Suatu Percobaan Studi Pemikiran Marx Anarkis Sebagai Upaya Atasi Stunting

Catatan dari penulis: Tulisan ini dimaksudkan dalam rangka diskursus akademik bukan untuk tujuan lainnya. Penulis adalah mahasiswa Universitas Indonesia yang dalam mempelajari pemikiran ini dibantu oleh para Dosen.

Stunting

Stunting adalah permasalahan yang sangat serius dan dampaknya sangat buruk terhadap kemanusiaan. Terutama terhadap generasi-generasi penerus manusia di masa depan. Jika generasi-generasi kita mengalami stunting yaitu kekurangan gizi maka otak mereka mengalami defisit sehingga tidak akan mampu menghadapi revolusi industri 4.0, Selain itu stunting juga merupakan penghinaan terhadap kemanusiaan.

Apakah penyebab atau faktor utama dari permasalahan stunting?

Menurut saya adalah kemiskinan. Kemiskinan terjadi jika jumlah kebutuhan lebih banyak dibandingkan alat pemuas kebutuhan sehingga akan ada kelompok yang tidak mendapat kebutuhannya, kelompok itu adalah orang miskin.

Lalu apa penyebab kebutuhan lebih banyak dibandingkan dengan alat pemuas kebutuhan?

Jawabannya adalah pertumbuhan populasi yang tidak seimbang dibandingkan dengan ketersediaan sumber daya. Jika jumlah populasi meningkat akibat angka kelahiran lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian maka kebutuhan masyarakat juga akan meningkat.

Jika kebutuhan masyarakat meningkat dan tidak diimbangi ketersediaan sumber daya maka akan terjadi kompetisi yang berakibat pada adanya kelompok yang tidak mampu mendapatkan sumber daya. Kelompok itu adalah orang miskin. Orang miskin inilah yang berpotensi mengalami stunting.

BACA JUGA: Hey Anak UI, Ini 4 Pemikiran Kritis Yang Membuat Kamu Tercerahkan

Inflasi

Grafik Inflasi (sumber: cermati.com)

Sekarang kita tahu bahwa masalah utama dari stunting adalah kemiskinan. Pertanyaannya adalah:

Apakah kemiskinan bisa diberantas oleh pemerintah?

Sekarang coba kita bikin asumsi atau eksperimen pikiran di kepala kita. Misalnya pemerintah berhasil memberantas kemiskinan maka ini memiliki arti semua orang menjadi kaya dan jika semua orang menjadi kaya maka jika hal ini terjadi akan menyebabkan terjadinya inflasi yaitu turunnya nilai mata uang akibat jumlah uang yang beredar lebih banyak dibandingkan dengan jumlah barang dan jasa yang di produksi di dalam pasar, yang berakibat pada harga barang-barang menjadi mahal.

Selain itu ada kecenderungan secara psikologis dari orang kaya untuk melakukan konsumsi dibandingkan dengan produksi sehingga kurva permintaan akan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan kurva penawaran sehingga harga keseimbangan pun jadi meningkat.

Jadi dari eksperimen pikiran ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa pemerintah tidak akan pernah mau memberantas kemiskinan, mengapa? karena pemerintah tau betul konsekuensi jika kemiskinan diberantas yaitu terjadinya inflasi. Selain itu pemerintah tau betul agar yang di atas bisa hidup maka perlu yang di bawah.

Jadi pemerintah tidak akan pernah mau memberantas kemiskinan, tugas pemerintah adalah mempertahankan struktur sosial yang ada. Pemerintah memberantas kemiskinan hanyalah slogan-slogan politik untuk meningkatkan elektabillitas dari petahana tetapi di dalam praktiknya pemerintah diam-diam akan memelihara orang miskin untuk mencegah terjadinya excess demand atau kelebihan permintaan di dalam pasar.

Bisa kita simpulkan bahwa karena kemiskinan tidak dapat diberantas maka stunting juga tidak dapat diatasi, mengapa? karena penyebab utama dari permasalahan stunting adalah kemiskinan. Kalo begitu stunting adalah permasalahan abadi sampai seluruh hidup manusia berakhir kecuali kemiskinan diberantas? Tepat sekali. Selama pemerintah berdiri maka kemiskinan mustahil diberantas karena pemerintah berkepentingan mencegah terjadinya inflasi (mempertahankan nilai fiksi dari uang sebagai alat tukar) dan mempertahankan struktur sosial yang ada (supaya yang di atas bisa hidup maka perlu yang di bawah).

SOLUSI DENGAN MENGGULINGKAN PEMERINTAHAN?

