Sedikit Kabar dari Fakultas Psikologi (Tentang Suksesi)…

Hiruk-pikuk Suksesi IKM Fakultas Psikologi UI sudah dimulai tepatnya tanggal 26 November 2007 lalu. Sedikit penggambaran tentang kondisi riilnya saja, ada dua calon ketua BEM (standar, ya? tapi setidaknya lebih baik dibanding dua tahun lalu yang cuma calon tunggal) yang akan berkompetisi untuk menduduki kursi nomer 1 di BEM F.Psi.

Baca Selengkapnya

Teruntuk Kalian Yang Pernah Jadi Korban Ghosting Oknum Gak Bertanggungjawab, Yuk Move On!

Disclaimer: Cerita ini berasal dari salah satu mahasiswi UI angkatan 2017 yang mau berbaik hati menjadi narasumber dan berbagi pengalamannya sebagai korban ghosting seorang mahasiswa UI angkatan 2018. Hmm.. ada yang bisa relate?

Plis banget, semoga pada gak nangis atau malah ketawa ya pas baca ini. Gue sebenernya bingung mau mulai dan mengakhiri darimana, sama kayak kisah cinta gue dulu sama si doi. Gak pernah dimulai, dan gak pernah diakhirin. Miris ya.

Sesuai dengan judul artikel di atas, gue mau berbagi kisah singkat (kalau kepanjangan nanti pada bosen) tentang pengalaman gue di-ghosting sama seorang cowok yang gue kenal sejak SMA. Bahkan selain gue di-ghosting, gue juga merasakan apa itu yang namanya dimanfaatin tanpa pernah menerima kata terimakasih dari orang yang memanfaatkan gue.

Semuanya itu terjadi selama bertahun-tahun, dan setelah pada akhirnya gue sadar sama apa yang dilakukan cowok itu terhadap gue adalah hal yang salah, gue masih butuh lebih banyak waktu lagi buat gue bangkit dan berhenti nyalahin diri gue sendiri. Ternyata gak gampang, guys. Gue butuh waktu sekitar empat semester buat ngeyakinin kalau dia adalah orang yang jahat, dan Tuhan pun tahu kalau dia bukanlah orang yang pantas untuk menjadi pasangan gue.

Oke, gue cerita ya

Sumber: womenworking.com

Dimulai dari apa itu ghosting. Mungkin kalian udah pada tahu artinya apa, tapi kalau belum tahu ya gak papa juga. Supaya gak bertele-tele, gue jelasin aja ya. Ghosting adalah suatu bentuk taktik dalam mengakhiri hubungan yang dilakukan dengan menghilang dan memutus komunikasi tiba-tiba tanpa menyediakan penjelasan.

BACA JUGA: Gaslighting, Apakah Saya Baik-Baik Saja?

Kelihatannya sih sederhana ya, tapi dampaknya bisa berupa penyiksaan psikologis yang cukup parah. Si korban akan mulai mempertanyakan tentang harga dirinya di mata orang lain. Selain harga diri, korban juga akan terus menerus memikirkan kekurangan dan salah apa yang Ia sebabkan sampai membuat seseorang ‘kabur’ dari dirinya secara tiba-tiba. Di situlah ‘fase-fase’ kritis yang harus dihadapi korban untuk beberapa saat, oh ya jangan lupa, korban juga dapat dipastikan mengalami kerusakan kepercayaan pada orang lain. Yakin deh.

Bagaimana dengan gue?

Sumber: entitymag.com

Gue sendiri masih sulit untuk menerima kalau diri gue adalah satu dari korban ghosting. Mungkin karena dulu gue terlalu suka sama si pelaku, jadi apa yang ada di otak gue jadinya gak rasional. Gue selalu melihat pelaku sebagai sosok yang menawan dan apa yang udah dia lakuin ke gue ya karena kesalahan gue.

Berawal dari dia yang memperkenalkan dirinya duluan ke gue dan berlanjut ke chat-chat di LINE dan juga DM Instagram, saat itu gue melihat dia sebagai sosok yang cool dan berbeda dari yang lainnya. Obrolan kita nyambung terus, dan rasanya kok kita saling melengkapi satu sama lain. Kesukaan dan kebiasaan kita bisa sama. Gue jadi mulai berpikir kalau kita meant to be together. cieee

Sampai pada akhirnya…

Sumber: thereset.com

Pada akhirnya dia mula meminta bermacam-macam pertolongan ke gue, mulai dari permintaan tolong sesederhana ngerjain PR, sampai minta diajarin soal-soal SBMPTN. Terlepas dari semua bantuan yang gue berikan, gue bangga karena bantuan-bantuan yang gue berikan berhasil mengantarkannya menjadi mahasiswa UI meskipun harus gap year sebelumnya.

Tapi guys, kabar bahagia itu kayaknya bukan untuk gue.  Kabar keberhasilan dia menyusul gue ke UI ternyata adalah momen penanda berhentinya hubungan gue dan dia yang udah terjalin selama itu. Semua jerih payah gue, di mana gue selalu meluangkan waktu untuk mengajarkan dan mengerjakan tugasnya, gak dihargai sama sekali. Hal ini sempet bikin gue gak percaya saat melihat kenyataan bahwa dia langsung nge-block semua media sosial gue, setelah beberapa jam pengumuman SBMPTN keluar. Waktu itu gue nanya ke semua temennya yang gue kenal. Dan untungnya semua temannya mau bantu gue untuk menanyakan alasan kenapa dia nge-block semua media sosial gue, walaupun hasilnya sih nihil, yang mana dia gak memberikan jawaban apa-apa. Hufftt..

Gue pun tersadar

Sumber: nzherald.co.nz

Satu hal yang membuat gue sadar kenapa ada aja orang yang mau melakukan ghosting, yaitu karena mereka (pelaku) melihat kita (korban) lebih rendah dan rapuh dari mereka. Apalagi kalau korbannya masih terus mencari-cari si pelaku, berusaha meminta kejelasan apa yang sebenarnya terjadi seperti yang gue lakukan. Dan ada baiknya untuk si korban yang lagi merasa tidak nyaman karena emosi yang berkecamuk, sebaiknya gak berusaha menelan mentah-mentah emosi tersebut.

Perlu banget disadari bahwa apa yang dilakukan pelaku tersebut bukan karena kesalahan kita, melainkan lebih pada ketidakdewasaan pelaku dalam bersikap. Atau emang udah dari sananya aja menjadi tabiat si pelaku. Gue belom coba research lebih jauh sih, apakah emang ada kepribadian tertentu yang membuat seseorang cenderung menjadi pelaku ghosting apa enggak.

Dari pengalaman gue sih, gue iseng waktu itu ngesearch nama pelaku di twitter. Percaya gak percaya, ternyata si pelaku udah terkenal jadi tukang ghosting bahkan dari SMP. Gue bisa tahu ini karena gue nemuin beberapa tweet dari cewek-cewek yang pernah menjadi korban, dan mereka bikin thread tentang pelaku. Haduh, kayaknya emang guenya yang sial ya? Bisa kenal sama orang kayak gini. Hehehe


Hmmm.. sekian nih cerita dari narasumber.

Untuk pembaca sendiri, apakah ada yang pernah mengalami hal yang sama? Atau mirip-mirip? Duh, gimana dong caranya biar kita-kita yang jadi korban bisa move on? Ada saran?

BACA JUGA: When Your Gadget is Your Bestfriend or Your Lover, Ikatan Emosional Antara Manusia dan Mesin

Tenang aja! hal pertama yang perlu kamu lakukan untuk mengatasi ketidaknyamanan emosi yang kamu alami adalah berhenti mempertanyakan harga dirimu. Jujur deh, pastinya kamu malu kan ngeliat semua pesan-pesanmu cuma diread doang atau mungkin malah diblock kayak yang narasumber alami. Gak papa. Kamu gak perlu memaksakan dirimu untuk melupakan rasa malu tersebut. Embrace it! Tapi jangan lupa, kamu juga harus ingat bahwa apa yang terjadi, semua ini, disebabkan karena pelaku yang belum dewasa dalam mengakui perasaan mereka. Dan kamu, ya kamu, jauhhhh lebih baik dari mereka

Bukalah lembaran baru dengan orang baru. Mungkin kamu masih merasakan trauma dengan apa yang terjadi pada dirimu. Kamu pun mulai memiliki konsep yang negatif untuk memulai percintaan. Berhenti terjebak dalam situasi itu dan mulailah  melakukan apa yang membuatmu kembali menjadi dirimu sendiri. Berkenalan lah dengan orang baru. Yakin deh, kamu pasti akan dengan cepat melupakan rasa sakitmu itu.

