Untuk Kamu yang Sering Melintasi Gang Sawo/Kober di Belakang Stasiun UI, Apakah Menyadari Hal Ini?


0
Stasiun UI
Stasiun UI (gambar: Mohamad Sani/cc/flickr)

Sedikit cerita teruntuk kamu…
Kamu yang sering pulang pergi kampus atau melewati jalan belakang stasiun UI atau yang lebih terkenal disebut Kober.
Aku bingung mau mulai darimana sebenarnya, jadi maaf ya kalau nanti random, tapi semoga maksud dari tulisan ini bisa sampai di kamu. 🙂

***

Biasanya kapan sih kamu lewat jalan belakang stasiun UI itu?

Kalau Aku biasanya pagi saat ingin menuju halte st. UI, menunggu bikun biru atau kadang merah untuk menuju ke Teknik.

Atau sore hari ketika pulang, menyebrang jalan margonda untuk kemudian naik angkot menuju ke terminal Depok.

Ada yang menarik perhatianmu kah selama perjalanan di belakang st. UI itu?

Ayo coba pikir-pikir lagi….

 

 

Sering atau selalu kamu lihat kakek-kakek penjual kue lepet, bapak penjual kue semprong, kakek-kakek penjual tissue yang sering ada di situ?
Terbayang gak tadi, saat Aku bertanya apa yang menarik perhatianmu adalah pertanyaan ini? hehe

Jadi ceritanya begini,

beberapa bulan yang lalu Aku sempat membuat tulisan tentang kakek penjual lepet. Cek disini.
Nah ternyata sekarang, si kakek ini sudah tidak lagi berkeliling kampus menjajakan lepetnya (atau mungkin masih, tapi Aku gak memperhatikan dengan seksama), sekarang beliau membuka lapak dagangannya di halte stasiun UI. Sering lihat gak?
Kakek tua pakai peci, sering pakai batik, dagangannya ada di dua tempat anyaman bambu yang biasa dipikul (gatau apa namanya).

Atau

Seorang bapak penjual semprong yang duduk di pinggir jalan kecil di situ?

Selalu tersenyuk ramah dan berkata pada tiap orang yang lewat, “semprongnya neng/mas?”

Atau

Seorang kakek penjual tissue, pakai tongkat berkaki, biasanya jual tissue ukuran kantong, mondar-mandir dari halte sebelah kiri ke sebelah kanan, menjajakan tissue nya.

Ternyata bukan di halte stasiun saja yang seperti ini. Hampir di semua tempat ada ya?

Tapi tulisan kali ini Aku coba fokuskan untuk kamu.

Untuk kamu yang sering lewat jalan belakang stasiun UI, pasti sering melihat mereka kan?

 

Aku mengajak kamu untuk berfikir sejenak, sejenak saja, lalu bertindak. 🙂

Coba sesekali beli dagangan mereka, tidak usah setiap hari. Cukup sesekali.

Pasti kamu sudah sangat sering mendengar ajakan ini, bahkan mungkin banyak tulisan-tulisan semacam ini di mana-mana. Tapi kondisi ini dekat denganmu loh, ada di lingkungan sekitarmu, lingkungan tempat kamu menimba ilmu 🙂

Mereka masih berusaha untuk berdagang, tidak mengemis.

Kalau kamu beralasan, “dagangannya mahal, kalau ngasih ke pengemis kan cuma seribu juga gapapa.”

Seberapa mahal sih dibanding uang jajanmu sehari? hehe kan tidak untuk setiap hari kamu beli, tapi sesekali saja. Seminggu sekali, atau sebulan empat kali :p

Andaikan, ada 10 orang saja yang berpikir sama seperti kamu itu, 1000×10 = 10.000, cukup buat beli satu bungkus semprong. Dari ke-10 orang itu semuanya melakukan hal yang sama, memberikan seribu rupiahnya pada pengemis, yang (maaf) hanya menengadahkan tangan saja di sudut jalan, bukannya berusaha.

Bukan berarti melarangmu berderma pada pengemis, silakan saja.

Tapi, paham maksudku kan? 🙂

Ini belum uji ataupun survei apapun sih, hanya selintas pikiranku saja, “Bagaimana kalau pedagang-pedagang itu berpikiran bahwa lebih baik mengemis daripada berjualan? Toh lelahnya tidak seberapa tapi hasilnya sama bahkan lebih banyak. Mungkin ini berlebihan tapi bagaimana kalau ini memang benar yang mereka pikirkan? dan kita (aku dan kamu) adalah salah satu penyebab mereka berpikiran seperti itu? :(“

Astaghfirullah…

Sebelum menulis ini, Aku agak ragu, takut dikira sok atau mau pamer karena telah membeli dagangan mereka. Tapi Bismillah, Aku luruskan niat menulis ini untuk mengajak kamu.

