5 Jenis Pertanyaan yang Bisa Kamu Tanyakan Pada Sesi Tanya Jawab Kelas dan Cara Praktis Membuatnya

Jenis Pertanyaan di Kelas

Terkadang, menghadiri kelas yang ada presentasi kelompok dan sesi tanya jawabnya menjadi hal yang sangat dilematis. Di satu sisi, kita akan senang karena kita bisa jadi lebih santai karena ada sesi tanya jawabnya. Namun, di sisi lain dosen kadang mewajibkan buat tiap kelompok ada yang nanya.

Masalahnya, membuat dan mengajukan pertanyaan di kelas itu tidaklah lebih mudah dari bertanya kepada rumput yang bergoyang. Dengan bertanya di kelas, biasanya kita akan takut dengan cibiran-cibiran “Ih, sudah nggak lulus-lulus, pertanyaannya kagak jelas lagi!” atau “Ih, sudah nggak lulus-lulus, suka ngomong sama kipas angin lagi!”

Namun tenang saja, sebagaimana Maher Zain bilang, InsyaAllah ada jalan, mulai sekarang kamu nggak perlu khawatir sama cibiran-cibiran itu. Di halaman ini, kamu bakal nemuin beberapa jenis pertanyaan yang bisa kamu ajukan pada sesi tanya jawab dilengkapi tuntunan praktis cara membuatnya. Dengan begitu, kamu nggak perlu lagi takut dengan cibiran-cibiran inspiratif kayak di atas.

 

1. Pertanyaan Kontekstual

Pertanyaan Kontekstual
Mikir kan jawabnya?

Bagi kamu yang ingin terlihat sebagai manusia biasa yang tetap waras namun masih ingin terhindar dari kemungkinan dicap pertanyaan tak berbobot oleh dosen, ada baiknya kamu coba bikin pertanyaan yang kayak gini. Pertanyaan ini adalah jenis pertanyaan paling ideal. Selain tidak punya kemungkinan untuk dianggap sebagai pertanyaan tidak berbobot, pertanyaan ini juga tidak akan merusak prahara pertemanan dengan teman kamu yang presentasi dan kamu yang ngasih pertanyaan.

Entah kebetulan atau tidak, pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan kedua yang paling sering muncul dalam sesi tanya jawab. Ciri khusus dalam pertanyaan jenis ini adalah adanya kasus yang mengiringi pertanyaan, bahkan jadi ruh utama dalam pertanyaan.

Contoh: “Berdasarkan yang telah kalian jelaskan tadi, teori Youngleks mengatakan bahwa Youtube lebih dari TV, sementara itu, yang terjadi di kampung saya di New Zealand, Friendster lebih banyak dibuka daripada Youtube. Apakah dengan demikian Friendster lebih dari Youtube dan teori Youngleks tidak lagi berlaku?

Cara membuat: Pertama, perhatiin dan pilih salah satu pernyataan yang temen kamu kemukakan saat presentasi. Kedua, cari kasus yang berkaitan dengan pernyataan tersebut. Ketiga, hubungkan kasus dengan pernyataan tersebut (bagaimana pernyataan tersebut memandang si kasus?) Keempat, kumpulkan keberanian, niat, dan segala motivasi selama ESQ. Kelima, tanyakan.

 

2. Pertanyaan Teoretis

Pertanyaan Teoritis
Mana gue tauk!

Pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang agak jarang muncul di sesi tanya-jawab. Sesuai namanya, inti dari pertanyaan ini adalah tentang teori, terutama alur logika dari teori itu sendiri. Biasanya, orang yang ngasih pertanyaan ini adalah orang yang cukup bisa memahami bagaimana suatu teori itu dibuat dan bagaimana yang seharusnya terdengar dari suatu teori.

Kalo kamu mau ngasih pertanyaan ini, kamu harus siap dicap sebagai orang pinter dan diminta buat ngajarin temen-temen kamu buat UAS, walaupun pada kenyataannya kamu belom ada persiapan sama sekali untuk menghadapi UAS. Selain itu, kamu juga harus siap buat dikeselin sama temen kamu yang kamu tanya karena temen kamu pasti mikir, “Lah, itu kan teori orang, bukan teori gua, lu tanya orangnya lah!”