Ceritakanlah ketidaknyamanan yang kamu alami pada orang-orang terdekatmu. Tahu gak, dengan menceritakannya kembali, kamu akan mendapatkan kesempatan untuk melihat apa yang kamu alami ini dari sisi atau perspektif lain. Kamu pun akan tersadar bahwa tidak ada gunanya untuk menyesali apa yang terjadi dan semuanya hanyalah hal sepele yang biasa dilakukan oleh segelintir orang yang tidak dewasa.

Berhenti hubungi mereka. Hal ini dikarenakan apa yang kamu lakukan ini hanyalah membuang-buang waktumu saja. Lagipula, kamu tidak kehilangan satu hal pun dari mereka, dan mereka tidak akan mengubah keputusan mereka meskipun kamu membanjiri kotak pesan mereka dengan berbagai pesan. Tapi jika memang suatu saat dia kembali menghubungimu, take a step back! Jangan kembali jatuh ke dalam perangkap yang mereka buat dan cobalah untuk selalu hiraukan pesan mereka. You are so much better than this!

Nah… sekian tips dan trik yang bisa kamu terapkan apabila kamu sedang terjebak dalam situasi ini dan hatimu merasakan perasaan yang tidak nyaman akibat kelakuan dari si pelaku ghosting. Seperti apa yang dibilang oleh Jennice Vilhauer, PhD, seorang psikolog dan konsultasi yang menulis buku tentang ghosting, bahwa hal yang paling penting dalam suatu hubungan adalah:

“Know your own value, It’s really important to understand that you have value as a human being and to know that. If you don’t feel that you’re being treated in a way where you are being valued, it’s important to be able to make that choice yourself to say that this is not acceptable to you. This behavior is not okay. And you are willing to walk away from this”

BACA JUGA: Pertolongan Pertama Dalam Mengatasi Kecemasan

Referensi Gambar Header: Ghosting

7 Tanda Kamu Ada Dalam Toxic Relationship Dan Alasan Kenapa Kamu Harus Mengakhirinya

Apakah kamu sekarang sedang menjalani hubungan romantis dengan seseorang? Bagaimana kamu menjelaskan hubungan tersebut? Apakah pasanganmu ini adalah pasangan yang baik ? Kapan kamu mulai merasa bahwa si dia adalah orang yang tepat? Seberapa yakin kamu mengenai sehat atau tidaknya hubunganmu tersebut?

Dalam kenyataannya, kita bisa saja berpacaran dengan seorang bangsawan paling rupawan di dunia ini yang terkenal akan kekayaannya yang melimpah tersebar di tujuh benua, dimanjakan dengan kata-kata manis dan segala macam harta benda, namun sayangnya kita tetap merasakan kesedihan dan kehampaan sehingga kita tidak tahan untuk segera mengakhirinya hubungan tersebut.

Sumber: divorcedgirlsmiling.com

Atau mungkin sebaliknya, kita  memiliki seorang sederhana berpenghasilan pas-pasan sebagai pasangan hidup namun masih bisa mengecap indahnya hubungan romantis sambil menertawakan segala keterbatasan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Semua perbedaan itu muncul tergantung dari kualitas hubungan yang kamu jalani saat ini, dan kamu bisa mengetahuinya lewat jawabanmu atas pertanyaan-pertanyaan di atas.

Hubungan yang sehat tidak hanya nyaman untuk dijalani, namun juga membantu kita untuk tumbuh berkembang secara psikologis. Ketika kita menyadarinya, hubungan yang sehat akan terlihat sangat jelas di depan mata kita. Mereka yang memilikinya adalah pasangan yang saling menghargai dan berterimakasih satu sama lain. Mereka juga tidak malu dalam mengekspresikan hal tersebut, sesederhana mengucapkan terimakasih dan mengapresiasi apa yang telah dilakukan pasangan. Dalam persepsi masing-masing pihak, mereka lebih sering melihat kualitas positif dari pasangannya dibandingkan yang negatif.

Hubungan romantis yang sehat tidak hanya sekedar mencangkup yang manis-manis aja. Seseorang yang berada dalam hubungan yang sehat tetap bisa menyatakan ketidaksukaannya dan menyampaikan kritik terhadap apa yang dilakukan pasangannya. Bedanya, hal tersebut tidak dinyatakan dalam sesuatu yang menjatuhkan, bersifat penolakan, apalagi menyerang secara verbal maupun fisik. Pasangan dalam hubungan yang sehat akan menggunakan cara yang lebih positif, seperti berdiskusi dan bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah yang sedang dialami.

Cukup mengenai hubungan yang sehat, fokus dalam tulisan ini adalah membahas lebih dalam lagi mengenai hubungan yang sifatnya toxic, alias tidak sehat. Sebenarnya, banyak sekali definisi dari hubungan yang tidak sehat, dan pada artikel ini, penulis akan menuliskan tanda-tandanya sehingga pembaca akan lebih mudah untuk megidentifikasi dan mengatasinya.

BACA JUGA: 5 Kisah Klasik Cinta Beda Agama: Nyatanya Tuhan Memang Satu, Kita Saja Yang Tak Sama

1. Berawal dari rasa takut akan mengecewakan pasangan yang terjadi secara terus menerus.

Sumber: findastrologysolution.com

Secara tidak sadar, diri kita mulai membatasi berbagai hal yang dulu kita sukai karena kita takut pasangan kita tidak menyetujui apa yang kita lakukan. Banyak dari mereka yang mengaku rela berubah secara drastis karena rasa takut ini, dan perubahan yang dilakukan bukanlah karena kemauan dari si subyeknya sendiri, melainkan karena adanya paksaan dan tekanan secara terus menerus.

2. Perubahan mood dratis yang tiba-tiba dari si dia, membuatmu bingung.

Sumber: violetshort.com

Masih berhubungan dengan nomor satu, saat kamu berada dalam hubungan yang tidak sehat dan pasanganmu mulai menuntutmu untuk melakukan banyak perubahan agar sesuai dengan apa yang Ia mau, ada saatnya kamu menolak untuk melakukan hal tersebut. Pada saat kamu menolak, kamu bisa melihat secara langsung reaksi yang ditunjukan oleh pasanganmu tersebut. Ia bisa saja langsung membentakmu dan menyuruhmu pergi meskipun sebelumnya Ia memujimu habis-habisan. Hal ini benar-benar sangat membingungkan.

3. Kebohongan yang kronis.

Sumber: motivasyonatolyesi.com

Apakah sudah berkali-kali pasanganmu tidak jujur padamu? Bukan hanya mengenai hal-hal terkait hubunganmu dengannya, namun juga mengenai masalah lainnya seperti pekerjaan, kondisi finansial, keluarga, dan masih banyak lagi. Jika kamu mulai merasa bahwa pasanganmu banyak menutup-nutupi sesuatu darimu, mungkin ini adalah saatnya kamu untuk meluruskan hubungan yang telah kamu jalin ini.

4. Gaslighting

Sumber: eopcn.ca

Dalam artikel sebelumnya, penulis telah membahas apa itu gaslighting dan bahayanya bagi kesehatan mental seorang individu. Nah, Di sebuah hubungan yang sifatnya tidak sehat, gaslighting adalah makanan sehari-hari. Si dia akan berkali-kali memanipulasi perasaanmu sehingga kamu mulai meragukan kebenaran dari pikiran dan penilaianmu sendiri. Tidak jarang, kata-kata yang sering mereka gunakan bentuknya: “Ah, kamu yang terlalu sensitif”, “Tolong jangan membesar-besarkan masalah, kamu sudah dewasa” atau “Kamu mungkin sedang berhalusinasi, coba deh, mana mungkin aku seperti itu”.

