7 Tanda Kamu Ada Dalam Toxic Relationship Dan Alasan Kenapa Kamu Harus Mengakhirinya

Apakah kamu sekarang sedang menjalani hubungan romantis dengan seseorang? Bagaimana kamu menjelaskan hubungan tersebut? Apakah pasanganmu ini adalah pasangan yang baik ? Kapan kamu mulai merasa bahwa si dia adalah orang yang tepat? Seberapa yakin kamu mengenai sehat atau tidaknya hubunganmu tersebut?

Dalam kenyataannya, kita bisa saja berpacaran dengan seorang bangsawan paling rupawan di dunia ini yang terkenal akan kekayaannya yang melimpah tersebar di tujuh benua, dimanjakan dengan kata-kata manis dan segala macam harta benda, namun sayangnya kita tetap merasakan kesedihan dan kehampaan sehingga kita tidak tahan untuk segera mengakhirinya hubungan tersebut.

Sumber: divorcedgirlsmiling.com

Atau mungkin sebaliknya, kita  memiliki seorang sederhana berpenghasilan pas-pasan sebagai pasangan hidup namun masih bisa mengecap indahnya hubungan romantis sambil menertawakan segala keterbatasan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Semua perbedaan itu muncul tergantung dari kualitas hubungan yang kamu jalani saat ini, dan kamu bisa mengetahuinya lewat jawabanmu atas pertanyaan-pertanyaan di atas.

Hubungan yang sehat tidak hanya nyaman untuk dijalani, namun juga membantu kita untuk tumbuh berkembang secara psikologis. Ketika kita menyadarinya, hubungan yang sehat akan terlihat sangat jelas di depan mata kita. Mereka yang memilikinya adalah pasangan yang saling menghargai dan berterimakasih satu sama lain. Mereka juga tidak malu dalam mengekspresikan hal tersebut, sesederhana mengucapkan terimakasih dan mengapresiasi apa yang telah dilakukan pasangan. Dalam persepsi masing-masing pihak, mereka lebih sering melihat kualitas positif dari pasangannya dibandingkan yang negatif.

Hubungan romantis yang sehat tidak hanya sekedar mencangkup yang manis-manis aja. Seseorang yang berada dalam hubungan yang sehat tetap bisa menyatakan ketidaksukaannya dan menyampaikan kritik terhadap apa yang dilakukan pasangannya. Bedanya, hal tersebut tidak dinyatakan dalam sesuatu yang menjatuhkan, bersifat penolakan, apalagi menyerang secara verbal maupun fisik. Pasangan dalam hubungan yang sehat akan menggunakan cara yang lebih positif, seperti berdiskusi dan bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah yang sedang dialami.

Cukup mengenai hubungan yang sehat, fokus dalam tulisan ini adalah membahas lebih dalam lagi mengenai hubungan yang sifatnya toxic, alias tidak sehat. Sebenarnya, banyak sekali definisi dari hubungan yang tidak sehat, dan pada artikel ini, penulis akan menuliskan tanda-tandanya sehingga pembaca akan lebih mudah untuk megidentifikasi dan mengatasinya.

BACA JUGA: 5 Kisah Klasik Cinta Beda Agama: Nyatanya Tuhan Memang Satu, Kita Saja Yang Tak Sama

1. Berawal dari rasa takut akan mengecewakan pasangan yang terjadi secara terus menerus.

Sumber: findastrologysolution.com

Secara tidak sadar, diri kita mulai membatasi berbagai hal yang dulu kita sukai karena kita takut pasangan kita tidak menyetujui apa yang kita lakukan. Banyak dari mereka yang mengaku rela berubah secara drastis karena rasa takut ini, dan perubahan yang dilakukan bukanlah karena kemauan dari si subyeknya sendiri, melainkan karena adanya paksaan dan tekanan secara terus menerus.

2. Perubahan mood dratis yang tiba-tiba dari si dia, membuatmu bingung.

Sumber: violetshort.com

Masih berhubungan dengan nomor satu, saat kamu berada dalam hubungan yang tidak sehat dan pasanganmu mulai menuntutmu untuk melakukan banyak perubahan agar sesuai dengan apa yang Ia mau, ada saatnya kamu menolak untuk melakukan hal tersebut. Pada saat kamu menolak, kamu bisa melihat secara langsung reaksi yang ditunjukan oleh pasanganmu tersebut. Ia bisa saja langsung membentakmu dan menyuruhmu pergi meskipun sebelumnya Ia memujimu habis-habisan. Hal ini benar-benar sangat membingungkan.

