Mahasiswa dan Revolusi Pembebasan Politik Borjuasi

Sudah 11 bulan sejak demo Rancangan Undang-Undang (RUU) serta pelemahan KPK di suarakan oleh mahasiswa, sekarang terlihat bahwa kesadaran revolusioner mahasiswa surut begitu saja dan hilang tanpa jejak. Awalnya saya percaya bahwa aksi massa yang dilakukan oleh mahasiswa sejak september 2019 merupakan upaya pembebasan dari selubung-selubung politik Borjuasi yang melekat pada perpolitikan Indonesia, tetapi siapa sangka bahwa kelas mahasiswa yang dianggap dapat membebaskan masyarakat ternyata juga mengalami reifikasi.

Dengan reifikasi yang saya maksud adalah senada dengan apa yang ditulis oleh filsuf Hongaria Gyorgy Lukacs yaitu apa yang sebenarnya hubungan antara manusia bebas kelihatan seperti hubungan antara benda. Masyarakat modern atau industri sebenarnya secara tidak sadar mereka mengalami reifikasi, seluruh hubungan antar-manusia dikuasai oleh hukum pasar, dan dipahami sebagai bentuk komoditas yang bisa diperjualbelikan. Masing-masing dari kita melihat yang lain hanya sebagai sarana untuk mendapatkan untung. Cinta, kerjasama, pertemanan, cita-cita, semua itu dilihat menurut nilai jualnya.

Moses Hess seorang filsuf Prancis pernah memperlihatkan reifikasi di dalam masyarakat modern dalam bentuk keterasingan uang.

Uang yang semula alat menjadi tujuan, sementara manusia yang semula tujuan menjadi alat –Moses Hess

Komoditas diciptakan oleh manusia, tetapi kemudian manusia lupa dan menganggap komoditas memiliki kekuatan mutlak atas proses kehidupan masyarakat. Dengan demikian hubungan antar-manusia di pahami sebagai hukum pertukaran komoditas. Itulah sebabnya mengapa mahasiswa pada bulan september 2019 mengalami kesadaran revolusioner untuk melakukan demo mengenai RUU ataupun pelemahan KPK, hal ini bukan sekedar dilakukan sebagai tuntutan moral akan kepedulian tetapi sebagai bentuk bahwa mahasiswa melihat negara yang didalamnya terdiri dari para birokrasi sudah mengalami reifikasi.

BACA JUGA: Intip Kisah O, Mahasiswa UI Yang Berjuang Melawan COVID-19

Kekuasaan, hubungan antara politisi, koalisi partai, perumusan undang-undang, lembaga-lembaga pemerintah, semua itu telah jatuh dalam reifikasi dimana semua dilakukan hanya dalam rangka mencapai keuntungan politis. Kelas mahasiswa sadar akan reifikasi di dalam masyarakat modern, mahasiswa berusaha mengambil inisiatif untuk membebaskan reifikasi yang terjadi di dalam kekuasaan negara serta masyarakat.

Mengapa mahasiswa mempunyai inisiatif membebaskan masyarakat serta negara dari reifikasi? Hal itu dikarenakan hanya mahasiswalah yang mempunyai kesadaran revolusioner. Bagaimana kesadaran revolusiner muncul dalam kelas mahasiswa? Kesadaran revolusioner mahasiswa merupakan hal yang muncul secara spontan dikarenakan mahasiswa adalah satu-satunya kelas yang terisolasi dari proses berjalannya masyarakat.

Revolusi Mahasiswa (savanapost.com)

Kelas mahasiswa adalah kelas intelektual serta terisolasi sehingga dapat mengamati proses reifikasi yang terjadi dalam negara serta masyarakat modern, mahasiswa adalah kelas yang terisolasi dari kekuasaan, terisolasi dari segala kepentingan pragmatis, serta kelas ilmuwan yang dapat secara objektif mengamati dari atas proses reifikasi yang terjadi di masyarakat karena mereka terisolasi.

Itu sebabnya saya menganggap demo RUU ataupun pelemahan KPK tersebut sebagai awal dari kesadaran revolusioner untuk pembebasan dari reifikasi, tetapi melihat keadaan sekarang dimana proses reifikasi makin menjadi-jadi dan mahasiswa diam saja, membuat saya berfikir bahwa sebenarnya mahasiswa juga tercemar dengan ideologi borjuasi dan mengalami juga proses reifikasi.

BACA JUGA: 4 Stigma Ini Nggak Bisa Lepas dari Mahasiswa Sastra Indonesia

Jika kita melakukan analisis secara mendalam, pada kenyataannya mahasiswa adalah kelas sosial yang dipersiapkan untuk mengisi posisi-posisi kelas dalam masyarakat modern. Mereka datang memasuki universitas tidak dengan maksud untuk melakukan emansipasi dan pembebasan terhadap masyarakat melainkan justru para mahasiswa datang ke kampus dengan maksud menjadikan diri mereka sarana eksploitasi borjuasi.

Mereka dengan rela diperbudak oleh borjuasi untuk diperas tenaga kerjanya untuk menghasilkan keuntungan bagi borjuasi, hal ini karena mahasiswa juga menyenangi segala hal yang berbau komoditas, kekuasaan, dan uang yang juga memang disenangi oleh borjuasi.

Mahasiswa tidak datang ke universitas dengan motif menghacurkan kelas-kelas borjuasi tetapi justru ingin merasakan bagaimana menjadi kelas borjuasi. Itulah sebabnya mengapa kampus selalu memiliki visi yang sesuai dengan industri (yang mana tempat para borjuasi melakukan eksploitasi). Visi atau nilai-nilai kampus disesuaikan dengan basis material ekonomi borjuasi yang kapitalistis.

Intinya yang mau saya sampaikan adalah bahwa saya menganalisis bahwa kelas mahasiswa tidak dapat di jadikan tulang punggung bagi revolusi untuk membebaskan masyarakat serta negara yang telah mengalami reifikasi. Saya juga bertanya-tanya, akankah kita terus menerus mengalami keterasingan dan berhubungan sosial menurut pola komoditas? Semoga terdapat kelas-kelas sosial yang memang bisa diharapkan menjadi pembebas masyarakat modern dan negara dari reifikasi.

BACA JUGA: Serba-Serbi Kartu Tanda Mahasiswa UI, Canggihnya Bukan Main

Referensi

https://plato.stanford.edu/entries/lukacs/

https://www.coursera.org/lecture/international-relations-theory/rise-of-neo-marxism-zgEtd

https://www.hetwebsite.net/het/schools/neomarx.htm

https://www.researchgate.net/post/Post_modernism_neo_marxism_and_the_social_sciences_The_consequences

Alasan Mengapa Mahasiswa Harus Ikut Berpartisipasi Terhadap Politik!!

Banyak orang-orang yang menanyakan kepada saya apakah mahasiswa harus ikut berpartisipasi di dalam politik? Sudah berpuluhan kali mungkin orang-orang menanyakan hal ini kepada saya. Cukup sulit memang menjawab hal ini, bukan karena kesulitan pertanyaannya ataupun tingkat urgensinya melainkan saya takut ada beberapa buzer yang mulai mengancam saya :D.

Jelas jika kita melihat tingkat urgensinya maka mahasiswa memang harus ikut berpartisipasi di dalam politik

Demonstrasi Politik (Sumber: pexels.com)

Mengapa? Mudah saja, karena politik mempengaruhi berbagai  bidang kehidupan kita, mulai dari ekonomi, religi, teknologi dan juga budaya intelektual di kampus yang dihidupi oleh mahasiswa. Politik yang dijalankan suatu negara akan mempengaruhi haluan atau pengarahan riset kampus. Jika kita membaca sejarah maka Universitas China di zaman kepemimpinan Mao Zedong risetnya harus berhaluan Maoisme.

Sekarang pun kita lihat hal yang sama terjadi di Indonesia, BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) mulai beretorika bahwa riset harus berbasis pada pancasila. Contoh tersebut memperlihatkan bahwa politik memang masuk dalam segala bidang kehidupan kita bahkan sampai masuk di dalam kampus. Hal ini memang wajar karena hakikat kekuasaan memang selalu ingin memperluas kekuasaannya, memperlebar kedaulatannya.

Apa yang terjadi jika mahasiswa menutup mata terhadap politik?

Jika kita sebagai mahasiswa tidak ikut berpartisipasi di dalam politik atau menutup mata terhadap politik, maka kita harus siap terhadap kehidupan kampus yang diatur-atur, para politisi akan mulai mengatur apa yang boleh anda baca dan tidak, para politisi akan mulai mengatur tema-tema apa yang boleh di diskusikan, para politisi akan mulai mengkuliahkan anda mengenai riset harus berbasis Pancasila (bahkan politisi ingin mengendalikan kebenaran sains menggunakan kekuasaannya), anda harus siap segala kebebasan anda mungkin akan direngut oleh politisi.