5. Pembatasan sosial

Sumber: belief.net

Pasanganmu mulai meminta password dari semua media sosialmu supaya Ia lebih mudah memantau siapa saja yang berteman denganmu? Atau Ia mulai memaksa untuk menemanimu kemanapun kamu pergi? well, jangan salah artikan apa yang mereka lakukan ini sebagai bentuk dari kasih sayang. Mereka ingin terus menerus mengontrolmu dan keseharianmu. Jadi sebaiknya lekas sampaikan bahwa kamu tidak menginginkan hal ini dan memilih untuk mengakhiri hubunganmu dengannya dibandingkan harus menuruti permintaannya ini,

6. Perasaanmu terabaikan dan tidak didengarkan

Sumber: newshub.co.nz

Adakalanya pasanganmu seolah-olah tertarik dengan apa yang kamu bicarakan, tapi pada akhirnya Ia-lah yang akan mendominasi pembicaraan. Ketika kamu memiliki masalah dan ingin meluapkan perasaanmu padanya, Ia kan cepat-cepat mengatribusikan permasalahan tersebut dengan permasalahan yang juga Ia miliki. Kamu akan selalu dipaksa untuk mendengar, tanpa diberi kesempatan untuk bercerita.

7. Lelah emosional

Sumber: dreamstime.com

Akhirnya, setelah melewati hal-hal yang penulis sebutkan di atas, kami mulai kelelahan menanggapi pasanganmu. Kamu lebih suka ketika Ia tidak membalas pesan atau tidak menemuimu. Dan juga sebaliknya, kamu akan merasakan ketakutan tidak wajar ketika melihat namanya muncul di layar handphone- mu. Kamu lalu menciptakan sejuta alasan untuk mencegahnya menemuimu, dan kamu mulai berpikir apakah hubungan seperti ini masih pantas untuk dijalani atau tidak. Kamu sudah lelah secara emosional.

***

Hubungan tidak sehat yang tidak segera diakhiri akan membunuhmu secara perlahan-lahan. Sadar atau tidak, hubungan yang kamu jalani ini akan memicu perubahan hormon dalam tubuhmu. Bagian otak yang berperan dalam menjaga keseimbangan hormon manusia, yaitu hipotalamus, adalah bagian yang juga paling bereaksi terhadap stres. Pelepasasn hormon kortisol akibat stres akan berpengaruh pada mood dan fungsi tubuh kita sehari-hari.

Dampak fisiologis yang paling dapat dirasakan biasanya berupa peningkatan gula darah dan detak jantung yang signifikan. Selain pengaruhnya pada metabolisme kardio, hubungan yang tidak sehat juga yang memicu perubahan hormon di dalam tubuhmu akan memengaruhi sistem reproduktif, fungsi hati dan pencernaamu.

Tentunya, kamu tidak ingin mengalami semua komplikasi yang timbul akibat hubungan tidak sehat yang kamu jalankan ini. Kamu bisa berhenti menyakiti dirimu sendiri dan meninggalkan semuanya di masa lalumu. Bukalah lembaran baru, dan mulai hubungan dengan seseorang yang bisa menyayangimu dengan tulus dan menciptakan hubungan yang sehat bagi dirimu dan juga dirinya.

BACA JUGA: 5 Rekomendasi Hadiah Valentine Anti-Mainstream Buat Pacar Kamu

Hati-hati, Sosiopat Ada Di Sekitar Kita…

“Saat itu, yang saya lihat dari dirinya ya gak ada yang aneh. S itu ramah, murah senyum, dan agak charming sih. Pantas banyak yang naksir sama dia, dan saat itu saya merasa jadi wanita paling beruntung karena dia milih saya menjadi pacarnya. Tapi ternyata, saya salah banget. Dia tidak sebaik yang saya lihat”

“Saya kenal dengan A  pas masuk kuliah. Keliatannya emang diem-diem aja orangnya. Tapi kalo udah pengen sesuatu, kayak misalnya saat kerja kelompok, dia bakal maksa banget dan pengen selalu didengerin. Jujur ga kaget sih kalau ternyata dia abusive sama pacarnya”

“Gue ga kenal banget sama M, cuma kita satu fakultas. Ngomong pun cuma sekali karena waktu itu kita satu kepanitiaan. Kalau gue liat emang agak aneh sih. Pake bajunya juga. Terakhir gue lihat tuh dia pake tank-top di luar dan di dalemnya dia pake hoodie. Serius. Lo semua pasti bakal ngakak ngebayanginnya. Tapi ya namanya kita tahu kan, di bangku kuliah banyak orang yang pengen nge-ekspresiin dirinya. Yaudah, kita mikirnya dia gitu aja”


Cerita di atas merupakan cuplikan pendapat orang-orang yang pernah berinteraksi dengan seorang sosiopat. Sosiopat, dari namanya saja sudah terdengar menyeramkan, apalagi membayangkan harus berurusan dengan mereka. Kalian tidak salah. Mereka memang tidak semuanya membahayakan seperti yang sering kalian lihat di televisi atau novel-novel misteri, namun saya tetap menyarankan sebaiknya kalian jangan pernah mencoba untuk berurusan dengan mereka jika kalian bukan seorang profesional.

awas ada sosiopath
sumber: psyxiatros.gr

Sosiopat sebenarnya adalah merupakan sebuah gangguan. Kalau kalian tertarik lebih lanjut, kalian bisa baca DSM-5 (sebuah buku yang menyediakan informasi mengenai kriteria standar mengenai gangguan kejiwaan) dan menyelami lebih lanjut ciri-ciri seorang sosiopat dan psikopat dalam bab gangguan kepribadian (di DSM-5, nama gangguan ini adalah anti-social personality disorder).

Tapi di sini saya tidak akan berbicara panjang lebar mengenai isi dari DSM-5 dan perbedaan antara sosiopat dan psikopat. Tulisan ini kurang lebih hanya berupa peringatan bagi pembaca untuk terus waspada terhadap berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja dilakukan oleh seorang sosiopat.

Seorang sosiopat bisa jadi siapa saja, tidak terkecuali orang terdekat kita. Banyak dari mereka juga memiliki karisma yang luar biasa hebatnya, dan mereka menggunakan karisma tersebut untuk memanipulasi orang lain dalam mendapatkan apa yang mereka inginkan. Salah satu narasumber saya yaitu J, seorang mahasiswi yang mengaku pernah menjalin hubungan dengan seorang sosiopat menceritakan betapa membingungkannya pasangannya tersebut.

“Ia pernah memukul saya hanya karena saya salah memesan makanan, tapi sesudahnya ia akan mengirimkan saya beribu-ribu pesan permintaan maaf dan hadiah, ya tapi begitu. Besoknya pasti mukul lagi”

Seorang sosiopat cukup hebat dalam mengatur perasaannya. Mereka akan berpura-pura tertarik dengan orang lain, meskipun sebenarnya sama sekali tidak. Sayangnya, kemampuan berpura-pura seorang sosiopat ini tidak selihai seorang psikopat. Sosiopat biasanya akan cepat menyerah dan berujung pada ledakan emosi ketika hal yang diinginkannya tidak kunjung dicapai.

Memang sulit rasanya untuk bisa benar-benar menghindari sosiopat tanpa tahu ciri-ciri mereka. Jadi, jika kalian masih tertarik untuk mengetahui lebih lanjut seperti apa mereka dalam keseharian, kalian bisa lanjut membaca. Jika tidak, kalian bisa langsung memencet tombol back dan menjalani hidup tenang, dalam ketidaktahuan.

Oke, jadi kalian memutuskan untuk lanjut membaca.

