Tentang Pemira, Tarbiyah, dan Orang-orang Parokis


0

Beberapa waktu lalu layar televisi kita pernah dijejali oleh tayangan reality show misteri. Beralih kemudian ke reality show percintaan, beralih lagi ke musik. Terus berputar hingga kini kembali (lagi) penonton dijejali oleh tayangan misteri, persis seperti awal-awal genre tersebut muncul. Perhatikan pola dan konten tayangan yang itu-itu saja. Pada intinya kesimpulan yang didapat adalah konten dan pola akan terus berulang. Kemasanlah yang membedakan.

Pemira, sampai kapanpun akan seperti itu: ada kandidat, ada isu, ada kampanye hitam, ada labeling, dan anu-inu. Sangat minim argumentasi. Kemasannya pun sama. Namun, sebenarnya masih lebih baik dari parodi sinetron ala Cinta Fitri: harta dan cinta. Setidaknya, pemira jauh lebih bermakna ketimbang “mainan” hampir 35% rakyat Indonesia itu. Ada nuansa bernegara yang dibawa oleh mahasiswa. Namun, apa jadi jika incumbent berkuasa dibayangi kecemburuan parokial plus bumbu isu lama yang ditaburi ke anak-anak baru? Beberapa belas tahun akan tertarik sebuah hipotesa: Tarbiyah lagi, lagi, dan lagi. Hingga ada candaan pesimistik: botol kecap pun dapat maju.

Labeling, pembunuhan karakter, tunjuk hidung, dan demonisasi terhadap anak-anak Tarbiyah menjadi makanan “khas”, kalau tak disebut “basi”, bagi Pemira. Ya, seputar itu saja. Setiap tahun kaum parokis gemar mengeluarkan isu itu, sehingga esensialisme seperti platform, visi-misi, program, dsb menjadi tak menarik lagi untuk diperdebatkan. Anehnya, sebagian mahasiswa ikut-ikutan nyantol di hal yang sangat tidak bernilai tersebut. Berharap saja ini bukan point of no return Pemira, sehingga menjadi akut.

Esensialisme ke-ketua-an tidak inheren dengan logo kampanye dan historis ideologi (yang sangat basi untuk dibicarakan). Dua hal yang jadi bulan-bulanan bagi parokis tahun ini untuk melakukan labeling, pembunuhan karakter, dan tunjuk hidung. Sangat tidak penting! Seharusnya konsep mikro-negara—dalam hal ini Pemira—menjadi ajang tanding argumen kecerdasan: visi-misi yang dibawa, program yang diusung, dan platform kebijakan setahun ke depan. Kritisisme esensial macam ini yang hilang dalam Pemira kampus—yang katanya kampus dan gerakan mahasiswa terbaik se-Indonesia ini. Apakah 1.9 milyar rakyat China peduli dengan cara pandang komunis-sosialis para elit, sedangkan rasio pertumbuhan ekonomi nyaris mencapai 18%? Asal perut kenyang, hasrat manusiawi terpenuhi, dan kesejahteraan bertambah, peduli apa dengan bendera dan ideologi?

Lebih dramatis, saat banyak Anak-Baru-Gede bicara lebih gede dari umur. Pengetahuan segantang tak lebih dari sesukat membebek berbaris mencaci-maki. “Lagi-lagi Tarbiyah lagi.” Si A-B-G Iqra lima pun tak lulus, shalat saat-saat injuri, tapi kalau bicara caci-maki sangat fasih. Mereka, A-B-G, tak lebih hanya jadi Guinea Pigs (baca: kelinci percobaan) wacana kampanye hitam orang-orang yang kehabisan ide. Memang sisi emosional kadang lebih mudah untuk menarik massa yang, maaf, social economic status (SES) mereka di bawah standar—dalam hal ini kekurangan intelektualitas ala anak-anak baru. Lihat saja siapa penonton sinetron, tayangan misteri, dan program musik di televisi.

Mereka (anak-anak Tarbiyah itu) jauh lebih baik ketimbang parokis yang berkicau. Ini perihal perang ide. Tak ada kekuatan hegemonik yang dapat melestarikan orde. Yang menjadikannya mampu bertahan adalah ide. Dari Rahim itu lahir ideo-logi. Tepat seperti apa yang dipaparkan oleh R.E Elson dalam The Idea of Indonesia. Bahwa kita (Anda dan saya) lahir di sini, berbahasa seperti ini, memiliki budaya seperti ini adalah konstruksi karsa pendahulu. Rumusan tentang identitas primordial. Terlahir: Indonesia sebagai sebuah ide. Itulah sebab, bahwa mereka mampu bertahan adalah akibat ide yang menopang dan mengakar. Mereka jauh lebih mudun dan siap berdemokrasi.

Sistem ide, kader, loyalitas telah tuntas mereka miliki. Agaknya sebab itu mereka tangguh. Bilamana tak ada itu, jadilah kicauan, igauan, dan paksaan yang lahir. Lahir prematur—tanpa ide namun masih sanggup mencerca (melirik parokis). Tong kosong. Lalu mengapa para parokis bertingkah seperti itu? Jawabannya sederhana: minim ide. Mereka hanya iri: tak punya gagasan untuk membangun sistem, tak ada pikiran untuk membentuk kader, tak ada komitmen mendefinisikan loyalitas. Itu saja. Eskapisme dari serba-kurang ini adalah labeling, pembunuhan karakter, tunjuk hidung, dan demonisasi terhadap anak-anak Tarbiyah. Menyalahkan anak-anak Tarbiyah karena mereka, yang iri itu, tidak mengantongi ide yang begitu besar tentang demokrasi.

Kontinuitas sejarah dalam hal ini menantang Montesquieu yang mengatakan sejarah tidak kumulatif dan diskontinyu. Pada kenyataannya, tumbuh-kembang gerakan Tarbiyah bukanlah sebuah plot “kebetulan sejarah” ala Montesquieu. Mereka tidak lahir dari despotisme, pun bukan kreasi big bang. Tetapi, mereka lahir dari kesadaran penuh untuk berdemokrasi. Mereka adalah kumulasi ide yang menjadi rentetan sejarah. Meski sebagai entitas manusia mereka tetap saja memiliki kekurangan, seperti lebih mementingkan kelompok, jauh terlihat eksklusif, terlihat terkait dengan suatu parpol, dsb. Namun, bukan itu yang jadi soal. Yang jauh lebih esensial adalah sejauh mana mahasiswa mampu berargumentasi ketimbang mengeluarkan isu parokial yang sangat tidak penting.