Kerusuhan Hay Market (sumber: amazon.com)

Hanya ada satu solusi untuk mengatasi kemiskinan, apa itu solusinya? Yaitu menggulingkan pemerintahan. Jika kita ingin mengalami kebahagiaan yaitu terlepas dari kemiskinan sehingga stunting bisa diatasi maka kita harus mampu menyingkirkan pemerintahan. Tanpa pemerintahan kita dapat mengatasi kemiskinan dan permasalahan stunting. Selain itu hidup tanpa pemerintah adalah sebuah utopia dimana terdapat segala kebahagiaan disana dan juga kita dapat hidup tanpa hukum. Mengapa kita tidak perlu hukum? Karena kita adalah makhluk sosial, jika kita memerlukan hukum maka itu mengindikasikan kita adalah makhluk yang egois sehingga kita memerlukan hukum untuk membendung keegoisan manusia padahal manusia adalah makhluk yang sosial dan rasional yang artinya kita tidak perlu hukum dalam berinteraksi sosial. Jadi sebenarnya hukum itu merendahkan hakikat kemanusiaan. Sekali lagi hanya dengan menggulingkan pemerintahan kita dapat mengatasi kemiskinan sehingga konsekuensi tidak langsung adalah stunting dapat diatasi.

Mengapa saya menyarankan untuk mengatasi stunting harus mengatasi kemiskinan dan untuk mengatasi kemiskinan harus menyingkirkan pemerintahan? Karena gejala kemiskinan bukanlah gejala yang disebabkan oleh kesalahan individu melainkan disebabkan oleh struktur-struktur ekonomi dan politik yang dibuat pemerintah yang ternyata tidak berpihak kepada orang miskin karena tujuan pemerintah memang mempertahankan struktur sosial yaitu harus ada yang di atas dan di bawah. Gejala kemiskinan yang disebabkan oleh struktur ini menyebabkan masyarakat mengalami kesadaran palsu. Kesadaran palsu adalah kesadaran yang menganggap kemiskinan disebabkan oleh faktor individu dan bukan karena struktur yang di konstruksi oleh politisi untuk memenuhi kepentingan pragmatis mereka. Struktur-struktur yang menyebabkan mereka miskin ini sama sekali tidak disadari oleh masyarakat sebab mereka telah mengalami apa yang disebut kesadaran palsu.

Jika masyarakat terus-menerus mempercayai kesadaran palsu maka masyarakat tidak akan pernah mengalami kebahagiaan karena mereka akan terus-menerus mengutuk diri dan mempersalahkan diri sendiri. Jelas sikap mengutuk diri sendiri bukanlah sikap dewasa melainkan sikap infantil. Masyarakat yang terbelenggu oleh kesadaran palsu sangatlah pesimis akan kemampuan diri mereka dan kreativitasnya sendiri dan menganggap gejala kemiskinan sebagai suatu faktor nasib terberi. Jadi selama masih ada pemerintahan maka kemiskinan, stunting, kesadaran palsu akan terus menghantui hidup manusia. Dengan menyingkirkan pemerintahan maka kita bisa terbebas dari itu semua. Tanpa pemerintahan kita bisa melakukan segalanya.

BACA JUGA: 4 Peran Anak UI dalam Konstelasi Politik di Indonesia

Sekali lagi penulis mengingatkan bahwa tulisan ini dimaksudkan dalam rangka diskursus akademik dan bukan untuk tujuan lainnya. Penulis adalah mahasiswa Universitas Indonesia yang dalam mempelajari pemikiran ini dibantu oleh para Dosen.

DAFTAR REFERENSI

https://voxntt.com/2019/09/28/membaca-korupsi-dan-kemiskinan-struktural-lewat-nalar-marx/52046/

https://nasional.republika.co.id/berita/q5g9ml368/kemiskinan-jadi-faktor-penyebab-emstuntingem

https://kelana-tambora.blogspot.com/2015/08/memandang-kemiskinan-dari-teori-marx.html

https://health.grid.id/read/352021011/berantas-stunting-stunting-berhubungan-dengan-kemiskinan-ntt-jadi-acuan-mengurangi-stunting-di-indonesia?page=all

https://metro.tempo.co/read/1331531/sejarah-gerakan-anarko

https://www.marxist.com/marxisme-dan-anarkisme.htm

https://anarkis.org/anarkisme-paham-yang-tak-pernah-padam-2/

Sumber gambar Marx dan pengikutnya

 

Musim Pilkada, Emang Apa Untungnya sih Buat Kita?

Akhir-akhir ini kita sudah kenyang sekali dengan para politikus yang hendak memanggul beban menjadi pemimpin daerah di masing-masing wilayah di Indonesia. Mereka menggembar-gemborkan berbagai janji manis kepada para masyarakat di daerahnya agar bersedia memilih mereka dalam pesta rakyat daerah, Rabu (15/2) besok.