Jika anda sebagai mahasiswa menutup mata terhadap politik maka anda harus menerima semua hal itu dan anda tidak boleh protes, atau bahkan mungkin para poltisi akan mulai mengatur urusan privat kamu dan lain-lain. Jika kamu menentang maka kamu tidak boleh protes, mengapa? Karena kamu telah menyia-nyiakan hak kamu untuk berpolitik, sehingga kamu tidak boleh protes dan kamu harus menerimanya.

BACA JUGA: Jawaban Anak UI Saat Ditanya Tentang Aliran Ideologi Politiknya

Lain jika …

Hal ini lain jika dari awal kamu ikut berpartisipasi politik, seperti memilih politisi A yang sesuai dengan keinginan kamu, atau kamu melancarkan kritik mengenai independensi kampus terhadap ideologi, jika kamu dari awal ikut berpartisipasi maka kamu bisa mengamankan hak-hak kamu atau protes terhadap politisi yang telah kamu pilih.

Tentu dengan berpartisipasi seperti memilih politisi A maka kamu berhak protes terhadapnya karena kamu yang membuat si politisi A mendapatkan kekuasaannya. Jika kamu ikut berpartisipasi mungkin politisi tidak akan berfikir untuk mulai mengatur-atur seluruh hidup kamu, karena kamu jelas tidak buta terhadap politik, kamu mengerti politik sehingga politisi tidak akan bisa membodohi kamu mengenai suatu kebijakan yang kacau supaya kamu menerimanya, kebebasan berbicara, serta kebebasan riset akademik dari segala tuntutan ideologi mungkin dapat kamu amankan dari hakikat kekuasaan jika kamu dari awal ikut berpartisipasi politik.

Jelas hal diatas lebih dari cukup sebagai alasan bagi mahasiswa untuk ikut berpartisipasi di dalam politik. Bagi siapapun yang tidak ingin dipimpin oleh pemimpin yang menghasilkan kebijakan yang menurut anda salah, ataupun bagi siapapun yang tidak ingin riset dicampurkan dengan ideologi politik apapun yaitu riset harus netral, serta bagi siapapun yang ingin hak-haknya dilindungi serta properti milik diri sendiri tidak menjadi kehendak orang lain maka berpartisipasi politik merupakan solusinya.

Jawaban saya atas pertanyaan apakah mahasiswa harus ikut berpolitik? Adalah iya, jika  mahasiswa itu rasional dan idealis. Tapi jika mahasiswa itu hipokrit, dan tidak peduli dengan kebebasan, hak-hak sipil, serta properti, yang dia inginkan hanya pekerjaan maka sebaiknya mahasiswa seperti itu harus bersiap-siap kehilangan seluruh hak-haknya ataupun mungkin kehendaknya untuk memilih karena para politisi akan mulai memilih apa yang baik untuk si mahasiswa hipokrit.

BACA JUGA: 4 Peran Anak UI dalam Konstelasi Politik di Indonesia

Jawaban Anak UI Saat Ditanya Tentang Aliran Ideologi Politiknya

4 Aliran Ideologi Politik Anak Universitas Indonesia. Politik selalu menjadi tema pembahasan yang menyenangkan dan tidak pernah selesai, bukan tanpa sebab karena politik selalu mempengaruhi berbagai dimensi realitas di kehidupan kita. Ekonomi, religi, budaya, sains, dan lain-lain, semua itu dipengaruhi oleh politik.

Politik (sumber: jurnaliscun.com)

Nah tentu saja saya penasaran dengan aliran politik anak-anak UI, maka dari itu saya sempat mewawancarai beberapa orang di Universitas Indonesia dan menanyakan aliran politik mereka. Mungkin wawancara yang saya lakukan hanya bisa merepresentasikan sebagian pandangan politik anak UI. Mau tau apa aja aliran politik anak UI? Yuk simak pembahasannya.

1. Libertarianisme

Sumber: simple.wikipedia.org

Dari hampir sebagian wawancara yang saya lakukan terhadap anak-anak UI dengan mengambil sampel di FIB dan FISIP, hampir setengah orang yang diwawancarai menganut aliran politik Libertarianisme. Saya tidak tau mengapa banyak anak UI yang memegang aliran ini, tetapi ketika saya tanya, mereka menjawab pada dasarnya semua orang libertarianisme. Salah satu orang yang saya wawancarai bernama A (A adalah inisial, sebaiknya saya samarkan karena takut merugikan orang yang saya wawancarai) menjawab :

Mohan: Mengapa kamu menganut aliran politik libertarianisme A?

A: Hmm, sebenarnya semua orang itu menganut libertarianisme lo.

Mohan: Loh kok bisa semua orang menganut libertarianisme?

A: Iya, karena setiap orang dalam bertindak itu selalu menjunjung tinggi hak-hak orang, banyak dari kita tanpa sadar sebenarnya libertarianisme, karena libertarianisme adalah ideologi politik yang menjunjung tinggi hak-hak orang, yaitu walaupun orang ngeledek kita ataupun tidak suka sama kita, kita semua selalu menghormati mereka kan dan tidak melakukan pemukulan terhadap mereka? Nah kalo kita semua tidak melakukan pemukulan terhadap orang yang tidak suka terhadap kita maka itu artinya kita menjunjung tinggi hak-hak orang dan itu artinya kita adalah libertarianisme.

Mohan: Oalah begitu ya, makasih Anita atas kesempatan wawancaranya ya.

A: Oke sama-sama.

2. Marxisme

raised fist symbol

Nah ini lumayan mengejutkan, tapi ada beberapa anak UI yang saya wawancarai mengaku seorang marxisme, tapi kita harus paham ya teman-teman, marxisme itu beda dengan komunisme. Kalo komunisme itu adalah ideologi campuran dari marxisme dengan leninisme dan beberapa campuran serta revisi lainnya. Sedangkan marxisme itu adalah aliran filsafat murni yang dicetuskan oleh Karl Marx tanpa ada campuran ataupun gabungan ideologi leninisme.

Jadi marxisme ini sebenarnya termasuk aliran filsafat dan bukan ideologi. Kita tidak dapat mengatakan seorang marxis adalah seorang komunis karena hal tersebut beda jauh. Sama seperti air biasa dengan air mineral, nah air biasa itu marxis sedangkan air mineral itu komunis. Kita tidak dapat mengatakan orang yang minum air biasa sama dengan orang yang minum air mineral. Nah setelah saya tanya mengapa dia menganut marxis maka ternyata jawabannya sangat menarik.

Mohan: Mengapa kamu menganut Marxisme H? (H adalah inisial, sebaiknya saya samarkan karena takut merugikan orang yang saya wawancarai).

H: Tapi aku menganut Marxisme cuma dalam segi akademisi ya! dalam kehidupan nyata aku lebih milih Islam. Dan kenapa dari segi akademisi aku menganut marxis soalnya aku ngerasa banyak ketidakadilan di dunia ini, banyak kemiskinan yang disebabkan oleh sistem kapitalisme. Apalagi keuntungan kapitalisme itu hasil curian dari tenaga buruh, misalnya harga kayu sebelum jadi bangku cuma Rp.40.000,00 setelah di ubah oleh buruh perusahaan menjadi bangku maka harganya jadi Rp.50.000,00. Nah berarti ada nilai lebih atau keuntungan dong Rp.10.000,00.Yang artinya seluruh nilai lebih itu adalah hasil kerja buruh, jadi seharusnya nilai Rp.10.000,00 itu adalah hak milik buruh sepenuhnya dan pengusaha atau kapitalisme tidak boleh mengambil hak tersebut, tapi kenyataannya keuntungan itu diambil oleh pengusaha sedangkan buruh hanya mendapatkan ¼ nya saja. Jadi sebenarnya kapitalisme itu mencuri dari buruh.

Mohan: Wah itu teori nilai lebih di ekonomi Karl Marx ya? Aku pernah belajar tuh.

H: Iya kak.

Mohan: Hmm, begitu ya, oke makasih H, tapi sebelum itu aku mau nanya, kamu setuju gak dengan komunisme?

H: Wah gak , soalnya komunisme itu memakai cara-cara yang bersifat kekerasan, aku lebih suka dengan marxisme sih karena memperjuangkannya lewat jalur akademis aja.

Mohan: Oke makasih ya H atas wawancaranya.

