“Ummmm… Jadi… umm…”

C!

Bad scenario banget gak sih? Presentasi kok isinya umm doang? Belum lagi kalau ini presentasi kelompok dan yang lain bias, kamu gak.

Gak usah khawatir, ini sering terjadi pada banyak orang loh (bilang ‘umm’ ya, bukan dapet nilai C. Eh nilai C juga sih…). Public speaking itu gak gampang, jadi bisa dibilang politisi-politisi penebar janji itu setidaknya jago ngomong dan bikin orang percaya. Orang yang belum terbiasa public speaking atau malah speaking doang, sering berhadapan sama kebiasaan menggunakan filler words macam ‘umm’ atau ‘emm’ dan lain sebangsanya. Eits, jangan khawatir. Nih ada beberapa tips buat kamu.

 

Kuasai materi

penting banget buat kuasain materi pas presentasi via

penting banget buat kuasain materi pas presentasi via Photo Credit: SuperFantastic via Compfight cc

Tau kenapa temen kamu yang satu itu presentasi isinya 80% umm? Kemungkinan besar karena dia gak ngerti materinya, gak tau harus ngomong apa, dan mulai gak ngerti kenapa dia kuliah di sini. Biasanya dia juga gak ikut bikin presentasi kelompok.

advertisement

Gak ada tips yang lebih menolong daripada prepare dan benar-benar menguasai materi. Latihan, coba mengerti flow presentasi dan pastikan kamu tau semua—ya! semua yang ada di presentasi kamu. Every words, every pictures, every reasons why they’re there. Pun kalau itu presentasi kelompok, kalau kamu ngerti keseluruhan, kemungkinan kamu pake um-um an makin kecil. Masa iya kamu presentasiin sesuatu yang kamu sendiri gak ngerti? Mau menularkan kebodohan? Yang bener aja!

BACA JUGA: Pertanyaan-pertanyaan Nggak Penting yang Suka Keluar Pas Lagi Sidang Skripsi

 

Engaging content

Boleh kok diskusi sama teman buat tau konten presentasi kamu menarik apa gak via

Boleh kok diskusi sama teman buat tau konten presentasi kamu menarik apa gak via Photo Credit: pennstatenews via Compfight cc

Oke, kamu nguasain materi. The thing is, kamu bakal gugup di depan sana kalau konten kamu gak menarik perhatian atau gak bisa dinikmati. Gimana caranya supaya kontennya menarik perhatian dan bisa dinikmati? Coba tanya dulu ke diri sendiri, apa kamu menikmati konten yang kamu presentasikan? Kalau dari situ aja udah gak bener, ya…besar kemungkinan selama presentasi ada yang hilang ke kantin dan tak kembali.

 

Talk to us, not at us

Talk to us, not at us via

Talk to us, not at us via Photo Credit: Nick Sherman via Compfight cc

Di sini, akan agak sedikit personal. Paling gak seneng sama orang yang presentasi begini. FYI, dalam ruangan ada subyek, ada audiences, ada tembok juga. Perlu diketahui bahwa kesempatan untuk berbicara di depan itu diberikan dengan catatan ‘agar audiences mendengarkan’. Kalau kamu talk to us, kamu berbicara agar kami (hadirin) mendengarkan, karena kami subyek. Kalau kamu talk at us, kamu gak peduli apa yang hadirin denger, gak jauh beda sama kamu ngomong sama tembok, bedanya tembok gak punya kuping.

advertisement

So, talk to us, not at us. Audiences can choose not to listen.

 

Jangan masukin tangan ke kantong

Jangan masukin tangan ke kantong via

Jangan masukin tangan ke kantong via Photo Credit: nicky Tu – nickytu.com via Compfight cc

Klasik banget nih. Kamu mau ngapain di depan? Gaya?

Kamu udah diberikan ruang untuk berbicara, cukup luas (secara abstrak) dan semua orang dengar dan melihat. Masukin tangan ke kantong akan membatasi gerak kamu, dan menunjukkan kamu gugup. Kamu sendiri akan terbatasi ketika masukin tangan ke kantong, dan akan menaikkan kemungkinan kamu menggunakan banyak umm…

Kamu akan memancing ekspresi “ewww!” kalau kamu masukin tangan ke kantong orang. Jadi ya, jangan masukin tangan ke kantong kamu, terutama kantong orang.

 

Kalimat pendek dan transisi

Kalimat pendek dan transisi via

Kalimat pendek dan transisi via Photo Credit: Steven Vance via Compfight cc

Ini tips yang juga berguna. Ada alasan kenapa aplikasi untuk presentasi itu namanya powerpoint. Kamu diharuskan menampilkan poin-poin yang powerful. Gak perlu kalimat atau paragraf di situ, cuma poin-poin supaya kamu stay on the line aja.

Nah, kesalahan klasik lainnya adalah kamu beranggapan bahwa kamu tinggal nyerocos gak keruan aja tentang poin yang lagi di bahas. Oke, kalau kamu mau bercerita, tapi jangan gunakan kalimat-kalimat majemuk bertingkat yang panjang dan rumit kalau kamu memang belum siap untuk pakai itu, hanya karena kamu ingin terlihat pintar. Kalimat pendek yang powerful, transisi antarkalimat dan antartopik yang gak kelamaan, bisa bikin kamu kelihatan lancar, gak pake umm, dan kelihatan pintar juga.

Umm… gimana? Umm… lumayan membantu kan, ya? Ayo share tulisan ini via… umm… Facebook, Twitter… umm… dan Line. Kalau presentasi temen-temen kamu gak banyak “…ummm..” kan kelas lebih enak untuk diikuti dan jelas bakal lebih cepet selesai.