Bagi sebagian kalangan, akademisi, ulama, politikus, pengusaha, bahkan rakyat kecil mungkin memiliki keuntungan sendiri dalam urusan pemilihan kepala daerah ini. Sebagaimana akademisi, mereka biasa didaulat tim sukses sebagai penasehat pasangan calon, ulama sebagai guru rohaniah para calon, politikus sebagai kendaraan politik mobilisasi massa, pengusaha mendapat keuntungan dari pesanan atribut kampanye, hingga rakyat kecil sebagai tim sukses yang mendapat jatah uang sebagai penarik simpatisan paslon.

Kalau mereka bisa mendapatkan untung setiap adanya pesta rakyat, baik Pemilu ataupu Pilkada, lalu buat kita sebagai mahasiswa, apa sih untungnya Pilkada?

 

Lahan Belajar Politik dan Berpikir Kritis

Masa Pilkada bisa menjadi ajang untuk kita berdiskusi dan melatih berpikir kritis (via Suma UI)

Sebagai mahasiswa, kita adalah agen perubahan pengawal pemerintahan yang nyata. Setidaknya hal itu terjadi dalam dua rezim ke belakang, yakni Orde Lama dan Orde Baru. Ingat nggak jaman di mana aktivis kampus makara yang namanya terdengar hingga ke telinga Soekarno karena pandangannya terhadap pemerintahan? Yap, Soe Hok Gie, pendiri Mapala UI itu dulu menjadi aktivis yang giat mengkritisi setiap kebijakan God Father-nya Indonesia karena menggandeng Nasakom dalam perjalanan keperintahan Indonesia saat itu. Ia juga terlibat aktif pelengseran Orde Lama melalui berbagai aksi gabungan berbagai universitas di Indonesia yang memaksa Soekarno untu balik kanan dari jabatannya.

Belum lagi kisah perjuangan mahasiswa saat pelengseran rezim Soeharto, hingga menewaskan beberapa mahasiswa karena bentrok dengan aparat hukum di sekitaran Semanggi, Mei 1998. Semua itu karena, saat itu, mahasiswa berfikir kritis dalam mengawal ke pemerintahan Indonesia. Nah, dengan adanya Pilkada, kita sebagai mahasiswa harus mampu menuangkan berbagai pikiran kritis kita terhadap segala sesuatu yang berbau kepemerintahan. Kita bisa menggunakan media massa, seperti koran atau online, sebagai tempat menuangkan berbagai pikiran kritis khas mahasiswa yang berintegritas, dalam mengkritisi berbagai janji manis dan rasionalitas program yang ditawarkan paslon. Lumayan, bisa tambah uang jajan juga loh kalo diterbitkan.

 

Menelurkan Ide untuk Organisasi Kita

Coba benchmark program kerjanya sama organisasi kamu, siapa tau match, adaptasi deh!

Setiap kampanye, para pasangan calon pasti dan mau tidak mau harus memiliki berbagai program yang dapat menjadikan daerah kepemimpinannya maju. Berbagai inovasi muncul dari otak-otak pasangan calon, yang kemudian disuarakan di depan banyak orang sebagai program andalan mereka ketika terpilih.

Nah, buat kita, sebagai mahasiswa, apalagi yang aktif berorganisasi, hal itu bisa menjadi rujukan ketika kita stuck atau mentok dalam memikirkan berbagai program anyar yang dapat diterapkan di kampus kita saat berorganisasi. Kita bisa tonton kampanye-kampanye mereka, baca program-program mereka, siapa tau kita terinspirasi dari janji-janji manis mereka. Nah, setelah itu kita padukan deh program-program itu menjadi satu kesatuan program untuk organisasi kita masing-masing. Mengingat, universitas merupakan miniatur negara. Ya siapa tau, nanti Ketua BEM kita bisa kasih Kartu UI Pintar gitu, sebagai kartu yang memberikan kebebasan belajar… LOL.

 

BACA JUGA: Ini 4 Hal yang Bisa Kita Lakukan saat Bosan Mendengar Umbar Janji Kampanye Pemira!

 

Menambah Pemasukan Kita

Masa kampanye Pilkada bisa jadi ajang kita mencari pemasukan saat libur kuliah. Kok bisa? Bisa dong, karena setiap pasangan calon memerlukan bantuan dari masyarakat untuk menjadi tim sukses mereka dalam menggaet suara. Nah, pembentukan tim sukses ini biasanya dilakukan melalui info dari bibir ke bibir, ajakan melalui pesan-pesan singkat dengan mencantumkan nominal per bulannya.

Jadi tim sukses salah satu paslon bisa mendapatkan dana bantuan ratusan ribu loh per orangnya. Nah, sebagai mahasiswa, jangan sampai kita mudah menjual suara kita untuk uang, tapi cari uang dengan bergabung menjadi tim sukses bisa… gabung aja dulu, tapi nyoblosnya tergantung nurani kita. Lumayan kan buat ongkos dan jajan saat masuk kuliah. Nggak kok, bukan bermaksud ngajarin jadi penghianat hehe.

