Universitas “Kelas Dunia” Kita, Salah Beri Nama Pohon!


0

Aku lupa sejak kapan Universitas Indonesia mulai melakukan inventaris atas kekayaan hayati yang dimiliki nya. Bukti pertama yang mudah untuk dilihat adalah dipasangnya pelat informasi nama jenis pada sejumlah “ pohon ”. Aku pertama kali melihat papan info itu pada deretan pohon di sekitar stadion UI, Pusgiwa dan Balairung.

Sudahkah kalian melihatnya? Itu lho, pelat berwarna kuning yang terpaku pada beberapa pohon. Informasi tentang nama ilmiah resmi Genus ( marga ) dan Species ( jenis ) pohon tersebut tertulis di pelat kuning itu. Misal, untuk pohon akasia, yang banyak terdapat di seantero kampus, diberi nama Akasia mangium oleh universitas. Pelat kuning ini dilengkapi dengan gambar makara tentunya.

Aku kagum saat itu dengan niat baik Universitas. Walaupun terlihat sepele, informasi penamaan jenis seperti ini punya arti penting tersendiri untuk kita semua, setidaknya diawali untuk kelompok bidang ilmu yang mempelajari tentang keanekaragaman hayati (biodiversity). Sebagai contoh, sebut saja departemen tempatku sedang berkuliah di UI, departemen Biologi.

Rasanya basi kalau aku bercerita betapa negara kita memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi. Aku yakin kalian sudah begitu sering mendengarnya, membacanya, atau mempelajarinya, hingga bosan. Di koran, di televisi, di buku-buku, jargon tentang kekayaan negara kita itu seperti sudah jadi barang dagangan.

Sering aku lihat bahkan di acara tingkat kampus yang membahas tentang tema-tema seperti perubahan iklim, pemanasan global, atau slogan gaul seperti “ Go Green! “, kalimat “ Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keanekargaman hayati yang tinggi “ jadi pembuka acara yang begitu manis. Mengagumkan.

Memang benar kawanku, sungguh, negara kita memang “ sekaya “ itu. Kekayaan yang menjadi pekerjaan rumah yang begitu besar buat kita kelola. Kelola itu tidak hanya soal mengeruk harta ibu pertiwi dari perut buminya dalam-dalam namun tidak merusak batuan. Tidak juga hanya soal apa yang kita kenal, sedikit-sedikit pula, dengan reboisasi, reklamasi, atau yang sedang heboh, konservasi.

Lagipula, kawan ku, tahukah kau segala upaya –si –si itu banyak yang gagal ?.
Iya, benar, banyak usaha –si –si telah gagal. Malah dosen ku yang telah tersohor sebagai ketua NGO tingkat dunia Conservation International ( CI, baca= si ai ), Jatna Supriatna, PhD., bilang banyak usaha –si –si itu gagal total. Penanaman kembali (reboisasi) seribu pohon, sejuta pohon, semilyar, seberapa pun, banyak omong kosongnya. Lebih gede propaganda kampanye nya.

Konservasi, reklamasi, restorasi, atau apasi apasi lahan gambut pun sama saja, kalah dengan penanaman kelapa sawit. Kelapa sawit lebih menguntungkan, namun habis itu terjadi banjir bandang. Semua itu karena kita tidak bertindak berdasarkan sains! Bahkan slogan Go Green! pun sudah lama hanya jadi merek dagang di kaus-kaus. Memprihatinkan.

Namun kawan ku, aku mohon maaf sebelumnya, saat ini aku tidak bisa memberikan landasan sains tentang penanaman seberapa pohon, jenisnya, caranya, atau kenapanya. Tidak juga aku kuasai ilmu tentang koservasi lahan gambut. Aku juga tidak tahu mengapa rehabilitasi lahan gambut banyak gagalnya. Bapak dosenku yang tersohor itu lebih tahu. Untukmu kawan, sekarang aku bagikan sedikit ilmu tentang penamaan pohon (tumbuhan-tumbuhan) saja ya?

