Problematika Kesehatan Masyarakat yang Tak Kunjung Reda: WTPM Asia

World Tobacco Process and Machinery Asia atau disingkat WTPM Asia merupakan pameran mesin-mesin canggih industri rokok dan inovasi produk pertembakauan, seperti shisha, vape, dan juga rokok. Pada tahun 2012 sempat diadakan acara bernama WT Asia, dan telah berhasil dihentikan pada tahun yang sama. Kemudian pada tahun 2014, mereka kembali lagi dengan nama yang berbeda yaitu Inter-Tabac Asia di Bali, namun berhasil dicegah oleh masyarakat Bali, padahal sebelumnya mereka telah berjanji kalau mereka nggak akan balik lagi ke sini… Lalu tahun 2016 kemarin lahirlah WT Process and Machinery Asia, namun belum berhasil dihentikan pada tahun yang sama, malahan tahun 2017 ini kembali digelar di JIExpo Jakarta pada 16 – 17 Mei 2017. Hmmm, kemarin ini sudah ada beberapa aksi #KickWTPM dari teman-teman kita yang diadakan untuk menggagalkan dan menghapuskan acara tersebut. Semoga saja perjuangan mereka membuahkan hasil terbaik ya!

Penyelenggaraan WTPM ini tidak sejalan dengan beberapa perundangan dan peraturan yang berlaku di Indonesia, salah satunya yaitu UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyatakan bahwa melindungi kesehatan masyarakat merupakan komitmen Pemerintah yang harus dipenuhi.

Dengan adanya pameran ini berarti akan semakin menggencarkan promosi dan produksi rokok. Katanya sih nanti nggak cuma vape atau shisha aja yang punya beraneka macam varian rasa, tapi rokok juga bakal memproduksi rasa cokelat, strawberry, vanilla dan sebagainya. Bisa bayangin nggak sih, nggak cuma orang dewasa aja yang bakal tergiur untuk mencoba rokok, tapi anak-anak juga pasti bakal ikut tergiur untuk mencoba rokok, ya kayak permen dalam bentuk lain aja gitu. Terlebih lagi rokok lebih mudah diakses dibandingkan dengan produk tembakau yang lainnya.

Kalau jaman dulu percakapannya gini

“Pa, itu apa sih? Enak nggak rasanya? Aku mau coba dong.”

“Ini rokok, nggak enak nak, jangan dicoba ya”

Tapi, nanti bakal berubah jadi gini

“Pa, itu apa sih? Enak nggak rasanya? Aku mau coba dong.”

“Ini rokok, Nak, kalo yang lagi Papa cobain ini sih rasa cokelat, tapi ada rasa vanilla sama blueberry juga, lho!”

Okay,

“Rokok kan membantu perekonomian Negara, semakin banyak yang terjual bakal makin kaya dong Negara?”

 

BACA JUGA: Isu Kenaikan Harga Rokok Rp50 Ribu Per Bungkus ini Ternyata Kajian Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Loh!

 

Yup, cukai rokok emang besar, tapi biaya buat nyembuhin penyakit karena rokok juga nggak kalah besar, lho! Fyi aja nih, pengeluaran Negara bisa sampai empat kali lebih besar untuk menyembuhkan penyakit akibat rokok, dibandingkan dengan cukai yang didapatkan Negara dari hasil penjualan rokok. Wuidih!

Sebenarnya yang semakin kaya itu pengusahanya, kalau tukang rokok di pinggir jalan sih cuma untung sedikit, mungkin cuma beberapa ratus perak sampai seribuan saja setiap penjualan satu bungkus rokok. Belum lagi pekerja industri rokok itu punya risiko gangguan pernapasan akibat kerja juga.

Selain itu, dengan adanya pemasaran teknologi-teknologi canggih yang bisa meningkatkan produksi rokok dan menggantikan pekerjaan manusia yang dipamerkan di WTPM ini, pastinya akan membuat pemilik industi tergiur dong? Dan pekerja di industri rokok bakal berkurang.

Jadi udah nggak ada alasan kalau dia membantu perekonomian Negara, ya? Karena ujung-ujungnya penggunaan tenaga manusia akan semakin dikit dan digantikan oleh mesin, selain itu juga membuat Negara rugi banyak, kan?

