Ini Dia Masakan yang Bisa Kamu Buat di Kosan untuk Sahur dan Berbuka!

Sebagai mahasiswa rantau yang tinggal jauh dari orang tua, banyak anak kos yang berusaha untuk memanajemen semua keperluan sehari-hari dan kuliahnya dengan baik. Uang bulanan yang diberikan orang tua mesti diatur untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bayar kos, beli buku, makan, minum, dan kegiatan lain selama berkuliah. Belum lagi kalo yang masih di kosan saat Ramadhan, pasti sedih perihal makanan sahur dan berbuka.

Akan tetapi jangan khawatir, kamu bisa memasak makanan sendiri dan mandiri, dibanding harus membeli makanan di warung-warung makan yang tersedia. Sebab, melihat dari berbagai harga sumber pangan yang semaki meroket, biaya yang dikeluarkan untuk membeli makan di warung makan pun ikut melonjak. Sebagai mahasiswa yang kreatif, mahasiswa yang ngekos ini lebih memilih membeli sendiri bahan makanan dan memasaknya, bahkan bisa diperuntukkan untuk lebih dari satu hari. Dua kali sahur dua kali berbuka, misalnya.

 

Nasi Goreng Basah

Kalo ini sih kayanya enak ya (via cookpad)

Menu masakan paling populer di Indonesia, dan hampir setiap orang suka ini merupakan yang paling mudah dan sering dimasak anak kos. Terkenal karena kelezatannya, nasi goreng bahkan sempat masuk 10 besar masakan paling enak di dunia.

Berbekal dengan kemampuan yang mumpuni dan kemudahan mencari bahan masakan ini, para anak kos sering sekali memasak nasi goreng basah.

What? Basah?

Yap, basah. Nasi goreng yang berkuah minyak goreng! Alias kebanyakan menuangkan minyak goreng saat memasak.

Nugget Hitam Pedes

Nugget kebablasan (via twitter)

Menu masakan ini juga paling sering dimasak dan mudah dicari bahannya. Cuma butuh nugget yang siap untuk digoreng dan saos sambal sebagai pelengkap rasa. Sebagai anak kos yang memiliki jiwa kreatif dan semangat juang tinggi, para anak kos ini memiliki terkaan yang luar biasa… kelewatan.

Gimana nggak kelewatan? Minyak goreng yang sudah mendidih, bagi para anak kos hanyalah kamuflase dari panasnya kompor, dan baru menaruh nugget itu beberapa saat kemudian. Dan… yang terjadi adalah nugget cepat sekali menguning bahkan menghitam. Yap, kematengan a.k.a gosong. Sebagai pelengkap rasa sekaligus penghilang rasa kematengan itu, para anak kos menuangkan saos sebanyak-banyaknya hingga pedasnya setara level super pedas. Yang penting nikmat!

 

BACA JUGA: Hal Ini Hanya Bisa Dimengerti Mahasiswa Perantauan Saat Bulan Ramadhan

 

Telor Dadar Jumbo

10% telur, 90% tepung (via citradapurnusantara)

Sebagai mahasiswa yang jauh dari orang tua, para anak kos selalu mencoba hal-hal kreatif dalam memasak makanan yang bisa dinikmati tidak hanya sekali waktu, alias seharian a.k.a 3×1 hari. Dengan modal telur ayam dan tepung hal itu bisa dilakukan dengan mudah.

Para anak kos akan mencampurkan telur ayam itu dengan tepung yang sudah disediakan, tinggal aduk hingga seperti adonan yang justru bukan nampak seperti telur, tapi tepung diberi telur. Setelah digoreng, hasilnya adalah telur yang menyerupai tahu goreng. Gede banget, jumbo. Mereka akan membagi telur itu dalam tiga atau empat bagian yang akan dimakannya dalam beberapa waktu makan. Dijamin kenyang dari sahur hari pertama sampe lebaran!

 

Sayur Sop Tanpa Garam

Sayur sop ala anak kosan (via inovasipintar)

Sekali waktu, menghindari masakan yang berlemak dan berkolesterol, para anak kos biasanya sering memasak masakan yang tinggal direbus dan dibumbui. Dengan modal membeli sayur sop yang biasanya dijual di warung sayur seharga 2-5 ribu rupiah dan bumbu sachet seharga seribu rupiah, tentu akan menghemat pengeluaran untuk para anak kos.