3. Kebohongan yang kronis.

Sumber: motivasyonatolyesi.com

Apakah sudah berkali-kali pasanganmu tidak jujur padamu? Bukan hanya mengenai hal-hal terkait hubunganmu dengannya, namun juga mengenai masalah lainnya seperti pekerjaan, kondisi finansial, keluarga, dan masih banyak lagi. Jika kamu mulai merasa bahwa pasanganmu banyak menutup-nutupi sesuatu darimu, mungkin ini adalah saatnya kamu untuk meluruskan hubungan yang telah kamu jalin ini.

4. Gaslighting

Sumber: eopcn.ca

Dalam artikel sebelumnya, penulis telah membahas apa itu gaslighting dan bahayanya bagi kesehatan mental seorang individu. Nah, Di sebuah hubungan yang sifatnya tidak sehat, gaslighting adalah makanan sehari-hari. Si dia akan berkali-kali memanipulasi perasaanmu sehingga kamu mulai meragukan kebenaran dari pikiran dan penilaianmu sendiri. Tidak jarang, kata-kata yang sering mereka gunakan bentuknya: “Ah, kamu yang terlalu sensitif”, “Tolong jangan membesar-besarkan masalah, kamu sudah dewasa” atau “Kamu mungkin sedang berhalusinasi, coba deh, mana mungkin aku seperti itu”.

5. Pembatasan sosial

Sumber: belief.net

Pasanganmu mulai meminta password dari semua media sosialmu supaya Ia lebih mudah memantau siapa saja yang berteman denganmu? Atau Ia mulai memaksa untuk menemanimu kemanapun kamu pergi? well, jangan salah artikan apa yang mereka lakukan ini sebagai bentuk dari kasih sayang. Mereka ingin terus menerus mengontrolmu dan keseharianmu. Jadi sebaiknya lekas sampaikan bahwa kamu tidak menginginkan hal ini dan memilih untuk mengakhiri hubunganmu dengannya dibandingkan harus menuruti permintaannya ini,

6. Perasaanmu terabaikan dan tidak didengarkan

Sumber: newshub.co.nz

Adakalanya pasanganmu seolah-olah tertarik dengan apa yang kamu bicarakan, tapi pada akhirnya Ia-lah yang akan mendominasi pembicaraan. Ketika kamu memiliki masalah dan ingin meluapkan perasaanmu padanya, Ia kan cepat-cepat mengatribusikan permasalahan tersebut dengan permasalahan yang juga Ia miliki. Kamu akan selalu dipaksa untuk mendengar, tanpa diberi kesempatan untuk bercerita.

7. Lelah emosional

Sumber: dreamstime.com

Akhirnya, setelah melewati hal-hal yang penulis sebutkan di atas, kami mulai kelelahan menanggapi pasanganmu. Kamu lebih suka ketika Ia tidak membalas pesan atau tidak menemuimu. Dan juga sebaliknya, kamu akan merasakan ketakutan tidak wajar ketika melihat namanya muncul di layar handphone- mu. Kamu lalu menciptakan sejuta alasan untuk mencegahnya menemuimu, dan kamu mulai berpikir apakah hubungan seperti ini masih pantas untuk dijalani atau tidak. Kamu sudah lelah secara emosional.

***

Hubungan tidak sehat yang tidak segera diakhiri akan membunuhmu secara perlahan-lahan. Sadar atau tidak, hubungan yang kamu jalani ini akan memicu perubahan hormon dalam tubuhmu. Bagian otak yang berperan dalam menjaga keseimbangan hormon manusia, yaitu hipotalamus, adalah bagian yang juga paling bereaksi terhadap stres. Pelepasasn hormon kortisol akibat stres akan berpengaruh pada mood dan fungsi tubuh kita sehari-hari.

Dampak fisiologis yang paling dapat dirasakan biasanya berupa peningkatan gula darah dan detak jantung yang signifikan. Selain pengaruhnya pada metabolisme kardio, hubungan yang tidak sehat juga yang memicu perubahan hormon di dalam tubuhmu akan memengaruhi sistem reproduktif, fungsi hati dan pencernaamu.