H: Sama-sama.

3. Pancasila

(Edited from kindpng.com)

Tentu ideologi politik ini tidak asing jika dianut oleh orang Indonesia karena memang Pancasila telah menjadi ideologi yang wajib harus dianut oleh seluruh orang indonesia. Ada beberapa mahasiswa UI yang saya wawancarai dan dia mengakui bahwa ideologi politiknya adalah pancasila, salah satunya adalah F (F adalah inisial, sebaiknya saya samarkan karena takut merugikan orang yang saya wawancarai).

Mohan: Kamu menganut pancasila ya? Kenapa kamu menganut ideologi pancasila F?

F : Ya jelas lah kan kita tinggal di negara indonesia.

Mohan : Oh gitu ya, tapi gimana pendapat kamu dengan ideologi politik lainnya F?

F: Wah sesat tuh pasti, aku sih pancasila aja.

Mohan: Oh gitu ya, tapi sila ke lima itu kan keadilan sosial diambil dari sosialisme, sila pertama ketuhanan diambil dari fundamentalisme (agama), sila kedua dan keempat diambil dari libertarianisme, sila ketiga diambil dari nasionalisme. Kok sesat sih, kan padahal pancasila itu gabungan dari ideologi-ideologi lain?

F: Wah maaf ya, wawancara sudahi disini dulu aku ada urusan.

4. Feminisme

Sumber: dictionary.com

Nah sebenarnya feminisme adalah ideologi politik perjuangan terhadap hak-hak perempuan, tetapi feminisme bukan sekedar ideologi politik saja tetapi feminisme juga termasuk aliran filsafat yang mempelajari pengaruh nilai-nilai tradisional yang mengekang kebebasan perempuan sehingga perempuan hanya menjadi gender yang di bawah laki-laki. Sebagian yang saya wawancarai adalah wanita dan hampir seluruh wanita yang saya wawancarai menganut feminisme hihihi. Salah satu orang yang saya wawancarai dan mengaku feminisme adalah D (D adalah inisial, sebaiknya nama saya samarkan karena takut merugikan orang yang saya wawancarai).

Mohan: Wah kamu pejuang feminisme ya? Kenapa kamu menganut ideologi feminisme?

D: Iya karena aku ngeliat banyak banget ketidakadilan yang dialami perempuan, mulai dari pembedaan gender tanpa dasar, padahal kan perempuan juga punya hak yang sama dengan laki-laki. Perempuan seolah menjadi kelamin kedua setelah laki-laki, nah aku sebagai perempuan juga pasti ingin hak-hak nya tidak diambil, makanya aku suka dengan feminisme.

Mohan: Wah bagus tuh, makasih ya D atas wawancaranya.

D: Siap.

Itu dia empat aliran ideologi politik anak UI yang saya sempat wawancarai, bagaimanapun pemikiran adalah hak setiap orang, Nah kamu aliran ideologi politik apa nih? Tulis di komentar ya.

4 Peran Anak UI dalam Konstelasi Politik di Indonesia

peran anak ui dalam politik

Tentu kejadian yang masih saya ingat baru-baru ini mengenai perjuangan anak UI dalam konstelasi politik Indonesia adalah perjuangan menolak revisi UU KPK. Perjuangan ini menurut saya merupakan representasi mahasiswa sebagai wakil rakyat sesungguhnya, di kala Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dianggap mewakili suara rakyat, ternyata berbalik menjadi musuh rakyat. Seperti sebuah peribahasa “Ibarat pagar makan tanaman”. Nah apa aja sih peran anak UI dalam konstelasi politik di Indonesia  :

1. Pelopor Perjuangan Suara Tak Terdengar

pelopor perjuangan (sumber: berbagioptimis.com)

Mahasiswa UI merupakan sosok pelopor perjuangan suara-suara yang tidak didengar oleh pemerintah, suaranya orang cilik, orang miskin, orang tidak terdidik, orang yang merasakan ketidakadilan. Tetapi seberapa pentingkah gerakan-gerakan politik yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa UI? Apakah sebaiknya mahasiswa UI seharusnya duduk manis belajar atau melakukan perjuangan di seluruh pelosok negara indonesia? Mahasiswa UI sebenarnya adalah roh dari rakyat yang sesungguhnya, mereka sama sekali tidak tercemar dengan segala fanatisme kekuasaan, merekalah pejuang sesungguhnya.

2. Sosok Rendah Hati dan Waspada

mahasiswa ui rendah hati
Kuning-kuning dan rendah hati ~ (sumber: satuharapan.com)

Mahasiswa UI adalah orang yang paling rendah hati dan mengetahui dengan pasti bahwa pemerintah terdiri dari manusia biasa juga, sama seperti kita. Tidak ada sekelompok orang di dunia ini, entah itu presiden, raja, pangeran, kaisar, kanjeng, ulama, DPR, dan perdana menteri yang memiliki intelektualitas dan kebijaksanaan maha hebat yang membuat mereka berbeda dari orang kebanyakan. Maka dari itu mahasiswa UI adalah orang yang selalu curiga dengan pemerintah, mereka menerapkan nalar kritis terhadap pemerintah, mahasiswa UI harus selalu waspada terhadap kekuasaan pemerintah. Kekuasaan yang dipegang pemerintah sangatlah berbahaya, terkadang benefit yang didapatkan dari kekuasaan cenderung lebih sedikit dibandingkan dengan keuntungan yang didapatnya.

3. Sosok Waspada Terhadap Kekuasaan

waspada atas kuasa
Waspadalah, waspadalah (Sumber: wordsonimages.com)

Mahasiswa UI adalah sosok yang selalu setia terhadap kutipan dari Lord Acton “Kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan yang absolut cenderung korup secara absolut pula”. Jadi Politik mahasiswa UI sebagai pelopor dari mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi lainnya adalah politik perjuangan. Membela yang tercecer dan tertindas adalah sebuah perjuangan serta gaya politik anak UI. Penting sekali bagi seluruh mahasiswa UI untuk selalu menyuarakan suara alternatif kepada pemerintah. Mahasiswa UI adalah tulang punggung dari negara Indonesia. Suatu negara tidak akan menjadi negara yang hebat jika tidak ada generasi-generasi penerusnya yang kritis.

BACA JUGA: Gerakan Mahasiswa: Berani atau Nekat ?

4. Sadar akan Kekacauan Pemerintah

Pemerintah sedang kacau (sumber: didaktikaunj.com)

Mahasiswa UI melakukan perjuangan bukan tanpa sebab! Mahasiswa UI sadar betul terlalu banyak kekacauan yang disebabkan lembaga-lembaga pemerintahan karena tidak bisa menjalankan fungsinya dengan benar. Mungkin karena pusat pemerintahannya terletak di Jakarta yang berpolusi udara sehingga membuat otak pemerintahan tidak bisa berpikir jernih dan rasional. Jika penyebabnya hal tersebut maka mahasiswa UI menyetujui perpindahan ibukota ke Kalimantan yang udaranya segar dan bersih sehingga bisa membuat pemerintah berfikir jernih dan rasional. Partai politik di indonesia juga benar-benar sangat bobrok dimana anggotanya hanya mementingkan kepentingan partainya saja, kita sebagai rakyat sering menonton para anggota partai berganti haluan dan opini jika partainya juga berganti haluan koalisi. Tidak ada konsistensi dalam partai politik indonesia. Rasanya hal ini memang wajar di era modern ini karena moralitas manusia memang sudah menjadi semakin bobrok.

Sebenarnya anak-anak UI berharap bisa  melihat negara indonesia menjadi negara yang kokoh dan berdiri tegak, tidak ada angin apapun yang bisa menggoyahkan sang saka merah putih tetapi kenyataan yang  terjadi malah sebaliknya RUU yang kacau disahkan, KPK dilemahkan, Kebakaran terjadi dimana-mana, pengangguran digaji, ESEMKA cuma omong kosong. Maka dari itu mahasiswa UI harus segera turun kejalan dan melakukan perjuangan untuk membela rakyat dan negara Indonesia, jangan sampai negara kita tercinta ini hancur, tanpa perjuangan kita tidak akan mendapatkan apapun.

Politik anak UI adalah politik perjuangan.

BACA JUGA: GERAKAN MAHASISWA UI: Dimana oh dimana?

Musim Pilkada, Emang Apa Untungnya sih Buat Kita?

Akhir-akhir ini kita sudah kenyang sekali dengan para politikus yang hendak memanggul beban menjadi pemimpin daerah di masing-masing wilayah di Indonesia. Mereka menggembar-gemborkan berbagai janji manis kepada para masyarakat di daerahnya agar bersedia memilih mereka dalam pesta rakyat daerah, Rabu (15/2) besok.

Bagi sebagian kalangan, akademisi, ulama, politikus, pengusaha, bahkan rakyat kecil mungkin memiliki keuntungan sendiri dalam urusan pemilihan kepala daerah ini. Sebagaimana akademisi, mereka biasa didaulat tim sukses sebagai penasehat pasangan calon, ulama sebagai guru rohaniah para calon, politikus sebagai kendaraan politik mobilisasi massa, pengusaha mendapat keuntungan dari pesanan atribut kampanye, hingga rakyat kecil sebagai tim sukses yang mendapat jatah uang sebagai penarik simpatisan paslon.

Kalau mereka bisa mendapatkan untung setiap adanya pesta rakyat, baik Pemilu ataupu Pilkada, lalu buat kita sebagai mahasiswa, apa sih untungnya Pilkada?

 

Lahan Belajar Politik dan Berpikir Kritis

Masa Pilkada bisa menjadi ajang untuk kita berdiskusi dan melatih berpikir kritis (via Suma UI)

Sebagai mahasiswa, kita adalah agen perubahan pengawal pemerintahan yang nyata. Setidaknya hal itu terjadi dalam dua rezim ke belakang, yakni Orde Lama dan Orde Baru. Ingat nggak jaman di mana aktivis kampus makara yang namanya terdengar hingga ke telinga Soekarno karena pandangannya terhadap pemerintahan? Yap, Soe Hok Gie, pendiri Mapala UI itu dulu menjadi aktivis yang giat mengkritisi setiap kebijakan God Father-nya Indonesia karena menggandeng Nasakom dalam perjalanan keperintahan Indonesia saat itu. Ia juga terlibat aktif pelengseran Orde Lama melalui berbagai aksi gabungan berbagai universitas di Indonesia yang memaksa Soekarno untu balik kanan dari jabatannya.

Belum lagi kisah perjuangan mahasiswa saat pelengseran rezim Soeharto, hingga menewaskan beberapa mahasiswa karena bentrok dengan aparat hukum di sekitaran Semanggi, Mei 1998. Semua itu karena, saat itu, mahasiswa berfikir kritis dalam mengawal ke pemerintahan Indonesia. Nah, dengan adanya Pilkada, kita sebagai mahasiswa harus mampu menuangkan berbagai pikiran kritis kita terhadap segala sesuatu yang berbau kepemerintahan. Kita bisa menggunakan media massa, seperti koran atau online, sebagai tempat menuangkan berbagai pikiran kritis khas mahasiswa yang berintegritas, dalam mengkritisi berbagai janji manis dan rasionalitas program yang ditawarkan paslon. Lumayan, bisa tambah uang jajan juga loh kalo diterbitkan.

 

Menelurkan Ide untuk Organisasi Kita

Coba benchmark program kerjanya sama organisasi kamu, siapa tau match, adaptasi deh!

Setiap kampanye, para pasangan calon pasti dan mau tidak mau harus memiliki berbagai program yang dapat menjadikan daerah kepemimpinannya maju. Berbagai inovasi muncul dari otak-otak pasangan calon, yang kemudian disuarakan di depan banyak orang sebagai program andalan mereka ketika terpilih.

Nah, buat kita, sebagai mahasiswa, apalagi yang aktif berorganisasi, hal itu bisa menjadi rujukan ketika kita stuck atau mentok dalam memikirkan berbagai program anyar yang dapat diterapkan di kampus kita saat berorganisasi. Kita bisa tonton kampanye-kampanye mereka, baca program-program mereka, siapa tau kita terinspirasi dari janji-janji manis mereka. Nah, setelah itu kita padukan deh program-program itu menjadi satu kesatuan program untuk organisasi kita masing-masing. Mengingat, universitas merupakan miniatur negara. Ya siapa tau, nanti Ketua BEM kita bisa kasih Kartu UI Pintar gitu, sebagai kartu yang memberikan kebebasan belajar… LOL.

 

BACA JUGA: Ini 4 Hal yang Bisa Kita Lakukan saat Bosan Mendengar Umbar Janji Kampanye Pemira!

 

Menambah Pemasukan Kita

Masa kampanye Pilkada bisa jadi ajang kita mencari pemasukan saat libur kuliah. Kok bisa? Bisa dong, karena setiap pasangan calon memerlukan bantuan dari masyarakat untuk menjadi tim sukses mereka dalam menggaet suara. Nah, pembentukan tim sukses ini biasanya dilakukan melalui info dari bibir ke bibir, ajakan melalui pesan-pesan singkat dengan mencantumkan nominal per bulannya.

Jadi tim sukses salah satu paslon bisa mendapatkan dana bantuan ratusan ribu loh per orangnya. Nah, sebagai mahasiswa, jangan sampai kita mudah menjual suara kita untuk uang, tapi cari uang dengan bergabung menjadi tim sukses bisa… gabung aja dulu, tapi nyoblosnya tergantung nurani kita. Lumayan kan buat ongkos dan jajan saat masuk kuliah. Nggak kok, bukan bermaksud ngajarin jadi penghianat hehe.

Nggak hanya itu, kita juga bisa daftar ke beberapa lembaga survei, atau stasiun televisi untuk menjadi peserta perhitungan suara cepat atau quick count yang diadakan. Biasanya setiap stasiun memberikan tempat bagi mahasiswa untuk ikut membantu melancarkan kegiatan hitung cepat itu dengan digantikan uang transport yang cukup buat beli Masakan Padang 10-20 bungkus.

 

Menelurkan Judul Penelitian

Manfaarin momen Pilkada buat nyari ide skripsi aja ! (via waskita-adijarto)

Buat para mahasiswa semester tua, Pilkada bisa loh jadi ajang menemukan ide untuk skripsi kita. Terlebih untuk beberapa jurusan, seperti Ilmu Politik, Ilmu Komunikasi, Ilmu Psikologi, bahkan Sastra juga bisa. Kalau kalian bingung mau judul skripsi apa, mending pantengin terus tayangan-tayangan tentang Pilkada. Apalagi Pilkada kali ini penuh nuansa dramatis dan politis, juga memanas.

Buat jurusan Ilmu Politik, bisa kayak gini judulnya, “Tingkat Efektifitas Penerapan Ilmu Politik yang Digunakan Pasangan Cagub dan Cawagub di Indonesia”.

Buat Ilmu Komunikasi, bisa kayak gini, “Semiotika Sampul Majalah ABC dalam Situasi Pilkada di Indonesia”.

Buat Psikologi, bisa kayak gini judulnya, ”Psikologi Cagub dan Cawagub yang menyebabkan Keringat Sewaktu Debat Publik”.

Atau buat Sastra, bisa kayak gini judul skripsinya, ”Jika Kamu, Aku, dan Dia Menjadi Pemimpin, Lalu Siapkah Kita Bersama Membangun Negeri Kita Tercinta”.

 

Menambah Hari Libur Kuliah!

Wah ini sih bonus yang nggak bisa ditolak, resmi pula.

Keuntungan yang terakhir adalah keuntungan yang konkrit dan tak bisa ditawar lagi untuk mahasiswa. Inilah surga di kala keringat membatu ketika pusing memikirkan makalah dan presentasi yang nggak tau materinya tentang apa. Pelangi di kala musim hujan turun dari mata, karena pusing dengan berbagai hitungan statistika perkuliahan. Kedamaian di kala dendam semakin mengkristal, ketika ingat teman tidak memberikan contekan sewaktu UAS semester ganjil. Yap, Hari Libur Nasionalnya bertambah!

Jadwal pencoblosan setelah berlarut-larut dalam gegap gempita kampanye calon pemimpin daerah, selalu menjadi hari libur nasional bagi semua rakyat. Yaiyalah kalo nggak libur, siapa yang mau nyoblos?

Nah, untuk Pilkada kali ini, Hari Libur Nasional itu jatuh pada…. Rabu, 15 Februari 2017. Jadi, untuk kamu yang pengen liburan, nyuci baju yang numpuk sampe tiga ember di kosan, bersihin kosan yang udah mirip kapal pecah di Bantar Gebang, silahkan bersenang-senang setelah nyoblos. Ingat ya, sebagai mahasiswa, kita harus mengedukasi diri dan masyarakat kalau kita harus menggunakan hak suara kita dalam demokrasi dengan baik, NGGAK BOLEH GOLPUT. Karena satu suara, menentukan daerah kita!

 

BACA JUGA: Kisah 11 Mahasiswa yang Melayani 25.926 Orang di Pemilu 2014

 

Buat kamu para mahasiswa, mari bantu melancarkan segala tindak tanduk pengelolaan dan kepanitiaan penyelenggara Pilkada, biar nggak ada lagi kecurangan seperti politik uang, atau pemaksaan hak pilih di setiap daerah. Jangan lupa bagikan artikel ini ke akun Facebook, Twitter, dan Line kalian agar para mahasiswa di Indonesia tau, Pilkada juga menguntungkan buat kita!

Kalau Papa Minta Saham, BEM UI Minta Kita untuk Tandatangani Petisi

Teman-teman tentu masih ingat dong kasus papa minta saham yang sempat menjadi hot issue nya Indonesia akhir tahun lalu? Yup, kasus yang melibatkan Ketua DPR RI kala itu, Setya Novanto, menjadi perbincangan semua media hingga masuk ke proses persidangan etik oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Kasus yang sangat mencoreng nama baik Dewan Perwakilan Rakyat tersebut kemudian ditangani lebih lanjut oleh MKD sembari memeriksa alat bukti berupa rekaman sadapan yang dilakukan para peserta diskusi pembahasan perpanjangan kontrak PT Freeport di Indonesia. Kasus yang juga dikecam Presiden sebab Novanto mencatut namanya untuk meminta sejumlah ‘jatah’ atas biaya perpanjangan kontrak tersebut. Kasus yang digadang menjadi salah satu kasus korupsi terbesar tersebut berangsur-angsur tenggelam setelah Novanto mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPR RI tak berselang jauh dari bocornya kasus ini.  

Aksi BEM se-UI Desember 2015 lalu untuk mendesak Setyo Novanto mundur (via detik.com)
Aksi BEM se-UI Desember 2015 lalu untuk mendesak Setyo Novanto mundur (via news.detik.com)

  BACA JUGA: Katanya UI Butuh Duit? Mahasiswa Lakukan Seruan Aksi   Masa-masa yang dinantikan guna mencari kebenaran kasus tersebut justru menuai kejutan terhadap publik. Sebab pada 27 September lalu, hasil sidang Permohonan Peninjauan Kembali Putusan Mahkamah Kehormatan Dewan terhadap kasus Setya Novanto menyetujui pemulihan nama baik Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut. Dalam kasus yang juga melibatkan Mantan Menteri ESDM Sudirman Said sebagai saksi, dinyatakan MK, bukti yang dibawa Sudirman berupa rekaman pembicaraan Novanto dianggap tidak valid untuk dijadikan barang bukti. Kekecewaan publik berlanjut ketika pada 30 November lalu, yakni Setya Novanto kembali dilantik menjadi Ketua DPR RI. Meskipun MK menyatakan bukti yang digunakan tidak sah sebab dilakukan secara ilegal, tetapi kasus tersebut sejatinya masih belum kelar, mengingat keberadaan alat bukti untuk mempermulus perpanjangan kontrak PT Freeport di Indonesia masih meninggalkan bekas noda hitam. Pernyataan MK tentang ketiadaan bukti yang sah juga telah menafikkan bahwa kejadian tersebut telah dilakukan.

xkaxgbgbgrwzrks-800x450-nopad
Peringatan untuk menjaga etika berpolitik (via change.org)

Pengangkatan kembali Setya Novanto sebagai Ketua DPR RI merupakan sebuah penistaan terhadap moral dan etika, sebab penyelesaian “Papa Minta Saham” masih menimbulkan kontroversi dan pertanyaan besar. Dalam hal ini, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia bersikap menolak keras terhadap pengangkatan kembali Ketua DPP Partai Pohon Beringin tersebut duduki pemuncak DPR RI.   BACA JUGA: Korupsi di Bangsa Ini Dimulai dari Mahasiswa?   Melalui surat petisi yang dibuat Ketua BEM UI Arya Adiansyah mengajak semua orang untuk menandatangani petisi tersebut, guna mengecam pelantikan kembali Setya Novanto sebagai Ketua DPR RI dan memintanya untuk mundur dari jabatan itu sekarang! Bagi kalian yang ingin menandatangani petisi bisa diklik link berikut! Total hingga saat ini ada 500+ pendukung dari 1000 suara yang diinginkan.

petisi
Halaman muka petisi (via change.org)

Nah, apakah kita semua sudi mempunyai Ketua DPR RI yang memakan uang rakyat dan mengambil apa yang bukan menjadi haknya? Jika kalian setuju Setya Novanto turun dari jabatannya, silahkan bagikan artikel ini ke akun Facebook, Twitter, dan Line kalian untuk bersama-sama menggalang suara melawan KORUPSI!

Prof. Ito, Guru Besar yang Baru Saja Meninggalkan Keluarga Besar

Pria bertubuh tambun dan rambut putih yang memiliki bio Twitter “a grandpa who love sax” ini begitu dicintai para mahasiswanya ketika mengajar di kelas. Tidak hanya mampu memberikan teori dari berbagai istilah psikologi yang harus dipahami, namun beliau juga mampu memberi contoh nyata menjadi praktisi dalam rumpun ilmu sosial tersebut, terbukti dari peran pentingnya sebagai seorang Presiden pada salah satu organisasi psikologi internasional.

Kesenangannya dalam bermusik dan penyayang keluarga merupakan ciri khasnya yang sangat dikenal keluarga dan koleganya. Candaan intelek khas seorang Profesor kerap dilantunkannya ketika mengajar, serta mampu menjadi kawan yang asik bagi cucu-cucunya ketika di rumah, membuat setiap orang bangga mengenalnya.  Tidak hanya itu, putra bungsunya, Dimas Aditya mengatakan, ia sangat memperhatikan masalah politik dan keamanan Indonesia.

Tak sedikit mahasiswa yang merasa beruntung mendapatkan sentuhan tangan dinginnya itu. Psikologi dan ilmu kebhinekaan yang diajarkan dianggap sangat penting dalam melahirkan pemikiran-pemikiran toleran dalam aktifitas sosial kemasyarakatan.

Adalah Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Fakultas Psikologi UI, yang kerap menjadi buah bibir di kalangan akademisi belakangan ini. Pria kelahiran Purwokerto, 2 Februari 1944, ini dikenal sebagai seorang Psikolog ulung serta penerjemah dan penulis buku-buku berkonten psikologi. Masa-masa pendidikannya dihabiskan dengan melahap dan mendalami bidang psikologi sosial. Mengawali pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi UI pada 1968, berlanjut ke Edinburg University, Skotlandia dengan memilih jurusan Diploma in Community Development pada 1973. Tidak sampai di situ saja jalan-jalannya di negeri orang dalam menimba ilmu, Prof Ito (sapaan akrab) bergelar doktoral setelah lulus disertasi mengenai “Perbedaan Antara Pemimpin dan Aktivitas Dalam Gerakan Protes Mahasiswa” di Leiden University, Belanda pada 1978.

sarlito
Guru Besar Psikologi UI, Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (tengah) memberikan keterangan pers terkait kasus Jessica Wongso, Jakarta, Selasa (20/9). (via Liputan6)

BACA JUGA: Psikologi Bicara Generasi Kini untuk Nanti

Namun, kini kita telah kehilangan sosok inspiratif itu. Senin, 14 November 2016, pada pukul 22.18 WIB, Tuhan memanggil rindu ayah dari tiga anak ini ke pangkuan-Nya. Prof Ito dinyatakan meninggal dunia karena serangan penyakit pendarahan usus. Meski demikian, dokter menyebut jenis pendarahan tersebut adalah gaib atau tersembunyi. Tiada yang menyangka,  gastrointestinal (GI) yang diderita Prof Ito dapat berakibat fatal terhadap kesehatannya.

Prof Ito dikenal memiliki kemampuan menerjemahkan ilmu psikologi yang sulit dicerna menjadi mudah dipahami. Dengan kepulangannya, tak sedikit kalangan akademisi, bahkan politisi yang merasa kehilangan akan sosok intelektual yang cukup update dalam menanggapi isu-isu terkini. Tampak beberapa tokoh turut hadir melayat, seperti ayah Wayan Mirna Salihin, Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama, serta Kapolri Tito Karnavian dan Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono yang mengirim karangan bunga berbela sungkawa terhadap kepulangan Prof Ito. Kehadiran Basuki alias Ahok ditengarai keterlibatan Prof Ito rencananya akan menjadi saksi ahli kasus penistaan agama yang santer diberitakan. Begitu pula kehadiran ayah Mirna ke kediaman Prof Ito, sebab ia pernah menjadi saksi ahli kasus Kopi Sianida yang melibatkan Wayan Mirna Salihin dan Jessica.

