buku konvensional.

Meski sekarang terkesan lebih tertata, sensasi belanja di Kober dan Pocin kini terasa tak lagi sama dengan empat tahun sebelumnya.

 

10. Inflasi Harga Mie Ayam FISIP-FIB

Siapa cepat dia dapat. Beli sekarang, hari Senin harga naik! (sumber: corelex09.blogspot.com)
Siapa cepat dia dapat. Beli sekarang, Senin harga naik! (sumber: corelex09)

“Jangan ngaku anak UI kalo belum mencicipi mie ayam sengketa FISIP dengan FIB.” Begitulah petuah Plato yang langsung diamini oleh murid-muridnya di Athena. Percaya nggak percaya, mie ayam yang selalu murah hati dalam memberikan pangsit dan daun bawang ini pada tahun 2011 harganya hanya Rp5.000,00 saja. Dengan semangat Tuanku Imam Bondjol, kita sudah dapat mengganjal perut di kala Magrib tiba dengan semangkuk mie yamin yang terkenal endhang sembari mengobrol bersama teman di pinggiran jalan. Melihat lesunya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar serta rumah tangga Nassar dan Musdalifa yang tak kunjung menemukan titik terang, perlahan tapi pasti harga mie ayam ini pun merangkak naik hingga mencapai harga Rp8.000,00.

Udah ya, jangan naik lagi…. Tertanda. Pengagum mie yaminmu.

 

11. Ojek Goceng Pukul Rata

Bukan, bukan. Ini bukan potongan gambar Termehek-mehek apalagi Katakan Cinta (sumber: rimanews.com)
Perhatian. Ini bukan adegan Termehek-mehek apalagi Katakan Cinta (sumber: rimanews.com)

Nggak cuma bisa membuat perut kenyang doang. Duit lima ribu di masa empat tahun yang lalu juga bisa membuat kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan ojek kuning. Dengan tarif flat yang diterapkan di setiap pangkalan, penumpangnya dapat dengan pede memberikan duit goceng pada abang-abang yang telah mengantarnya. Berbeda dengan kondisi sekarang di mana tarif ngesot sedikit dari Stasiun ke Haltek aja bisa beragam dari Rp8.000,00 bahkan Rp10.000,00 antar kangojek. Iya. Semahal itu. Terlepas dari drama yang dilakukan ke layanan Go-jek yang merebak belakangan ini, tarif ojek kuning menjadi salah satu hal yang paling terasa mengalami kenaikan selama empat tahun terakhir.

***

Bagi gue, angkatan 2011 adalah angkatan kasihan.

Selain kasihan karena kita belum kenal istilah selfie, GoPro, drone—jangankan drone. Mengagung-agungkan pin Blackberry Messenger aja udah menjadi kebanggaan tersendiri saat empat tahun yang lalu, angkatan kita juga menjadi kelinci percobaan karena waktu angkatan kita lah untuk pertama kalinya diterapkan sistem penerimaan Jalur Undangan. Gara-gara satu undangan, seketika anak-anak kelas dua belas saat itu melakukan taubat nasional. Kita secara berjamaah menyesali angka rapot yang ngepas karena kebandelan di masa-masa kelas sepuluh dan sebelas, sembari mengharap belas kasih dari Yang Mahakuasa untuk mengizinkan kita nyangkut di pilihan pertama.

Masa empat tahun berlangsung dengan amat cepat.

Setelah berhasil masuk UI, daftar ulang, ikutan ospek, dan lain sebagainya, nggak kerasa mayoritas dari kitayang dulu dikumpulin dengan setelan putih-putih dan secara random dipaksa membentuk barikade “gajebo” bertuliskan huruf OKK di tengah bulan puasakini sudah atau sedang mempersiapkan segala dokumen sidang, wisuda, dan kelulusan.

Ngomong-ngomong… apa kabar poster 100 mimpi yang dulu ditugaskan ketika PSAU? Sudah dicoret berapa puluh cita-cita?

Apa saja yang sudah kamu lakukan selama berkuliah di Kampus Perjuangan?

Apa saja yang sudah dipetik buat diri sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa dan negara?

Tulisan ini ditujukan buat mayoritas angkatan 2011.

Di sinilah kita sekarang.

Berjuang sama-sama di tempat yang sama, untuk keluar menuju pascakampus yang abu-abu katanya.

Sampai bertemu di Balairung, teman-teman!

Selamat berjuang dalam masing-masing keilmuan yang kamu suka.