Jadi, hey, parokis! Hentikan parodi itu jika memang ingin berdemokrasi. Tunjukkan bilamana jauh lebih ber-ide, ketimbang mengumbar makanan yang sudah basi.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
BLITZKRIEG

96 Comments

Leave a Reply

  1. waduh, jangan lupakan juga kalo tarbiyah juga yang dgn opportunisnya dan liciknya menunggangi aksi mei 1998..
    kaya ide? setau saya yg pernah bekerja sama dgn mereka di bem ui, mereka sangat miskin ide. ide perubahan yg mrk bawa sangat standar..

  2. bajura: jangan asal ngomong brur, lo nyebut tarbiyah oportunis dan licik, saat itu lo masih SD, ngerti apa lo ttg 1998?

  3. hahha. lo juga kan? yg nulis ini lbh cemen lagi, anak 2007? tau apa dia tentang tarbiyah dr jaman jebot?

    semua orang juga tau kali her, dulu ada kelompok mahasiswa yg aksi menentang soeharto dr awal 1990an, dan ketika klimaks 1998 orng2 tarbiyah (senat mahasiswa) maen muncul aja kayak pahlawan kesiangan..

    bner kata lo, konteks 98 gw msh SD. tp anak2 tarbiyah (yah ga semuanya sih, ada yg pinter, tapi dicap bandel) di bem ui setaun atau 2 taun lalu, itu miskin ide. dan saat itu gw terlibat di dalamnya. ga seperti si penulis bilang…

  4. BEM Seluruh Indonesia isinya aj anak tarbiyah semua yg punya sejarah pengecut mendompleng sayap kiri disaat ’98
    tarbiyah itu makin hari makin pragmatis dan haus kekuasaan
    makin kesini agama diperdagangkan untuk kepentingan dunia,jd anak tarbiyah gak lebih sm kayak penjual kitab jaman dahulu

  5. yura: iya, gw msh SD, tp gw ga ngomong smbarangan ttg 1998. gmn bisa mrk muncul tiba2? gmn bisa yg lama kolaps timpang sm yg baru? yg lama mmg udah uzur, sama aja relevansinya sejarahnya. masalahnya, ga ada yg bisa bilang kl yg baru ngebajak yg lama, salahin yg lama kenapa ga sanggup recover kolaps dirinya. trauma sejarah macam ini yg bikin argumentai stagnan. trus aja nyalahin yg baru, padahal yg lama emg udah ga sanggup mimpin.

    klo lo blg yg di BEM miskin ide, gw sepakat bgt. mana ada gw dukung tuh anak2 yg di BEM, ga menghasilkan perubahan dlm konteks besar, malah mgkn bisa disebut membawa bencana dlm kasus BOP. pasca itu? tambah parah. pasca itu anak tarbiyah? ga. justru non tarbiyah. jadi konteksnya bkn dia tarbiyah atau bukan. tp kapabilitas. waktu zaman erwin gw dukung basori. kr kapabilitas basori sptnya (asumsi) jauh lbh unggul.

    so, bro, yg gw ga setuju adalah lo ngungkit sesuatu yang debatable. kekuasaan itu dipergilirkan, terimalah dg lapang dada siapapun yg mimpin. toh ga ada kambing hitam atau hujatan sewaktu mrk kalah zaman imad-choky kan? ada labeling? hinaan? hujatan? atau dsb yg sekarang difingerpoint ke anak2 tarbiyah? ga ada bro,, kl emg siap demokrasi, ya hrs terima itu sbg sbuah kenyataan sistemik yg dipersiapkan.. bkn given dari langit..

    anonymous: lo ngomong apa sih?

    1. lo ngobrol lah ama anak2 KB. bukti nyata betapa oprtunis dan licikny mereka liat aja jadi apaan pentolan2 senat yg dr ADK jaman dulu. jd fungsionaris partai kan. okelah kita bs berdebat kalo itu cara berjuang mrk. tp kalo pd akhirny kebijakan2 mereka jg sama caurnya buat apa? kalo pergerakan cm diisi ama orng2 pragmatis ya jadi kayak gt tuh akibatny. sedangkan lawan senat dulu (yg udah mulai bergerak dr awal 90an) yg gw tau kbnyakan dr mrk msh bergerak di sektor publik. buktinya coba itung brapa banyak BEM yg skrg manggil alumni yg dr BEM juga utk isu2 publik? seinget gw, sdikit bngt. BEM yg ADK juga pada akhirny manggilin alumni2 tua yg non BEM, krn yg alumni senat pd ga mutu…

      weits, lo mau bela ADK tapi bahas BOPB? bukanny itu produk temen2 lo ya her? produk temen2 lo yg telah berselingkuh dgn ADK2 tua yg skrg duduk di birokrasi kampus? iya kan? hahaha. salah sekali anda membahas hal itu..

      1. ya ampun bre, lo gampang bener justifikasi emosional kyk gitu: “bukti nyata betapa oprtunis dan licikny mereka liat aja jadi apaan pentolan2 senat yg dr ADK jaman dulu. jd fungsionaris partai kan.” gw pikir lo ckp cerdas buat beragumentasi. yah kl gitu mah, smp kapan jg lo akan pk emosi. argumen lo itu cuma trauma persepsi, kesal karena sejarah ga memihak kan? sulit dah kl bgini buat berargumen..

        skrg gw tny deh sm lo, siapa sih org2 yg lo maksud? “kbnyakan dr mrk msh bergerak di sektor publik.” siapa mrk yg lo maksud? gw pengen tau..

        bre, 1. gw ga bela ADK, yg gw tny dasar lo nyerang mrk itu ga argumentatif, emosional kr sejarah memihak mrk, dan lo cm ngsh wacana. lo lihat aja anak2 yg nyerang ADK, isinya sampah bre: ya logo lah, ya IPK lah, ya historis lah. gila ga penting bgt. gw pkr lo ckp cerdas dan berpengalaman dlm hal ini. jgn smp lo kjebak dlm hal yg sama.