Nggak hanya itu, kita juga bisa daftar ke beberapa lembaga survei, atau stasiun televisi untuk menjadi peserta perhitungan suara cepat atau quick count yang diadakan. Biasanya setiap stasiun memberikan tempat bagi mahasiswa untuk ikut membantu melancarkan kegiatan hitung cepat itu dengan digantikan uang transport yang cukup buat beli Masakan Padang 10-20 bungkus.

 

Menelurkan Judul Penelitian

Manfaarin momen Pilkada buat nyari ide skripsi aja ! (via waskita-adijarto)

Buat para mahasiswa semester tua, Pilkada bisa loh jadi ajang menemukan ide untuk skripsi kita. Terlebih untuk beberapa jurusan, seperti Ilmu Politik, Ilmu Komunikasi, Ilmu Psikologi, bahkan Sastra juga bisa. Kalau kalian bingung mau judul skripsi apa, mending pantengin terus tayangan-tayangan tentang Pilkada. Apalagi Pilkada kali ini penuh nuansa dramatis dan politis, juga memanas.

Buat jurusan Ilmu Politik, bisa kayak gini judulnya, “Tingkat Efektifitas Penerapan Ilmu Politik yang Digunakan Pasangan Cagub dan Cawagub di Indonesia”.

Buat Ilmu Komunikasi, bisa kayak gini, “Semiotika Sampul Majalah ABC dalam Situasi Pilkada di Indonesia”.

Buat Psikologi, bisa kayak gini judulnya, ”Psikologi Cagub dan Cawagub yang menyebabkan Keringat Sewaktu Debat Publik”.

Atau buat Sastra, bisa kayak gini judul skripsinya, ”Jika Kamu, Aku, dan Dia Menjadi Pemimpin, Lalu Siapkah Kita Bersama Membangun Negeri Kita Tercinta”.

 

Menambah Hari Libur Kuliah!

Wah ini sih bonus yang nggak bisa ditolak, resmi pula.

Keuntungan yang terakhir adalah keuntungan yang konkrit dan tak bisa ditawar lagi untuk mahasiswa. Inilah surga di kala keringat membatu ketika pusing memikirkan makalah dan presentasi yang nggak tau materinya tentang apa. Pelangi di kala musim hujan turun dari mata, karena pusing dengan berbagai hitungan statistika perkuliahan. Kedamaian di kala dendam semakin mengkristal, ketika ingat teman tidak memberikan contekan sewaktu UAS semester ganjil. Yap, Hari Libur Nasionalnya bertambah!

Jadwal pencoblosan setelah berlarut-larut dalam gegap gempita kampanye calon pemimpin daerah, selalu menjadi hari libur nasional bagi semua rakyat. Yaiyalah kalo nggak libur, siapa yang mau nyoblos?

Nah, untuk Pilkada kali ini, Hari Libur Nasional itu jatuh pada…. Rabu, 15 Februari 2017. Jadi, untuk kamu yang pengen liburan, nyuci baju yang numpuk sampe tiga ember di kosan, bersihin kosan yang udah mirip kapal pecah di Bantar Gebang, silahkan bersenang-senang setelah nyoblos. Ingat ya, sebagai mahasiswa, kita harus mengedukasi diri dan masyarakat kalau kita harus menggunakan hak suara kita dalam demokrasi dengan baik, NGGAK BOLEH GOLPUT. Karena satu suara, menentukan daerah kita!

 

BACA JUGA: Kisah 11 Mahasiswa yang Melayani 25.926 Orang di Pemilu 2014

 

Buat kamu para mahasiswa, mari bantu melancarkan segala tindak tanduk pengelolaan dan kepanitiaan penyelenggara Pilkada, biar nggak ada lagi kecurangan seperti politik uang, atau pemaksaan hak pilih di setiap daerah. Jangan lupa bagikan artikel ini ke akun Facebook, Twitter, dan Line kalian agar para mahasiswa di Indonesia tau, Pilkada juga menguntungkan buat kita!

Anak UI, Mari Apresiasi Pahlawan Di Balik Layar Kita!

Seringkali kita lupa dengan apa yang sudah kita rasakan di kampus perjuangan. Kebersihan, keamanan, kenyamanan, dan ketentraman yang kita rasakan selama berkuliah di kampus makara terluput dari perhatian kita sebagai keluarga besar UI. Sama halnya ketika kita mampu meraih suatu pencapaian, kita merasa semua itu adalah akibat dari sebab yang kita lakukan.

Kita meraih juara satu dalam suatu perlombaan, seringkali kita menyebut karena satu alasan saja; latihan keras. Ketika kita mendapatkan nilai tertinggi di kelas, kita merasa karena satu alasan saja; giat belajar. Kita sering lupa, di balik itu semua ada pahlawan besar di belakang layar yang senantiasa memberikan semua yang kita butuhkan tanpa minta disebut jasanya. Di balik kesuksesan kita, semua itu juga berkat andil orang tua, terutama Ibu yang tak henti berdoa untuk anak-anaknya.

Sama halnya di kampus kita. Kebersihan kelas, taman, jalanan, keamanan kampus, ketepatan waktu sampai di kelas, dan semua hal yang berkaitan dengan lingkungan kampus juga memiliki peran untuk kita, untuk kenyamanan dan kondusifitas lingkungan belajar yang bisa membawa nama besar kampus makara ke ranah global adalah berkat jasa para pahlawan di balik layar. Tanpa mereka, tanpa jasa yang tak ingin dikumandangkan sebagai pahlawan kita di kampus, tentu kampus kita takkan seperti saat ini.

Petugas kebersihan, menyapu jalanan, menyapu taman kampus, membersihkan setiap runtuhan dedaunan yang jatuh dari pohon-pohon lingkungan kampus, menata tanaman agar terlihat rapih dan tak berantakan, semua dikerjakannya tanpa pamrih bahkan dianggap sepeleh oleh kita. Padahal, tanpa mereka kampus kita pasti akan terlihat kotor, lingkungan area kampus yang luas akan tampak seperti lautan sampah dedaunan yang tak terurus, tanaman akan mati kekeringan, kelas akan kotor bak gudang yang kumuh.

 

 

BACA JUGA: UI: Banyak Pohon, Juga Banyak Limbah Air

 

Petugas keamanan berusaha memberikan keamanan bagi keluarga besar UI. Mereka memberikan tenaga mereka menjadi tokoh terdepan dalam mempertahankan wilayah teritorinya dari ancaman pencurian, perampokan, kejahatan, dan selalu menjaga ketertiban kampus serta kelancaran belajar mengajar di rumah kedua kita. Tanpa mereka, rumah kedua kita bakal nampak seperti terminal yang menjadi tempat bergumulnya kriminalitas, seperti jalanan yang tak tertib lalu lintas, berantakan, berisik, mengganggu jalannya semua elemen pendidikan di kampus.

Sopir bikun yang senantiasa mengantarkan kita ke gedung belajar mengajar. Bersiap di depan tuas rem, gas, dan handling steer demi membantu kita merangsek masuk ke kelas dengan tepat waktu. Mereka rela menunggu kita masuk ke dalam bis, hanya untuk mengantarkan kita. Bersabar ketika ada mahasiswa yang protes karena lambatnya laju bikun, hanya karena ingin semua penumpang selamat. Mungkin tanpa mereka, kita bakal kelabakan menuju ke gedung belajar mengajar karena kita tak punya kendaraan pribadi, kita mesti berjalan dari asrama, dari stasiun yang berjarak berkilometer hingga sampai ke gedung kelas.

Pernahkah kita membayangkan, bagaimana jika mereka semua mogok bekerja hanya karena cacian atau protes kita ketika adanya pencurian, adanya sampah yang berserakan, dan bikun mogok? Pernahkah kita membayangkan hidup tanpa pahlawan kita itu? Mereka bekerja keras dari pagi, agar mahasiswa, staf, dan dosen bisa beraktifitas dengan lancar tanpa kendala. Bahkan, mereka bekerja hingga matahari tenggelam dan rela tidur terlambat, demi membuat kita semua istirahat tepat waktu tanpa ada kendala.

Ada banyak pahlawan di balik layar di kampus tempat kita mendapatkan gelar. Ada petugas kebersihan, cleaning service, satpam, penyebrang jalan, supir bikun, penjaga spekun, dan lainnya. Mereka semua memiliki niat yang sama; memperlancar kegiatan dan aktifitas kita, tanpa kendala, tanpa ingin terlihat paling gagah, tanpa protes mogok kerja, hanya demi kita semua, kenyamanan kita.

 

BACA JUGA: Selain Antar-Jemput Mahasiswa, Bikun Juga Bisa Telolet Lho!

 

Meski masa donasi yang diselenggarakan oleh BEM UI telah lama usai, mari tetap bagikan artikel ini ke Akun Facebook, Twitter, dan Line kalian agar semua orang ikut andil dalam melestarikan kepedulian dan kepekaan sosial di lingkungan kita semua! Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Peduli Aceh, BEM se-UI Galang Dana dan Turun Langsung Membantu Korban Gempa

Indonesia kembali berduka. Gempa tektonik yang menghajar wilayah pantai di Kabupaten Pidie Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam pada pukul 5.30 WIB, Selasa (7/12). Gempa berkekuatan 6,5 Skala Richter itu memporak-porandakan wilayah Pidie Jaya, Pidie, Bireun, Sigli, dan wilayah sekitarnya yang lain.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bahkan menyebut kekuatan gempa Aceh Selasa lalu itu setara dengan kekuatan empat hingga enam kali bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima, Jepang pada Agustus 1945. Pusat gempa yang berada di bibir pantai, tentu sangat membuat masyarakat Aceh trauma akan terjadi Tsunami seperti yang pernah dialami Aceh pada Desember 2004 lalu. Untungnya, gempa dahsyat itu tidak seperti apa yang masyarakat Aceh khawatirkan. Meski kekuatannya dianggap melebihi kekuatan bom atom Hiroshima, namun aktivitas sesar mendatar dalam laut tidak memicu Tsunami.

Kondisi di Aceh pasca gempa (via bintang.com)
Kondisi di Aceh pasca gempa (via bintang.com)

Kendati demikian, tetap saja kekuatan gempa tektonik dahsyat itu telah menghancurkan ratusan bangunan di tenggara Kota Banda Aceh. Korban-korban bergelimpangan. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, korban meninggal dunia mencapai 102 orang, dan lebih dari 700 orang luka berat dan ringan. Banyaknya bangunan yang hancur juga menyebabkan 3.276 orang mengungsi. Upaya evakuasi korban masih dilakukan BNPB hingga saat ini.

Data terakhir (10/12/2016) menyatakan bahwa total korban mencapai 731 orang yang terdiri dari 617 mengalami luka ringan dan luka berat serta 114 orang meninggal dunia. Selain itu ratusan bangunan serta infrastruktur yang rusak ataupun roboh akibat gempa tersebut.

Hingga saat ini, bantuan bagi para korban gempa di Aceh Mulai dari bantuan makanan, medis, serta evakuasi terus berdatangan. Salah satunya adalah tim relawan dari Universitas Indonesia yang Sabtu ini (10/12/2016) berangkat menuju titik bencana untuk memberikan bantuan kepada para korban bencana.

cafe
Persiapan tim UI Peduli untuk membantu korban gempa Aceh (via Official Line BEM UI)
cafe_0
Persiapan tim UI Peduli untuk membantu korban gempa Aceh (via Official Line BEM UI)

 

BACA JUGA: Seperti Apa Mahasiswa UI Hari Ini di Mata Masyarakat?

 

Pihak Universitas Indonesia melalui tim UI Peduli telah mengirim tim tenaga medis dan bantuan logistik. Tim UI Peduli yang akan berangkat pada Sabtu (10/12/2016) ini berjumlah 28 orang. Mereka di antaranya terdiri atas  Perwakilan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI, tim ILUNI UI, tim Direktorat Kemahasiswaan UI beserta mahasiswa UI yang tergabung dalam Departemen Sosial Masyarakat BEM UI, Sekolah Peduli Bencana UI, Tim Bantuan Medis FK UI, Mapala UI, dan Menwa UI.

cafe_1
Persiapan tim UI Peduli untuk membantu korban gempa Aceh (via Official Line BEM UI)

Sementara itu, banyak pengungsi dan korban luka-luka yang terevakuasi membutuhkan distribusi bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian dan berbagai bahan-bahan pokok penyokong kehidupan korban gempa. Untuk itulah, melalui Departemen Sosial Masyarakat/Pengabdian Masyarakat BEM Se-UI bersama Sekolah Peduli Bencana UI bekerja sama dengan Forum Nasional Sosial Masyarakat BEM Seluruh Indonesia, mengajak teman-teman untuk mengulurkan bantuan bagi saudara kita yang menjadi korban bencana tersebut.

Kamu juga bisa membantu saudara kita di Aceh dengan cara yang paling sederhana a.k.a donasi. Periode donasi yang dikawal BEM Se-UI dilakukan sampai tanggal 13 Desember 2016. Donasi dapat dikirimkan ke rekening BNI Syariah dengan nomor rekening 324712502 atas nama Muhammad Hafiz Afianto. Setelah melakukan transaksi, silahkan mengirimkan konfirmasi dengan format Nama-tanggal transfer-nominal ke nomor 08568330522 atas nama Hafiz.

cafe_2

Saudara kita sangat membutuhkan uluran bantuan dari kita. Berapapun donasi yang diberikan, mampu membantu kebutuhan saudara kita di sana. So, jangan ragu lagi untuk mengulurkan bantuan! Jika bukan dari kita, siapa lagi?

Mari bagikan artikel ini di Akun Facebook, Twitter, dan Line kalian agar pengumpulan dana bantuan korban gempa di Aceh dapat segera terkumpul lebih banyak dari yang diharapkan. Semoga Aceh diberi ketabahan dan kesabaran!

 

BACA JUGA: Karena Bencana Bisa Datang Kapan Saja…

GEMA Pembebasan UI: Video Viral, Lembaga Ilegal

Lagi-lagi Universitas Indonesia mendapatkan berita miring. Kali ini datang dari mahasiswa S2 Fakultas Ilmu Keperawatan, Boby Febrik Sedianto, yang membuat video orasi bertajuk GEMA Pembebasan UI Tolak Ahok. Berita ini mulai viral di media sosial minggu lalu, tapi gak ada salahnya dong kita bahas sekarang? Biar jatohnya gak hoax dan bisa menyimpulkan dengan lebih bijak dari berbagai sudut pandang. Yuk, langsung aja kita liat ada apa sih ini rame-rame?