“Yaudah sih biarin aja, itu hak orang juga kali mau ngerokok atau nggak”

Ya emang sih itu uang juga uang kalian, yang sakit juga kalian. Jadi hak kalian mau ngerokok atau nggak.

 

Tapi…..

Jangan merokok di tempat umum yah, ataupun merokok dekat orang lain

Kalo mau ngerokok di tempat umum kayak gini aja ya. (via pak101)

Perokok pasif tuh kena dampak yang lebih besar loh! Asap rokok masih tetap ada di udara sampai 2.5 jam meskipun jendelanya dibuka. Coba deh bayangin kalau yang sakit itu keluarga kalian, padahal dia nggak merokok, tapi kena imbasnya. Apalagi kalau dia sakit parah sampai nggak bisa kerja produktif. Pengen banget menghujat orang-orang yang menyebabkan dia sakit nggak sih?

 

Jangan berobat pake BPJS ya kalau udah sakit gara-gara merokok!

“Tapi kan kita udah bayar preminya”

Ya tapi kan biaya berobat kalian ada subsidi dari Pemerintah juga, dan tentu aja ada uang dari perokok pasif yang (mungkin) juga ikut sakit gara-gara ngehisap asap rokok kalian. Bisa bayangin nggak kalau kalian dikutuk sama perokok pasif itu dan keluarganya? Gara-gara mereka nggak ikhlas uangnya dipakai buat subsidi orang yang udah membuat keluarga atau dia sakit padahal mereka nggak merokok? Hiii seram!

 

Kalian pernah nonton nggak, webseries SORE – Istri dari Masa Depan?

Nggak mau kan kehilangan orang yang kamu sayang gara-gara ngerokok? (via famous.id)

Yup, coba bayangin deh kalo kalian jadi Jonathan atau Sore, nggak kasian nanti istri atau suami dan anak kalian bakal kehilangan sosok kalian duluan gitu?

 

“Kakek gue ngerokok tuh, tapi nggak kenapa-kenapa”

Emang bener sih ada yang kayak gitu, tapi perbandingannya super jauh, mungkin 1.000 : 1 kali ya? Mungkin Kakek kalian itu perbandingan 1-nya, dan kalian itu termasuk yang 1.000-nya.

 

Mending buat nonton.

Mending uangnya buat nonton di bioskop. (via wallpaperpup)

Ini paling mainstream sih, coba bayangin kalau sehari kalian ngabisin uang Rp 15.000 untuk beli rokok, dalam setahun bisa terkumpul Rp 5.400.000, mungkin bagi sebagian orang nggak terlalu banyak ya, tapi dengan uang segitu kalian bisa nonton bioskop sebanyak 108 kali di Plaza Senayan pas weekdays, atau 108 kali nonton di Margo City pas weekend. Kalo diitung-itung, sebulan kalian bisa dapet 9 tiket nonton. Lumayan kan dalam sebulan kalian bisa nonton sama pacar dua kali, gebetan 1 sekali, gebetan 2 sekali, dan nonton sendiri sekali?

 

BACA JUGA: Pro Kontra RUU Pertembakauan, Nih Alasan Kenapa Rokok itu nggak Menyejahterakan!

 

Okay segitu dulu artikel dari admin tentang WTPM dan rokok. Jadi, kalian mau ikut berjuang melawan WTPM atau nggak nih?

Anak UI, Kalau Kalian Sakit, Begini Caranya Berobat di PKM

Hayoo siapa di antara kalian anak UI yang sering sakit waktu di kosan atau di asrama terus bingung mau berobat ke mana? Soalnya penulis masih sering nih nemuin anak UI yang ngekos atau tinggal di asrama dan masih bingung harus berobat ke mana waktu sakit. Hey, masa sih kalian masih bingung? Kampus kita kan punya PKM yang sekarang terletak di Klinik Satelit UI, depan Fakultas Teknik UI!

Dengan banyaknya kegiatan semasa kuliah di kampus perjuangan, apalagi jauh dari orang tua, merupakan hal wajar bagi para mahasiswa jika mengalamai sedikit gangguan kesehatan. Kepadatan kuliah dan sering sulitnya tugas yang diberikan kepada mahasiswa memang sering kali membuat mahasiswa kekurangan waktu istirahat yang berakibat buruk bagi kesehatan.