Pernahkan kalian dengar tentang Carolus Linnaeus dengan adikarya Binomial Nomenclature nya?. Mungkin belum, namun bapak Carolus ini, yang disebut bapak Taksonomi modern, bisa tersejajarkan dengan Sigmund Freud di ranah psikologi, Robert Malthus di dunia ekonomi, maupun Robert Browning di kalangan para penyair kesohor.

Tentu saja bidang dan karya adiluhur yang dihasilkan para empu tersebut berbeda, namun mereka memiliki kesamaan dalam hal meletakkan hal-hal fundamental yang fenomenal di bidang ilmu masing-masing. Oiya, taksonomi adalah cabang ilmu biologi yang memfokuskan diri dalam penetapan hierarki (tingkatan) suatu makhluk hidup dalam “kelompoknya”.

Sebagai sebuah adikarya, Binomial Nomenclature sesungguhnya begitu sederhana. Adikarya ini mampu menjadi solusi dari kesulitan memberi penamaan pada spesies makhluk hidup. Konon, dimasa dulu, spesies makhluk hidup yang sudah ditemukan dan diidentifikasi kemudian diberi nama dengan nama lokal daerah masing-masing. Sebagai contoh, kucing mungkin memiliki nama lokal di masing-masing negara.

Sering terjadi kekisruhan ilmiah akibat hal-hal seperti ini. Bapak Carolus kemudian mendapat ide untuk menyatukan komunitas ilmiah pemerhati dan penggiat keanekaragaman hayati di bawah satu paying taksonomi. Ide tersebut adalah menyepakati satu sistem penamaan yang universal.

Langkah pertama yang bapak Carolus lakukan saat itu memilih bahasa Latin sebagai bahasa utama penamaan. Hal ini karena bahasa Latin adalah bahasa utama yang dijadikan bahasa pengantar utama di universitas-universitas dan gereja-gereja Eropa. Setelah itu beliau menyusun sistem penulisan seperti yang sekarang kita kenal, sistem penamaan dua kata ( Binomial Nomenclature ).

Kata pertama merujuk kepada Genus sang makhluk hidup, kata kedua merujuk ke nama spesies nya. Kemudian, disepakati aturan untuk menulis nama itu secara italic ( tulis miring ), lalu huruf pertama dari genus ditulis dengan huruf capital, huruf pertama dari nama spesies tetap huruf kecil. Seringkali, walau tidak mutlak dilakukan, setelah nama genus dan spesies makhluk hidup tersebut, tertulis juga nama pendek dari sang penemu makhluk hidup tersebut pertama kali.

Sebagai contoh, kembali ke pohon akasia universitas kita tadi, NAMA YANG BENAR adalah Acacia mangium Willd ( Willd adalah nama pendek sang penemu), bukan Akasia mangium ! kawan ku, universitas kita telah SALAH BERI NAMA.

Sepele? Memang sepertinya begitu, tapi sesungguhnya tidak begitu.
Penamaan makhluk hidup mungkin hanya sebuah langkah kecil dalam proses pengelolaan keanekaragaman hayati, namun langkah kecil ini adalah langkah yang secara aklamasi, telah disepakati oleh komunitas ilmiah sedunia.

Kesepakatan yang nilainya ilmiah, untuk sebuah universitas yang mendewakan nilai-nilai keilmiahan, tentu saja, haqqul yakin, bersifat wajib, mengikat, tanpa syarat. Serius, kita tidak akan pernah bisa mengaku jadi world class university, kalau sekedar memberi penamaan yang benar terhadap kekayaan hayati yang dimiliki saja, kita belum bisa masuk kategori world class.

Malu sesungguhnya terbayang dibenak ku.

Kawan ku, walau bidang ilmu hayati yang sedang aku dan kawan-kawan lain sedang geluti, di universitas kita, di negara kita, di dalam benak banyak masyarakat kita, begitu disepelekan, tapi sesungguhnya ilmu ini adalah salah satu ilmu terpenting kehidupan. Setidaknya banyak bangsa maju di dunia telah begitu lama menempatkan ilmu hayati ini di tempat yang luhur. Bahkan negara serumpun kita, Malaysia pun sudah melakukan itu sejak lama.