Contoh: “Dalam presentasi kalian tadi, kalian menjelaskan teori Karin yang menyatakan bahwa bahwa perubahan negara ke arah yang lebih baik hanya bisa terjadi melalui revolusi youtuberiat, yang saya masih agak bingung, apa hubungannya antara youtuber dengan negara dan bagaimana Karin dapat sampai pada kesimpulan demikian?”

Cara membuat: Pertama, perhatikan dan pilih salah satu teori yang dikemukakan selama presentasi. Kedua, cari teori yang tidak dijelaskan oleh presentator bagaimana si pencetus teori bisa sampai pada kesimpulan tersebut dan temukan kejanggalan alur logikanya. Ketiga, tanyakan. Keempat, persiapkan dirimu untuk diminta ngajarin temen buat UAS.

 

3. Pertanyaan Kontekstual-Teoretis

Pertanyaan Kontekstual-Teoritis
Apakah kamu melihat Dora? (via pinterest)

Yang ketiga ini adalah jenis pertanyaan paling kompleks. Mikirin cara buatnya dan ngecek ketersambungan logikanya aja ribet, apalagi ngejawabnya. Kalo kamu ngeluarin pertanyaan ini, kamu nggak akan dikira sebagai anak yang pinter lagi, tapi dengan mengeluarkannya, kamu emang udah pinter.

Namun, ada satu konsekuensi berat yang juga harus kamu pikul selepas ngeluarin pertanyaan ini. Pertama, pada kesempatan berikutnya, temen kamu nggak akan sudi nunjuk kamu buat ngasih pertanyaan walaupun kamu bahkan udah ngangkat kedua tangan. Kedua, kalo pada akhirnya kamu dikasih kesempatan juga buat bertanya (walaupun terpaksa), kamu punya kemungkinan besar untuk dimusuhi oleh hampir sekelas.

Selain itu, kamu juga harus siap pertanyaanmu dianggap nggak nyambung, ke mana-mana, dan terlalu offside. Tapi nggak apa-apa, menjadi seorang intelek memang kadang dipahami secara salah, jadi pahamilah hal itu sebagai ujian.

Secara garis besar, pertanyaan jenis ini “agak” mirip kayak pertanyaan teoretis, tapi bedanya ada unsur konteks yang dimasukkan dalam pertanyaan tersebut. Orang yang ngajuin pertanyaan ini biasanya ada beberapa kemungkinan. Pertama, dia mau ngasih pertanyaan teoretis, tapi untuk mempermudah yang ditanya memahami pertanyaannya, dia masukkin konteks dalam pertanyaannya.

Kedua, orang yang ngajuin pertanyaan ini punya sikap kritis, tapi dia mau ke-kritisan-nya make perspektif teori orang lain agar dapat membentuk suatu diskusi yang produktif. Ketiga, orang yang ngajuin pertanyaan ini lagi bikin paper atau tulisan ilmiah yang make suatu teori yang berhubungan dengan teori yang sedang dibahas oleh presentator.

Ciri pertanyaan ini adalah adanya kritik terhadap suatu teori dengan didasari oleh suatu konteks yang konteks tersebut didapat dari teori lain di luar teori yang dikritisi (penjelasannya aja udah ribet -_-).

Intinya, contoh pertanyaannya kayak gini:

“Sebagaimana kelompok kalian kemukakan, teori Dora menyatakan bahwa untuk sampai ke tempat tujuan, kita harus melihat peta, namun teori Boots mengatakan bahwa untuk bisa sampai ke tempat tujuan, kita harus berjalan karena kalau tidak berjalan maka nggak akan gerak. Nah, yang ingin saya tanyakan, bagaimana perbandingan pengaruh variabel independen yang dikemukakan pada teori Dora dan teori Boots terhadap ketersampaian seseorang kepada suatu tujuan?”

“……..” pada titik ini biasanya teman-teman sekelas sedang mencerna pertanyaan kamu, dan kemungkinan besar akan berakhir pada ketidakmengertian maha dahsyat: “Maaf, boleh diulangi nggak pertanyaannya?”

Kamupun refleks mengembuskan nafas intelektualis, dan kali ini mencoba menyampaikan pertanyaan secara super perlahan.

“Hmmm. Ok, jadi gini… kan kita tau… tadi kelompok kalian… nyebutin teori Dora… yang bilang… kalo mau sampe tujuan harus liat peta… Nah, kalo misalkan ada seorang yang tidak melihat peta dan dia cuma jalan aja, kira-kira… pengaruhnya… dalam…ketersampaian… ke… tempat… tujuan dan teori Dora tersebut… gimana… sih?”