Sabtu, 3 September lalu, media sosial dihebohkan dengan video mahasiswa yang mengatasnamakan diri dari organisasi Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan Universitas Indonesia. Mahasiswa tersebut berorasi mengenakan almamater UI di depan Gedung Rektorat yang menyuarakan pendapatnya dengan lantang bahwa dirinya dan lembaga (yang katanya) berada di bawah naungan Universitas Indonesia itu secara tegas menolak Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk lanjut sebagai pemimpin.

“Ahok bukan hanya sekadar kafir, tapi dia juga menzalimi masyarakat.”

“Dalam memimpin Jakarta dia tidak becus untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran di Jakarta, angkanya melambung tinggi.”

Begitu cuplikan orasi yang diakukan oleh Bobby dalam video berjudul #TolakAhok | Seruan Tolak #PemimpinKafir oleh Aktivis GP Universitas Indonesia itu.

 

Menanggapi hal ini, pihak Universitas Indonesia akhirnya buka suara pada Selasa, 6 September 2016 lalu. Dalam pernyataan resminya, UI menyatakan bahwa organisasi tersebut bukanlah lembaga resmi yang berada di bawah universitas maupun fakultas.

img_1541

Pihak UI menegaskan, video mahasiswanya, Boby Febrik Sedianto itu ilegal atau tidak resmi, dan tidak memiliki hak untuk mengatasnamakan UI. Bayangin aja, dia membuat video ini mengenakan jakun di depan gedung rektorat yang bisa dibilang ciri khasnya “UI banget”. Secara gak langsung ya pasti yang menonton video ini menganggap bahwa dia adalah perwakilan dari Universitas Indonesia, padahal mah sebenernya ilegal. Udah gitu, GEMA Pembebasan UI ini bukanlah lembaga resmi UI maupun fakultas di UI sehingga tidak diperkenankan untuk menggunakan nama, logo, dan atribut UI.

“Video tersebut merupakan bentuk tindakan yang tidak mengindahkan etika kegiatan akademik pada umumnya dan tata tertib kehidupan kampus pada khususnya,” kata Kepala Humas UI Rifelly Dewi Astuti dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (6/9/2016).

Video itu dianggap melanggar Pasal 8 Ketetapan Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia No. 008/SK/MWA-UI/2004 tentang Tata Tertib Kehidupan Kampus UI. Dalam pasal itu disebutkan bahwa warga UI dilarang melakukan diskriminasi atas dasar agama, ras, etnisitas, gender, orientasi seksual, orientasi politik, dan cacat fisik.

Meski hanya satu mahasiswa UI yang bersikap seperti ini, pasti opini masyarakat ada aja yang mengatakan bahwa “Ih kok anak UI cara berpendapatnya gitu sih gak beretika?” Kalau udah terbentuk stigma di masyarakat kayak gini, akan sulit untuk membersihkan nama baik dan opini masyarakat kembali, meski sudah diklarifikasi.

Intinya sih ya meski kita udah dikasih kebebasan buat berpendapat, tetep harus digunakan dengan cara yang bener dan bijaksana. Gak asal menghujat orang yang kita kritik tersebut. It’s okay kalo punya pendapat sendiri mengenai suatu hal, tapi tolong tunjukkin juga kalo kita itu berpendidikan, gak asal ngomong seenaknya seolah-olah opini kita itu paling bener.

7 Tipe Berita di Kehidupan Sehari-Hari yang Udah Sering Kita Denger Sampe Bosen

Berita pada zaman sekarang sudah menjadi makanan sehari-hari, apalagi mahasiswa yang gak bisa lepas dari mantengin gadget. Gak di TV, radio, koran, maupun portal berita online, segala kabar terbaru mengenai seluk beluk dan carut marut dunia bisa kita ikuti. Akan tetapi, sadar gak sih, ternyata berita yang dimuat di media massa itu ya gitu-gitu aja, topiknya gak jauh-jauh dari hal yang udah sering kita baca dan denger sampe bosen. Nah loh, emangnya apa aja sih jenis beritanya? Berikut rangkuman anakui.com mengenai hal tersebut.

BACA JUGA: Gimana Caranya Biar Gak Gampang Terprovokasi oleh Media?

 

Berita Update

Berita yang muncul setiap setengah jam sekali via lendcreative
Berita yang muncul setiap setengah jam sekali via lendcreative

Jenis berita ini merupakan berita yang muncul setiap setengah jam sekali, misalnya kecelakaan, banjir, gunung meletus, kebakaran hutan, macet, pemerkosaan, pencurian, dan sebagainya. Kita pasti udah hapal sama model berita ini karena selalu berulang-ulang dan hanya memberikan info, ditambah bumbu sedikit opini yang menyalahkan pihak pemerintah tanpa solusi yang nyata.