        2. apa mxd lo blg mrk tmen2 gw? sori bro, dlm hal BOPB gw ga temenan sm mrk. lo yg salah nyangkut2 itu, justru gw dukung lo kl lo ngungkit bencana BOPB, tp sekali lg inget, ga pk emosional, argumen brur..

        1. argumentasi gw, gw rasa cukup jelas ko her: konsistensi. itu aja. tp walaupun hanya itu saja, gw rasa konsistensi menjawab semuanya (apa konsisten kalo wkt mhsw demo nentang DPR, eh pas lulus dia jd kacungkupretnya DPR?) 🙂

          mau pake argumen apa? hukum?
          tanya aja senior2 KB, senat yg diisi ADK itu ga mau di ajakin turun aksi reformasi. dalam sebuah diskusi beberapa tahun lalu, mantan ka DPM yg juga ADK juga mengakui ko. trus bag mananya dr statement gw yg emosional? itu udh cover both sides

          kalo mau bedah 1-1 pjg lah her. gw secara jujur mengakui ko memblackcampaign si farid taun lalu, tp bukan krn dia ADK, tp emg ga kompeten dan ga berintegritas (kudu gw paparin juga data trkait ini?). dan gw memblackcampaignnya juga lbh ke arah substansi. sepakat ama lo, gw jg menyayangkan. ga ADK, ga non ADK, taun ini semuanya sama2 bodoh. cm nyerang hal2 yg ga substanstif. kayak temen lo anak MIPA itu, masa otakny cm bs nyampe pd serangan design yg sama dgn taun lalu. itu juga sampah mnrt gw…

          yah, kalo mslh BOPB, lo jg mengakui kan? itu salah satu dosa temen2 ADK thdp UI. iya kan? 🙂

        2. anu bang, misi, numpang ngasih komentar.
          (ebuset, saya paling muda ya disini?)

          kalo menurut saya sih, ngga perlu jadi seorang “penyerang ADK” untuk mempertanyakan logo dan IPKnya maman ijonk. Kalo masalah IP, maman jelas2 salah kok, karena ngga segera mengganti nilai real IPKny, padahal sudah tau (bahkan sampe saat ini :hammer: ~)
          menurut saya, inikan salah satu contoh integritas seorang pemimpin bang, meskipun abang bilangnya kecil atau sampah..
          kasarnya, gimana mau koordinasi pas jadi ketua BEM kalo sekarang koordinasi sama tim suksesnya aja ngga bener..

          tapi lebih penting dari itu, yang saya heran kok untuk setiap kritikan ke maman-ijonk langsung dibilang sebagai penyerangan kepada ADK sih? :hammer:
          ADK tu kok ya gampang banget merasa terzalimi –;

    2. siapa bilabng bang?gw pernah ikut salah satu dauroh dan saat itu bang bachtiar orang PPSDMS menjelek2an BEM nya imad secara eksplisit..

      mereka(imad-choky) mungkin ga di labelin apapun, wajar, karena emang mereka ga di dompleng kepentingan pihak manapun..tp dengan merasa klo cuma orang islam yang ada di salam aja yang paling bener menurut gw itu yang ngaco..

      apalagi nih bang bachtiar udah bukan orang UI, jelas dia punya kepentingan disini kan?klo ga ada kepentingan siapa dia bisa2nya komen kaya gitu..

        1. klw memang valid,, berani ngadain pertemuan resmi di ppsdms?? sebutkan identitas asli dan tunjukkan bukti2nya .. klw ga da barang bukti, hanya berdasarkan katanya “kesaksian diri” cukup tau aja.. bahwa lo cuma pendusta..

        2. ni siapa nih ngaku2 dody?ga punya nama ato cuma banci kaleng yg takut namanya kesebar?

          ni yg ngaku dody, kl lo anak hukum..ketemuan lah sm gue sini.

        3. gw kenal yang punya nama dody d fh siapa aja, kalo dia cowo ya ngaku knp kek gitu,,cuma ngebacot doank ketemu ga mau, payah

  6. like this untuk tulisannya…
    selalu dan selalu…
    orang membangun isu gak penting untuk menjatuhkan pihak yang gak disukai…

    “asal bukan tarbiyah apapun gw lakukan…”
    seseorang ketika dibutakan dengan kebencian, maka dia gak akan bisa membedakan yang hak dan bathil..
    kebaikan pun akan tampak sebagai suatu keburukan,
    kesalahan dianggap kebenaran…

    jika anda (kaum parokis dan pembenci tarbiyah lainnya) adalah manusia cerdas & beradab, coba lah untuk mengimbangi kebencian anda dgn melihat sisi lain dari objek yang anda benci…kecuali memang anda membiarkan hati anda membusuk oleh kebencian…
    kebencian tidak akan memberikan kebahagiaan sdkt pun…
    org2 yang dihatinya dipenuhi prasangka dan kebencian (bisa di cek), maka riwayat kesehatannya pasti buruk…

    @ bang heri: Setuju Bang…! Sip Bang..!

    1. kalo emg anda objektif, anda juga harus mengakui bahwa tulisan ini 100% subyektif, ga ada objektif2nya sama sekali. kalo emg objektif, sharusnya tulisan ini juga mengungkapkan kejelekan2 ADK. comment2 yg sinis ttg ADK, yg anda sebut sbg “dibutakan dgn kebencian” justru membuat tulisan ini jd objektif bukan?

  7. benar kata si anonim, lama-lama agama dijadikan objek untuk mencapai tujuan.. cuma penarik massa saja.. lihat aja dari atasnya, udah ga berasas islam lagi demi mendapat banyak suara..

    sedihnya..

    1. ngerti apa lu tong,, emangnya lo dah bener?? jangan2 iqra 5 aja belom lulus.. jangan suka jadi parokis yee..

      1. jangan anda merasa bangga atas ilmu anda
        dan jangan merendahkan orang lain krn anda lebih pintar

        istighfar akhi

  8. Dasar parokis sampah,, dah lulus masih aja ikut2-an politik kampus,,nganggur ape lu

    lu ngak punya kader apa buat hujat2 ampe lu yang dah lulus ikut2-an

    sampah lu

      1. kong kalw gak mau ajal di adzab.. jangan suka ga jelas!! bersihin tu ati.. jangan bikin malu tu nama bokap.. yang terkenal sopan..

      2. Maaf bang afgan

        ane ngak bermaksud ke abang,,ini buat yang pake ID anti-ms en jelek2in

        ane tahu abang negatif komennya,,tapi komen ane diatas bukan buat abang

  9. Yura: hati2 lo, ntar kl udah masuk DPR omongan lo beda lagi, haha.. ga tau jg kan lo nanti masuk partai mana, okelah lo ngomong idealisme kyk gitu skrg, tp nanti siapa tau? ya itu cthnya, yg lo sebut kacungkupret, haha.. anas, budiman, akbar, dulu jg kyk gitu, tp stlh msk dpr, beda dah.. haha..

    semua: wuih, ada kambing tuh.. embee embee di sini.. kan kambing cm bisa embee.. haha..

    1. waduh, sori. ga ada intensi gw masuk ke DPR kayak lo 🙂

      BOPB ga dbahas lg yah? jd mnrt gw clear bahwa BOPB itu bikinan ADK..

  10. Hm….saudaraku, maaf hanya ingin menanyakan hal-hal dasar yang saya ingin tahu dari semua komentator di sini.
    sebetulnya saya tak ingin berbicara apapun ttg komentar2 saudara-saudara yang menurut saya cukup emosional thd “permasalahan” yang belum jelas. Secara, anak UI yang cerdas, yang telah belajar bagaimana menyimpulkan masalah untuk penelitiannya (terutama yang udah melewati semester 5).. hehe,
    Harusnya melihat sisi-sisi objektif untuk menarik permasalahan yang ada, bukan subjektifitas yang tak jelas mau membahas ke arah mana.
    Saya, cukup kecewa dgn saudara-saudara yang bangga mengenakan jaket kuning UI, tapi berbicara seolah tak pernah mengecap pendidikan, yakni berbicara tanpa analisa, data, dan berpikir.
    Pertama, definisi tarbiyah apaan sih brotha? trus, masalahnya apa dgn tarbiyah? Saat ini, saya membaca komentar2 ini untuk mencari sebuah pemahaman, dan mencari pemelajaran melalui proses pembelajaran. itu yang dinamakan tarbiyah. Bukan hanya definisi sempit yang dilabel ttg “anak tarbiyah”. Keluar dari kotak korek api, definisi yang jelas adalah penting sebelum teman2 membahas dan menarik kesimpulan.
    Take it easy,
    Kedua, ketika sebuah aksi konkret demi perubahan positif di negara ini yang dibutuhkan, kenapa malah evaluator-evaluator fasih yang muncul? Kapabilitas thdp kepemimpinan dan kinerja konkret demi negara

  11. haduuh, komentar saya ditanggapi secara kekanakan. saya bukan parokis, tapi saya sedih, islam mengajarkan keindahan dalam akhlaq, tapi orang yg bales komen saya tampaknya tidak memaknai ini.. sedihnya..

    1. tau tu bang. anak-anak ADK bikin nama tarbiyah jadi ancur aja.
      kalo dikritisi, bilangnya “sabar atas kezaliman ini, inallaha ma’anna” dan sejenisnya.

      capek saya bang, mereka maennya di zona abu-abu sih.. bawa-bawa islam dan dakwah, tapi kelakuannya kaya’ gitu :hammer:

      kalo kritiknya lebih banyak, mereka bilang “lu gak konkret, bisanya komentar doank, mending lu maju sono”

      mendingan lu kaga usah bawa2 nama islam dan dakwah deh.. bikin gerah. grrrr

        1. ga mungkin kamu ikutan sesuatu yg kamu ga tau apa itu masalahnya.. berhentilah berlagak pilon..

      1. @bosen pemira : ini negara demokrasi bung.. klw mu bawa ideology apapun ga masalah aslkan sesuai tetap sesuai prosedur.. tandanya lo belum bisa untuk jadi negrawan kalw masih berkomentar cetek seperti itu

  12. terserah deh gw dah eneg sama hujat2an kayak ginian.
    Yang pasti di mata gw yang suka labeling, demonisasi, dll itu ga lebih dari sekedar pecundang yang ga bisa menerima kenyataan bahwa dia udah kalah.

    Kalah saat ini ga maesti kalah selamanya Bang. Jangan frustasi dong 😆

  13. Jujur aja mengenai tarbiyah ini belum masuk akal menurut gua. jadi gua pengen nanya ke kalian semua yang sudah expert tentang tarbiyah

    1. Apakah tarbiyah ada?
    2. Apa itu tarbiyah?
    3. Siapa pemimpinnya?
    4. Apa tujuannya?
    5. Bagaimana sejarah pendiriannya?
    6. Siapakah anggotanya?

    Tolong dijelaskan, atau dibuat tulisan untuk menjawab pertanyaan saya ini. Karena menurut saya dari apa yang kalian ributkan disini nggak masuk akal, apalagi tidak ada bukti-bukti yang benar-benar nyata dan ada. Kalau memang tarbiyah ada kenapa tidak dipertanyakan langsung kepada calon kandidat yang konon katanya berasal dari tarbiyah pada saat debat kandidat dan kampanye?

    Coba tolong dijawab ya, saya masih maba soalnya nggak ngerti apa-apa tentang beginian. Masih angkatan 2009 gue. dan tolong kalau berkomentar yang baik. Malu kalau ada pengunjung yang bukan dari UI melihat kita bertengkar dengan perdebatan seperti ini.

    Please be respect to the others. jangan berkomentar dengan sembarang id ya 🙂

  14. lama2 bingung,, antara pengen ngakak,, ketawa agak sinis,, tegang,, dapet info baru dll…
    oke, stop nge-junk nya…

    klo kaya gini,, kenapa pada debatnya di maya doang ??
    atau paling banter,, di daerah tongkrongan doang…
    yang ada juga,, paling nanya2 atau nunjuk2 pas lagi debat calon…
    *parokis*

    kenapa pada ga bikin forum mahasiswa aja noh,, terbuka buat umum…
    calon ga usah dateng…
    yang mau adu argumen,, noh lgsg tarik2an urat leher…
    komen disini,, yang baca juga seberapa…
    yang mau komen juga seberapa…
    sekalian aja klo mau adu argumen,, jgn setengah2… ntar ujung2nya malah maen belakang…
    *apa dah

    untung (tarbiyah dan non-tarbiyah) udah pada berani dan mau maju..
    yang komen2 di atas juga pada belom tentu berani maju kan klo pada ngerasa dirinya bener dan mampu megang tuh tampu kepemimpinan…

  15. yura: senjatanya cuman itu aja tonk?
    afgan: ciri2 orang yang sakit hati gara2 di pecat neh katanya… denger2 gara2 VMJ.. 😀 bner gak tuh?
    herry: sabar ya..

    yang nulis artikel: sama aja neh, tidak bisa menurunkan artikel yang bisa menenangkan..

    tentang IPK maman: liat tuh pak Dekan FT sudah klarifikasi.. sampe dekan turun tangan…

    all: ingat rifa dan patrya yang notabennya mendukung imad-choky yang kini juga mendukung sakti-sri telah mengakui kalo mereka melakukan spin campain.. cara hina agar menang saja… cara2 partai politik tuh, jadi merekalah yang membawa aroma partai politik ke pemira ini…

    untuk tambahan… indra JP.. juga tarbiyah kok.. tapi sekarang dia golkar… 😀

    1. Ey ey, ada nama saya disebut.

      Kapan saya mengakui?
      Bahkan saya baru tau toh ada istilah spin campaign waktu Patrya comment di wall saya.

      Ingat ya, tahun lalu Imad-Choky menang, bukan karena spin campaign atau apalah namanya, tapi saya rasa sebagian besar karena media kami yang ‘revolusioner’ dan atraktif, serta ‘ngena’, yang berbeda dari pemilihan ketua BEM tahun2 sebelumnya.

      (lagian taun lalu emang berita negatif apa aja yang muncul ttg masing2 kandidat? saya juga ga tau..)

      Bukannya sombong, coba lihat Pemira BEM UI maupun fakultas tahun ini?
      Ada atau banyak ga yang kira2 kampanye medianya stylenya terinspirasi media Imad Choky taun lalu?

      Jadi, kami rasa tim Imad Choky justru sebenarnya telah menaikan ‘standar’ Pemira di UI…

      1. naek dri bokong.. bikin rusak iya.. maen kotor aja bisanya team lo thun lalu.. media buatan lo bagus??? halah breey.. norak kali..

        1. tp sekarang mendingan lah dari facebook dan twitter jd your singapore..naik dikit lah ratingnya..

        2. Haha, norak?
          terus ada yang tau kenapa ada beberapa pasangan kandidat pemira di jur/fak/ui yang media stylenya terinspirasi dari Imad Choky?

          Termasuk medianya Maman Ijonk tuh,

          pantes beberapa bulan sebelum Pemira, si designernya Maman Ijonk, Ara, mengadd saya di facebook.
          Ga taunya salah satunya karena melihat Poster2 bikinan saya toh. Tapi gapapa, saya seneng kok 🙂

        3. aih aih aih, masih ga mau akui yah..

          ayo ayo coba lihat ini:

          http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs993.snc4/76678_1711287348851_1438157444_1808528_1775234_n.jpg

          bandingkan dengan ini:

          http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs090.snc3/15734_1277629379388_1189592541_30852463_333872_n.jpg

          Kalau Anda ngerti desain, pasti lihat sekilas juga nangkep dong apa maksud saya. Kalo ga ngerti, ayo coba perhatiin deh baik2. ga pake emosi ya perhatiinnya, coba buang dulu subjektivitasnya, hijrah jadi orang yang objektif..
          Perhatikan urutan atas sampe bawah. Perhatikan atas gambar utama, bawahnya pesan teks, bawahnya lagi ‘kop’ yang ada foto kandidatnya dipojok kiri…
          ayo perhatikan. perhatikan ayo..

          makanya kalo ngomong dipikirin dulu ya,
          bacot sama otak jangan kencengan bacot..
          😀

        4. ya makanya, gue pengen belajar lebih objektif..
          kayak pemira kemaren deh misalnya, walau gue ikut ‘nonton’ dan dukung Sakti Sri, bukan berarti gue membela setengah mati mereka dan menganggap segala yang dilakukan oleh tim mereka semuanya baik. Kalo ad yg ga baik ya ga perlu dibela2 sampe segitunya..
          gue juga tetep bilang ke timnya, kalo ini kok kerjanya lelet ya.
          🙂

          btw, meskipun pembimbing saya Pak Firmanzah, tapi saya kan bukan anak FE..
          😀

  16. setuju banget sama @novicha, bikin forum bebas. Selain ajang dari adu argumen, tu forum juga bisa berfungsi sebagai pencerdasan. Jadi topik yang dibahas ga muter2 gara2 dari dasar pendefinisian nya aj ga sama. Soalnya gw sendiri juga ngerasa kalo arah diskusi ini ga jelas.

    Ah, kalo dari opini gw, kayanya arti JAS MERAH itu sebenernya bukan cuma “jangan sekali2 melupakan sejarah” deh, tapi juga “jangan sekali2 MENYALAHKAN sejarah” 😀

    1. “jangan sekali2 MENYALAHKAN sejarah” 😀
      mantab, itu yg sy maksud dg bantahan thdp komen saudara bajura FH 2005..

      1. buset. si herriy ini bener2 orba banget ya? percaya sejarah gt aja? pdhal sejarah kita dibuat ama penguasa2 tiran (orba). ckckckck. mungkin bener kali ya kata seorang wartawan media nasional yg brhasil menginvestigasi orang2 tarbiyah (dalam arti sempit = P*S dan ADK) sbg bentukan orde baru. bosnya aja intel orba, makanya nurun ampe orng2 kayak herriy ini…

        1. haha, gw ga habis pikir dan terus tertawa sm jwbn anak FAKULTAS HUKUM UI 2005 ini,, lo kuliah dmn sih? ya ampun..

        2. hhha,, yura2.. masih trauma aja ama sejarah.. bilang ini bentukan orba segala.. ada bukti apa loe?? anak sd emang ga ngerti apa2.. nah otak loe sama kayak anak sd.. bisanya ngeluarin statement2 tendensius yg berdasarkan asumsi mulu.. mana buktinya boi??????

        3. ketauan kualitas si bajura.. ternyata cuma segitu aja toh kemampuan anak2 kiri.. bisanya ngeluh aja .. harusnya begini n begini.. ngomentarin gerakan orang lain jago banged.. tapi maintain gerakannya sendiri ga bisa.. maka wajar breey.. gerakan kiri yg lo agung2kan ancur..

        4. sori nih ka yura.. Setau gw kan arti menjadi mhasiswa itu salah satunya bertindak berdasarkan kebenaran ilmiah..
          Kalo bisa tolong jangan mengeluarkan pendapat yang subjektif dan tuduhan yang tidak reliable.
          Percuma berdebat bila hanya menggunakan emosi. Lebih baik tenangkan diri dulu dalam diam, toh tidak ada salahnya kan? Gw kira itu lebih terhormat dan mencerminkan civitas akademika.

        5. kalo menurut gw jur..gerakan tarbiyah emang semakin besar dan dapat ruang bebas ketika jaman orba pas nkk bkk menutup pintu kampus bwt organ ekstra, pas 98, nih gerakan yang udh makin massif kaga mau kalah rebutan kekuasaan juga..jadilah mereka bentuk P*S..ini kata murobbi gw..

          tp yg jadi masalah bwt gw, ini anak2 ADK sekarang udh mulai ga tw diri, bawa2 partai itu masuk kampus, gw punya buktinya kok temen gw ada yang merasa ketipu pas lg FGD bareng2 ADK yang lain, mereka bilang kita ini kader P*S..ini kondisinya di kampus pake fasilitas kampus..cat sh*t (baca :ta* kucing)

          nah ini yang menurut gw bahaya ketika dunia perkampusan telah disusupi oleh kepartaian..kita sekarang kan gtw apakah calon sekarang begitu ato ngga, karena kata temen gw waktu di FH debat calon, pas ditanya siapa nama penyandang dana terbesar dan berapa besarannya si calon no 2 ga berani jawab..tp calon no 1 jawab dengan santainya..

          gw skrg juga ngaji kok..padahal kita ngaji ga pernah dikampus, tp dirumah si murobbi tapi tuh murobbi ga pernah tuh ngomongin masalah partai..dan murobbi gw itu udh bukan mahasiswa loh..in masih mahasiswa aja udh masuk2in partai ke kampus..

          sekarang orang2 kaya gw aja mungkin dianggap kafir sama temen2 ADK yg tergabung di SALAM UI..hah taulah..tp standing point gw sih ga ada yng salah dengan tarbiyah atapun kegiatan halaqoh atau liqo..yang bermasalah cuma ADK SALAM UI aja yg udah pada mulai disorientasi..

          maaf disini gw ga mungkin sebutin ID asli gw, gw khawatir sama org2 disekitar gw, krn gw aja kmrn dpt jarkoman bwt ngepung pgw..bukan ga mungkin klo gw sebutin ID asli gw, tmn2 gw ato bahkan murobbi gw dikepung rumahnya..

        6. lagi2.. ga berani nyantumin identitas asli.. dan cuma berdasarkan katanya.. wkwkw.. tonk, ada bukti ilmiahnya?? jangan cuma bisa nyebarin berita ga jelas aslnya dong..

        7. ngepung pusgiwa?? iya gw denger sih berita itu.. tapi yang gua tau sih katanya anak HMI yang ngepung pusgiwa.. dateng jam 1 malem trus ngebentak2 panitia pemira.. mana yg bener ya??

        8. sangadji, ini yang namanya in depth investigation..
          dan adalah hak sumber informan gw untuk di sembunyikan identitasnya, begitu pula dengan identitas gw..

          sekarang kan gampang, klo mw percaya syukur, ngga juga gapapa..toh gw cuma bicara yang sebenernya kok..

  17. @teknik 2009
    hahaha… dasar,, contoh manusia2 yang ga bisa mempertanggungjawabkan kata2nya… klo loe berani komen disini,, dan mental lu cukup tebel buat mempertanggungjawabkan kata2 lu,, ngapain harus takut nyantumin id lu?? ada gitu yang mau ngepung lu?? ckckck
    lagian,, pas lu komen,, di kotak bawah pasti lu juga bisa baca kan,
    “# Kami menghargai sikap mahasiswa yang dewasa dan bertanggung jawab, dengan mencantumkan identitas asli (nama, email, dan asal fakultas) kamu.
    # Komentar yang tidak mencantumkan identitas aslinya akan diabaikan.”
    –(gw copas dari kotak di bawah, ntar di kira gw plagiat lagi)–

    jadi, menurut gw,, komentar lu yang sepanjang gaban cukup bisa di abaikan…

    anak ui kok cemen amat dah…

  18. aduh dari masalah politik sampe kafir-mengkafirkan..
    gara-gara politik, mereka berbohong
    gara-gara politik, kita terpecah

    padahal masih satu darah, satu kepercayaan

  19. hmmm, makin panjang dan seru. tp lihat deh komen2 yg pro tulisan dan kontra tulisan. ada yg tau bedanya? tepat sekali! bahwa kawan2 yg pro tulisan commentnya ga ada isinya. sedangkan yg kontra kayak rifa, atau teknik 2009 serta gw ada datany. bahkan rifa langsung ngasi link utk validasi. jd yg ga pake data siapa yah?

    tarbiyah bikinan orde baru itu hasil investigasi seorang wartawan. wartawan yg berasal dr media yg bukan sembarangan. dia membuatnya bdsrkan korespondensi,artikel2 in-depth & obrolan dgn bbrp kader partai. tentunya identitas mereka drahasiakan. cek aja dedengkot tarbiyah yg skrg berkuasa itu. cek lah siapa dia sebenernya. siapa bapaknya. cek jg kaitan dia dgn NII..

    tp kan kalian (ADK) pasti langsung ngeles: fitnah atau ngelesan yg jd senjata pamungkas kalian: kita ini pendakwah berjuang di jalan ALLAH. sudah konsekuensi orng yg berjuang di jalan ALLAH menegakan kalimat ALLAH itu akan banyak fitnah. tetap istiqomah.
    *iya kan? hehe

        1. lo emg brisik oon, anak2 tarbiyah emg kampret, gw tahu smp jeroan mrk, tp org kyk lo ini brisik bgt. gw tahu ltr blkg lo. jd lo mending diem aja. biarin anak2 kampret itu ngomong..