Satu lagi, selamat menjadi lulusan yang sesuai dengan tema OKK:

“Manusia yang Peduli Indonesia.”

Jangan lupa kirim doa untuk pejuang angkatan kita, almarhumah Dwi Purnama Putri (FH’11)

Ada 5 Tipe Males Mahasiswa. Nah, Kamu yang Mana?

 

Yang namanya males, bohong kalo mahasiswa nggak pernah ngalamin. Males itu udah kaya kutukan yang nggak bisa dipatahin. Kaya penyakit yang nggak bisa disembuhin. Kaya mantan yang nggak pernah bisa dilupain.

Orang beda-beda malesnya. Yang paling wajar di kalangan mahasiswa adalah males ngerjain tugas. Siapa yang nggak males coba? Mending nongkrong di kantin, bercanda tawa dengan teman sebaya ala sosialita. Sebenernya salah nggak sih kalo males? Ya salah lah! Gimana sih, nggak usah bela diri deh. Meskipun emang udah jadi wajar. Saking wajarnya kalo diperhatiin, sebenernya ada beberapa tipe males yang dimiliki mahasiswa, dan masing-masing bisa dibedain kalo lo mau sedikit berusaha dan memperhatikan.

Males Mandi

Males mandi. (Sumber:)
Males mandi. (Sumber:Photo Credit: ^ Johnny via Compfight cc)

Jenis males yang satu ini udah kaya Esia beberapa tahun lalu, jenis males sejuta umat. Kenapa ya, kok banyak banget mahasiswa yang males mandi? Alesannya macem-macem sih, ada yang bangunnya kesiangan karena bikin tugas, ada yang bangunnya sengaja disiang-siangin biar nggak mandi, ada yang nunda mandi karena mau sekalian mandi besar, malah ada yang sengaja membiasakan diri untuk males mandi biar keliatan buluk, katanya sih sesuai dengan style masa kini.

Keliatannya ya buluk, meskipun sebenernya yang udah cakep mah ya cakep aja mau mandi mau enggak. Kalo lo punya temen kaya gini, nyantai aja. Biasanya mereka selalu punya parfum sesuatu gitu untuk menyamarkan kemalesannya untuk mandi, jadi bau badannya nggak menjajah makhluk hidup dalam radius seratus meter. Tapi kalo lo adalah sosok yang males mandi, cobain cari pacar. Nanti dengan sendirinya kamu akan berasa keki kalo ketemu dia tapi nggak pake mandi.

 

Males Mikir

Ada yang perhatiin, ada yang tidur. (Sumber:)
Ada yang perhatiin, ada yang tidur. (Sumber:Photo Credit: Tulane Public Relations via Compfight cc)

Ini sering banget lo liat di kelas. Atau sebenernya lo salah satunya. Jujur deh, early in the morning, bawaannya males mikir, maunya ngecek gebetan di Path, buka Instagram liat yang unyu-unyu seger. Lagian nge-scroll kan nggak pake mikir. Ya, nggak? Males mikir itu bisa dibilang mendarah daging dan cukup berbahaya, karena kadang suka muncul di saat yang salah, misalnya pas lagi tes. Tapi jangan salah, males mikir nggak berarti nggak pinter loh. Justru biasanya yang males mikir itu pinter dan agak egois, jadi nggak mau mikirin soal hal-hal yang menurut dia nggak penting.

Males mikir juga nggak cuma perihal kuliah loh, bisa juga dalam hal asmara. Mungkin aja, (mungkin loh. Enggak ding ini beneran) pacar atau gebetan yang lama respons chat kamu itu sebenernya lagi males mikirin kamu. Perhatiin deh, kalo ada orang yang jawabnya iya-iya aja atau malah cuma ngangguk-ngangguk mengamini macam pengajian, itu ciri orang males mikir. Dia juga sering males jelasin sesuatu, dia tutup kalimatnya pake “Ya, pokoknya gitu deh. Lo ngerti lah pasti.” Gimana caranya mengatasi males mikir? Coba pikir deh gimana caranya

Nah, itu udah nggak males mikir.

 

Males Masuk

"Bentar, Bro. Makan dulu." (Sumber: muhamadriky)
“Bentar, Bro. Makan dulu.” (Sumber: muhamadriky)

Mahasiswa 1 : “ Bro, nggak masuk kelas?”

Mahasiswa 2 : “ Nanti, Bro. Telat-telat dikitlah, setengah jam-an gitu.”

*kelas udah berjalan sejam*

Mahasiswa 2 : *lewat chat* “Nggak jadi masu, Bro?”