Dengan tujuan menghemat air minum juga, para anak kos biasanya memasak sayur sop dengan memenuhi sayur dengan air. Hal itu menyebabkan sayur sop nampak seperti sawah yang banjir, banyak airnya, sedikit sayurnya. Biar tahan dahaga selama berpuasa juga kali ya. Belum lagi, ketika bumbu yang mereka beli kalah rasanya dengan rasa air, walhasil rasanya hambar. Ya mungkin mereka nggak mau kena penyakit darah tinggi kali ya, yang harus mengurangi konsumsi garam.

 

BACA JUGA: Hal-Hal Berikut Ini Hanya Dapat Kamu Temukan Saat Bulan Ramadhan Tiba

 

Nah, buat kalian anak kos, biasanya masak yang mana? Jangan ngiler ya liat gambar-gambarnya, buka bentar lagi kok. Mari bagikan artikel ini di akun Facebook, Twitter, dan Line kalian, supaya para anak kos lain belajar lebih kreatif dalam memasak!

Hal Ini Hanya Bisa Dimengerti Mahasiswa Perantauan Saat Bulan Ramadhan

 

Bahagia itu sederhana, tapi sederhana nggak selalu gampang dimengerti. Bahagia itu sederhana, sesederhana dibangunin sahur dan hanya perlu ngesot dikit ke meja makan yang penuh makanan siap buat disantap. Sederhana kan? Tapi kamu yang bukan anak rantau akan sulit mengerti gimana rasanya kebahagiaan itu direnggut sama yang namanya jarak.

Berbahagialah kamu yang dibanguin sahur sama Ibu. Bisa males-malesan nyeret langkah ke meja makan, lalu makan bareng sama keluarga. Sederhana, kan? Kamu baru bisa ngerti betapa itu adalah kebahagiaan yang absolut kalau kamu anak rantau yang harus puasa di kosan atau di kontrakan, belum bisa pulang karena satu dan lain hal.

Coba diinget lebih saksama. Harus berapa kali Ibu bolak-balik kamar kamu untuk bangunin? Betapa lembut dan tolerannya suara yang manggil. Belum lagi ada acara ngelus rambut sambil bisikin pelan-pelan ke kamu yang sebenernya udah bangun tapi males beranjak dari tempat tidur.

Biar mata ngantuk, makanan udah tersedia. (Sumber: smilepost)
Biar mata ngantuk, makanan udah tersedia. (Sumber: smilepost)

“Ayo, bangun. Sahur. Keburu imsak loh.”

Terus kamu dengan santainya bilang “Lima menit lagi ya.” Terus sepuluh menit kemudian keluar kamar, mata belum sepenuhnya melek, bau jigong nggak keruan, melangkah ke meja makan hanya mengandalkan indera penciuman yang udah bertahun-tahun terlatih untuk mengenali masakan Ibu.

“Ayo, cuci muka dulu sana.”

Kamu dengan berat hati berjalan ke kamar mandi, setelah mencuil apa pun itu yang bisa dicuil di meja makan. Terus balik lagi ke meja makan, liat makanan yang udah lengkap. Meja penuh. Nasi bisa tambah, lauk macem-macem tinggal pilih. Minum udah tersedia. Teh manis anget atau susu. Piring dan gelas diangkatin ke belakang buat dicuci, sedangkan kamu duduk kekenyangan menatap TV sambil gonta-ganti acara TV.

Nggak ada cerita tuh buat anak rantau yang nge-kos. Mana ada suara alarm yang lembut berbisik dengan penuh toleransi ke kamu yang masih ngantuk? Boro-boro ngelus. Alarm udah kaya suara Ibu yang tempramen kalau uang kembalian belanjaan kurang. Tapi, setidaknya kamu bangun. Lima menit ekstra buat tidur? Ilusi belaka, yang ada malah nggak jadi sahur karena ketiduran lagi.

