Uang (Ilustrasi oleh Admin)

Uang (Ilustrasi ditambahkan Admin) (cc/flickr/AdamCohn)

Waktu :

Jumat, 23 Desember 2011, adalah hari terakhir wawancara untuk update BOPB bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi khususnya untuk departemen Matematika, departemen Kimia dan departemen Farmasi (6 bulan lagi berubah menjadi Fakultas Farmasi).

Pemberitahuan cukup mendadak, entah pihak dekanat yang lambat, atau pihak mahasiswa yang kelupaan. Jam 10 pagi berkumpulah mahasiswa yang ingin update BOPB di depan ruang sidan B gd. Dekanat FMIPA. Cukup banyak, sekitar 20 orang. Setelah menunggu sekitar 35 menit, akhirnya 3 pewawancara datang dan memasuki ruangan, seperti biasa para birokrat memang sering telat.

Beberapa nama dipanggil dan ternyata menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit untuk mewawancara 1 orang, sehingga akhirnya wawancara terpotong waktu istirahat. Jam setengah 2 wawancara dimulai kembali. Kali ini telat sekitar 10 menit, itupun baru 1 pewawancara, 2 lainnya telat sekitar 30 menit.

Dengan waktu wawancara yang cukup lama, wawancara diperkirakan akan berlanjut hingga sore hari, dan banyak mahasiswa yang telah mengorbankan waktu kuliahnya hanya untuk menunggu giliran wawancara yang tidak jelas dan kena imbas ketidaktepatan waktu pihak dekanat.

Lebih parahnya lagi, ada hal yang tidak diberitahukan pada mahasiswa bahwa yang diwawancara hanyalah mahasiswa dengan BOP 7.500.000, sehingga mahasiswa dengan BOP kurang dari 7.500.000 atau dengan kata lain yang telah mengajukan BOPB sebelumnya, tidak diwawancara. Banyak waktu yang terbuang hanya untuk duduk dan menunggu, dan lebih ruginya lagi : bolos kuliah.

advertisement

Efisiensi waktu yang sangat buruk dan banyak orang yang dirugikan dengan hal ini. Kenapa tidak diperjelas? Kenapa tidak dibuat daftar giliran sehingga tidak perlu buang-buang waktu untuk hal yang sia-sia?

Nurani :

Hal terburuk yang mungkin terjadi dalam hidup manusia adalah hilangnya hati nurani. Pada dasarnya hati nurani dimiliki oleh semua orang, dan tidak dapat dipungkiri dalam setiap hal yang kita lakukan, hati nurani pasti mengambil andil. Sayangnya hal buruk ini terjadi di sebuah fakultas di Universitas Indonesia, dimana hati nurani dikekang oleh uang.

Tiga pewawancara, sebut saja Mr. ERA, Mr. Md, dan Mr. Sr, pasti punya hati nurani. Tapi beberapa mahasiswa keluar dari ruangan dengan air mata, kenapa? Berikut kutipan percakapan di dalam ruang sidang (berdasarkan pernyataan mahasiswa yang diwawancara)

Mahasiswi Y yang akan diwawancara masuk

Mr. ERA : Coba liat handphone kamu

advertisement

Mahasiswi Y : Ini pak (sambil menyodorkan handphone)

Mr. ERA : Wah bagus kok, Blackberry, kamu kaya dong berarti

Mahasiswi Y : Bapak juga Blackberry

Mr. ERA : Lho, saya udah kerja 30 tahun, dan BB ini juga dikasih kok

Mahasiswi Y : Saya juga dikasih pak

Mr. ERA : Ooo gitu?

 

Mahasiswi E yang akan diwawancara masuk

Mr. ERA : Coba liat handphone kamu

Mahasiswi E : Ini pak (sambil menyodorkan handphone Nokia tipe jadul)

Mr. ERA : Wah bagus kok, berwarna

 

Mahasiswi F yang akan diwawancara masuk

Mr. ERA : Coba liat handphone kamu

Mahasiswi F : Ini pak (sambil menyodorkan handphone Nokia QWERTY)

Mr. ERA : Wah bagus kok, ini kayaknya nggak murah

 

Keuangan dinilai dari handphone, apakah valid? Tentu tidak, banyak mahasiswa rela menabung untuk membeli handphone yang cukup mahal karena menginginkan fitur yang lengkap yang memungkinkan kita terus update dan tidak ketinggalan informasi. Entah menabung dari hasil kerja sambilan, ngajar, atau mungkin uang bulanan dari orang tua. MENABUNG, bukan uang yang datang begitu saja dari orang tua.