Mahasiswa 1 : “ Minggu depan aja.”

Serius deh, ini jenis males yang juga bahaya. Pasti punyalah temen yang malesnya kaya gini. Biasanya, mahasiswa tipe males masuk, habitatnya di kantin. Kasus paling epik yang pernah tercatat oleh BMKG (Badan Mahasiswa Kurang Gawean) adalah mahasiswa inisial GN, yang tidak dikenali oleh dosennya sendiri gegara si caur yang satu ini baru mulai tanda tangan di map absen selepas UTS, atau malah cuma masuk pas UTS dan UAS. Kalo lu nggak pernah ketemu seorang temen di kelas, ada dua kemungkinan: dia emang males masuk, atau emang kalian nggak pernah sekelas.

 

Males Pulang

"Download film dulu, deh." (sumber: langit11)
“Download film dulu, deh.” (sumber: langit11)

Nah, ini jenis males yang menular. Males pulang stadium awal bisa aja positif, dia stay all night di kampus karena ikut kegiatan mahasiswa, atau mungkin jadi staff peneliti BMKG. Males pulang stadium lanjut adalah mahasiswa yang stay all night tapi nggak di kampus. Dia keluyuran, bertualang entah ke mana.

Yang stadium lanjut ini sebaiknya lo tolong. Biasanya sih kalo lo deket sama yang tipe beginian, nyokapnya bisa aja tetiba nelpon lo, nyariin anaknya. Lo tolong deh, soalnya kasian nyokapnya, tuh anak pulang kalo duitnya abis doang. Bang Toyib kalah sama dia, saking jarang pulangnya. Tapi ya ati-ati aja, seperti yang udah dibilang, ini menular. Bisa aja lo diculik sama dia, diajak clubbing sampe lupa jalan pulang.

 

Males Kuliah

Ibarat tukang parkir, si mahasiswa muncul cuma pas ujian. (Sumber: wawwiwiwaw)
Ibarat tukang parkir, si mahasiswa muncul cuma pas ujian. (Sumber: wawwiwiwaw)

Cirinya gampang. Either ini orang nggak pernah bawa tas, kalopun bawa nggak ada isinya, nggak pernah bawa buku, pulpen minjem, selalu dateng telat, atau malah nggak dateng sama sekali. Lo tau namanya, tapi lo nggak pernah liat ini makhluk bentuknya kaya apa, apakah ia separuh ikan atau setengah ghaib.

Beda sama yang males masuk, tipe yang kaya gini biasanya kaya pemain bola, mencetak hattrick alias tiga kali ngulang matkul yang sama gegara dia nggak lulus-lulus. Jatah cuti udah abis, kuliah nggak lulus-lulus jadi dia practically suicidal dan menunggu takdir dikeluarkan a.k.a D.O., jadi dia punya pembelaan bahwa bukan dia yang males kuliah, tapi emang universitas yang nggak doyan sama spesies mahasiswa macam dia.

Nggak bisa disangkal, males itu udah lekat sama kehidupan sehari-hari. Bisa dilawan, tapi males nggak sih lawan males? Iyalah, kan jelas-jelas menyerah pada rasa males enak rasanya. Tapi nggak perlu khawatir, ini adalah hal yang normal dan perkara waktu aja sampe lo tobat dan terlepas dari rasa males karena udah dikejer deadline.

Anggep aja, males itu cobaan. Kapan lagi cobaan mengasyikkan? Tapi setidaknya setelah baca tulisan ini, kamu jadi sadar kalo males dan mudah-mudahan nggak mau males lagi.  Ayo, share tulisan ini via Facebook, Twitter, dan Line agar temen-temen yang males jadi sadar kalo mereka emang males!

 

Cara Belajar Efektif Tanpa Harus Duduk di Kelas

Setiap mahasiswa mempunyai cara masing-masing untuk belajar. Ada tipe mahasiswa yang bisa mengerti hanya dengan memerhatikan dosen, tanpa harus mengulang di rumah. Ada juga tipe mahasiswa yang belajar dengan membaca buku sampai berkali-kali, tetap tidak memahami. Dari sekian banyak cara belajar, ada juga cara belajar efektif mahasiswa tanpa harus duduk di kelas.