Udah gitu, yang ditanya ngangguk-ngangguk. Terus pas jawabnya pake awalan, “Terima kasih pertanyaannya, walaupun pertanyaannya agak offside”

Ujian.

Cara membuat: Perhatikan teori yang disampein pas presentasi. Cari teori lain yang agak berlawanan dari teori tersebut. Temukan titik lemah teori yang disampaikan yang bisa diserang pake teori yang berlawanan tadi. Tanyakan. Kuatkan diri untuk menghadapi segala ujian.

 

BACA JUGA: Umm…Ada Tips Nih Supaya Gak Sering Bilang Umm…Saat Presentasi

 

4. Pertanyaan Normatif

Pertanyaan Normatif
Gimana? (via pinterest)

Pertanyaan jenis ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul di sesi tanya jawab presentasi. Wabil khusus, pada kelas MPKT-A dan MPKT-B. Biasanya, pertanyaan ini adalah saat anggota kelompok kamu kehabisan ide buat bikin pertanyaan tapi dosen ngewajibin harus ada pertanyaan tiap kelompok. Pertanyaan jenis ini juga paling gampang buat dikenali cirinya: Normatif! Namun, jangan salah sangka, dengan seringnya kamu menanyakan pertanyaan jenis ini secara tidak langsung membuat kamu terlatih untuk menjadi pejabat berbakat.

Contoh:

“Apa sih yang harus dilakukan oleh mahasiswa untuk menanggulangi kiamat?”

Atau

“Kerusakan yang disebabkan oleh tirani Dipsy sudah sangat besar, kira-kira apa sih yang perlu dilakukan oleh Pemerintah untuk menghentikan kerusakan tersebut?”

Cara membuat: Pake format “Apa yang harus dilakukan oleh…. untuk……?” Makin normatif makin menunjukkan bahwa kamu berbakat untuk mencalonkan diri jadi wakil presiden Cyprus.

 

5. Pertanyaan Ahsudahlah

Pertanyaan Ahsudahlah
Yayaya (via Linkedin)

Kalo yang terakhir ini adalah jenis pertanyaan yang paling jarang muncul. Bahkan, lebih jarang daripada pertanyaan kontekstual-teoretis. Pertanyaan ini seringnya hanya jadi lintasan-lintasan pikiran pada jiwa-jiwa yang sepi saat kelas MPKT-A dan MPKT-B. Namun, seringkali lintasan-lintasan pikiran brilian itu tidak tersampaikan sehinga menjadikan jenis pertanyaan ini mirip-mirip dengan perasaan terhadap Raline Shah: Ada, namun tidak tersampaikan. Selain itu, ciri utama pertanyaan ini ada satu: akan muncul suara “ahsudahlah” dalam hati saat ingin menjawabnya.

Namun, jangan salah. Kamu harus curiga bahwa kamu adalah seorang penyair berbakat kalau kamu bisa sampai membuat pertanyaan jenis ini.

Contoh:

“Berdasarkan paparan kelompok anda tadi, apakah Dian Sastro menyukai mahasiswa yang kupu-kupu namun nggak tatoan?”

Atau

“Ada satu hal yang ingin saya tanyakan, Kekasih. Sudah 5 hari ini sendok yang biasa saya gunakan untuk mengaduk mie diam terus, saya takut ia kenapa-kenapa dan tidak bilang-bilang sama saya. Kira-kira, apa kesalahan saya sehingga menyebabkan sendok saya menjadi demikian?”

Cara membuat dan cara menjawab: Ahsudahlah.

 

BACA JUGA: Bikin Slide Presentasi yang Keren Tuh Kaya Begini!

 

Itulah beberapa jenis pertanyaan yang dapat kamu tanyakan di kelas, beserta cara membuatnya. Semoga bermanfaat!

Hal yang Nggak Boleh Kamu Lakuin Ketika Daftar di Organisasi!

“Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa!”

Yaiyalah hidup, kalo nggak hidup udah jadi gini kalimatnya, “Almarhum Mahasiswa”.

Btw, kalian pasti tau dong kalimat-kalimat itu biasanya lantang diteriakin sama siapa? Yup, biasanya para mahasiswa yang bergumul dalam suatu organisasi lantang teriak kalimat begitu untuk membakar semangat mahasiswa. Para organisator itu juga biasanya teriak-teriakin kalimat itu ketika ada acara keorganisasian, orasi pemimpin organisasi, aksi, acara nikahan, sunatan, kelaperan, kehausan, kehujanan, yang penting tetep “Hidup Mahasiswa!”.

