Kemajuan teknologi yang menjadi ciri khas revolusi industri 4.0 mulai memasuki berbagai sisi kehidupan kita. Beragam digitalisasi dan tuntutan untuk memiliki dan menguasai teknologi seolah makanan sehari-hari, tidak menyisakan ruang untuk apa pun yang berbau konvensional. Di era ini-lah dunia kita semakin sempit, bukan apa-apa, hidup kita tidak lagi hanya berdampingan dengan tumbuhan dan juga hewan, namun juga dengan teknologi.

Beberapa hari yang lalu, sebuah artikel dari CNN News menangkap perhatian saya. Seorang pria berusia 35 tahun di Jepang menikahi sebuah karakter anime. Berita ini bukan hanya sekedar click bait. Pria ini benar-benar melangsungkan seremoni pernikahan di suatu gereja dan pengantinnya adalah boneka dan hologram yang merefleksikan karakter anime tersebut.

Pria Jepang Nikahi Gadis Hologram Karakter Anime (sumber: cnnindonesia.com)

Berita ini membangkitkan rasa penasaran saya, sehingga saya melakukan research lebih lanjut. Ternyata, di tahun 2017, tercatat sudah lebih dari satu juta orang yang mencoba untuk menikahi Alexa –sebuah asisten teknologi virtual yang dikembangkan oleh Amazon- hal ini mengingatkan saya dengan suatu film fiksi ilmiah romantis (yang menurut hemat saya, film fiksi ilmiah terbaik sepanjang saya) berjudul Her.

advertisement

Film Her yang diperankan oleh Joaquin Phoenix (kebanyakan pembaca mungkin mulai akrab sama bapak satu ini sejak perannya sebagai Joker) bercerita tentang seorang laki-laki penyendiri yang pada awalnya mengalami patah hati karena harus bercerai dengan istrinya. Theodore (nama tokoh ini) kemudian memilih untuk menjauhi kehidupan sosial dan hingar bingar pergaulan manusia, dan mulai menghabiskan sebagian besar waktu luangnya bermain video games.

Di pertengahan cerita, Theodore digambarkan jatuh cinta dengan asisten virtualnya, Samantha (Scarlett Johansen) yang memiliki suara perempuan yang hangat dan memikat Theodore. Hari-hari pun berlalu, dan Theodore lebih sering berinteraksi dengan gadget-nya tersebut dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Mereka saling bertukar pikiran dengan intens, bahkan tidak jarang juga obrolan-obrolan yang muncul sifatnya intim.

Apa yang diceritakan dalam film ‘Her’ sepertinya benar-benar terjadi pada masa sekarang, di mana banyak dari kita yang sepertinya lebih terikat dengan gadget dibandingkan dengan manusia di sekitar kita. Bahkan bukan hanya terikat, bisa dibilang jatuh cinta. Karena itu juga, kita semakin jauh dari dunia nyata dan lebih nyaman dengan dunia virtual kita. Hmmm.. bisa gawat dong ya?

advertisement

Tamagotchi effect sepertinya bisa menjelaskan fenomena ini. Yup, sesuai dengan namanya, tamagotchi effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kita mulai mengembangkan ikatan emosional terhadap komputer, teknologi, dan juga mesin. Tidak main-main, fenomena ini juga seringkali diikuti dengan sebuah fobia yang bernama Nomophobia, yaitu suatu phobia yang dimiliki oleh orang-orang yang gak bisa jauh dari telpon genggamnya. Coba cek, apakah kamu adalah salah satu dari mereka?

BACA JUGA: Narsistik, Saat Semuanya Tentang Mereka

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Mengembangkan ikatan emosional pada suatu objek yang tidak bernyawa bukanlah sesuatu yang tidak mungkin, mengingat menjalin  ikatan emosional adalah kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial. Namun selain adanya  bawaan dari kodrat manusia tersebut, keberadaan teknologi yang berperan layaknya teman seperti yang disebutkan di atas ternyata memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam menciptakan ikatan emosional dibandingkan mahluk hidup.

advertisement

Plankton dan Istrinya

Plankton dan Istrinya (sumber: Twitter @spongbob_facts)

Pengaruh yang lebih kuat tersebut muncul karena pada umumnya, mahluk tidak hidup (non-animate) seperti komputer, boneka, karakter fiksi, dan masih banyak lagi, tidak berfungsi selayaknya manusia atau mahluk hidup lainnya. Mereka tidak akan marah ketika diabaikan, tidak akan pergi ketika tidak kunjung dinikahi, tidak akan menangis ketika tidak dibelikan mainan baru, atau sesederhana kenyataan bahwa mereka tidak perlu makan dan minum serta pelayanan lainnya untuk membuat mereka tetap hidup. Intinya, mereka beroperasi sesuai dengan apa yang diinginkan si empunya, dan dalam kata lain, mereka adalah wujud dari konsep kesempurnaan.

Apakah hal ini berbahaya?

Tentunya. Jika kalian memiliki banyak waktu untuk membaca, kalian akan menemukan jutaan literatur yang diterbitkan oleh para ahli tentang betapa berbahaya kondisi psikologis seorang manusia jika kekurangan interaksi sosial timbal balik dengan sesama manusia. Interaksi yang ada (antara manusia dan artificial intelligence) membuat manusia rentan terhadap masalah-masalah psikologis. Kecemasan, stres, depresi, sampai bunuh diri adalah efek samping yang paling sering muncul.

Mempertimbangkan beberapa efek negatif dari hal ini, mungkinkah kita harus membatasi pekembangan dari artificial intelligence, sebelum semuanya terlambat?

advertisement

BACA JUGA: Renungkan, Ini 4 Perspektif Baru Mengenai Kegilaan dan Kesehatan Mental!