Setelah handphone, ada percakapan yang lebih sadis lagi

Mahasiswi A yang menjelaskan alasan kenapa dia meminta BOP-nya turun

Mahasiswi A : Saya benar-benar tidak sanggup pak, rumah saya sekarang disita karena hutang, dan saya tidak akan mengajukan BOP kalau saya sanggup

Mr. ERA : Lho? Itu salah orang tua kamu dong, siapa suruh ngutang

 

Mahasiswi C yang menjelaskan alasan kenapa dia meminta BOP-nya turun

Mahasiswi C : Bapak saya di PHK pak, dan sekarang sakit, saya mohon pak, tolong saya

Mr. ERA : Ya udah, suruh aja bapak kamu kerja lagi

Mahasiswi C : Kalau kumat gimana pak? Bapak saya lagi sakit

Mr. ERA : Pokoknya kerja aja lagi

 

Faktanya semua mahasiswa/i yang diwawancara Mr. ERA, BOP-nya tidak bisa turun dibawah 5 juta, apa alasannya?

 

Mahasiswa D sedang diwawancara

Mahasiswa D : Pak, apa gunanya dong BOPB kalo uang yang kita bayar ditentukan oleh fakultas, bukan oleh kemampuan ekonomi kita sendiri?

Mr. ERA : Sekarang Fakultas lagi kekurangan uang, fasilitas sedang dibangun dan ternyata uang tidak mencukupi, lalu kamu masih mau meminta keringanan uang? Berarti uang kita makin berkurang dong..

Mahasiswa D : hanya terdiam

 

Seorang mahasiswi tidak terima dengan alasan tersebut dan mengeluaran sebuah pernyataan

Mahasiswi E : Pak, saya bersedia bayar 5 juta asalkan fasilitas di departemen matematika diperbaiki

Mr. ERA : Lho, tidak bisa begitu, uangnya harus disalurkan ke dana praktikum dulu dong, kita mambutuhkan banyak dana untuk mendanai praktikum

Mahasiswi E : Lho? Matematika nggak butuh dana buat praktikum pak (di matematika praktikum hanya membutuhkan komputer dan tidak perlu biaya yang besar, semester lalu sekitar 50an komputer baru dipasang dan itupun sumbangan alumni, bukan dari fakultas)

Mr. ERA : Ya sudah kalo gitu, kalo kalian merasa mampu dan mau jalan sendiri, buka aja nanti fakultas baru, fakultas Matematika, kayak Farmasi sekarang

 

Mr. Md, Mr.Sr juga sama keras dan sama kejamnya dalam mewawancara, seolah-olah mahasiswa harus tunduk pada kebijakan fakultas dan tidak bisa berbuat apa-apa meski sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Saya yakin Mr. ERA, Mr. Md dan Mr. Sr dilahirkan dengan nurani di hatinya, tapi kemana nurani tersebut? Semua mahasiswi yang diwawancarai Mr. ERA keluar dengan air mata, ada yang bilang Mr. ERA tidak punya perasaan, tidak peduli kondisi ekonomi orang lain, ada juga yang bilang mulutnya lincah berkelit. Apakah mungkin nuraninya dibeli oleh uang senilai 5 juta?

Banyak mahasiswa yang merasa diperlakukan tidak adil. Memang benar, mahasiswa yang telah mengajukan BOPB sebelumnya tidak diwawancara lagi, bahkan 6 mahasiswa Geografi yang mengajukan update BOPB langsung ditolak dengan alasan telah mengajukan BOPB sebelumnya.

Kesulitan ekonomi orang berbeda-beda, dan mahasiswa yang mengajukan update BOPB pastilah punya alasan yang kuat mengenai kondisi ekonominya, lalu kenapa pewawancara yang menentukan besaran yang harus dibayar? Ada mahasiswa yang benar-benar tidak sanggup membayar meski telah mendapat keringanan dari semester pertama ,namun haknya untuk update BOPB telah dihilangkan oleh pihak fakultas. Apakah itu etis? Tentu TIDAK.

Transparansi :

Alasan yang aneh : Fakultas kekurangan duit, memangnya alasan ini logis? Kenapa kekurangan dana fakultas harus ditanggung mahasiswa.

Mahasiswa yang mengajukan update BOPB telah menyertakan bukti bahwa mereka benar-benar tidak sanggup membayar dan butuh keringanan, lalu bagaimana dengan fakultas? Mana bukti kalau kalian kekurangan dana? Selama ini banyak yang telah membayar full dan fasilitas tetap diam di tempat. Yang makin bagus tidak ada, yang makin jelek banyak. Memang ada pembaharuan, tapi yang baru hanya selasar gedung B dan selasar depan Aula BSM, apakah biaya pembuatannya mencapai puluhan juta? Rasanya tidak mungkin.

Krisis transparansi terjadi, begitu juga dengan krisis kepercayaan. Selama ini informasi yang diberikan tidak jelas kebenarannya, mahasiswa tidak percaya birokrat, birokrat tidak percaya mahasiswa, secara kultural itulah yang terjadi. Kenapa? Tidak ada transparansi!

Mahasiswa tidak dilibatkan dalam proses ini. Kedepannya renstra yang telah disusun kesma harus berjalan, bahwa mahasiswa akan (harus) dilibatkan dalam proses pengajuan BOPB dan update BOPB. Pengawalan harus benar dan tegas, namun sesuai fakta, transparansi dan dengan HATI NURANI.



[reaction_buttons]