1. Kata-kata

Sumber: iheartintelligence.com

Pengalaman saya dalam bergaul dengan seorang sosiopat memang tidak banyak. Tetapi, ada kesamaan unik yang saya temukan hampir ada di semua sosiopat, yaitu dalam kata-kata yang mereka pilih saat berbicara. Menurut saya, diksi alias pemilihan kata seorang sosiopat selalu terdengar sangat ekstrem. Misalnya, “Saya amat sangat mencintaimu”,“Saya akan mati jika tidak bersamamu”, “Saya benar-benar belum pernah bertemu orang sejahat kamu” “Sebaiknya kamu diam atau saya bunuh kamu” “Sekali lagi kamu melakukan hal itu, saya akan lompat dari gedung ini” dan masih banyak lagi kata-kata ekstrem yang akan sangat mengejutkan jika didengar dalam pembicaraan casual.

BACA JUGA: Tiga Kata ini Bisa Bikin Kamu Keliatan Anak UI Banget kalo Lagi Ngecakkin Temen

2. Perilaku

Sumber: rebloggy.com

Sosiopat senang akan penderitaan orang lain, apalagi jika merekalah yang menyebabkan penderitaan itu. Umumnya, seorang sosiopat tidak memiliki cukup banyak orang yang bisa mereka berikan penderitaan. Oleh karena itu, tidak jarang orang yang paling sering menerima penderitaan dari mereka adalah orang terdekat mereka.

BACA JUGA: Teruntuk Kamu yang Introvert: Jangan Minder, Sesungguhnya Kamu itu Berharga.

3. Karismatik

Sumber: publisherweekly.com

Saya mulai bosan menuliskan hal ini, tapi memang tidak dapat diragukan lagi, seorang sosiopat benar-benar pandai menyihir seseorang untuk mengikuti apa yang mereka mau. Berkali-kali korban yang saya wawancarai selalu menekankan ciri pelaku yang mampu membuat mereka sulit untuk lepas dari cengkramannya yaitu adalah kata-kata dan perbuatan pelaku yang bisa menjadi sangat manis dan kadang terkesan karismatik. Ya, meskipun tentu saja pelaku akan dengan cepat berganti karakter lagi dan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.

BACA JUGA: Cara Sederhana Membentuk Jati Dirimu Selama Kuliah di Kampus Kuning

4. Percaya Naluri

Sumber: quotefancy.com

Tidak semua orang diberkahi dengan naluri yang tajam, tapi saya rasa semua orang punya kemampuan untuk mencium gelagat yang kurang menyenangkan dari orang lain. Jika memang kita mulai merasakan hal tersebut dan takut untuk terus berhubungan dengan seseorang yang sifatnya berubah-ubah dan mulai membingungkan, sebaiknya kalian memercayai naluri kalian dan menjauh untuk beberapa saat.

***

Ciri-ciri di atas kurang lebih merupakan cara cepat dalam melakukan pendeteksian terhadap orang di sekitar kalian yang kalian curigai adalah seorang sosiopat. Namun, ada baiknya juga untuk  melihat secara mendalam terhadap karakter seseorang untuk menghindari labelling pada orang-orang tertentu yang mungkin memiliki karakter yang mirip dengan seorang sosiopat. Semoga membantu!

BACA JUGA: 5 Tindakan yang Harus Kamu Lakukan kalau Merasa Menjadi Korban Bullying

Sumber gambar header sociopath

Belajar Meramal Lewat Psikologi, Kalian Musti Tau nih!

Anak psikologi tuh belajar ilmu yang penuh tebak-tebakan, gak ada standar bakunya, bisa baca pikiran, bisa ngeramal.. Aduh aneh-aneh deh, 

Eh tapi bener loh, kemarin temen kakakku yang anak psiko bisa tahu kalo kakakku lagi ada masalah, padahal cuma liat dari mukanya aja! Tuh kan bener, anak psiko tuh bisa baca pikiran!

Oh iya, waktu itu juga pas aku SMP di tes sama psikolog, katanya aku lebih cocok masuk jurusan IPS, tapi aku malah maksain masuk jurusan IPA. Ternyata aku gak suka! Tuh kan bener, seharusnya aku ngikutin apa kata psikolog! Mereka bisa ngeramal!

Sebagai mahasiswa psikologi tahun terakhir, bisa dibilang aku sudah khatam benar dengan celotehan-celotehan orang awam mengenai ilmu psikologi. Celotehan-celotehan tersebut ada yang benar, ada juga yang mengada-ada. Kadang kesel sendiri sih dengernya, apa lagi kalo sampe nyesatin orang awam lainnya yang denger! Kaya… bahaya banget kan tuh kalo ada orang yang beneran percaya di fakultas psikologi itu kita kuliah cuma nebak-nebak doang, atau..  kuliah di psikologi tuh pas lulus bisa jadi ahli nujum… Hihihihi

sumber: google

By the way, sebenernya ada beberapa stereotip yang bisa kalian buktikan kebenarannya sendiri saat memasuki fakultas psikologi, yang kalau menurutku (dan kebanyakan anak psikologi lainnya) meskipun agak aneh, stereotip yang ada benarnya ini lebih ke sebuah kemampuan yang tumbuh seiringan dengan berjalannya studi kami di fakultas ini. Kemampuan apa itu? Ya… Apa lagi kalo bukan kemampuan ‘MERAMAL’!

Eh-eh apaan tuh, meramal kayak anak-anak indigo gitu? Bisa ngeliat masa depan kita? Bisa liat siapa jodoh kita?? Ihh asyikkk!

Nah, daripada kalian kebanyakan asumsi, lebih baik baca penjelasanku di bawah mengenai ramal-meramal ini ya!

Belajar tentang Perilaku Manusia

Dalam ilmu psikologi, kita mempelajari perilaku manusia secara umum. Tujuan dari ilmu ini sebenarnya ada banyak, namun yang paling populer tentunya adalah untuk meramalkan perilaku manusia. Jadi nih temen-temen, yang dimaksud dengan ‘MERAMAL’ di sini adalah memprediksikan kemungkinan dari kemunculan suatu perilaku. Maksudnya gimana sih?

Saat kamu menjadi mahasiswa psikologi, kamu diharuskan untuk melakukan berbagai jenis penelitian. Khususnya di Fakultas Psikologi UI, kamu akan melakukan penelitian hampir di semua mata kuliah. Mulai dari yang bentuknya sekedar menyebarkan kuesioner, sampai penelitian eksperimen yang superrrrrr ribet!

BACA JUGA: Bukan Cuma Sarangnya Bidadari, Inilah Keunggulan Fakultas Psikologi UI

Nah, hasil dari penelitian ini merupakan prediksi dari perilaku yang diramalkan! Misalnya penelitian tentang perilaku konsumen. Ada kue yang diproduksi oleh pabrik yang sama, namun dikemas dengan kemasan yang berbeda bentuk dan warna, yang satu berbentuk bulat dan berwarna kuning, yang satu berbentuk kotak dan berwarna biru tua. Peneliti lalu akan melihat, kemasan mana yang lebih menarik perhatian pembeli sehingga lebih laku terjual. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti dikatakan dapat meramalkan produk tertentu lebih laris dibandingkan yang lain.

Oke, mungkin contoh lain yang cukup akrab dengan keseharian kalian adalah tes IQ, atau mungkin psikotes saat kalian memilih jurusan di SMA. Percaya gak, tes-tes tersebut itu adalah bagian dari ‘meramal’ a la psikologi. Lewat hasil yang diperoleh tes-tes tersebut, psikologi meramalkan keberhasilan kamu dalam bidang yang akan kamu pilih, atau cocok ga cocoknya kamu di bidang tersebut. Jadi… kalau misalnya dari hasil psikotes kamu dinyatakan gak cocok untuk masuk jurusan IPS, ya, aku sarankan sebaiknya lebih baik kamu mengikutinya. Sesederhana itu temen-temen!

Nah, sekian pemaparan singkat mengenai ramal-meramal dalam psikologi. Semoga artikel ini dapat memberikan pencerahan bagi kalian yang masih bingung sama istilah ini dan tentunya: semakin menarik minat kalian untuk bergabung dengan Fakultas Psikologi!