Terbayang suatu saat misal, walau ini terlalu jauh, namanya juga mengkhayal, dalam suatu pidato penghargaan komunitas ilmiah internasional, mahasiswa UI atau rektor UI barang kali menyampaikan data keanekaragaman hayatinya, namun salah sebut. Niatnya pengen keren gitu, eh malah salah, cuma bisa ngaku world class university.

Misal juga saat ada seorang ahli ekologi dunia misal, datang ke UI karena diundang rektor, yang mau nyombong tentang green campus nya. Sang ahli diajak keliling-keliling, dikasih lihat kalau pohon di UI sudah dikasih nama. Waktu sang ahli lihat, ternyata masih banyak yang salah. Sang ahli mesem-mesem. Lalu bilang “ world class gundul mu atos, gum… gum… “ . ternyata ahli ekologi dunia itu banyak yang orang Jawa. Di tanah air nya sendiri mereka malah ngga laku, kawan.

Aku terlalu banyak berimajinasi.

Aku menulis ini sebagai bentuk keprihatinan ku kepada universitas yang aku cintai ini. Kenapa tidak mereka serahkan saja proses penamaan ini kepada pihak yang lebih mengerti? Kan mubazir kalau nanti masih banyak yang salah. Padahal faktor kesalahan itu bisa diminimalisir kalau terlebih dahulu ada yang melakukan survey. Pihak yang lebih tahu ilmunya . Seperti apa yang sekelompok teman ku lakukan di BSO OMPT CANOPY ( Organisasi Mahasiswa Pencinta Tumbuhan) .

Mengetahui pihak universitas banyak melakukan kesalahan penamaan, hati mereka terpanggil untuk melakukan gerakan. Survei dilakukan secara intensif di FMIPA, studi literatur ditelaah lebih lanjut, konsultasi kepada para ahli digiatkan, pihak-pihak yang terkait pun dilibatkan. Hasilnya, dalam waktu lebih kurang sebulan, OMPT CANOPY sudah berhasil melakukan penamaan dengan baik dan benar terhadap pohon-pohon dikampus mereka, FMIPA UI. Target selanjutnya. Universitas!

Tumbuhan akasia yang diperlakukan tidak senonoh dengan diberi nama Akasia mangium oleh universitas, mereka perbaiki nama baiknya kembali, Acacia mangium. Tumbuhan matoa, dipermalukan universitas dengan diberi nama Pometia tomentosa, nama saudaranya si Matoa, Kongkir. Pasti yang ngerjain proyek penamaan ini cuma modal Wikipedia, beda sama teman-teman ku ini, buku rujukan yang digunakan saja bertumpuk-tumpuk. Matoa itu secara resmi nama ilmiahnya Pometia pinnata.

Ada juga kasus tumbuhan yang dinamai semena-mena oleh universitas dengan nama lokal kiara payung, dengan nama latin Pillisium sp. Nama benarnya adalah Fillicium decipiens, lagipula bukan Kiara Payung nama lokalnya yang benar, tapi Kirai Payung! Subhanallah…

Begitulah kawan ku sekelumit tentang salah satu sisi universitas kita yang mungkin belum diketahui dengan baik. Dibalik semua niat baik universitas ini, kita memang belum siap untuk jadi world class. Sebenarnya ada beberapa dosen kami yang duduk di jajaran rektorat, namun sepertinya mereka tidak terlalu punya wewenang, meskipun di kasus seperti ini.

Itu baru dari satu sisi kecil dibidang ilmu kami, belum di bidang ilmu mu, kawan. Peningkatan akan sumber daya manusia di universitas masih perlu terus dilakukan. Sudah saatnya universitas berbuat lebih banyak dibandingkan menbangun infrastruktur yang mungkin terlalu dini kita terima. Sudah saatnya pula para mahasiswa lebih banyak lagi menyuarakan suara-suara seperti ini, agar mereka tahu apa yang.seharusnya mereka tahu. Bahkan nama sebuah pohon, adalah gerbang dunia melihat universitas kita …

Untuk kebaikan dan kemajuan bersama, untuk Universitas Indonesia.
Salam anakUI
P.S.
Terima kasih untuk OMPT CANOPY Biologi UI untuk gerakan inspiratifnya, You Rock Guys!