Yang ada tidur lagi kayak gini. (Sumber:)
Yang ada tidur lagi kayak gini. (Sumber:Photo Credit: danalipar via Compfight cc)

Cuci muka, terus harus keluar kosan dulu untuk cari warung nasi yang buka. Nggak ada tuh meja makan penuh makanan siap santap. Sampe warung, kamu harus perhatiin makanannya sambil ngitung harga dalam otak. Boro-boro nyuil.

Tambah nasi? Bayar. Tambah lauk? Bayar. Teh manis? Bayar. Nggak ada duduk kekenyangan sambil gonta-ganti acara TV, wong remotnya dipegang sama yang punya warung. Sesuka dia lah mau nonton apaan.

Belum lagi buka puasa. Sendirian, nggak ada duduk di depan tv bareng keluarga, sok-sok dengerin kultum padahal ngeliatin jam. Harus berkelana cari makanan buat berbuka. Nggak ada tuh makanan yang udah disajikan di atas meja, harus cari sendiri ke luar. Biasanya dulu waktu kecil pasti ke masjid bareng temen-temen, buka di masjid karena dapet kolek buat takjil.

Kamu jadi ingat masa-masa kecil (Sumber: igckuwait)
Kamu jadi ingat masa-masa kecil (Sumber: igckuwait)

Selesai berbuka, berkhayal dikit soal masa kecil yang sukanya rame-rame berangkat ke masjid buat salat Tarawih bareng, terus perang sarung atau main petasan, bikin khawatir orang tua. Tentang nulis buku Ramadhan yang jadi tugas sekolah, harus minta tanda tangan imamnya atau yang khotbah. Jauh dari keluarga, jauh dari masjid deket rumah, jauh dari temen-temen deket rumah, sahur sendiri, buka puasa sendiri, tarawih sendiri. Bayar makanan sendiri. Rindu, Bung! Kerinduan anak rantau pada rumah dan keluarga, tiada terperi.

Tiba-tiba, handphone bunyi tapi bukan alarm. Masih pukul setengah 4 pagi, siapa yang nelpon?

“Halo… Nak, udah bangun? Jangan lupa sahur, ya.”

Kamu anak rantau juga? Share yuk tulisan ini via Facebook, Twitter, dan Line supaya temen kamu yang anak rantau yang kangen rumah tambah kangen, atau mungkin share supaya inget sahur.

Hal-hal yang Tak Lagi Kamu Lakukan Saat Ramadhan karena Sudah Jadi Mahasiswa UI

Tiap hari besar dan event-event tertentu, semua pasti punya kegiatan khas masing-masing yang selalu diinget. Musim hujan, Idul Adha, bagi rapor sekolah, dan Ramadhan. Namun, pasti ada dari semua itu yang sekarang nggak pernah lagi dilakukan, jadi older version dari diri kamu karena semua berubah sejak Negara Api menyerang kamu jadi mahasiswa. Ini adalah 5 hal yang tidak lagi kamu lakukan saat Ramadhan karena… ya, karena kamu sekarang mahasiswa.

 

Bawa Buku Ramadhan ke Masjid

Jangan lupa catat ibadah di buku ini. (Sumber: kalsel.kemenag)
Jangan lupa catat ibadah di buku ini. (Sumber: kalsel.kemenag)

Masih inget kan dulu waktu SD sampai SMP, kerjaannya bawa buku ramadhan sama pulpen ke masjid waktu Tarawih, bagian dari tugas khusus dari sekolah selama Lebaran yang kelak, katanya, dimasukkan ke dalam nilai pelajaran agama. Maka datanglah kamu, dengan buku Ramadhan dan pulpen, ke masjid sekalian Tarawih.

Hari pertama, kamu tulis  semua ceramah yang disampaikan, sampai penuh itu kolom dan kamu mulai going wild dan nulis miring-miring, terus minta tanda tangan penceramah atau imamnya. Hari tiga, udah mulai males. Hari kedelapan, bukunya entah ada di mana, dan seterusnya. Hingga ketika libur usai, kamu bawa buku Ramadhan yang sudah lusuh itu untuk dikumpulin. Sebenernya mungkin aktivitas ini udah nggak dilakukan dari SMA, tapi masih ada juga sebagian yang diminta ngerjain buku Ramadhan. Ketika sudah kuliah, udah nggak butuh nyatet ceramah kalau hanya untuk membuktikan kehadiran. Nge-Path aja lagi Tarawih di masjid mana. Selfie dah sekalian sama imamnya.