BACA JUGA: Beberapa Fakta yang Harus Kamu Tahu Sebelum Masuk Jadi Mahasiswa Fakultas Psikologi UI

Minder Melulu? Jangan-Jangan Kamu Inferiority Complex!

mengatasi minder mahasiswa

Halo semua! Perkenalkan namaku Koko. Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu fakultas di UI. Aku punya tiga teman lainnya yang sangat dekat denganku. Mereka adalah Lala, Lulu, dan Sisi. Kami berempat selalu kemana-mana bareng. Akrab banget deh, Saking dekatnya, aku sudah merasa bahwa mereka adalah saudaraku sendiri.

Sampai suatu hari…

Ada suatu hal yang buat aku gak nyaman banget saat main bareng mereka. Semua itu muncul saat aku tahu Lala terpilih menjadi delegasi Indonesia untuk mengikuti konferensi mahasiswa di Eropa. Terus ada Lulu yang berhasil menjadi project officer di salah satu acara bergengsi di fakultas. Lalu Sisi, yang menang olimpiade olahraga internasional.

Sementara aku? Baru aja ditolak mentah-mentah via e-mail dari salah satu organisasi yang  aku idam-idamkan sejak masih menjadi maba.

Kalo ditanya jenis mahasiswa seperti apa aku ini, jelas bahwa aku bukan mahasiswa kupu-kupu. Di tahun pertamaku menjadi seorang mahasiswa, aku cukup aktif mengikuti berbagai organisasi dan kepanitiaan. Namun semuanya gak berlangsung lama. Setelah masa jabatan atau kepanitiaan selesai, biasanya aku ogah melanjutkan atau mencari yang baru. Aku lebih asyik rebahan di kost, terus  ngumpulin energi untuk mengerjakan tugas atau mengulang pelajaran di malam hari. Meski jadwal belajarku lebih rutin dibanding ketiga temanku yang super sibuk itu, tetap saja nilaiku masih di bawah mereka.

Dan karena itulah, aku sering merasa diriku ‘gagal’. Gak sukses di organisasi, gak sukses juga di akademis!

***

Halo teman-teman! pernah merasakan hal di atas? Mungkin sesekali pernah. Terutama nih saat melihat prestasi orang lain yang wow banget. Misalnya temen kita yang jadi mapres, mahasiswa aktivis, mahasiswa gaul… aduh, rasanya kita-kita ini masuk UI cuma beruntung aja… Terus gimana tuh kalo misalnya perasaan itu berlangsung lama sampai menghambat produktivitas kita sehari-hari? Membayangi pikiran kita setiap detik…

Nah, aku punya jawabannya,

Mungkin yang sedang kamu alami adalah inferiority complex. Pernah denger?

Temen-temen, Inferiority complex adalah suatu keadaan seseorang di mana ia merasa dirinya gak memenuhi standar, gak layak, gak mempunyai kapabilitas untuk melakukan sesuatu, singkatnya.. Gak percayaan diri gitu deh

Apa aja sih hal yang menyebabkan seseorang mengalami inferiority complex?

Ternyata, ada banyak hal yang menyebabkan seseorang mengalami inferiority complex. Antara lain nih, adanya sesuatu yang bertentangan antara apa yang kita inginkan dengan kondisi kita sebenarnya, terus misalnya, kita kurang mengapresiasi  apa yang telah kita lakukan dan miliki, serta kegagalan demi kegagalan yang pernah dan sedang dialami.

Seperti cerita Koko, ia ingin seperti teman-temannya karena melihat mereka sukses di bidang masing-masing. Namun, ia sendiri tahu bahwa dirinya tidak mampu mengikuti jejak temannya, karena ia sendiri merasa gak pernah menekuni bidang apapun. Ia juga tidak pernah mengapresiasi apa yang telah ia capai selama ini, seperti jadwal belajarnya yang rutin setiap malam. Padahal, gak mudah loh untuk belajar rutin dengan jadwal yang teratur, kebiasaan ini tuh gak bisa dilakukan oleh semua orang. Nah.. seharusnya hal ini menjadi sesuatu yang bisa diapresiasi. Dan kalau kita lihat dari cerita di atas, si Koko juga baru saja ditolak bergabung oleh organisasi yang ia inginkan sejak ia masih mahasiswa baru, sehingga tentu saja saat ini ia sedang mengalami fase kekecewaan (kalian yang pernah ngalamin pasti tau dong rasanya)

Aduh.. kayaknya beneran deh aku lagi ngalamin inferiority complex!

Eiitts.. Jangan takut! cara mengatasinya ternyata mudah loh guys. Kalian gak sedang tenggelam dalam palung dunia terdalam kok, aku punya beberapa cara supaya kamu gak terus-terusan mengalami inferiority complex.

Ubah Cara Pikir

Mindset is everything~ (sumber: theconcourse.deadspin.com)

Yang pertama nih, cobalah untuk mengubah cara pikir kalian dalam memandang hal-hal yang terjadi pada kalian. Terutama kegagalan yang sedang atau baru kalian alami. Kalian Bisa saja nih, lihat kegagalan yang terjadi bukan karena kalian yang kurang dalam segala hal, tapi karena saat ini diri kalian sedang mencoba sesuatu di luar zona nyaman kalian.  Bisa kan?

Ingat Hal Positif

Think positive & positive things will happen~ (sumber: clevelandheartlab.com)

Yang kedua, kalian bisa mengingat-ingat hal positif apa yang baru saja kalian lakuin. Ngasi duduk ke ibu hamil di KRL? Mendahulukan lansia saat mengantri? Atau…  bantuin ibu kalian ngirim pesan di whatsapp? Hal-hal positif tersebut, meskipun terlihat kecil dan menurut kalian tidak berarti, adalah bibit-bibit yang bisa kalian tanam untuk bunga kebahagiaan kalian. Eh tahu gak, ada sebuah studi yang menyatakan bahwa melakukan hal-hal positif  untuk orang lain, akan menimbulkan kebahagiaan pada diri kita sendiri. Pernah coba?

Tambah Lingkar Pertemanan

berteman bertemanlah
Real friends appreciate you for no reason~ (sumber: steemit.com)

Nah… yang terakhir nih, kalian bisa mencoba untuk menambah lingkar pertemanan kalian. Coba untuk bermain dengan mereka yang biasa-biasa aja. Mereka, mahasiswa yang sama seperti kamu. Cari tahu tentang mereka, dan bertemanlah dengan mereka. Istilahnya nih ya, untuk sekali-kali, kalian berhenti melihat ke atas dan mencoba berbaur dengan mereka yang selama ini kamu abaikan. Dengan ini, kamu bisa mendapat sudut pandang yang berbeda dan kamu gak akan pernah tahu hal apa aja yang bisa kamu dapetin dari orang-orang lain.

Gimana guys.. Udah paham kan nih apa itu inferiority complex? Udah dong ya pastinya.. Kedengerannya emang serem banget dan seolah-olah gak bisa diubah, tapi tenang aja kok! Dengan kalian membaca artikel ini (dan semoga aja mulai terinspirasi untuk berubah), sudah menjadi langkah awal untuk meninggalkan fase yang sedang kalian alami. Goodluck teman-teman semuanya!

BACA JUGA: Mental Illness, Salah Satu Penyebab Hidup menjadi Kelabu yang Masih Dianggap Tabu

Featured image reference: catholicukes.org.au

Prof. Ito, Guru Besar yang Baru Saja Meninggalkan Keluarga Besar

Pria bertubuh tambun dan rambut putih yang memiliki bio Twitter “a grandpa who love sax” ini begitu dicintai para mahasiswanya ketika mengajar di kelas. Tidak hanya mampu memberikan teori dari berbagai istilah psikologi yang harus dipahami, namun beliau juga mampu memberi contoh nyata menjadi praktisi dalam rumpun ilmu sosial tersebut, terbukti dari peran pentingnya sebagai seorang Presiden pada salah satu organisasi psikologi internasional.

Kesenangannya dalam bermusik dan penyayang keluarga merupakan ciri khasnya yang sangat dikenal keluarga dan koleganya. Candaan intelek khas seorang Profesor kerap dilantunkannya ketika mengajar, serta mampu menjadi kawan yang asik bagi cucu-cucunya ketika di rumah, membuat setiap orang bangga mengenalnya.  Tidak hanya itu, putra bungsunya, Dimas Aditya mengatakan, ia sangat memperhatikan masalah politik dan keamanan Indonesia.