Jadi..

Sudah merasa ku ajakkah kamu? 🙂

 

Photo Credit: Mohamad Sani via Compfight cc


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Atika Widiastuti
Adalah satu dari sekian "banyak" mahasiswi Fakultas Teknik. Kadang puitis dan suka menulis ketika lelah dengan angka dan hitungan. Boleh banget di cek : widiatika.blogspot.com

11 Comments

Leave a Reply

  1. Gw dulu pernah.. iseng beli tissue ke kakek yg di halte itu.
    Karena ga ada duit selain 50ribu pakailah gw dengan lembaran biru itu.
    “Plok” gw kasihlah duit terakhir gw di dompet tanpa ada kata lain.
    Dan sikakek langsung bilang terima kasih aja dan pergi padahal gw bermaksud meminta kembalian tapi kata kata itu tertahan karena gw bengong liat kakeknya langsung pergi.

    Dan sejenak gw mikir mungkin kakek ini jadi terbiasa diberikan sumbangan kembalian dari pembeli, jadi walaupun kita kasih dia akan termind set di kepalanya semuanya akan diberikan.

    Anyway… memang sih tak ada salahnya memberi. Tapi.. apabila ini berlanjut akan merusak habit mereka juga 🙂

    *sekian ceritanya, maaf kalau misal ada unsur yg tidak enak karena ketertidaksengajaan*

    -kisah seorang alumni FE-

  2. kakek penjual tisu ya? kangen banget rasanya sama kakek itu, dulu tas gue penuh tisu jadinya,dipake jarang tapi saya suahakan beli sama beliau..yang juga sering duduk di pinggir jalan kecil dr st.ui menuju ke sosiologi fisip (nembus hutan dikit )mudah mudahan si kakek tetap diberi kesehatan

  3. Sjujurny sya krang respect sma kakek jualan tissue it krna dia menjual dagangany lbih mahal dan sring kali mengharapkan uang kembalian dsumbangkan utk dia..tpi yg pling sya tdak tahan,sring kli sya perhatikan beliau duduk merokok dpojok halte..

  4. Saya suka baca tulisan tulisan anakui.com, bisa gak sih google adsnya gak dimunculin di body artikel? Itu sangat mengganggu saya sebagai pembaca yang budiman.

    1. Iklan di Google Ads inilah yang paling banyak mendatangkan revenue untuk kami, untuk membuat site ini tetap berjalan.

      Terimakasih untuk masukannya, kami berusaha semaksimal mungkin menyeimbangkan ini dengan kenyamanan pembaca 🙂

  5. Sebenernya saya respect sm kakek penjual tisu yg rela jualan drpd meminta2..tetapi ad satu hal yg buat saya mulai hilang respect..saya ga tau sih cuma pas saya saja atau terjadi juga di orang lain. Setiap saya membeli tisu dari kakek itu saya selalu sadar kalau kemasan tissuenya sudah pernah d buka sebelumnya..jd isinya ga full seperti yg asli.saya sih ngerasa setiap saya beli ke kakek itu seperti itu.ada yg ngerasain jg?semoga cuma saya saya yg ngerasa seperti itu..

  6. Sebenernya sekarang pun juga ada 1 bapak bapak pengemis yg kadang bikin sedih, bapak bapak yg bermodal ngemis dengan joget pake baju lucu lucu. Awalnya saya sangat iba, sedih banget liatnya dia rela ngemis pake baju lucu lucu, kadang suka jd bahan ketawaan. Tapi saya mulai berhenti iba ketika liat dia ngerokok. Gak hanya ituu ada juga bapak yang suka jualan entah apa namanya semacem es tp bisa digigit yang selalu bilang “sewu sewu sewu”, krn harga dagangnya hanya 1000 rupiah. Saya pun iba sedih, tapi lagi lagi dia merokok. Jujur kalo mau dibahas banyak banget pedagang dan pengemis yang bikin iba dan sedih, tapi terkadang minus dari mereka, mereka masih aja ngerokok. Ini jadi apa yah pertentangan batin sendiri di dlm diri saya. Satu hal saya sedih iba mau bantu tp disisi lain saya kesel dia tau mencari uang itu susah tp dia masih spent uangnya buat rokok yg notabene itu penyakit semua org tau. Jujur saya adalah orang yang menjunjung tinggi anti rokok. Saya suka tulisan kamu, saya suka niat kamu, tapi terkadang bukannya kita gak mau bantu, tp ada alesan alesan yg mungkin untuk sebagian org gak bisa diterima yg memberatkan kita untuk respect dan ingin membantu.

    Btw ini gak ada niat apapun loh, cuma ngungkapin pendapat dan cerita dr side pribadi.

Choose A Format
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals