Tips: Menelusur Informasi di Perpustakaan Kita


0

Ada yang mengatakan, perpustakaan merupakan jantung pendidikan di perguruan tinggi. Anggapan ini benar juga, karena selama kita menempuh perkuliahan, bisa dipastikan untuk menunjang keperluan belajar kita akan selalu berhubungan dengan yang namanya perpustakaan.

Sayangnya, terkadang informasi yang kita ingin cari di perpustakaan tidak selalu didapatkan dengan mudah. Akibatnya, ujung-ujungnya kita jadi kembali mengandalkan Mbah Google yang memuat informasi yang tidak selalu akurat, spesifik, sahih, dan relevan dengan informasi apa yang kita inginkan.

Saya sempat melakukan survey kecil-kecilan tentang masalah apa sih yang sering kita temui dalam menelusur informasi di perpustakaan pusat dan lewat tulisan ini saya mencoba memberi sedikit ulasan solusi yang bisa kita lakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

Kita sebagai pengguna perpustakaan seringkali kebingungan mencari kelas buku sesuai subjek ilmu yang dibutuhkan karena tidak hapal kelas DDC (Dewey Decimal Classification) yang diterapkan di perpustakaan pusat.

Saya pernah ditanyai oleh salah seorang mahasiswi yang menanyakan dimanakah kelas buku dengan subjek yang ia cari. Sering juga saya lihat banyak mahasiswa yang ‘tersesat’ di  antara rak-rak mencari kelas buku yang ia butuhkan.

Hal ini biasanya terjadi pada pengguna yang mencari buku dengan ke rak langsung (tanpa menelusur lewat OPAC terlebih dahulu), untuk menemukan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhannya.  

Tentu saja kita tidak perlu harus bisa menghapal 10 kelas DDC, tapi sebaiknya untuk mengatasi masalah ini kita menghapal kelas buku yang biasa kita gunakan.

Karena biasanya kita ke perpustakaan pusat untuk mencari buku yang menunjang perkuliahan kita, kita bisa menghapal kelas dimana buku-buku yang menunjang perkuliahan kita itu ada. Contoh, kita adalah anak FH, maka kita pasti akan sering mencari buku-buku tentang hukum. Nah, buku-buku hukum itu letaknya ada di kelas 300 (Social Science/ Ilmu-ilmu sosial).

Sebenarnya penjelasan tentang kelas-kelas buku itu sendiri ada dalam salah satu materi IL di OBM, tapi sayangnya belum diuraikan secara lebih mendalam. Berikut ini saya tampilkan lagi 10 kelas DDC yang diterapkan di perpustakaan pusat berkaitan dengan disiplin ilmu yang kita ambil :

Kelas 000 (Generalities/Karya Umum) ,

Cocok untuk semua kalangan, terutama anak jurusan : Ilmu Komputer, Ilmu Perpustakaan, Komunikasi, Jurnalistik, Sastra Jawa, Arkeologi, Sejarah.

Kelas 100 (Philosophy and Pychologhy/ Filsafat dan Psikologi)

Cocok juga untuk yang suka filosofi, metafisika. Sesuai terutama untuk anak jurusan Psikologi dan Filsafat.

Kelas 200 (Religion)

Cocok untuk semua kalangan (no SARA ya).

Kelas 300 (Social Sciences/Ilmu-ilmu sosial)

Sebenernya cocok untuk dipelajari semua kalangan juga, terutama anak jurusan : Sosiologi, Antropologi, Ilmu Politik, Ilmu Ekonomi, Ilmu Hukum, Administrasi Negara, Kesejahteraan Sosial, Komunikasi.

Kelas 400 (Language/Bahasa)

Wah ini sih cocok untuk anak-anak sastra semua.

Kelas 500 (Natural Sciences and Mathematics/Ilmu-ilmu Alam dan Matematika)

Cocok untuk semua anak yang jurusannya di FMIPA.

Kelas 600 (Technology and Applied Sciences/Teknologi dan Ilmu Terapan)

Cocok untuk anak-anak yang ada di FT dan FK. Tapi sesuai juga kok untuk semua kalangan karena terdapat juga informasi tentang teknologi sederhana yang bisa kita terapkan sehari-hari.

Kelas 700 (The Art, Fine and Sport/ Kesenian, Hiburan dan Olahraga)

Cocok lah ya untuk semua kalangan yang suka seni, olahraga dan musik.