Tak sedikit mahasiswa yang merasa beruntung mendapatkan sentuhan tangan dinginnya itu. Psikologi dan ilmu kebhinekaan yang diajarkan dianggap sangat penting dalam melahirkan pemikiran-pemikiran toleran dalam aktifitas sosial kemasyarakatan.

Adalah Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Fakultas Psikologi UI, yang kerap menjadi buah bibir di kalangan akademisi belakangan ini. Pria kelahiran Purwokerto, 2 Februari 1944, ini dikenal sebagai seorang Psikolog ulung serta penerjemah dan penulis buku-buku berkonten psikologi. Masa-masa pendidikannya dihabiskan dengan melahap dan mendalami bidang psikologi sosial. Mengawali pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi UI pada 1968, berlanjut ke Edinburg University, Skotlandia dengan memilih jurusan Diploma in Community Development pada 1973. Tidak sampai di situ saja jalan-jalannya di negeri orang dalam menimba ilmu, Prof Ito (sapaan akrab) bergelar doktoral setelah lulus disertasi mengenai “Perbedaan Antara Pemimpin dan Aktivitas Dalam Gerakan Protes Mahasiswa” di Leiden University, Belanda pada 1978.

sarlito
Guru Besar Psikologi UI, Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (tengah) memberikan keterangan pers terkait kasus Jessica Wongso, Jakarta, Selasa (20/9). (via Liputan6)

BACA JUGA: Psikologi Bicara Generasi Kini untuk Nanti

Namun, kini kita telah kehilangan sosok inspiratif itu. Senin, 14 November 2016, pada pukul 22.18 WIB, Tuhan memanggil rindu ayah dari tiga anak ini ke pangkuan-Nya. Prof Ito dinyatakan meninggal dunia karena serangan penyakit pendarahan usus. Meski demikian, dokter menyebut jenis pendarahan tersebut adalah gaib atau tersembunyi. Tiada yang menyangka,  gastrointestinal (GI) yang diderita Prof Ito dapat berakibat fatal terhadap kesehatannya.

Prof Ito dikenal memiliki kemampuan menerjemahkan ilmu psikologi yang sulit dicerna menjadi mudah dipahami. Dengan kepulangannya, tak sedikit kalangan akademisi, bahkan politisi yang merasa kehilangan akan sosok intelektual yang cukup update dalam menanggapi isu-isu terkini. Tampak beberapa tokoh turut hadir melayat, seperti ayah Wayan Mirna Salihin, Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama, serta Kapolri Tito Karnavian dan Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono yang mengirim karangan bunga berbela sungkawa terhadap kepulangan Prof Ito. Kehadiran Basuki alias Ahok ditengarai keterlibatan Prof Ito rencananya akan menjadi saksi ahli kasus penistaan agama yang santer diberitakan. Begitu pula kehadiran ayah Mirna ke kediaman Prof Ito, sebab ia pernah menjadi saksi ahli kasus Kopi Sianida yang melibatkan Wayan Mirna Salihin dan Jessica.

 

Aktif Organisasi

Prof Ito tidak hanya dikenal sebagai pengajar dan pengamat psikologi kawakan, namun ia juga memiliki sejumlah kesibukan yang diembannya semasa bergelar pelajar hingga pengajar. Semasa sekolah, Prof Ito menggilai olahraga. Berbagai cabang olahraga, seperti basket, voli, tennis, dan karate pernah ditekuninya. Tak hanya olahraga, beliau juga senang menggeluti bidang seni musik.

Beda sekolah, beda pasca sekolah. Penggemar alat musik seksofon ini juga sempat terlibat aktif dalam berbagai organisasi, baik nasional maupun internasional. Diantaranya, Presiden ApsyA (Asian Psychological Association), anggota Board of Directors IAAP (Internasional Association of Applied Psychology), APA (American Psychological Association), ICP (International Council of Psychologists), SPSSI (Society of Psychological Studies on Social Issues), IPS (Ikatan Psikologi Sosial), dan ASI (Asosiasi Seksologi Indonesia). 

 

Pernah Menjabat Dekan dan Menjadi Guru Besar Tamu Universitas Mancanegara

Sekembalinya Prof Ito ke Tanah Air dari studinya, beliau disibukkan dengan berbagai kegiatan di bidang akademis, baik sebagai peneliti, ilmuwan, hingga penulis. Sebagai peneliti, beliau pernah menjadi fellow di East West Center di Hawaii, Amerika Serikat. Bidang kajiannya sangat beragam, terutama menyoroti masalah sosial, mulai dari masalah Keluarga Berencana alias KB, anak jalanan, pemukiman, lalu lintas, sampai terorisme.

Prof Ito juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi periode 1997-2004 dan Ketua Program Studi Kajian Ilmu Kepolisian di Program Pascasarjana UI. Nggak cuma itu, Guru Besar kita satu ini juga sering jadi tamu undangan kuliah umum di universitas mancanegara, seperti di Cornell University, Amerika Victoria University, Australia Nijmegen University, Belanda dan Universitas Malaya, Malaysia.                                                                                                                                                                                                                                                  c

BACA JUGA: 5 Profesor yang Diabadikan Sebagai Nama Jalan di Kawasan Kampus UI

 

Prof Ito Populer di Berbagai Media Massa Terkait Pemikirannya

Sebagai sosok yang malang melintang di dunia psikologi, Prof Ito kerap diundang di berbagai seminar dan kuliah umum untuk menyampaikan pemikirannya. Beliau juga kerap menerbitkan beberapa buku psikologi, seperti Psikologi Sosial, Pengantar Psikologi Umum, Prasangka di Indonesia, Membina Keluarga yang Bahagia, Seksualitas dan Fertilitas Remaja, dan masih banyak lagi.

Sosok Prof Ito sempat memicu polemik terkait pemikirannya tentang LGBT,  dalam salah satu tulisan kolomnya di majalah Indonesia, beliau menelurkan istilah “LGBT Gaul”. Ia menganggap LGBT merupakan sebuah penyakit psikologis yang dapat menular dan ditularkan, menurutnya sebagian besar pelaku LGBT saat ini berperilaku karena terpengaruh oleh faktor lingkungannya.

psikolog-sarlito-wirawan-berpulang
Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono (via merdeka)

Prof Ito Meninggal Karena Terserang Pendarahan Usus

Gastrotestinal (GI) merupakan jenis penyakit pendarahan di saluran pencernaan yang meliputi kerongkongan, lambung, usus kecil, usus besar, rektum, dan anus. Pendarahan tersebut dapat berasal dari salah satu atau lebih daerah kecil seperti ulkus pada lapisan lambung atau radang usus besar.

Penyebab terjadinya pendarahan itu bervariasi, tergantung di mana terjadinya. Jika di kerongkongan, yaitu tabung yang menghubungkan mulut ke perut bisa mencakup esofagitis dan gastroesophageal erflux, varises, dan sobekan lapisan kerongkongan. Sedangkan pendarahan di perut disebabkan radang perut, bisul, borok usus, dan kanker lambung. Pendarahan tersebut bisa dicegah dengan menjaga kebugaran tubuh dan pola makan yang rutin. 

Dengan kepulangannya ke pelukan Tuhan, Prof Ito meninggalkan seorang istri dan tiga orang anaknya. Prof Ito dimakamkan di TPU Tonjong, Parung pada Selasa, 15 November 2016. Dimas, putra bungsunya, mengaku tidak melihat adanya tanda ayahnya akan pergi dari dunia ini. Setelah menjalani masa perawatan selama lima hari di RS Asri Siloam, kondisi Prof Ito sempat membaik, namun kembali terkulai lemas. Saat mulai sadar, dikatakan Dimas, hal pertama yang ditanyakan ayahnya ketika tersadar saat di rumah sakit adalah kondisi politik Indonesia hari ini. 

Bagi keluarganya, Prof Ito dikenal bagaikan superhero yang dicintai banyak orang. Keteladanan ayah tiga anak itu, dikatakan Dimas, selalu menyuarakan aspirasi secara independen.