Para organisator ini juga ada banyak tipenya, ada yang pengen terlihat gagah ketika masuk organisasi, ada yang pengen kelihatan aktif di depan kamu, dan ada juga yang emang jiwanya patriot; membela kebenaran dan melawan kegelapan, kecuali kalo malem.

Nah, di kampus kita saat ini lagi marak dan rame-ramenya nih pembukaan calon-calon organisator. Buat kamu yang mau keliatan ganteng dan cantik, sekalian mau nyari maba unyu-unyu waktu ospek, mending gabung jadi organisator juga! Eits… tapi jangan karena itu ya alasan kalian ikut organisasi, sebab organisasi nggak butuh orang-orang yang nampang doang, tapi butuh kinerja aktif dan partisipatif untuk memajukan organisasi dan kampus kita. Ya sekalian nyari maba juga ga apa sih *eh

Teruntuk kalian yang ngebet masuk organisasi di kampus, baik BEM, DPM, dan lainnya, jangan pernah lakuin ini kalo mau diterima jadi anggota ya!

 

BACA JUGA: Inilah yang Gak Bakal Kamu Dapatkan Kalau Malas Berorganisasi di Kampus

 

Proses Pendaftaran

Contoh poster open recruitment (via Official BEM UI)
Contoh poster open recruitment (via Official BEM UI)

Inilah proses pertama untuk menjadi seorang organisator, yaitu mendaftar ke bagian administrasi masing-masing organisasi. Ingat, mendaftar ke organisasi yang kalian mau, jangan sampe kalian salah organisasi. Dari yang kalian anak FEB, malah daftar ke BEM RIK. Jangan sampai seperti itu ya!

Cari narahubung admin masing-masing organisasi yang mau kalian daftar. Chat dia dengan sopan kayak, “Selamat pagi kakak, udah sarapan? Mau aku beliin sarapan nggak? Sekalian disuapin?” *eh maksudnya kayak gini, “Selamat pagi kak, nama saya Kribo, saya mau tanya tentang tata cara pendaftaran masuk organisasinya gimana ya, kak?”

Nah, kalau sudah dijawab, biasanya kalian akan disuruh isi formulir. Ketika mengisi formulir, ingat ya, kolom nama selalu pake nama asli kalian, jangan pakai nama samaran si “Mawar”, atau si “Rafflesia Arnoldi”, apalagi kalo pake nama kesayangan sebutan mantan kayak si “Kebo”, atau “Kelinci Madu”. Bukan cuma itu, di kolom jenis kelamin juga jangan sampe salah paham. Sebutkan bahwa kalian pria/wanita, jangan diisi si “Ujang”, atau si “Robert”!

Biasanya sih sekarang di poster open recruitment udah ada syarat, alur pendaftarn, dan CP yang bisa dihubungi kok.

 

Proses Seleksi Berkas

Setelah daftar, saatnya berkas kamu diseleksi (via careernews)

Selama proses seleksi administrasi dengan mengecek berkas-berkas kalian, lampirkanlah CV (Curriculum Vitae) atau daftar riwayat hidup. Karena biasanya, dalam proses ini para ketua dan tim pemilihan anggota bakal selektif banget memilih calon anggotanya. Lampirkanlah CV kalian dengan desain yang menarik dan berbeda dari yang lain. Pakailah software berupa Corel Draw atau Photoshop, atau software-software desain lainnya. Ingat, jangan digambar-gambar sendiri!

Di dalam CV, jangan lupa lampirkan keahlian kalian, baik hard disk skill maupun soft skill. Isi aja semua keahlian kalian kayak disiplin, jago menulis, jago memimpin, jago memasak, jago ngepoin mantan, jago ngupil, jago salto di dalam danau, atau jago ngeluluhin hati kamu, iya kamu…

 

Proses Wawancara

Tahap terakhir nih, wawancara! (via hipwee)

Nah, proses ini biasanya seleksi terakhirnya. Di sini kalian bakal melatih mental bertatap muka secara langsung dengan si pemimpin organisasi, ya lumayanlah biar bisa melatih diri saat wawancara kerja. Di proses ini, kalian biasanya ditanyain nama, jurusan, alamat, nomor telepon, nomor sepatu, parfumnya apa, bedaknya apa, nama bapak siapa, kerjanya apa, kalo kerja naik apa, nama mamak siapa, orang mana, kok bisa kawin sama bapak…. sampai ke pertanyaan mengenai alasan kenapa kamu mau ikut organisasi, keahliannya apa, terus kalo ada masalah di organisasi gimana mecahinnya, apakah kamu akan galau ketika ada masalah atau tidak.