 

Aktif Organisasi

Prof Ito tidak hanya dikenal sebagai pengajar dan pengamat psikologi kawakan, namun ia juga memiliki sejumlah kesibukan yang diembannya semasa bergelar pelajar hingga pengajar. Semasa sekolah, Prof Ito menggilai olahraga. Berbagai cabang olahraga, seperti basket, voli, tennis, dan karate pernah ditekuninya. Tak hanya olahraga, beliau juga senang menggeluti bidang seni musik.

Beda sekolah, beda pasca sekolah. Penggemar alat musik seksofon ini juga sempat terlibat aktif dalam berbagai organisasi, baik nasional maupun internasional. Diantaranya, Presiden ApsyA (Asian Psychological Association), anggota Board of Directors IAAP (Internasional Association of Applied Psychology), APA (American Psychological Association), ICP (International Council of Psychologists), SPSSI (Society of Psychological Studies on Social Issues), IPS (Ikatan Psikologi Sosial), dan ASI (Asosiasi Seksologi Indonesia). 

 

Pernah Menjabat Dekan dan Menjadi Guru Besar Tamu Universitas Mancanegara

Sekembalinya Prof Ito ke Tanah Air dari studinya, beliau disibukkan dengan berbagai kegiatan di bidang akademis, baik sebagai peneliti, ilmuwan, hingga penulis. Sebagai peneliti, beliau pernah menjadi fellow di East West Center di Hawaii, Amerika Serikat. Bidang kajiannya sangat beragam, terutama menyoroti masalah sosial, mulai dari masalah Keluarga Berencana alias KB, anak jalanan, pemukiman, lalu lintas, sampai terorisme.

Prof Ito juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi periode 1997-2004 dan Ketua Program Studi Kajian Ilmu Kepolisian di Program Pascasarjana UI. Nggak cuma itu, Guru Besar kita satu ini juga sering jadi tamu undangan kuliah umum di universitas mancanegara, seperti di Cornell University, Amerika Victoria University, Australia Nijmegen University, Belanda dan Universitas Malaya, Malaysia.                                                                                                                                                                                                                                                  c

BACA JUGA: 5 Profesor yang Diabadikan Sebagai Nama Jalan di Kawasan Kampus UI

 

Prof Ito Populer di Berbagai Media Massa Terkait Pemikirannya

Sebagai sosok yang malang melintang di dunia psikologi, Prof Ito kerap diundang di berbagai seminar dan kuliah umum untuk menyampaikan pemikirannya. Beliau juga kerap menerbitkan beberapa buku psikologi, seperti Psikologi Sosial, Pengantar Psikologi Umum, Prasangka di Indonesia, Membina Keluarga yang Bahagia, Seksualitas dan Fertilitas Remaja, dan masih banyak lagi.

Sosok Prof Ito sempat memicu polemik terkait pemikirannya tentang LGBT,  dalam salah satu tulisan kolomnya di majalah Indonesia, beliau menelurkan istilah “LGBT Gaul”. Ia menganggap LGBT merupakan sebuah penyakit psikologis yang dapat menular dan ditularkan, menurutnya sebagian besar pelaku LGBT saat ini berperilaku karena terpengaruh oleh faktor lingkungannya.

psikolog-sarlito-wirawan-berpulang
Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono (via merdeka)

Prof Ito Meninggal Karena Terserang Pendarahan Usus

Gastrotestinal (GI) merupakan jenis penyakit pendarahan di saluran pencernaan yang meliputi kerongkongan, lambung, usus kecil, usus besar, rektum, dan anus. Pendarahan tersebut dapat berasal dari salah satu atau lebih daerah kecil seperti ulkus pada lapisan lambung atau radang usus besar.

Penyebab terjadinya pendarahan itu bervariasi, tergantung di mana terjadinya. Jika di kerongkongan, yaitu tabung yang menghubungkan mulut ke perut bisa mencakup esofagitis dan gastroesophageal erflux, varises, dan sobekan lapisan kerongkongan. Sedangkan pendarahan di perut disebabkan radang perut, bisul, borok usus, dan kanker lambung. Pendarahan tersebut bisa dicegah dengan menjaga kebugaran tubuh dan pola makan yang rutin. 

Dengan kepulangannya ke pelukan Tuhan, Prof Ito meninggalkan seorang istri dan tiga orang anaknya. Prof Ito dimakamkan di TPU Tonjong, Parung pada Selasa, 15 November 2016. Dimas, putra bungsunya, mengaku tidak melihat adanya tanda ayahnya akan pergi dari dunia ini. Setelah menjalani masa perawatan selama lima hari di RS Asri Siloam, kondisi Prof Ito sempat membaik, namun kembali terkulai lemas. Saat mulai sadar, dikatakan Dimas, hal pertama yang ditanyakan ayahnya ketika tersadar saat di rumah sakit adalah kondisi politik Indonesia hari ini. 

Bagi keluarganya, Prof Ito dikenal bagaikan superhero yang dicintai banyak orang. Keteladanan ayah tiga anak itu, dikatakan Dimas, selalu menyuarakan aspirasi secara independen.

BACA JUGA: Sosok Heroik di Kampus yang Seharusnya Kamu Apresiasi

 

Baginya menyuarakan aspirasi secara independen dan tetap berpegang dalam kebhinekaan merupakan suatu yang harus dijaga dan dipelihara. Nah, adakah diantara Anak UI yang pernah mengikuti kelas Prof. Ito? Gimana sih pengalaman kalian saat diajar di kelas beliau? Yuk, ceritakan pengalaman kamu di comment box!

Jika kamu memiliki pandangan tersendiri tentang toleransi dan kebhinekaan, yuk bagikan informasi ini di Facebook, Twitter, dan Line kalian, dan yuk sama-sama kita teruskan pemikiran-pemikiran konstruktif Prof. Ito untuk kembali menjadi Indonesia!

7 Tipe Berita di Kehidupan Sehari-Hari yang Udah Sering Kita Denger Sampe Bosen

Berita pada zaman sekarang sudah menjadi makanan sehari-hari, apalagi mahasiswa yang gak bisa lepas dari mantengin gadget. Gak di TV, radio, koran, maupun portal berita online, segala kabar terbaru mengenai seluk beluk dan carut marut dunia bisa kita ikuti. Akan tetapi, sadar gak sih, ternyata berita yang dimuat di media massa itu ya gitu-gitu aja, topiknya gak jauh-jauh dari hal yang udah sering kita baca dan denger sampe bosen. Nah loh, emangnya apa aja sih jenis beritanya? Berikut rangkuman anakui.com mengenai hal tersebut.

BACA JUGA: Gimana Caranya Biar Gak Gampang Terprovokasi oleh Media?

 

Berita Update

Berita yang muncul setiap setengah jam sekali via lendcreative
Berita yang muncul setiap setengah jam sekali via lendcreative

Jenis berita ini merupakan berita yang muncul setiap setengah jam sekali, misalnya kecelakaan, banjir, gunung meletus, kebakaran hutan, macet, pemerkosaan, pencurian, dan sebagainya. Kita pasti udah hapal sama model berita ini karena selalu berulang-ulang dan hanya memberikan info, ditambah bumbu sedikit opini yang menyalahkan pihak pemerintah tanpa solusi yang nyata.

 

Berita Kehidupan Sosial

Berita kehidupan sosial via rri
Berita kehidupan sosial via rri

Kurang lebih sama kayak berita update tadi, bedanya berita ini gak muncul setengah jam sekali, tapi dikupas secara mendalam pada suatu sesi khusus. Contoh beritanya misalkan fenomena kemiskinan, gelandangan, wabah penyakit, dan hal lain yang menyangkut kehidupan sosial masyarakat. Dalam berita ini, pemerintah jauh lebih disudutkan daripada berita update tadi.

 

Berita Hiburan

berita hiburan ini cuma buat seru-seruan via beritatagar
berita hiburan ini cuma buat seru-seruan via beritatagar

Sebenernya berita hiburan ini cuma buat seru-seruan dan biar asik aja sih, kayak tujuh fakta unik blablabla, tujuh destinasi blablabla, tujuh hal menarik blablabla. Berita ini sesungguhnya agak-agak kurang urgent untuk disaksikan, tapi ya namanya juga hiburan, kadang menarik juga buat nambah wawasan.