Tentunya, bagi seorang mahasiswa senang tidak senang, suka tidak suka, harus tetap belajar. Sebagai seorang mahasiswa pun harus mengakui kalau belajar adalah kegiatan utama mereka, meskipun ada yang menganggap belajar hanya kegiatan sampingan karena memiliki kegiatan lain, misalnya bekerja. Bagi mereka yang kuliah sambil kerja ataupun sebaliknya, tentu akan sangat sulit mengatur waktu untuk belajar. Para mahasiswa seperti ini takut, jika nilai mata kuliahnya jelek dan takut juga jika pekerjaan mereka terganggu.

Hal yang diinginkan oleh para mahasiswa sekaligus pekerja adalah pekerjaan tetap jalan dan mendapat nilai yang baik di setiap mata kuliah. Jadi, dua aktivitas tetap berjalan lancar dan tentunya dengan hasil yang memuaskan. Kamu bisa mencoba cara belajar tanpa harus duduk di kelas. Memangnya bisa?  Jawabannya tentu bisa. Tulisan ini akan membahas bagaimana cara belajar efektif tanpa kita harus pergi ke kampus dan bertatap muka langsung dengan dosen.

Kuliah Online

Kuliah online. (Sumber:)
Kuliah online. (Sumber:Photo Credit: mikecogh via Compfight cc)

Semakin berkembangnya teknologi dan internet saat ini, tidak hanya mengubah gaya komunikasi banyak orang, tetapi juga memberi ide dalam cara belajar. Cara belajar-mengajar yang umum, mulai berubah menggunakan fasilitas seperti menggunakan infocus, layar, LCD, wireless, wifi, dan sejenisnya. Dimana hal ini tentu semakin memperbaiki kualitas dan kegiatan belajar-mengajar.

Namun, penggunaan teknologi ini sebatas mendukung kegiatan belajar-mengajar dan belum mengubah kebiasaan orang untuk belajar dengan cara tatap muka secara langsung. Padahal, dengan segala fasilitas teknologi yang ada saat ini, kita bisa belajar tanpa harus duduk di kelas, yaitu dengan Kuliah Online. Kuliah online tidak jauh berbeda dengan kuliah seperti yang sudah ada hanya saja kuliah online dilakukan dimana mahasiswa tidak harus duduk dikelas dan bertatap muka langsung dengan dosen.

Kuliah online dapat dilakukan dengan menggunakan fasilitas information communication technology (ICT) dan internet. Dengan begini, mahasiswa bisa belajar tanpa harus duduk di kelas, lebih praktis tanpa terbatas oleh waktu, jarak, dan kapasitas ruangan. Sudah ada beberapa penyedia jasa kuliah online yang bisa Anda cari di internet, yang siap membantu kamu.

Dengan adanya kuliah online, tentu akan menciptakan cara belajar yang lebih praktis antara dosen dengan mahasiswa. Para mahasiswa yang ikut kuliah online dapat belajar secara real time dan live meskipun tidak bertatap muka secara langsung. Tidak hanya itu, dengan cara ini mahasiswa juga akan terbiasa untuk belajar lebih mandiri. Kalau di kelas, bisa saja saat mendengarkan dosen diajak teman berbicara, sedangkan dengan kuliah online mahasiswa diharapkan akan lebih fokus dan yang pasti mahasiswa akan semakin terbiasa menggunakan teknologi ICT dan internet.

Jadwal kuliah Online juga sangat fleksibel dan bisa dikondisikan sesuai dengan waktu kedua belah pihak. Jika tiba-tiba terjadi sesuatu dan kamu tidak bisa mengikuti kuliah online dengan jadwal yang telah disepakati, kamu bisa membuat jadwal ulang. Kamu juga bisa memilih mata kuliah yang diinginkan saja.

 

Latihan Soal di Rumah

Rajin latihan soal. (Sumber:)
Rajin latihan soal. (Sumber:Photo Credit: Skokie Public Library via Compfight cc)

Jika kamu memiliki keterbatasan dalam hal teknologi dan merasa sulit untuk mengakses atau mengikuti kuliah online, cobalah berlatih soal di rumah. Cara ini juga sangat efektif untuk mahasiswa tanpa harus datang ke kelas. Dengan sering mengerjakan soal di rumah, kamu akan terbiasa dan terampil mengerjakan soal-soal ujian dengan waktu yang lebih cepat.

Kerjakan soal latihan setiap materi, jangan biasakan mengerjakan soal latihan hanya jika ada tugas. Kamu bisa ngecek jawaban dengan kunci jawaban ataupun dengan membaca buku lagi. Jika ada soal yang tak bisa diecahkan, ajak teman untuk berdiskusi dan sama-sama memecahkan soal tersebut. Biasakan juga jangan copas hasil tugas teman. Ketika kamu mengerjakan tugas sendiri, membaca buku, di situlah kamu belajar.