Penamaan yang benar di FMIPA UI (oleh OMPT CANOPY)
Penamaan yang benar di FMIPA UI (oleh OMPT CANOPY)
penamaan yang salah (oleh universitas)
penamaan yang salah (oleh universitas)
(juga) penamaan yang salah
(juga) penamaan yang salah
penamaan yang benar
penamaan yang benar

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
abas

Insya Allah lulus 2012 ! =D Sambil ngerjain skripsi, suka nulis cerita, jalan-jalan, dan main musik .

17 Comments

Leave a Reply

    1. wah, salut ada pemerhati taksonomi di FE.
      iya, terkesan asal-asalan banget kasih namanya, kaya proyek sampingan gitu.
      gue juga baru tahu setelah temen-temen di Biologi pada protes gitu, terus ngajuin proposal ke dekanat MIPA.
      sekarang hampir semua pohon di MIPA udah dinamai dengan benar.

    1. thkns ka,
      Insya Allah di MIPA semua pohon uda dinamai dengan bener.
      Mungkin FISIP ingin kerjasama gitu memberi nama ilmiah pohon di kampus?, always open.
      hehe

        1. AYo anak Biologi UI……..ini kewajiban kalian….kalian yang harus jdi garda terdepan….;-)

  1. Saya membayangkan kalo ada ahli taksonomi luar negeri datang ke ui dan berkeliling…..kemudian melihat penamaan-penamaan yang salah seperti ini…Betapa malunya kita….;-(

    1. jangankan yang dari luar negeri bro, dosen-dosen gue aja ketawain orang rektorat yang bisa-bisanya bikin kebijakan begini!

  2. Bagus sekali kalau kita kritis dan mencoba untuk memberikan masukan kepada pihak kampus.

    tapi ada baiknya menyampaikannya tidak terlalu menggebu-gebu, apalagi masalah penamaan yang salah, kan mudah untuk diperbaiki,

    jadi mbok yang nggak ngasih judul terlalu mancing gitu kaya gini

    “Universitas “Kelas Dunia” Kita, Salah Beri Nama Pohon!”

    nanti disinyalir ada yang ikut2an bikin artikel

    “Universitas “Kelas Dunia”, tapi banyak copetnya!”

    “Universitas “Kelas Dunia” kita, dosennya salah ngasih nilai”

    lebay kan? hehehe
    malu juga soalnya kalau dibaca mahasiswa luar bukan?

    semoga bermanfaat

    1. judul asli dari penulis itu “UNIVERSITAS “KELAS DUNIA” KITA, SALAH BERI NAMA!”

      kamilah yg menambahkan menjadi seperti sekarang, biar judulnya lebih mencerminkan isinya, dan lebih menarik orang buat ngeklik 😉

      demikian penjelasannya.. 🙂

    2. tapi soal penamaan spesies itu cukup vital loh mas,, jadi nggak lebay dengan judul seperti di atas,, 🙂
      kan ilmu dasar,, jadi klo salah, malu2in banget,, :s

  3. Salut sama anak2 Canopy. Maap yaa meskipun sama2 anak biologi tapi nggak ngebantuin. hehehe. seneng sekarang kalo jalan2 di mipa nama2 pohonnya udah pada bener. 😀

  4. Btw kalo saya boleh iseng, penulisan judul artikel ini juga salah tulis hehehe… “Universitas “Kelas Dunia” Kita” adalah subyek dan setelah subyek seharusnya gak ada koma :p

  5. et dah baru baca gw ni tulisan lo bas,, hehehehe..
    jadi inget waktu soal ini pernah dibahas pas kita kulia PIL,, ckckck,, emank memalukan deh –”
    tapi gw belom memerhatikan lagi nih,, udah bener belom sih tulisan di luar FMIPA? *kawasan UI lainnya*