Zahra, Sebuah Nama Sebuah Cerita


0

Zahra

Happiness is not so much in having as sharing. We make a living by what we get, but we make a life by what we give.

 -Norman MacEwan-

Halo semuanya, selamat pagi/siang/sore/malam :). Perkenalkan kembali saya Eva, YOT CA dari UI.

Bulan ini saya tidak menulis artikel opini seperti biasanya, tapi saya mau menceritakan pengalaman saya dengan Zahra, seorang gadis kecil manis dari SDN 07 Kebon Baru, Tebet.

Nama panggilannya Zahra, untuk nama lengkapnya saya tidak tahu. Kami bertemu di salah satu Sekolah Dasar di Tebet saat kami, Young On Top, mengadakan bakti sosial berupa pembagian buku cerita gratis, penyuluhan, pemeriksaan dan pembagian kacamata gratis.

Saat itu saya belum begitu mengenal Zahra karena disana kami dikerubungi begitu banyak anak-anak SD yang sangat bersemangat dan cari perhatian. Teman saya Steffira dikerubungi banyak anak dan dipanggil kakak Cherry Belle karena wajahnya yang agak Chinese. Sedangkan saya, dipanggil kak Nia karena mereka bilang saya mirip Nia Ramadhani (Walaupun sangat sangat jauh ngga mirip hihihi :p).

Sepulang dari SDN 07 Tebet, saya harus ke Balairung UI Depok untuk menghadiri acara Bedah Kampus karena saya adalah Humas FKG UI. Di perjalanan pulang, Zahra menghampiri saya dan bertanya :

“Kak, mau pulang ya ke arah Depok? Bareng yuk!”

“Lho memangnya rumah kamu dimana? Iya aku mau ke UI Depok ra”

“Rumah aku di bojong kak :)”

“Oh oke oke. Bareng temen-temenku juga yaaa.. ada kak Sirly sama kak Kenny :)”

karena saya tidak tahu jalan menuju stasiun, saya memintanya untuk memandu saya dan dia setuju.

Sesampainya di pinggir rel kereta api dimana saya harus naik angkot untuk menuju stasiun, Zahra pergi dan melambaikan tangannya. Saya lantas bertanya,

“Zahra mau kemana?”

“Mau pulang kak tapi Zahra lupa ngga bawa uang. Kakak naik angkot aja, Zahra mau jalan kaki sampai stasiun.”

“Lho ngga apa sini yuk santai aja. Kan pulangnya sama kakak”

Awalnya dia menolak, tapi setelah dibujuk akhirnya dia mau ikut pulang bersama saya, Kenny dan Sirly.

Saat perjalanan di kereta, kami tidak dapat tempat duduk. Akhirnya kami berdiri namun karena Zahra tangannya tidak cukup sampai ke pegangan, maka saya memegangi pundaknya dan disana kami banyak bercengkrama.

“Zahra setiap hari bolak-balik Bojong-Tebet?”

“Iya kak.”

“Kenapa sekolahya jauh banget? Memang di Bojong ngga ada SD yang bagus?”

“Ngga apa kak aku udah biasa dari usia 5 tahun. Ada saudara juga di Tebet, tapi aku harus pulang karena banyak tugas”

“Kalo gitu kenapa tadi tugasnya ngga dibawa? Kan biar sekalian. Jadi pulangnya nginep aja dirumah saudara daripada bolak-balik, capek.”

“Bukunya berat kak. Tas Zahra udah bolong takut ngga kuat hehehe”

“Hmm.. setiap hari begini memangnya berapa ongkos Zahra?”

“ Sepuluh ribu kak.”

“Cukup?”

“Sebenernya sih ngga kak. Makanya Zahra suka ngga jajan biar uangnya bisa ditabung.”

“Terus makannya gimana? Kamu bawa bekal?”

“Ngga sempet masak kak kalo pagi. Kan Zahra harus berangkat jam setengah 5 pagi.”

“Ibu ngga masak?”

“Ibu ngga pernah masak kak. Ohya kak Setiap hari Zahra bisa nabung 2-3 ribu lho kak! Kemarin tabungan Zahra, Zahra pakai untuk ikut audisi GirlBand! Bayarnya 520 ribu patungan sama temen-temen berdelapan. Kita nyanyi lagunya Cherry Belle yang beautiful.”

“Waaah hebat! Terus gimana, menang ngga?”

“Kalah kak. Yang ikut orang kaya semua, cantik-cantik. Sayang banget ya kak, padahal aku udah nabung.”

“Kamu juga cantik kok ;). Ngga apa kalah, yang penting kan udah usaha, jadi kamu punya pengalaman. Tapi saran aku, besok-besok kamu ikut lomba pelajaran aja. Olimpiade gitu-gitu. Dapet duit lho! Aku waktu dulu suka ikut lomba biar dapet duit banyak soalnya hehehe”

“Iya kak Zahra kemarin ikut olimpiade matematika, udah sampe kecamatan tapi ngga tau selanjutnya menang apa ngga. Zahra rangking 3 lho kak disekolah!!”

“Kamu pinter deh 🙂 ! Terusin ya ikut gitu-gitu, belajar terus yang rajin biar nanti kuliah di UI terus ketemu aku hehehe”

Sepanjang perjalanan banyak sekali hal yang saya bicarakan dengan Zahra. Mulai dari sekolahnya, sampai keluarganya. Ayah ibunya tidak bekerja. Ayahnya hanya berkebun kangkung untuk makan sehari-hari. Yang bekerja hanyalah kakak perempuannya. Zahra setiap pagi berangkat pukul 04.30 dan menaiki kereta ekonomi karena gratis. Dia juga bilang kalau pagi desak-desakkan ngga bisa duduk. Padahal saya saja Cuma berdiri selama 20 menit di kereta Tebet-Depok rasanya udah capek banget.

Lalu dia juga bercerita kalau dia akan menabung lagi untuk membeli tas baru karena tasnya bolong. Sepatunya juga bolong namun tas lebih penting. Kemarin waktu orang tuanya punya uang, ia mengalah untuk tidak membeli tas dulu karena adiknya juga butuh tas sekolah. Ohya cita-cita Zahra menjadi dokter atau polwan lho! Mulia ya 🙂

Entah kenapa, karena merasa akrab dengan Zahra, saya mengajaknya turun di UI dulu untuk berjalan-jalan. Sepanjang UI, saya dan Zahra bergandengan tangan sampai dikira kakak-adik. Bahkan sempat saya tidak boleh masuk ke Balairung UI oleh panitia karena dikira saya cuma orang yang nyelinap masuk sambil bawa-bawa adik. Namun atas jaminan Kartu Tanda Mahasiswa, akhirnya saya boleh masuk juga untuk izin sebentar ke teman-teman FKG saya karena saya mau berputar-putar mencari tas untuk Zahra.

Namun sayang, setelah mengelilingi Bazaar UI, tidak ada tas yang Zahra mau. Bahkan saat ditawari sepatu, Zahra menolak karena ia lebih membutuhkan tas. Padahal saat ke toilet, dia cerita kalau kaos kakinya basah kuyup karena sepatunya bolong L.

Akhirnya setelah makan siang, Zahra bilang kalau ia lelah dan saya juga harus kembali ke Balairung UI untuk menjaga stand. Sebelum Zahra pulang, yang bisa saya lakukan adalah memberinya sedikit rezeki orang tua saya untuk membeli tas. Saat itu kami saling mengaitkan kelingking dan saya memintanya berjanji saat saya main ke SD nya nanti, dia sudah harus memakai tas baru yang lebih kuat. Tidak bolong-bolong seperti sekarang.

Saat saya tweet tentang pengalaman saya bertemu Zahra, saya tidak menyangka akan banyak sekali respon positif yang masuk dan beberapa orang BBM saya bilang kalau mereka ingin membelikan sepatu untuk Zahra. Saat itu rasanya tersentuh sekali, bersyukur mempunyai teman-teman yang baik hati. :”)

Ohya saya sempat bertanya begini pada Zahra,

“Kamu ngga takut aku culik? Aku kan orang asing.”

Lalu dia jawab “Nggak kak. Justru aku yang ngga enak sama kakak. Kakak rugi ketemu aku. :(”

Sedih sekali mendengarnya. Walaupun terdengar klise, tapi saat itu rasanya pengen nemenin dia terus.

Zahra, saya beruntung ketemu kamu. Kamu yang berusia 12 tahun mengajarkan saya kesabaran dan keikhlasan untuk berbagi. Kamu yang masih kecil mengajarkan saya untuk ‘survive’ dan bersyukur walaupun hidup dalam kekurangan. Kamu yang masih kecil mengajarkan saya untuk terus berusaha meraih mimpi. Jadi girlband adalah impian besar kamu saat ini, semoga bisa tercapai suatu saat nanti ya! Beserta dokternya, juga polwannya. 🙂

There is always, always, always something to be thankful for. Thanks, Zahra. 🙂


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
evayuliandari

Future dentist :)

2 Comments

Leave a Reply

  1. wow! such a touching story. my eyes become teary after finish reading it. :yes: wah anak-anak indonesia masih ada yang memiliki kepolosan dan baik kayak zahra ya. beruntung kamu bisa kenal dia. pengen sebenernya ngerasain pengalaman dan berbagi dengan anak-anak sperti dia. semoga harapan dan impiannya tidak putus dikarenakan keterbatasan yang dimilikinya 😀