 

Pergi Ke Perpustakaan

Rajin ke perpustakaan. (Sumber:)
Rajin ke perpustakaan. (Sumber:Photo Credit: UBC Library via Compfight cc)

Cara efektif lainnya adalah dengan pergi belajar ke Perpustakaan. Biasanya di tiap universitas bahkan fakultas selalu ada perpustakaan atau ruang baca khusus mahasiswanya. Di sana kamu bisa membaca buku dengan tenang. Semakin banyak referensi buku yang diaca, maka semakin luas pengetahuan yang bakal kamu dapatkan. Jangan lupa untuk meringkas materi-materi penting yang ada di buku. Ringkasan ini bisa dijadikan bahan untuk belajar di rumah.

Setiap orang memiliki kemampuan belajarnya sendiri-sendiri. Jika kamu termasuk mahasiswa yang tidak suka mendengarkan dan lebih suka membaca atau menulis, pergi ke perpustakaan adalah cara belajar efektif mahasiswa tanpa harus duduk di kelas.

Begitulah cara belajar efektif mahasiswa tanpa harus duduk di kelas menurut anakUI.com. Ya, ada banyak cara untuk belajar asalkan ada niat dan kemauan untuk belajar. Semoga sukses dan dapat dijadikan inspirasi untuk gaya belajar kamu, ya.

Sumber : 1 2

Tipe-tipe Mahasiswa yang Biasanya Datang ke Perpustakaan UI

Perpustakaan UI Nightshot

Sekarang udah bukan saatnya ngedengerin lagu Libur Telah Tiba-nya Tasya karena libur justru telah tiba di penghujung! Libur sebentar lagi usai, tandanya kampus UI bakalan rame lagi sama mahasiswa/i-nya (padahal pas libur masih ada aja loh yang pergi ke kampus, tetep ada orang!). Salah satu tempat yang bakalan rame lagi adalah perpustakaan yang katanya adalah termasuk perpustakaan terbesar di Asia, Perpustakan Pusat Universitas Indonesia.

Perpustakan Pusat UI atau yang biasa disingkat perpusat merupakan fasilitas di UI yang sering dikunjungi mahasiswa/i dari berbagai jurusan, bahkan mahasiswa dari Universitas lain ada juga loh yang bela-belain datang ke gedung yang dekat danau dan Balairung ini.

Banyak orang datang kesini, emang pada mau ngapain sih? Emang ada apa di perpusat ini? Ternyata dari sekian banyak orang yang datang ke perpusat, mereka itu punya tujuan yang berbeda-beda loh. Berikut 6 tipe orang yang datang ke perpusat UI:

 

Tipe Kantong Tebal

13730160001459178773
(gambar: Maulidya Falah, edukasi.kompasiana.com)

Di saat mahasiswa lain mencari makanan termurah demi menyelamatkan kantong, tipe kantong tebal ini dengan sengaja mengunjungi perpusat untuk mengerjakan tugas di tempat yang cozy atau untuk sekedar bersantai. Kamu bisa menemui tipe kantong tebal ini di Starbucks, Cafe Korea, dan Green-t yang berada di dalam perpusat. Hati-hati kadang tipe kantong tebal ini sama dengan tipe susah hemat alias boros.

 

Tipe Gabut

Gabut di Sofa Perpusat UI
(gambar: Amanda Padilah, beasupermanda.blogspot.com)

Sofa panjang berwarna hitam siap menyambut orang-orang yang gabut di tengah hari-hari kuliah. Udara yang lumayan dingin karena ada AC membuat perpusat menjadi tempat yang nyaman untuk tipe gabut ini duduk-duduk sambil ngadem, maklum di kosan cuma bisa bergantung sama kipas angin.

 

Tipe Tukang Kebun

Gedung Perpustakaan Baru Universitas Indonesia (UI)
(gambar: Jansen Alfredo, zenius.net)

Tipe yang satu ini sebenarnya tidak jauh beda dengan tipe gabut. Namun, selain sofa panjang hitam, kebun apel alias ruangan komputer (semua merknya Apple, cie) juga menjadi sasaran empuk para tukang kebun ini. Orang-orang yang datang kesini sering mempunyai misi tersembunyi, salahsatunya mendownload film-film. Asik deh.