        2. bisa aja tu lo yang buat jur.. 🙂 santai ja bro.. gimana tugas dri PDI?? lancarlah yaa buat kacau pemira.. gw setuju dengan kata2 lo, “tp kan kalian (ADK) pasti langsung ngeles: fitnah atau ngelesan yg jd senjata pamungkas kalian: kita ini pendakwah berjuang di jalan ALLAH. sudah konsekuensi orng yg berjuang di jalan ALLAH menegakan kalimat ALLAH itu akan banyak fitnah. tetap istiqomah”. gw sepakat, kan lo yang menjadi biang fitnahnya.. 🙂 seperti yang lo akui di atas, kalw lo memblackcampaign itu anak2 tarbiyah tahun lalu.. ga menutup kemungkinan kalw tahun ni pun sama.. lo coba kait2in dengan NII lah.. hadeh basi banged boss..

        3. YURA? PDI? BHUAHHAHAAHA…. GAK SALAH LO? NGOMONG KAYA KENTUT, ASAL BUNYI AJE..FALS LAGI..ANDI F FT BEGO…

  20. bwahahahhaha. PDI?? mana datany? bahkan gw dlm komen2 gw ga pernah nyebut PKS. ini tau2 muncul dgn nyebut2 PDI..

    tahun lalu gw memblackcampaign krn calonnya ga becus. itu aja. dan blackcampaignnya juga lbh ke visi misi farid tino. taun ini mah gw ga ikut2an. krn maman jauh lbh mending drpd calon taun lalu. buktinya cb tlg tunjukin ke gw komen gw yg nyebut pemira, atau maman ijonk atau sejenisny? ga ada kan? perbincangan gw jg lbh ke sejarah. dan pengalaman gw di BEM UI..

    oiya blackcampaign beda bos ama fitnah 🙂

    ya dicek aja dulu. dibaca. kalo udah dibaca argumen lg. kalo cm ngomong ini fitnah, itu fitnah mah gampang…

    ayo dong. masa ga ada komen yg lbh ilmiah. pake data. mana nih anak tarbiyah? masa udah di sesko segitunya komenny cm begitu doang? dksh tugas, dbentak2 di sesko masa komenny cm bs ngata2in? ayolah adu argumen yg oke.

      1. katany lo tau jeroan ADK, ya kasih tau kita lah. jgn cm kampret2 doang..

        lo blng anak adk kampret, dksh tau juga dong kampretnya dimana…

        jd gw lg ngobrol ama orang apa ama kampret ni? hehe

  21. Blitzkrig wrote:
    Apakah 1.9 milyar rakyat China peduli dengan cara pandang komunis-sosialis para elit, sedangkan rasio pertumbuhan ekonomi nyaris mencapai 18%? Asal perut kenyang, hasrat manusiawi terpenuhi, dan kesejahteraan bertambah, peduli apa dengan bendera dan ideologi?

    Poin yang bagus nih. Anak-anak tarbiyah menganalogikan kekuasaan BEM UI kelak dengan China. Ngga peduli dengan ideologi, begitu kan maksudnya?
    Ya jadi tolonglah dimaklumi keberadaan orang-orang parokis itu, soalnya kalian sendiri menganalogikan dengan China kan. Banyak negara yang tidak menyukai China karena ideologi dan kebijakannya kan? :] (ambil contoh isu HAM atau kebijakan mata uang di China lah..).
    Anggap saja kalian itu China, dan mereka itu “banyak negara lainnya”.
    Mungkin mereka menjadi parokis karena khawatir dan risih dengan ideologi kalian yang hanya menguntungkan sebagian orang?
    Jadi ya mohon maaf, ini bukan makanan basi kok. Setidaknya, dunia masih melakukannya, eh, atau dunia juga mengumbar makanan basi, eh, ya gitu deh :]

    Anak-anak tarbiyah tuh, eh tunggu, kok tarbiyah sih?
    Harusnya kan ADK UI :]

    Buktinya, ketika Imad menang, dikatakan rezim tarbiyah jatuh, padahal Imad kan santri PPSDMS dan pelaku tarbiyah juga..
    Jadi mari kita luruskan..
    Judulnya seharusnya “Tentang Pemira, ADK UI, dan Orang-orang Parokis”

    oiya, saya bukan parokis terhadap tarbiyah, wong saya salah seorang pelaku tarbiyah kok, tapi non ADK UI. Jadi tolong jangan perlakukan saya seperti abang Bajura ataupun abang herriy. Saya dari “golongan lain” :p

    Tarbiyah sudah pasti belum tentu ADK UI dan
    ADK UI mungkin termasuk tarbiyah.
    ADK UI dibawahi komando komandan Satriyo Wahyu
    dan untuk urusan politik diurusi oleh boss Indra Ramadhona.

    sifatnya emang rahasia-rahasiaan, jadinya susah untuk menunjukkan bukti. Yang pasti saksi hidupnya banyak. Saya bilang begini juga bakalan dibilang dusta sama mereka. Daripada begitu, mendingan buktikan kalo informasi saya salah.. :p

    Semoga sih bisa menjawab orang-orang yang bingung tentang “ini kita lagi ngomongin siapa sih?” :shakehand

    Untuk bukti nyatanya, kalo punya kesempatan, nanti saya coba pasang kamera tersembunyi waktu mereka pada syuro amniyah (rapat rahasia) deh.. :hammer:
    hahaha, bercanda. ngapain repot-repot :p mau percaya atau ngga, saya ngga terlalu peduli..

    ok, back to topic :ngacir:

    melihat dinamika perpolitikan ADK UI membuat saya teringat dengan tindakan yahudi..
    Orang-orang yang mengkritisi Israel akan dikatakan sebagai seorang anti-semit,
    mirip dengan ADK UI sekarang ini,
    setiap orang yang mengkritisi, langsung dilabeli dengan “anti-tarbiyah”, “black-campaign”, “ngga cerdas”, dan apa itu?”parokis”?
    setiap kritisi direndah2kan, ditangkis dengan “sabar atas penzaliman”, “beginilah dakwah”, dan bla bla bla lainnya.. rrrrrrrrrrr

    ambil satu contoh kecil deh, masalah IP.
    masalah yang dianggap remeh oleh sebagian orang. 😀
    sudah jelas bahwa ini adalah kesalahan SIAK NG,
    tapi yang saya sesalkan adalah kenapa maman tak kunjung mengupdate nilai IPnya di berbagai media?
    terserah sekalipun dekan FT memberikan konfirmasi, tetap saja ngga mengubah fakta bahwa maman tidak mengubah nilai IPnya! inisiatifnya manaaa buuuungggggg :hammer:
    udah gitu didukung pula dengan segenap ADK UI yang berkata “kebenaran pasti menang”, “innallaha ma’ana”. grrrrrr

    mending ngga usah bawa-bawa nama tarbiyah dan islam deh!