Anyway, nggak cuma mahasiswa aja sih yang bisa nikmatin pelayanan di PKM UI, staf dan masyarakat sekitar UI juga bisa loh dateng dan berobat di sana.

 

PKM itu apa sih?

PKM di sini bukan Program Kreativitas Mahasiswa loh ya, PKM itu singkatan dari Pusat Kesehatan Mahasiswa. PKM UI ditujukan untuk melayani kegiatan mahasiswa yang membutuhkan obat-obatan dan tenaga medis di kampus. PKM UI dulunya masih bertempat di Rumpun Ilmu Kesehatan, tapi semenjak Klinik Satelit UI selesai dibangun 2015 lalu, PKM UI dipindahkan ke sana.

 

Pelayanannya apa aja?

Layanan yang diberikan PKM UI antara lain pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan gigi, pengobatan umum, ambulans, general check up, rontgen, tes buta warna, tes dahak/lendir, tes darah, tes feses, tes jantung, tes narkoba, tensi darah, tes urin, dan vaksinasi tetanus teksoid. Selain itu, bertempat di Klinik Satelit UI, kita juga bisa konsultasi kesehatan mental. Pelayanan yang dilakukan Badan Konsultasi Mahasiswa (BKM) UI itu berupa memberikan solusi bagi kesehatan mental para mahasiswa dengan dilayanai oleh psikiater UI.

 

BACA JUGA: Mental Illness, Salah Satu Penyebab Hidup menjadi Kelabu yang Masih Dianggap Tabu

 

Gimana caranya?

Mahasiswa UI bisa langsung datang ke PKM secara pribadi atau dirujuk oleh pimpinan fakultas di kampus makara. Tapi perlu diingat, untuk bisa menikmati pelayanan kesehatan di PKM dan BKM UI, kita harus terlebih dahulu menjadi anggota PKM UI, guys.

Jangan khawatir, buat kamu yang belum menjadi anggota, caranya gampang banget, yaitu dengan mendaftar di bagian administrasi (loket PKM) untuk membuat kartu anggota. Pembuatan kartu anggota ini membutuhkan Kartu Tanda Mahasiswa dan foto ukuran 2×3 sebanyak dua buah. Setelah kamu penuhi semua berkas yang dibutuhkan, kalian resmi jadi anggota PKM UI dan bisa menikmati layanan di PKM UI.

 

Waktu Operasional?

Jam operasional PKM UI adalah Senin-Kamis pukul 08.00-18.00 (istirahat 12.00-14.00). Jumat pukul 08.00-18.00 (istirahat 11.00-14.00). Sabtu pukul 08.00-12.00. Sementara untuk hari Minggu, PKM UI tutup atau libur.

Sementara itu, para mahasiswa dan staf UI tidak dipungut biaya loh ketika berobat di PKM dan BKM UI, kecuali bagi mereka yang membutuhkan penanganan ronsen. Sedangkan, untuk masyarakat luas sepertinya sudah bisa loh pakai BPJS Kesehatan di PKM UI, sebab pada Oktober lalu para pegawai Klinik Satelit UI sudah melakukan pelatihan dan workshop Provider FKTP BPJS.

 

BACA JUGA: 56 Tahun FKGUI, “Bersatu Mengabdi Sehatkan Negeri”

 

Nah, cukup mudah bukan cara mendaftar anggota PKM biar bisa berobat di sana? Mari bagikan artikel ini di akun Facebook, Twitter, dan Line kalian biar anak UI nggak bingung lagi harus kemana waktu sakit!

PKM, Yuk… Males ah, yang ada Gua makin sakit!

Pusat Kesehatan Mahasiswa
Pusat Kesehatan Mahasiswa

NB: Tulisan ini adalah semi-fiksi, seperti halnya semi-final, musim-semi, dan semi-…. film, semi fiksi merupakan cerita yang isinya juga setengah-setangah. Setengah kejadian sebenarnya, setengah rekayasa, setengah niat, maupun setengah hati untuk menulisnya. Jadi ini cerita menang pernah terjadi, namun karena menjaga harga diri dari pelaku-pelakunya semua nama dan tempat yang ada di tulisan ini adalah palsu (nama samaran).

Baca Selengkapnya