 

Tipe Maba

Mahasiswa baru mengerjakan tugas-tugasnya
(gambar: Ghifari Akmal, Facebook.c0m)

Karton, kertas, gunting, dan lem berserakan dimana-mana. Kerja kerja kerja. Ditegor satpam. Geser dikit. Kerja kerja kerja. Itu adalah tipe maba yang lagi ngerjain tugas ospek bareng-bareng 1 angkatan. Hayooo, pernah ngerasain juga gak?

 

Tipe UAS Spirit

Meme UAS
(gambar: bukanwartakampus.blogspot.com)

Tipe ini adalah tipe yang paling banyak. Tipe yang datang saat benar-benar butuh, yang datang karena memang harus datang, yang datang demi UAS takehome yang harus dicari referensinya, yang datang demi belajar bareng, yang datang hanya pada saat minggu-minggu UTS dan UAS.

 

Tipe Mulia

Tempat membaca di perpustakaan UI
(gambar: Joe Hudijana, joehudijana.wordpress.com)

Tipe ini adalah orang-orang yang datang ke perpusat dengan tujuan sesuai tujuan sebuah perpustakaan ada, mencari buku. Tipe mulia ini biasanya adalah mahasiswa tingkat akhir yang lagi sibuk ngerjain skripsi. Biasanya mereka bakal bawa-bawa kantong yang isinya buku-buku bejibun. Tak jarang mereka juga membawa laptop, duduk menyendiri, berjuang biar gak jadi mahasiswa abadi.

 

Tipe-tipenya memang berbeda, tapi mereka semua punya kesamaan. Mereka akan kaget kalo ngedenger lagu daerah yang tiba-tiba diputar di perpusat kalo udah mau tutup. Hayo ngaku, siapa yang kaget pas pertama kali ngedenger? Kalo belum pernah denger, waduh kamu belum lengkap berarti jadi anak UI-nya!

Kalo kamu sendiri masuk ke tipe yang mana? Apa menurut kamu ada tipe lain? Kasih tau pendapat kamu di comment ya!

 

Head image by M. Irvan Ginandjar

Tujuh Lokasi Tersyuting-able di Kampus UI

 

Berangkat dari sabda yang pernah mahsyur, “Libur telah tiba, libur telah tiba. Hatiku gembira” (Tasya, 2000), tak terasa, kita telah memasuki masa liburan. Artinya, bikun jadi tambah jarang, tempat makan sekitar kos jadi lengang, saingan buat ngewarnet di kebun apel perpusat pun makin berkurang.

Tapi, percayalah bahwa kampus kita tetap bakal ramai dihuni berbagai insan, mulai dari pejuang wisuda ganjil, mahasiswa fakir kuota, bahkan orang-orang luar yang khusus datang ke kampus kita dengan tujuan…… syuting.

Ya, seperti sudah menjadi rahasia bersama, menyambut Sabtu sore yang gembira, kali ini kami bakal membuat countdown list tujuh lokasi ter-syuting-able di kampus UI! Here we go, again!

 

Baca Selengkapnya

Pedoman Kebijakan Penggunaan Fasilitas Perpustakaan UI

Sumber: http://www.lib.ui.ac.id/content/pedoman-kebijakan-penggunaan-fasilitas-perpustakaan-universitas-indonesia Gedung Perpustakaan UI atau yang dikenal dengan Crystal of Knowledge terdiri dari 8 lantai dan beberapa bangunan yang berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan. Fasilitas di gedung ini dibagi menjadi dua, yakni fasilitas umum … Baca Selengkapnya

“Bertamasya” di Pustaka UI Depok

Citizen Reporter oleh Azwir Nazar, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia Bila anda ke kampus Universitas Indonesia(UI), rasanya tidak lengkap tanpa mengunjungi perpustakaan pusat UI Depok. Perpustakaan UI merupakan salah satu yang terbesar, termodern dan terindah di … Baca Selengkapnya

Perpustakaan UI, Nightshot

Iseng-iseng foto sebelum pulang ke Bogor. Credits goes to Hari Prasetyo dan Anugrah Ramadhani karena minjemin sendalnya buat alas kamera saya. Silakan cek halaman flickr saya untuk ukuran yang lebih besar dan foto2 lain: http://www.flickr.com/photos/26105267@N05/ *perangkat: … Baca Selengkapnya

Libur Akhir Tahun 2011 Perpustakaan UI

from: library@ui.ac.id Yth. Sivitas akademika UI Mengacu kepada peraturan pemerintah RI dan kebijakan UI tentang hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2011, maka layanan Perpustakaan UI ditutup pada tanggal 25, 26, dan 31 Desember … Baca Selengkapnya