BACA JUGA: Sosok Heroik di Kampus yang Seharusnya Kamu Apresiasi

 

Baginya menyuarakan aspirasi secara independen dan tetap berpegang dalam kebhinekaan merupakan suatu yang harus dijaga dan dipelihara. Nah, adakah diantara Anak UI yang pernah mengikuti kelas Prof. Ito? Gimana sih pengalaman kalian saat diajar di kelas beliau? Yuk, ceritakan pengalaman kamu di comment box!

Jika kamu memiliki pandangan tersendiri tentang toleransi dan kebhinekaan, yuk bagikan informasi ini di Facebook, Twitter, dan Line kalian, dan yuk sama-sama kita teruskan pemikiran-pemikiran konstruktif Prof. Ito untuk kembali menjadi Indonesia!

Sebenernya Kuliah Psikologi Itu Buat Apa Sih?

Mungkin kamu udah sering baca artikel seputar fakta mahasiswa psikologi UI atau bahkan udah sering dengar gimana ramenya ciwik-ciwik unyu dan gemesin sering nongkrong di kantin Psiko. Namun, tahukah kamu, sebenernya kuliah psikologi itu buat apa, sih?

Karier di dunia psikologi bervariasi dan alumni psikologi sangat amat terbuka untuk hampir dalam berbagai jenis pekerjaan di dunia industri. Tau kenapa? Karena belajar psikologi sebenernya amat sangat simple, bahwa kita sebenernya mempelajari alam pikiran manusia dan kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari. Menariknya, hampir tiap tahun, popularitas program studi psikologi di berbagai perguruan tinggi selalu meningkat, apalagi di Universitas Indonesia.

Jika kamu saat ini tengah mengambil Jurusan Psikologi, atau kamu tengah bertanya-tanya sebenernya psikologi ini makanan jenis apa, maka sudah saatnya untuk kamu cari tahu lebih dalam karier macam apa sih yang bisa dicapai dengan modal pengetahuan mendalam seputar psikologi?

Mencari profesi yang tepat dan sesuai dengan bidang yang kamu pelajari dan kamu cintai adalah kunci utama agar kita bisa survive di jenjang kehidupan berikutnya setelah lulus kuliah. So, tanpa banyak panjang lebar lagi, yuk kita bahas apa aja sih yang bisa kita lakukan dengan pengetahuan psikologi kita?

BACA JUGA: Beberapa Fakta yang Harus Kamu Tahu Sebelum Masuk Jadi Mahasiswa Fakultas Psikologi UI

 

Pengetahuan Seputar Psikologi

Kamu dilatih untuk memahami perilaku manusia pada umumnya via bempsikologi
Kamu dilatih untuk memahami perilaku manusia pada umumnya via bempsikologi

Memelajari dunia psikologi membutuhkan banyak modul dan metode penelitian yang bervariatif. Namun, apa pun modul dan metode  penelitian yang digunakan, pada akhirnya psikologi akan membukakan mata dan pikiranmu akan bagaimana dunia bekerja dan bagaimana manusia beradaptasi terhadap tantangan-tantangan kehidupan. Bahkan, bukan tidak mungkin, saking banyaknya studi kasus yang kamu temukan, bisa jadi, kamu akan mempsikologikan dirimu sendiri. It’s happen quite often for any psycho students.

So, apa aja sih skill-set yang biasanya terlatih dari tangan seorang anak psikologi? Pertama, kamu tentunya akan sering digembleng dan dilatih untuk memahami perilaku manusia pada umumnya. Dari sana, kamu akan ditantang untuk menyelesaikan masalah yang ada menggunakan critical thinking dan cara-cara problem solving yang kreatif.

 

Goal & Time Management

Kamu pun akan dilatih untuk merunut setiap goal utama dari penelitian via psikologi.fip.uny
Kamu pun akan dilatih untuk merunut setiap goal utama dari penelitian via psikologi.fip.uny

Memahami pola pikir dan kebiasaan manusia yang sangat bervariatif akan sangat memusingkan jika langkah per langkahnya tidak ditata dengan rapi. Karena itu, dengan memahami psikologi, kamu pun akan dilatih untuk merunut setiap goal utama dari penelitian yang kamu lakukan dan me-manage semuanya dengan baik. Mulai dari task per task-nya hingga bagaimana kamu mengatur waktu, bisa menjadi keseharian yang sangat emosional. Now you know why the girls love to study psychology, right?

 

Berpikir Statistik

Berpikir statistik via okkmabimfikui2015
Berpikir statistik via okkmabimfikui2015

Meski kedengarannya psikologi adalah program studi yang sangat emosional dan membutuhkan kepekaan mahasiswa penelitinya, bukan berarti psikologi bisa terlepas dari hitung menghitung dan data statistik. In the contrary, psychology study is ALL about knowledge of statistical analysis! Gimana kamu bisa tau reaksi seseorang terhadap suatu eksperimen, gimana kamu bisa tahu bagaimana detak jantung seseorang bisa berpengaruh terhadap keputusan yang diambilnya, dan masih banyak lagi hal-hal psikologi lainnya yang saaaaangat statistikal!

 

Research Experience

Kamu akan merasakan berbagai pengalaman penelitian yang beragam via psikologiunud
Kamu akan merasakan berbagai pengalaman penelitian yang beragam via psikologiunud

Karena belajar psikologi adalah memelajari alam pikiran manusia yang sangat dinamis, maka kamu akan menghabiskan masa-masa perkuliahan kamu dalam berbagai pengalaman penelitian yang beragam pula. Karena 1 metode penelitian dan penelitian lainnya bisa menghasilkan data dan output penelitian yang berbeda pula, meski variable penelitiannya sama. Nah, lho kok bisa? Yaa, namanya juga kuliah psikologi, kondisi psikologis kamu pun harus kuat buat nerima kenyataan-kenyataan mengagetkan yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya. Siap-siap aja deh nerima banyak “surprise”.

 

Teamwork dan Leadership

Kamu dituntut untuk melakukan segala hal secara berkelompok dalam satu tim via youthmanual
Kamu dituntut untuk melakukan segala hal secara berkelompok dalam satu tim via youthmanual

Meski demikian, dunia studi psikologi adalah dunia dimana kamu dituntut untuk melakukan segala hal secara berkelompok dalam satu tim. Bagaimana kamu mengelola tim, goal yang ingin kamu capai, dan bagaimana setiap anggota tim kamu bersedia untuk bekerja sama dengan kamu bukanlah hal yang mudah, apalagi di kuliah psikologi! Wah, gak usah dibayangin deh, sensasinya warbiyasah! Karena kamu gak cuma akan bekerja sama dengan tipe orang yang berbeda-beda, kamu juga akan bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki ambisi yang berbeda-beda pula.

 

Kemampuan Verbal dan Tekstual

Juga melatih kamu dalam berkomunikasi  via bempsikologi
Juga melatih kamu dalam berkomunikasi via bempsikologi

Karena suasana teamwork seperti yang telah dijelaskan di atas pula-lah kemampuanmu dalam hal tulis menulis, utamanya jurnal ilmiah dan kemampuan berkomunikasimu akan sangat terlatih. Karena jika sampai kamu salah mengomunikasikan tahapan penelitian, maka kuliahmu bisa terancam bubwar. Namun, dari kesalahan itu, kamu pun jadi mengerti bagaimana metode komunikasi yang baik agar tim penelitianmu bisa tetap percaya dan mengandalkanmu untuk mengarahkan goal ke depan. Dan kalau udah ketemu feel-nya, asyiknya tuh, beda!

Nah, dari sekian banyak skill-set yang bisa dilatih dan diperoleh dari kulih psikologi, apa aja sih profesi yang bisa banget dimanfaatkan dengan pengetahuan psikologi?

Bicara tentang profesi, bisa dimulai dari profesi karier di seputar dunia psikologi, bisa juga di luar dunia psikologi yang kayaknya kok gak mungkin ada hubungannya sama psikologi, namun ternyata ADA banget!