 

Berita Politik

Inget gimana berita pemilu yang ga ada abisnya? via bonepos
Inget gimana berita pemilu yang ga ada abisnya? via bonepos

Penulis mau angkat tangan aja kalo masalah berita ini, boleh gak? Berita ini bisa dibilang gak ada matinya! Karena semua orang seolah-olah kekeuh akan pendapatnya dan pasti berada dalam satu pihak. Contoh paling nyata adalah pada saat pemilu presiden, dua kubu saling mempertahankan jagoannya masing-masing dan mencari-cari kesalahan lawan. Jangankan saat pemilu, di keseharian juga banyak berita tentang partai politik saling balas membalas, kasus-kasus korupsi, pencemaran nama baik, kritik terhadap pemerintah, dan lain sebagainya.

 

Berita Prestasi

Berita prestasi via voaindonesia
Berita prestasi via voaindonesia

Biasanya ya, berita prestasi ini muncul dari cabang olahraga. Misalnya, Timnas berhasil di pertandingan awal, kemudian berita ini akan dibesar-besarkan seolah-olah menjadi juara utama. Bukan pesimis apa gimana, tapi kebanyakan dari kita lengah akan euphoria kemenangan padahal baru di awal pertandingan.

Akan tetapi, kita patut berbangga hati karena Indonesia Raya berhasil dikumandangkan pada Olimpiade Rio 2016 tanggal 17 Agustus kemarin berkat peraihan medali emas oleh Tontowi Ahmad & Liliyana Natsir. Selamat!

 

Berita Drama

Berita drama untuk meningkatkan popularitas via antiketombe.clear
Berita drama untuk meningkatkan popularitas via antiketombe.clear

Ya, gak usah dipertanyakan lagi kalo di dunia media massa juga ada yang namanya drama untuk meningkatkan popularitas dan mendongkrak nama media. Gak masalah sih sebenernya, yang bikin kesel adalah berita ini cenderung menarik perhatian masyarakat secara lebih besar dan menutupi berita-berita lainnya yang jauh lebih penting. Pengalihan isu, namanya.

 

Berita Sensasional

Berita sensasional yang gak penting-penting amat via tyhjataivas
Berita sensasional yang gak penting-penting amat via tyhjataivas

Mirip-mirip kayak berita drama di atas, bedanya berita ini jauh lebih gak penting dan membahas kehidupan pribadi tokoh papan atas yang kalo kita bahas sampe mendalam pun sama sekali gak ada faedahnya. Ok-lah ada manfaatnya untuk menghindari hal-hal tersebut, tapi kan banyakan buang waktunya. Iya, udah gitu aja.

Dan setelah kamu membaca artikel anakui.com kali ini, kamu dapat menyimpulkan bahwa artikel ini masuk ke dalam berita yang….?

Gimana Caranya Biar Gak Gampang Terprovokasi oleh Media?

Media merupakan suatu hal yang gak bisa dilepaskan lagi dari kehidupan kita sebagai manusia, apalagi kita mahasiswa yang butuh banget asupan informasi-informasi terkini biar tetep up to date dan gak ketinggalan berita. Kalau diibaratkan, media merupakan jembatan antara dunia luar dengan kehidupan kita biar terpantau terus: kira-kira lagi ada apa sih di luar sana?

Sayangnya, banyak media yang hanya mengejar popularitas tanpa memperhatikan orisinalitas dan kebenaran berita sehingga berita yang disajikan hanya berupa provokasi agar banyak dibaca oleh masyarakat dan menjadi perbincangan hangat. Karena kita mahasiswa, maka dari itu kita ga boleh ikut-ikutan terpancing sama berita-berita yang sifatnya provokatif tanpa mengandung hal yang sebenarnya terjadi.

Pada kesempatan artikel ini, anakui.com akan ngasih tau kamu gimana caranya biar kamu gka gampang terprovokasi oleh media, terlebih lagi terhadap media cetak. Yuk, langsung disimak aja!

BACA JUGA: Ini Dia Alasannya Kenapa Kamu Harus Baca Berita yang Benar

 

Langsung baca isinya, judul mah sekilas aja

Jangan terlalu terpengaruh sama judul via afif_jo
Jangan terlalu terpengaruh sama judul via afif_jo

Judul merupakan hal yang berkontribusi besar dalam salah tafsirnya pembaca akan suatu berita. Belum baca keseluruhan beritanya aja, pembaca bisa langsung terprovokasi dengan judul yang dibuat oleh media. Temen-temen pasti pernah diajarin waktu SD kalo bikin karangan itu isinya dulu, judul mah belakangan aja biar mewakili keseluruhan cerita?

Ya, begitu pun dengan berita yang banyak dibuat oleh media. Judulnya dibuat semenarik dan sehipster mungkin biar yang baca mengira kalau judulnya itu mewakili keseluruhan berita. Padahal mah ya, bisa aja judulnya dibuat hiperbola, biar makin provokatif, menarik, dan beritanya laris manis di pasaran. Bukan berarti judul yang menarik dan unik itu gak perlu, tapi tetep harus sesuai sama berita dan gak melenceng jauh sehingga gak mengurangi esensi dari berita tersebut. Jadi, biasakan membaca isi beritanya sampe abis, jangan terlalu terpengaruh sama judul.

 

Jangan terdistraksi oleh foto berita

Jangan terdistraksi oleh foto berita via blick
Jangan terdistraksi oleh foto berita via blick

Kurang lebih sama sih kayak judul, foto atau featured image berita yang digunakan sebagai pendukung berita tersebut biar makin “hidup” juga sering kali dimanfaatkan untuk menarik minat pembaca. Bisa aja si redaktur memasukkan foto yang gak nyambung-nyambung amat sama isi berita, asal kontroversial dan kira-kira menarik, eh malah dipake. Hasilnya… Duar! Pembaca cenderung terdistraksi sama foto beritanya dibanding membaca judul, apalagi isi beritanya. Kena, deh.

 

Tetep netral, keep calm

Tetep netral, keep calm via shareyouressays
Tetep netral, keep calm via shareyouressays

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah tetap netral saat membaca berita. Pokoknya usahakan pikiran sejernih mungkin deh. Jangan langsung kepancing emosi misalkan begitu tahu idola kamu diberitakan hal yang kurang baik oleh media, abis itu kamu langsung terprovokasi dan memaki-maki berita tersebut. Tetap gunakan logika dan nalar yang jernih, ya. Objektif adalah kuncinya.

 

Ingatlah bahwa segalanya bisa dibikin drama

Semuanya bisa dibikin drama via cbc
Semuanya bisa dibikin drama via cbc

Gak cuma sintron aja yang bisa dibikin sedrama mungkin, kehidupan real aja bisa dijadiin drama sama media. Iya, media bisa aja membagi topik berita menjadi beberapa part dan dibuat seolah rangkaian berita yang dikemas secara drama! Apalagi, beberapa portal berita udah dicampuri sama kepentingan politik dari pihak tertentu. Harapannya sih saat kamu membaca berita yang penuh drama ini, kamu akan kebawa emosi dan ikut berkomentar biar tambah rame. Dengan mengingat bahwa semuanya bisa dibikin drama, kamu menjadi lebih waspada dan bisa tahu mana batasan-batasan yang sebenarnya kenyataan, mana yang terkesan dibuat-buat.

 

Baca dari sumber yang berbeda

Baca dari sumber yang berbeda via syaraf.blog.ugm.ac.id
Baca dari sumber yang berbeda via syaraf.blog.ugm.ac.id

Nah ini adalah tips yang paling kita temuin dalam membaca sebuah berita. Ujung-ujungnya bakal balik lagi kalo kita harus membaca suatu berita dari berbagai sumber, gak cuma satu aja, biar pandangan kita terhadap suatu kejadian bisa dari berbagai sisi dan menarik kesimpulan dengan lebih bijak.

Itu dia tips yang bisa anakui.com berikan kepada temen-temen biar gak gampang terprovokasi oleh media. Karena kita mahasiswa, sudah seharusnya berpikir dua kali sebelum berkomentar terhadap suatu berita, tentunya dengan cara yang berpendidikan dan berkelas. Selamat banyak-banyak membaca!

Ini Tokoh-tokoh Politik Indonesia yang Lahir dari Kampus UI

Kita semua tahu, kiprah para alumni Universitas Indonesia mengisi berbagai panggung di negeri ini sudah tidak bisa dihitung lagi saking banyaknya. Termasuk lulusan-lulusan UI yang mendapatkan lakon di panggung politik. Tak jarang menteri-menteri yang dicomot oleh pemerintah saat ini pun rata-rata merupakan lulusan kampus ini karena dianggap mampu memenuhi sisi akademis panggung politik saat ini.