Tentunya, kamu tidak ingin mengalami semua komplikasi yang timbul akibat hubungan tidak sehat yang kamu jalankan ini. Kamu bisa berhenti menyakiti dirimu sendiri dan meninggalkan semuanya di masa lalumu. Bukalah lembaran baru, dan mulai hubungan dengan seseorang yang bisa menyayangimu dengan tulus dan menciptakan hubungan yang sehat bagi dirimu dan juga dirinya.

BACA JUGA: 5 Rekomendasi Hadiah Valentine Anti-Mainstream Buat Pacar Kamu

Ini Cara Menghadapi Cowok yang Gampang Marah

Suatu ketika seorang teman curhat:

“Capek ah ngadepin cowok gue, pengen putus aja. Tempramennya itu loh bikin keki, dikit-dikit marah. Tapi gue udah terlanjur sayang, dia ganteng and mapan pula.”

Apakah kamu juga sedang mengalami hal sama dengan teman saya ini? Well, memang ketika memilih pasangan sebagian besar wanita terpaku pada satu hal, misalnya “dia harus ganteng”, “kalo bisa dia sudah mapan” dan sederet outer look lainnya. Sehingga hal-hal seperti sikap dan sifat sering miss dari pertimbangan. Alhasil ketika dipertemukan dengan cowok yang tempramen bawaannya pengen putus aja.

Nggak salah sih kalau kamu memang ingin putus, apalagi jika sifat tempramen doi sudah berlebihan, dan mulai mengarah pada kekerasan fisik. Namun, jika sifat tempramen itu masih dalam batas yang wajar, kamu bisa menghadapinya dengan cara seperti ini.

1. Memahami situasi

Waktu cowok marah, mereka cenderung untuk membela diri dan tidak mau disalahkan. Dalam kondisi ini ia akan menolak segala bentuk pendapat yang diberikan oleh orang lain, termasuk kamu sebagai pacarnya. Jadi sebaiknya kamu diam, beri waktu dia meredakan emosi dan memikirkan uneg-unegnya.

Saat cowok marah sebenarnya mereka tidak berkeinginan untuk menyakiti kita, mereka hanya berusaha melindungi egonya dengan tameng emosi. Oleh karena itu sebaiknya kita yang menahan diri.

2. Kapan waktu yang tepat untuk ngomong?

Ngomong sama cowok yang mudah emosi emang nggak gampang, sist. Ketika dia marah kamu nggak bisa to the point nyalahin sikap, atau malah marah balik gara-gara pendapatnya salah. yang ada dia makin meradang. Jadi, sebagai ceweknya kamu harus berusaha meyakinkan dia kalau kamu setuju dengan pendapatnya dan sepihak dengannya. Berusaha meyakinkan kalau kamu sepihak dapat membantu mengurangi emosinya. Nah, ketika dia sudah mulai tenang, inilah saatnya bagi kamu untuk mengungkapkan pendapat yang berbeda. Eits, jangan lupa gunakan intonasi yang halus dan bicaralah setenang mungkin.

Cowok tempramen bisa saja berubah, jika dia menyadari dari hati bahwa sikapnya tidak baik dan merugikan orang lain juga dirinya sendiri. Namun memang mengubah sifat seseorang nggak semudah membalik telapak tangan. Butuh proses yang cukup lama dan tentunya hati yang sabar.

Karena mengubah sifat orang lain itu tidak mudah, mengapa tidak kita saja yang lebih dulu berubah? Berubah menjadi cewek yang lebih tenang, berkepala dingin dan sabar. Toh, jika kita menjadi cewek yang sabar dan berkepala dingin untungnya juga untuk kita sendiri, kan?

Life-Love-Quotes-No-Matter-How-Angry-You

Putus dan mencari cowok baru memang jalan yang paling mudah untuk ditempuh ketika menghadapi cowok tempramen, tapi hal ini tidak akan membuat kamu belajar mengerti tentang pasanganmu dan hanya membuat kamu menjadi cewek yang egois. Nggak mau kan dicap sebagai cewek egois?

Berhasil atau tidaknya suatu hubungan asamara itu tegantung dari komunikasi yang baik antara kedua pasangan. Dengan bersabar dan bersikap tenang lama-kelamaan kamu mampu mengikis sifat tempramennya. So, apakah kamu siap belajar tidak egois dan lebih mengerti pasangan? 🙂

Header image (c) gopixpic.com