Profesi karier di dunia psikologi antara lain adalah Psikologis Klinik atau Psikologis Konseling–dimana kamu menjadi profesi yang sering disebut-sebut sebagai seorang ‘Psikolog’, memberikan konsultasi seputar kehidupan tentang bagaimana sebaiknya seorang manusia bisa memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya berdasarkan keputusan yang mereka ambil. Selain Psikologis Konseling, kamu juga berpotensi untuk menjalanin karier sebagai seorang Psikologis Forensik, dimana kamu yang demen banget baca novel Sherlock Holmes, bisa banget disalurkan untuk profesi yang satu ini. Dan jika kamu passionate about sports, kamu masih bisa banget berprofesi sebagai Sports & Exercise Psikolog, everybody needs a person to motivate their goals to changes life for the better, right?

Di luar profesi karier di dunia psikologi, kamu pun masih berkesempatan untuk mencoba pengalaman sebagai Corporate Trainer, Human Resources, Business Councelor, Organization Development Specialist, atau bahkan Career Counselor. So, masih banyak lagi ragam profesi yang gak kamu duga-duga ternyata bisa banget kepake ilmu-ilmu psikologinya.

Dengan ragam fasilitas dan teman-teman yang ternyata juga memiliki hobi yang beragam di Fakultas Psikologi, kamu pun masih bisa berkomunitas dan memiliki kegiatan yang gak kalah serunya dengan kariermu di luar jam perkuliahan. Kurang seru apa coba jadi anak psiko!? Seru banget!

Kamu punya cerita seru apa sama anak psiko? Yuk, ceritain di comment box dan bagikan artikel ini lewat Facebook, Twitter, dan LINE kamu sekarang!

4 Hal Ini Pasti Bakal Kamu Lihat Saat Berkunjung ke FIB UI Pada Malem Hari

Sering banget FIB UI diplesetkan dari yang artinya Fakultas Ilmu Budaya jadi Fakultas Ilmu Bazar atau Fakultas Ilmu Bersenang-senang. Sebetulnya gak masalah, sih, karena pada kenyataannya FIB UI memang tipe fakultas yang cukup sering mengadakan bazar dan acara-acara untuk kesenangan. Entah dari kapan dan kenapa bisa begitu, hanya Tuhan yang tahu.

Kalau diperkirakan, dalam sebulan sedikitnya ada satu acara band yang manggung sampai larut malam, tiga acara yang membuka bazar, dan hampir setiap hari jam malam di FIB tidak berlaku. Oleh karena itu, FIB bisa dibilang fakultas yang gak pernah ada matinya. Pagi, siang, sore, dan malam, penghuninya akan selalu berkeliaran.

Berbeda dengan Fakultas lain seperti Psikologi, pukul 6 sore saja penghuninya sudah pulang, ya, maklum, sih kebanyakan cewek. Nah, kalau kamu sedang di kampus dan mau menghabiskan waktumu di FIB UI, akan ada banyak banget wahana yang bisa kamu nikmati, bisa bareng pacar, teman sepermainan, atau sendiri juga asyik, kok!

BACA JUGA5 Pandangan Orang tentang Anak Sastra (Ini Curhat Kami Anak FIB)

Bazar

Di mana ada acara di FIBUI, di situ ada bazar via kopmafibui
Di mana ada acara di FIBUI, di situ ada bazar via kopmafibui

Sudah dibilang bahwa FIB UI sering banget menggelar kegiatan yang isinya bazar. Meskipun acara formal seperti seminar beasiswa, gak afdol kalau gak pakai bazar. Ya, pokoknya bazar number uno banget. Bazar ini biasanya digelar sampai agak malam, ada yang jual makanan tradisional seperti kerak telor, makanan western seperti pizza, makanan Asia seperti takoyaki, sushi, dan teman-temannya. Lalu ada banyak minuman juga, kalau mau chatime, di bazaar FIB ada, kok!

Satu yang paling unik adalah emperan buku bekas. Abang penjual buku bekas ini selalu nongkrong di selasar belakang gedung 9 FIB, di situ dia akan menjajakan bukunya yang banyak banget, dari mulai ensiklopedia sampai buku menggambar.

 

Festival Bahasa

Acara-acara di FIB UI biasanya diadain sampai malam via fib.ui.ac.id
Acara-acara di FIB UI biasanya diadain sampai malam via fib.ui.ac.id

Jurusan di FIB jumlahnya ada 15, dan itu termasuk banyak loh, Guys! Setiap jurusan punya acara masing-masing, seperti FestiFrance, Falasido, dan banyak banget yang pastinya berbau bahasa dan kesenian. Ya, sedikitnya per jurusan akan meluncurkan dua kegiatan per tahunnya. Info pentingnya, setiap ada acara, FIB akan meriah sampai malam hari, apalagi untuk acara penutupan, wah bisa sampai tengah malam, deh!

 

Penampilan Band

Gak peduli hari apa, kamu bisa nemuin yang nyanyi bahkan di Kantin Sastra
Gak peduli hari apa, kamu bisa nemuin yang nyanyi bahkan di Kantin Sastra

Bukan hanya acara festival bahasa yang bikin seru karena selain acara dari jurusan pun, FIB punya banyak acara yang ujung-ujungnya ngundang band. Meskipun band-band yang tampil seringnya dari kalangan FIB, tapi ramenya itu, loh yang gak perlu diraguin lagi. Penampilan band seringnya diadakan di Kansas alias kantin sastra, gak peduli malam Jumat atau malam apa, kalau udah disuguhin band, mahasiswa akan merapat dan nyanyi bareng. Nah, konser kecil-kecilan ini dibuka untuk umum. Jadi kalau kamu mau hiburan gratis, hitung-hitung menghilangkan penat, langsung saja nonton konser ini. Terbuka untuk umum, kok!

 

Makan malam di FIB

Malem hari, kamu bisa nemuin mie ayam yang ciamik via limoengroen
Malem hari, kamu bisa nemuin mie ayam yang ciamik via limoengroen

Setiap malam di depan FIB hadir hidangan enak banget, penuh sensasi, dan cukup fenomenal. Apakah itu? Ya, mie ayam dan gorengan. Namanya mie ayam sengketa, setiap sehabis Magrib kalau laper banget dan pengen makanan yang enak, murah, dan suasana yang indah, cobain deh!

Tempatnya di depan gerbang FIB atau di samping parkiran FISIP UI. Nah, kalau makan di situ, kamu bisa merasakan rasanya dinner bersama alam. Pertama karena tempat makannya di lahan parkir, kedua bisa sambil lihat rasi bintang (kalau gak hujan), dan ketiga harganya cuma Rp7.000,00 per porsi. Mantap, deh!

Selain ada tukang mie ayam, ada juga tukang gorengan yang selalu setia menemani tukang mie ayam. Gorengan malam ini pakai gerobak mini dan bertahan sampai larut malam. Menu gorengannya standar, sih, yang membedakan adalah rasa dan sensasinya. Terbukti, kok! Kalau kamu samperin abang gorengannya, pasti abang itu lagi goreng-goreng, soalnya habisnya sangat-sangat cepat. Satu lagi, anak dari fakultas lain sering banget ikutan nongkrong, loh!

Itulah empat wahana yang sensasional banget di FIB ketika malam tiba. Rasain sekali saja, maka kamu akan ketagihan, gak percaya? Silahkan dicoba, guys!

 

Ayo Kampanye Pemira yang Jujur!

KAMPANYE HITAM?? Walah, emang ada? KAMPANYE POSITIF? Ah hipokrit! Sama aja tuh contentnya malah lebih parah. Jadi, Ayo kita KAMPANYE JUJUR! Biarkan publik tahu siapa dan bagaimana kita. Transparansi itu penting mengingat mahasiswa selalu menuntut … Baca Selengkapnya

Bernyali Adu Pendapat? Ikuti Penelitian Ini!

Selamat pagi/siang/sore teman-teman, Saya Irsalina dwiyanti, mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2006 yang tengah menyusun tugas akhir. Tugas akhir saya berupa penelitian mengenai diskusi di internet. Untuk itu, saya membutuhkan bantuan teman-teman yang tercatat sebagai mahasiswa … Baca Selengkapnya