Kelas 800 (Literature/Kesusateraan)

Jelas cocok untuk semua anak sastra. Namun bagi semua kalangan juga cocok karena biasanya di kelas ini kita akan menemukan novel, roman, kumpulan puisi, dsb.

Kelas 900 (Geography and History/Geografi dan Sejarah)

Cocok untuk anak jurusan Geografi dan Sejarah. Tapi gak menutup kemungkinan bagi yang suka sejarah berkunjung ke kelas ini.

(Berdasarkan e-DDC Copyright 2010 karya Rotmianto Mohamad, tidak semua jurusan dicantumkan di atas, namun diharapkan pembaca bisa memperkirakan di kelas mana informasi yang pembaca butuhkan. Berhubung DDC selalu melakukan revisi, referensi kelas di atas bisa berubah sewaktu-waktu atau berbeda dengan yang terjadi di lapangan.)

Selain itu, masalah yang sering kita temui adalah buku yang kita maksud tidak ada di rak ketika kita mencarinya padahal status buku tsb di OPAC tersedia. Biasanya ada 2 penyebab :

Pertama, terjadi broken order atau susunan yang terputus. Misalnya, kita mencari sebuah buku pedoman mendesain web. Di buku tsb juga disediakan CD sebagai panduan. Nah, karena antara materi buku dan CD dipisahkan maka kita tidak bisa menemukannya dalam satu kesatuan.

Bisa juga terjadi pada buku luar negeri yang setelah diterjemahkan judulnya menjadi berbeda dari aslinya, tentu saja akan mengaburkan susunan buku yang ada. (berdasarkan teori dan sepengetahuan penulis)

Kedua, dan yang paling sering terjadi menurut pengamatan dan pengalaman saya adalah adanya pengguna yang tidak bertanggung jawab mengembalikan buku ke posisi semula bahkan bisa di lain rak atau bahkan lain kelas. Sehingga sering juga kita temukan susunan buku di rak berantakan.

Misal, si A tadinya ingin meminjam sebuah buku di rak. Namun setelah dilihat-lihat, nampaknya buku itu tidak cocok baginya, lalu ia mengembalikan buku tsb secara asal, tidak di tempat semula ia mengambilnya. Sedikit saja ini terjadi, namun dapat mengakibatkan kekacauan susunan buku-buku di rak.

Jika kita perhatikan, di buku milik perpustakaan terdapat nomor panggil yang disusun dengan notasi angka yang rumit. Nomor panggil itu harus disusun secara berurutan dengan sistem tertentu. Oleh karena itu, penting untuk kita mengingat posisi dimana sebuah buku kita ambil agar jika tidak jadi meminjam, kita akan mengembalikan buku tsb di posisi persis seperti kita ambil semula.

Memang sih, menjaga susunan buku merupakan bagian dari kerja pustakawan, tapi kan’ perpustakaan pusat milik kita bersama. Bayangkan, pustakawan perpustakaan pusat yang tidak seberapa jumlahnya harus mengelola koleksi yang jumlahnya di atas 1 juta, tentu bukan pekerjaan mudah untuk mengawasi setiap buku agar tepat susunannya. Makanya kita sebagai pengguna perpustakaan juga punya tanggung jawab menjaga koleksi buku kita bersama.

Sekian. Semoga bermanfaat.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
sarahannisa

3 Comments

Leave a Reply

  1. wah, very nice article, baru tahu ada klasifikasi buku kaya begini..

    ini artikel penting dibaca mahasiswa2 tingkat akhir nih, pas bener semester ini lg pada skripsi kan 😀

    1. Dewey Decimal Classification emang udah standar, Man. Dulu juga aku pernah dengar klasifikasi ini dari Ibu-ibu penjaga perpustakaan Fasilkom.

      Setahu gue, DDC ini juga berlaku di seluruh dunia. Kalau gak salah situs LibraryThing menggunakan 3 ID untuk tiap buku yakni ISBN, DDC, dan LC (Library of Congress).

      Koreksi bila aku salah.

      1. iya memang udah standar ka, tapi selain DDC masih banyak sistem klasifikasi buku lainnya. Kebetulan yang paling banyak digunain di Indonesia dan kebetulan juga digunain di perpus kita adalah DDC. Sayangnya masih banyak pembaca yang belum tahu kelas2 apa aja yang ada di DDC, jadi suka kebingungan harus ke rak mana, suka ‘tersesat’ di perpus. 🙂