Kalau udah ditanya sebanyak itu, tetaplah tenang dan jangan gugup! Santai aja, anggap saja pertanyaan itu adalah pertanyaan ketika kamu ditanya-tanya sama calon mertua! Jangan ngelawan, jangan emosi! Pokoknya jawablah sesuai porsi dengan penuh senyuman, jangan malah dijawab kayak gini,

“Siapa?

Y a n g  n a n y a  !”

 

BACA JUGA: 8 Hal Paling Penting yang Harus Ada di CV Kamu Biar Dilirik HRD

 

Nah, buat kalian yang mau masuk organisasi, inget ya jangan pernah lakuin hal-hal di atas. Hidupkan organisasimu, majukan kampusmu, berikan kontribusi terbesarmu, dan jangan lupa siapkan rayuan gombalmu untuk maba unyu *eh. Share artikel ini ke akun Facebook, Twitter, dan Line kalian biar semua orang bisa terhindar dari hal-hal yang membuat mereka nggak diterima masuk organisasi!

Waspada! Ini Dia Enam Pertanyaan Rese’ Saat Lebaran Buat Mahasiswa!

Selamat liburan civitas academica! Gimana, pada mudik nggak?

Beberapa hari belakang, mudik menjadi berita yang dikomodifikasi sama media massa hampir setiap jamnya. Macet di sana, macet di mari, merayap di keluar tol sono, kecelakaan di ruas tol sini, mudik atau mulih udik emang menjadi ritual tahunan Bangsa Indonesia yang kepengin merayakan hari raya dengan sanak keluarga di kampung sana. Tapi civitas, ketahuilah. Di balik prosesi mudik dan indahnya menyambung tali silaturahmi, bakal ada segelintir anggota keluarga besar yang kepo sama kehidupan buku, pesta, dan cinta kamu sebagai mahasiswa selama setahun belakangan.

Nah, berikut AnakUI.com bocorkan kisi-kisi enam pertanyaan malesin yang bakal ditemui saat kumpul bersama keluarga di Hari Raya beserta cara menghadapinya!

 

1. Gimana Kabarnya?

Pertanyaan standar ini merupakan bentuk basa-basi paling sering ditanyakan oleh setiap anggota keluarga, sama halnya dengan “tadi di jalan kena macet di mana?”, “kamu dari rumah berangkat jam berapa?”, atau “kamu sekarang bernapasnya pakai apa?”. Nah, cara yang paling gampang untuk membalas pertanyaan ini adalah menjawab sekenanya dengan nada rendah hati, kemudian bertanya balik seperti yang satu ini.

Jawaban Tepat: “Alhamdulillah sehat”, “Baik-baik saja. Kamu gimana?”

Jawaban Kurang Tepat: “Apa? Nggak prinsipil kata lo? Basi! madingnya udah siap terbit!”

 

2. Sibuk Apa Sekarang?

Setelah menanyakan kabar, pertanyaan selanjutnya yang bakalan keluar adalah perihal rutinitas. Ketahuilah bahwa jawaban kamu akan menentukan citra kamu di depan anggota keluarga yang lain. Maka, jawablah pertanyaan ini dengan jawaban yang lugas dan berkelas, misalnya menceritakan segala dunia perkuliahan yang padat selama setahun terakhir.

Jawaban Tepat: “Kemarin aku jadi panitia blablabla, nyari duit nonton bareng talkshow Sarah Setan, oh ya, aku juga turun ke jalan menentang kebijakan Pemkot Depok buat turun dari bus kota dengan kaki kanan duluan, dst, dst”

Jawaban Kurang Tepat: “Aku nganggur. Kepikiran sih, mau magang jadi Boneka Perempatan Mampang”

Boneka Mampang. Jangan sekali-kali ditonton kala mereka lagi goyang. (sumber: punyasaya.co)
Boneka Mampang. Jangan sekali-kali ditonton kala mereka lagi goyang. (sumber: punyasaya.co)

 

3. Gimana Kastengelnya?

Setelah menanyakan dua basa-basi di awal, kemungkinan berikutnya adalah sang penanya bakal teringat dengan aneka toples kue keringnya yang tersedia di atas meja. Sekenyang apapun perutmu, saran gue jangan pernah menolak tawaran kue yang disuguhkan oleh tuan rumah. Ingat, kamu statusnya cuma tamu, bukan Gordon Ramsay atau Chef Juna. Maka sebagai tamu yang beradab, alangkah baiknya kamu menyenangkan hati mereka saat sang tuan rumah menanyakan rasanya, gimanapun kenyataannya.

Jawaban Tepat: “Bikin sendiri ya? Kok enak, kaya beli di supermarket gini!”

Jawaban Kurang Tepat: mengernyitkan dahi sambil berkata, “Ini pake segitiga biru apa semen tiga roda. Keras amat kek batu bacan”

 

4. IP-nya berapa?

Hati-hati. Biasanya pertanyaan ini dilontarkan oleh Tante/Om yang secara implisit ingin membandingkan hasil jerih payah kuliah kita dengan pencapaian anaknya. Kalo ditanya begini, cara menjawabnya harus tricky. Kalo sang penanya emang dasarnya orang baik, jawablah pertanyaan tersebut dengan rendah hati dan sejujur-sejujurnya. Tapi, kalo yang nanya karakternya emang bigos, dijawab dengan bumbu-bumbu dikit juga nggak ada salahnya kok!

Jawaban Tepat: “Alhamdulillah dapet segini koma segini kemarin. Hehe.”

Jawaban Kurang Tepat: “Bosen banget, masa cumlaude mulu tiap semester! Eh iya! Anak tante gimana? Katanya mau drop out? Kapan drop out-nya? Aduh, aku ikut deg-degan.”

 

5. Kapan Wisuda?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan lanjutan setelah membahas IP-IP-an, khususnya ditujukan bagi mahasiswa tingkat akhir yang berjibaku dengan skripsi di semester kemarin (baik yang kelar maupun yang belum). Siap-siap aja, serangakian pertanyaan tentang topik, sidang, sampe pendamping wisuda bakal jadi trending topic yang harus kamu klarifikasi setiap saat.

Jawaban Tepat: “Akhir Agustus besok”, atau “Aku belum sidang, kemarin studi kasusnya masih belum lengkap. Kemungkinan semester depan. Hehehe.”

Jawaban Kurang Tepat: “Aku nggak mau buru-buru dulu. Sebulan kemarin fokusku habis buat membenahi akhlak, bersedekah, memberi makan fakir miskin, dan mengkhatamkan iqro 6.” Jangan. Itu riya namanya.

 

6. Pacarnya Mana?

Nah, setelah melalui semua basa-basi di atas, berhati-hatilah dalam menghadapi pertanyaan pamungkas ini. Sebenernya pertanyaannya sederhana, tapi nyelekitnya menghujam sampe ke hati, terlebih buat mahasiswa-mahasiswi yang baru putus cinta atau masih jomblo hingga hari raya. Perlu persiapan mental dan latihan keras untuk menjawabnya dengan elegan. Jadi, ayo latihan dari sekarang!

Jawaban Tepat: “Dia mudik ke kota lain sama keluarganya, hehehe”, atau “Jodoh dan rezeki kan udah ada yang ngatur.”

Jawaban Kurang Tepat: “Ngana fikir pacar aing kudu dibawa, diempanin, dimandiin tiap hari kek tamagochi?” atau “Halah, tante aja udah menikah tapi raut mukanya nggak bahagia”.

Lebaran jomblo? Tschus sini ummi temenin. (sumber: showbiz.liputan6.com
Lebaran jomblo? Tschus sini ummi temenin. (sumber: showbiz.liputan6.com)

 

***

 

Civitas academica yang apalah-apalah.

Hari raya adalah momentum yang tepat buat menyambung kembali silaturahmi dan menghapus segala kesalahan yang sudah-sudah. Nah, selain harus mawas diri menyambut kaleng monde yang ternyata isinya rengginang, alangkah baiknya sebelum mudik dan menjalin silaturahmi dengan famili, kita juga melakukan berbagai persiapan fisik dan mental termasuk dengan latihan menjawab enam pertanyaan rese’ yang udah dibahas barusan.

Akhirul kalam… Selamat Hari Raya Idul Fitri!

Mohon maaf bila selama ini punya salah, dear anakUI!!! 😀