Sebetulnya siapakah orang-orang yang menjadi politisi hasil godokan Universitas Indonesia ini? Mari kita lihat 7 politisi yang merupakan lulusan UI dan menjadi lakon di panggung politik saat ini (bahasa gampangnya mah yang sering kedengeran di tipi-tipi, hahaha).

 

Bapak Akbar Tandjung

Akbar Tanjung

Bapak yang satu ini, penulis sudah sering dengar namanya saat Orde Baru alias saat rezim pemerintahan Pak Soeharto. Kira-kira penulis masih umur TK, tapi karena ayah penulis suka banget nyalain berita di ruang tamu, akhirnya sampai sekarang inget banget siapa Pak Akbar Tandjung. Beliau merupakan lulusan dari pendidikan teknik Universitas Indonesia. Sepak terjang beliau di dunia politik memang keren banget, beliau sejak zaman Soeharto, menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Kemudian pemerintahan selanjutnya, merekrut beliau menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat dan selanjutnya menjadi Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia. Hingga tahun, 2004 saat pemerintahan Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie, beliau menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat.

 

Bapak Fahri Hamzah

Politisi-UI-Fahri-Hamzah

Bapak H. Fahri Hamzah, S.E adalah wakil ketua DPR RI pada masa jabatan Bapak Jokowi di tahun 2014-2019 ini. Pada pemerintahan kedua SBY, beliau juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat mewakili daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat. Politikus yang digandeng oleh Partai Keadilan Sejahtera ini merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan sebelumnya pernah menempuh pendidikan selama 2 tahun di Fakultas Pertanian Universitas Mataram.

 

Ibu Meutia Hatta

Politisi-UI-Meutia-Hatta

Sosoknya yang lembut, ramah dan menginspirasi, itulah yang bisa didapatkan dari Ibu Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono. Anak perempuan dari mantan wakil presiden dan proklamator Indonesia Bapak Mohammad Hatta ini, pada tahun 2006-2010 menjadi Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia dan tahun 2004-2009 pun menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Beliau mendapatkan gelar doktor dalam bidang antropologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1991. Wanita kelahiran Yogyakarta, 21 Maret 1947 ini, sangat giat dalam memberi penegakkan pada kaum hawa. Beliau banyak memberi masukkan saat pemerintah hendak menegakkan kembali UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).

 

Bapak Jero Wacik

Politisi-UI-Jero-Wacik

Nah, untuk menteri yang satu ini, penulis beneran selalu denger namanya dimana-mana. Beliau adalah Bapak Jero Wacik. Bapak kelahiran Singaraja, Bali, 24 April 1949 ini, merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan dari jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung. Beliau menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia menggantikan Darwin Zahedy Saleh saat reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II pada tanggal 18 Oktober 2011. Diluar dari berita miring tentang beliau, kita patut bangga juga bahwa masih ada orang-orang yang mau menjadi menteri dan bekerja pagi hingga larut malam untuk memikirkan negara kita 🙂

 

Ibu Rieke Diah Pitaloka

Politisi-UI-Rieke-Diah-Pitaloka

Ketika artis satu ini yang naik daun karena sebuah sitkom “Bajaj Bajuri”, penulis gak pernah tahu sebelumnya kalau dia adalah artis cerdas dengan prestasi yang melejit. Politikus yang satu ini berhasil membuat citra bodohnya di pemeran Oneng di sitkom tersebut menjadi berubah sangar saat dia duduk di kursi DPR saat tahun 2009-2014. Penulis seneng banget kalo disuruh bahas artis yang satu ini, walaupun dia artis tapi dia adalah politikus yang cerdas. Tak heran kalau ia langsung digaet oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk menajdi anggota didalamnya.

Kariernya di dunia akademis, keartisan dan politikus sangat berimbang. Ia mengenyam pendidikan sarjana di Fakultas Sastra Belanda Universitas Indonesia dan Filsafat STF Driyakara, kemudian mengambil pendidikan S2 di Filsafat Universitas Indonesia. Sepak terjang wanita cerdas ini berawal menjadi wakil sekretaris jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa saat dipimpin Muhaimin Iskandar, lalu ia mengundurkan diri dan masuk ke keanggotaan PDI-P. Saat ini, Mbak Rieke menjadi anggota DPD periode 2014-2019 dengan sebelumnya maju sebagai calon legislatif DPD dapil Jawa Barat VII.

 

Bapak Erman Suparno

Politisi-UI-Erman-Suparno

Foto diatas adalah Bapak Ir. H. Erman Suparno, MBA., MSI yang merupakan lulusan pascasarjana jurusan Administrasi Negara dari Universitas Indonesia pada tahun 2000. Bapak Erman dinominasikan sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi oleh Ketua PKB, Muhaimin Iskandar. Beliau merupakan anggota partai politik Partai Kebangkitan Bangsa dan saat dilantik menjadi menteri, ia adalah Wakil Ketua Komisi V DPR dan bendahara umum PKB.

 

Bapak Abdul Gafur

Politisi-UI-Abdul-Gafur

Siapa yang tidak jarang mendengar nama bapak politikus satu ini? Namanya adalah Pak Abdul Gafur yang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Salut sebenarnya sama Pak Abdul Gafur ini, karena beliau adalah lulusan Fakultas Kedokteran dan menjadi seorang politikus. Well, emang gak selalu pekerjaan akhir kita akan sama sih ama program studi yang kita jalanin, hehe. Somehow, saat negara memanggil ya kita harus siap sedia #cie. Sepak terjang beliau di politik berawal dari tahun 1972, dimana beliau menjadi anggota DPR dalam fraksi ABRI dan pada tahun 1988-1997, beliau menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia. Selain itu, pada tahun 1993-2004, beliau juga menjadi Ketua DPP Partai Golkar.

Demikianlah profil 7 lulusan UI yang menjadi politikus terkenal di tanah air. Walaupun penulis sempat membaca ada sumber yang mengatakan kampus UI banyak menghasilkan koruptor, tapi itu hanya generalisir saja 🙂 Lagi-lagi, bagaimanapun juga, semua kampus tidak pernah mengajarkan menjadi koruptor, semuanya kembali ke urusan pribadinya ingin menjadi apa.

Tahu politisi Indonesia lulusan UI yang lainnya? Share di komentar ya!

 

Sumber:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

 

yang Muda yang Berprestasi: Dosen-dosen Muda Terbaik dari FISIP UI

Sering merasa nggak nyambung sama dosen di kelas, karena hidup ‘beda zaman’ sama mereka? Sering merasa dosenmu kuno dan nggak paham pembahasan para mahasiswanya?

Hal seperti ini jarang dirasakan oleh anak-anak FISIP, karena FISIP dipenuhi sama dosen-dosen muda yang seru dan menghidupkan suasana kampus. Namun, apakah cukup belajar di kelas yang asyik? Bukankah dosen yang masih muda biasanya kurang berpengalaman dan nggak berwibawa? Coba kenalan dulu sama tiga dosen FISIP UI ini, untuk membuktikan bahwa usia nggak menentukan kompetensi!

Baca Selengkapnya

Demokrasi Kini

 Sejak direbutnya kemerdekaan dari tangan penjajah, para pendiri bangsa menetapkan bahwa landasan berbangsa bagi Indonesia adalah demokrasi. Demokrasi, yang dicerminkan dengan kedaulatan rakyat atau dengan kata lain adanya suatu lembaga perwakilan rakyat (legislatif) memang telah … Baca Selengkapnya

Berdagang Syahwat Politik, Merakyat!

Oleh : Mang Oejank Indro, tinggal di http://mangoejankindro.blogspot.com Tidak perlu mukaddimah untuk mengupas kejadian dan narasi pemerintah akhir-akhir ini. Cukup banyak media yang berbondong-bondong menyajikan Lebensraum Indonesiana beberapa pekan terakhir bukan? Sejak Pemilu 2004 rakyat … Baca Selengkapnya

Mahasiswa UI yang Apatis, Siapa Peduli?

Memasuki bulan Oktober-November, kondisi perpolitikan di kampus UI biasanya semakin memanas. Apa sebabnya? Pemilihan raya tingkat fakultas dan universitas akan segera berlangsung di bulan November-Desember. Suksesi kepemimpinan lembaga yang resmi sebagai penyalur aspirasi mahasiswa baik … Baca Selengkapnya

Politik itu Hewan Apaa?

percayakah anda ketika mengintip info siapa saja yang tergabung di situs jejaring facebook ketika mengisi pandangan poiltik mostly dari mereka menjawab: NO COMMENT pertanyaan yang sering menghantui saya kenapa HEWAN yang  kebetulan bernama POLITIK mendapat … Baca Selengkapnya

error: This content is protected by the DMCA