    setidaknya sebarkan publikasi konfirmasi sebanyak publikasi yang terlanjur dibuat. jika tidak dibuat konfirmasi, publik akan mengenal maman sebagai seorang berIP 3.03. Itu pembohongan publik namanya!
    atau kalau itu dianggap mengada-ada, lihat https://www.anakui.com/2010/11/21/jangan-terjebak-pada-bungkus-awas-kopong-profil-kandidat-ketua-bem-ui-no-2/ deh.. IPnya masih 3.03. :hammer: belum diubah. :hammer:

    dan yang ngangkat isu itu? langsung dilabeli “black campaign” dan lalala lainnya..

    sekali lagi, ADK UI kok ya gampang banget merasa dizalimi..

    :shakehand: :capek:

      1. UDAH MENANG!! KALI INI PARA PAROKIS, ANAK2 KIRI yg cuma bisa ngomong KACUNG KUPRET, HMI yg ngomongnya berbekal Al-Quran dan Sunnah *tpi kelakuannya ga kayak marsnya, ngerokok n ga menutup aurat dengan benar, Orang narsis yg suka merembet kemana2 omongan soal design.. AKUILAH KEKALAHAN KALIAN !! ITU TANDANYA KALIAN BERSIKAP SEBAGAI NEGARAWAN KWL BERANI MENGAKUI KEKALAHAN KALIAN..

        1. -.-

          :nohope:

          yang kaya gini nih, malah balik nyerang. nyerangnya membabi buta lagi. Soalnya udah sadar sama salahnya, dan tinggi hati, makanya nyari2 kesalahan orang lain.

          makanya, buat apa bawa-bawa tarbiyah dan islam sih? BIKIN JELEK NAMA TARBIYAH AJA TAU!

          APA? NGAKU KALAH?
          NGERTI ARAH PEMBICARAAN SAYA NGGA SIH?
          di titik ini siapa yang menang bukan inti dari komentar saya. intinya adalah (saya copy paste lagi deh):
          “sekali lagi, ADK UI kok ya gampang banget merasa dizalimi..”
          padahal salah, masih arogan,
          pake bawa bawa tarbiyah lagi.

          Perlu lo semua tahu ya, SAYA INI SIMPATISANNYA MAMAN IJONK! Terserah mau percaya atau ngga, Allah lebih tahu kemana simpati ini saya jatuhkan.

          Inti masalahnya ya ADK INTERNAL ini!
          Kalian tuh berkuasa! Nyadar ngga sih dengan arogansi kalian?
          Apa kutub-kutub parokis itu selalu ada karena tantangan dakwah? Tidak juga! Ada juga karena ketidakpuasan dengan kinerja kalian, kegelisahan dengan arogansi kalian dan lainnya!

          Inget, kalian tuh menguasai UI sekarang ini!
          Introspeksi kek! Jangan bisanya sikut sana sikut sini. ~bahkan sampe tulisan ini muncul toh~

          WOY ADK INTERNAL, bisa ngga sih kalian NGGA USAH BAWA-BAWA NAMA TARBIYAH?

          :istighfar bareng:

          saya mungkin bukan siapa siapa, tapi apa kalian sebegitu yakinnya bahwa kalian sangat bermakna?

          ~komentar terakhir disini, capek ngomongin politik “tarbiyah” ala adk ui.

  22. Buat mas herriy cahyadi yg bilang isu IPK sampah, gw disni bisa buktiin secara konkrit masalah kebohongan IPK maman berdasarkan data dan fakta yg sekarag pun udh ada di KP pemira tapi ga brani ngambil tindakan..

  23. yah jadi urusannya berabeh gini..gak usah diambil pusing…..
    kritisi memang penting tapi kritisi yah dengan cara baik-baik..kalo masalahnya udah diklarifikasi..ya udah kelar..ga usah dibahas panjang lebar lagi…kalo ttg IP dah kelar ya udah ga usah diperpanjang lagi..kayak kagak ada kerjaan aja…
    masalah bangsa ini sudah terlalu banyak..jangan terlalu lama ngebhas yg bersifat tidak urgent..
    kita kan sama2 orang Indonesia, meski berbeda jda jangan tonjolkan perbedaan..tapi tonjolkan persamaan..Jangan mau dipecah belah napa..
    Memang anak tarbiyah atau ADK bukanlah malaikat yg tdk pernah salah..mereka hanya manusia bys yg kadang salah..
    Sayapun yang bukan tarbiyah atw ADK sekalipun pasti sering melakukan kesalahan…Wajar
    dan saya menganggap mereka saudara saya juga..saudara sebangsa…
    Kalo mereka salah, yah bilangin dgn cara baik..langsung ngomong ke mereka.Tidak usah dibahas mpe luas gini.Memang kalau ayah kita terkena diabetes, dokter harus mengumumin ke orang2?Lah itu kan termasuk aib.
    Walaupun saya kritik mereka saya introspeksi diri juga..ada yang salah juga gak pada diri saya.kalo ada, apakah saya mau kalau orang lain jg pada tahu?

  24. WOI PAROKIS MATI AJA LU

    HAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAAHHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA

  25. Maaf bung yg bermasalah bukan IP, tpi IPK..
    Justru disitu masalahnya IPK-nya belum beres, lo ga tau kan dosennya maman bilang apa tentang IPK dia yg berubah, kapan berubahnya? Makanya klo ga paham substansi masalah jangan ngomong sembarangan deh…

    1. lo yang ga tau maslahnya.. diem aja lo.. klw mu protes bilang tuh ke dosen FT.. n dekannya sekalian.. kalah ngaku aja , ga usah nyampah..

  26. Pemira telah selesai, sekarang saatnya membangun suasana kemahasiswaan di UI lebih dinamis.
    Ingat, mahasiswa UI harus bersikap dewasa, siapapun yang menang, itulah hasil yang harus kita terima.
    kalo ada yang keberatan, silahkan diproses melalui jalur resmi.
    jangan sampai pemira yang hanya beberapa minggu menjadi biang perpecahan dari persatuan kita (mahasiswa UI) yang telah terjalin sejak lama