 

Perang Sarung

perang_sarung
Perang sarung. (Sumber: sicecep)

Hobinya anak-anak cowok yang belum terkontaminasi teknologi macam iPhone dan Android. Gebuk-gebukan pake sarung. Kadang lawannya adalah temen sendiri. Kadang juga dateng dari kampung sebelah atau malah anak kompleks sebelah. Kadang pulang dimarahin sama nyokap perkara sarung yang jadi kotor, padahal belum ada dua hari atau malah sarung yang jadi buluk karena dialihfungsikan jadi senjata. Agak lucu ngingetnya, segerombolan anak yang tampang-tampangnya sok anarkis dan hostile, tapi ternyata cuma gebuk-gebukan pake sarung, terus berasa keren kalo menang.

 

Dateng ke Masjid Serombongan

Rame-rame pergi ke masjid. (Sumber:)
Rame-rame pergi ke masjid. (Sumber: tpamuhtadin)

Ini bener banget. Dulu ada aja satu bocah yang teriak di depan rumah temennya, ngajakin salat Tarawih dengan nada yang sama kaya ngajakin main. Lalu dua bocah jadi empat, empat bocah jadi delapan dan seterusnya. Datanglah mereka serombongan seakan masjid itu HQ-nya geng perang sarung karena abis Tarawih pasti ada clash dengan saingan. Sekarang dateng ke masjid sendirian, naik motor, kalo masjidnya jauh dan males jalan. Selesai Tarawih langsung pulang sendiri-sendiri juga karena entah ngantuk atau males mau langsung istirahat.

 

Main petasan

Main petasan. (Sumber: anggavantyo)
Main petasan. (Sumber: anggavantyo)

Yang ini sebenernya bagus, sih, kalo ditinggalkan. Agak konyol kalau kamu udah kuliah masih main beginian. Meskipun begitu, ya kamu waktu kecil pasti excited sama yang namanya petasan, apa pun jenisnya. Ngagetin tetangga pake petasan, lempar-lemparan petasan sama temen, terus kadang panik berlarian kesana kemari gegara ada satu temen yang agak geblek, ngelempar petasan segepok ke arah kursi tempat nongkrong. Mungkin kamu sebagian ada yang risih sekarang sama bocah main petasan, mungkin itu sebenernya rasa iri, kesel campur nostalgia, karena kamu yang sekarang “nggak pantes” main petasan, menurut society. Even just for the sake of having fun.

 

Bangunin Orang Sahur

kapan lagi bisa teriak di depan rumah orang? (Sumber: sassak)
kapan lagi bisa teriak di depan rumah orang? (Sumber: sassak)

Bukan, bukan nelpon pacar untuk bangunin sahur. Ini maksudnya adalah ngumpul sama temen-temen dari pukul tiga pagi, terus keliling kompleks atau keliling kampung. Atau kalau kamu dulu pecinta tantangan, bangunin sekalian warga dari kompleks sebelah. Padahal dari masjid udah ada yang mengumandangkan sahur, tapi kamu dan anak-anak tetep aja keliling bangunin orang-orang. Selidik punya selidik, kemungkinan anak-anak kecil dulu suka keliling kampung untuk bangunin orang sahur adalah karena mereka dapet license to shout, karena bangunin sahur adalah satu-satunya momen bagi bocah untuk bisa teriak sekenceng-kencengnya di depan rumah orang tanpa kena marah gara-gara berisik.

Inget kan, ada temen kamu yang dengan nafsunya teriak di depan pager tetangga, “WOY PAK, SAHUR WOY! MAU PUASA GAK?! SAHUR WOY! KEBURU IMSAK!”

See? Aren’t kids adorable?

Kamu sudah nggak lagi melakukan hal-hal di atas karena jadi mahasiswa, yang kamu bisa lakukan sekarang adalah share tulisan ini via Facebook, Twitter, atau Line, dan berbagi nostalgia sedikit sama temen-temen yang udah jadi mahasiswa juga tentang Ramadhan masa lampau.