WANTED: Rofi’ah


0

Wawancara Orang Terakreditasi – Tim Media M. Hum Formasi 22 FIB UI

Rofi’ah: Cobaan Tak Halaukan Kesungguhannya

Perjuangan untuk bisa bersekolah? Biasanya kisah ini dapat dijumpai di sinetron atau di berita. Belum pernah telinga ini menjadi saksi dari perjalanan hidup akhwat setangguh Rofi’ah sampai ide menjadikannya tokoh WANTED tercetus.

Opi, begitu nama akrab yang biasa melekatnya dirinya, sudah menjadi anak yatim sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Tanggungan hidup otomatis bertumpu ke pundak ibunda tercinta. Opi yang sejak saat itu menjadi lebih dewasa dari usianya yang seharusnya, bertekad untuk membantu ibunya mengurus kebutuhan rumah dan tidak meminta uang saku lagi. Bantuan yang Opi kerahkan adalah tenaga dari tangan mungilnya seperti masak, mencuci, bahkan mencari kayu. Masa kecil Opi diwarnai oleh kehidupan khas pedesaan yang mengajarkan anak agar aktif bersosialisasi dan mengeksplor diri, tidak seperti jaman sekarang yang malah menuntun anak menjadi konsumtif dengan berlimpahnya game virtual.

“Di tempatku tuh kalo anak-anak bisa sekolah sampai SMP udah tergolong hebat banget,” ungkap Opi dengan senyum lebar memburat di wajahnya. Lokasi yang jauh juga mengakibatkan untuk bisa bersekolah saja harus menyertakan perjuangan yang berat. Tidak ada ojeg yang bisa dinaiki. Tidak ada kendaraan umum yang menghampiri. Setiap harinya, Opi sudah siap pagi-pagi sekali agar bisa menumpang mobil pick up yang destinasinya satu arah dengan SMPnya. Begitu pula saat pulang. Namun ada kalanya mobil pick up tersebut tidak berhenti di desa tempat tinggal Opi, sehingga ia masih harus berjalan walau harus menempuh 2 jam perjalanan.

Lulus SMP, lebih sulit lagi. SMA terdekat berada di kabupaten dan tentu saja menuntut perjuangan yang lebih besar lagi. Akhirnya Opi mengalah untuk tidak melanjutkan SMA karena keadaan yang tidak memungkinkan tersebut. Namun tekad bersekolah tidak sedikitpun hilang dari benaknya. Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu mengulurkan ‘tangan tak terlihat’-Nya melalui paman Opi yang merantau ke Jakarta. Opi pun ikut serta ke Jakarta dan menetap sebentar di rumah pamannya. Sampai akhirnya, takdir mempertemukan Opi dengan keluarga yang baik hati. Dari sinilah Opi diterima sebagai bagian dari keluarga itu. Ia berperan untuk menemani ibu yang saat itu mengalami depresi berat dan mengurus pekerjaan rumah yang ada. Setelah setengah tahun tinggal di sana, bapak yang diam-diam memperhatikan kegigihan Opi menawarinya untuk melanjutkan SMA. Hingga akhirnya Opi bisa kuliah sampai sekarang, itu semua adalah berkah yang Allah persembahkan untuknya yang mau bersabar.
Selain itu, Opi juga berhasil terpilih menjadi penerima beasiswa Marubeni pada semester ke-4 awal yang membebaskannya dari biaya semester. Terhitung awal semester 4, ia sudah tidak tinggal bersama keluarga itu lagi dan sekarang hidup mandiri. Usaha apapun ia jalankan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan supaya ibunya di kampung halaman tidak khawatir padanya.

Penggalan kisah hidup seorang Opi adalah cerminan bagi kita yang dari kecil sudah terbiasa hidup enak. Di belahan Indonesia sana, masih ada potret perjuangan seorang anak yang untuk bersekolah harus mencurahkan segenap usahanya seperti Opi. Ia juga menyampaikan pesan untuk pembaca. “Buat teman-teman yang masih memiliki kenikmatan kasih sayang orang tua dan rezeki yang cukup, bersyukurlah. Kita bisa saja menganggap cobaan hidup kita adalah beban yang berat, tapi di balik itu semua Allah memberikan kemudahan-kemudahan yang tak terduga. Semua itu perlu usaha, jangan mengeluh.”

Kawan, masih berani untuk tak mensyukuri hidupmu? 🙂

Interviewed and written by kudoamakusa – Japanology ’10

Nama: Rofi’ah
Prodi: Arab 2010
TTL: Kudus, 20 Juni 1990

Wanted Opi


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Freezy

The NERD Moviegoer

0 Comments

Leave a Reply