 

Berita Kehidupan Sosial

Berita kehidupan sosial via rri
Berita kehidupan sosial via rri

Kurang lebih sama kayak berita update tadi, bedanya berita ini gak muncul setengah jam sekali, tapi dikupas secara mendalam pada suatu sesi khusus. Contoh beritanya misalkan fenomena kemiskinan, gelandangan, wabah penyakit, dan hal lain yang menyangkut kehidupan sosial masyarakat. Dalam berita ini, pemerintah jauh lebih disudutkan daripada berita update tadi.

 

Berita Hiburan

berita hiburan ini cuma buat seru-seruan via beritatagar
berita hiburan ini cuma buat seru-seruan via beritatagar

Sebenernya berita hiburan ini cuma buat seru-seruan dan biar asik aja sih, kayak tujuh fakta unik blablabla, tujuh destinasi blablabla, tujuh hal menarik blablabla. Berita ini sesungguhnya agak-agak kurang urgent untuk disaksikan, tapi ya namanya juga hiburan, kadang menarik juga buat nambah wawasan.

 

Berita Politik

Inget gimana berita pemilu yang ga ada abisnya? via bonepos
Inget gimana berita pemilu yang ga ada abisnya? via bonepos

Penulis mau angkat tangan aja kalo masalah berita ini, boleh gak? Berita ini bisa dibilang gak ada matinya! Karena semua orang seolah-olah kekeuh akan pendapatnya dan pasti berada dalam satu pihak. Contoh paling nyata adalah pada saat pemilu presiden, dua kubu saling mempertahankan jagoannya masing-masing dan mencari-cari kesalahan lawan. Jangankan saat pemilu, di keseharian juga banyak berita tentang partai politik saling balas membalas, kasus-kasus korupsi, pencemaran nama baik, kritik terhadap pemerintah, dan lain sebagainya.

 

Berita Prestasi

Berita prestasi via voaindonesia
Berita prestasi via voaindonesia

Biasanya ya, berita prestasi ini muncul dari cabang olahraga. Misalnya, Timnas berhasil di pertandingan awal, kemudian berita ini akan dibesar-besarkan seolah-olah menjadi juara utama. Bukan pesimis apa gimana, tapi kebanyakan dari kita lengah akan euphoria kemenangan padahal baru di awal pertandingan.

Akan tetapi, kita patut berbangga hati karena Indonesia Raya berhasil dikumandangkan pada Olimpiade Rio 2016 tanggal 17 Agustus kemarin berkat peraihan medali emas oleh Tontowi Ahmad & Liliyana Natsir. Selamat!

 

Berita Drama

Berita drama untuk meningkatkan popularitas via antiketombe.clear
Berita drama untuk meningkatkan popularitas via antiketombe.clear

Ya, gak usah dipertanyakan lagi kalo di dunia media massa juga ada yang namanya drama untuk meningkatkan popularitas dan mendongkrak nama media. Gak masalah sih sebenernya, yang bikin kesel adalah berita ini cenderung menarik perhatian masyarakat secara lebih besar dan menutupi berita-berita lainnya yang jauh lebih penting. Pengalihan isu, namanya.

 

Berita Sensasional

Berita sensasional yang gak penting-penting amat via tyhjataivas
Berita sensasional yang gak penting-penting amat via tyhjataivas

Mirip-mirip kayak berita drama di atas, bedanya berita ini jauh lebih gak penting dan membahas kehidupan pribadi tokoh papan atas yang kalo kita bahas sampe mendalam pun sama sekali gak ada faedahnya. Ok-lah ada manfaatnya untuk menghindari hal-hal tersebut, tapi kan banyakan buang waktunya. Iya, udah gitu aja.

Dan setelah kamu membaca artikel anakui.com kali ini, kamu dapat menyimpulkan bahwa artikel ini masuk ke dalam berita yang….?

Good Trafficers

Good Trafficers   We challenge you! Yuk ikutan dan tunjukin kepedulian kamu kepada pejalan kaki 😀 Pejalan kaki di Indonesia memang minoritas, tapi keselamatan pejalan kaki harus menjadi prioritas. visit www.goodtrafficers.com Apasih Good Trafficers?  yuk … Baca Selengkapnya

Jepara Workcamp 2014

  LEPROSY CARE COMMUNITY (LCC) UI Proudly Present: OPEN RECRUITMENT JEPARA WORKCAMP 2014 “Mengabdi untuk peduli, menjadi bermanfaat dengan berbagi.” Apa itu Jepara Workcamp ? Jepara Workcamp adalah salah satu kegiatan sosial dari LCC UI yang … Baca Selengkapnya