8.961 anggota | 2.850 tulisan | 13.145 komentar | daftar sekarang!

Login

Setelah login, halaman posting tulisan akan terbuka.
Register   |   Lupa Password?
tekan ESC atau klik luar form ini untuk kembali

Login

Register   |   Lupa Password?
tekan ESC atau klik luar form ini untuk kembali

Dampak Pemblokiran Facebook

 

Pada tanggal 15 Mei yang lalu, akses ke Facebook dari UI mulai ditutup pada jam jam tertentu. Hal ini mengundang reaksi pro dan kontra dikalangan mahasiswa. Fenomena ini seiring dengan hebohnya kekhawatiran di masyarakat akan dampak negatif Facebook. Mulai dari kalangan bisnis hingga ulamapun ikut membahas Facebook. Dampak dari social-media memang sungguh luar biasa.

Bagaimana seharusnya kita kaum akademisi menyikapi Facebook? Untuk menjawab itu harus dipahami terlebih dahulu apa itu social-media dan aspek aspek yang menyertainya. Facebook adalah sebuah social-media dimana salah satu cirinya adalah kemampuannya dalam menghubungkan antara satu orang dengan teman-temannya kemudian saling berbagi informasi satu sama lain.

Komunikasi diantara mereka membentuk sebuah sistem sosial. Sistem sosial yang mengarah pada perubahan struktur sosial. Merubah cara bagaimana orang orang bersosialisasi. Perubahan ini pasti terjadi. Sebagai layaknya sebuah perubahan, memiliki arah. Heboh di masyarakat karena persoalan perubahan ini yang dianggap mengarah ke arah yang tidak baik.

Untuk dapat memahami perilaku yang dianggap memiliki arah negatif bisa dilihat dari tingkatan para pengguna social-media menurut perilakunya.

  • INACTIVES
    Tingkat pertama adalah orang yang hanya mendaftar lalu meninggalkan begitu saja account Facebooknya.
  • SPECTATORS
    Tingkat kedua adalah orang yang setelah mendaftar masih login sesekali hanya untuk melihat orang orang berkomunikasi di wall teman temannya, tidak pernah ikut komentar, tidak pernah ngetag apalagi upload foto.
  • JOINERS
    Tingkat ketiga adalah orang yang aktif memaintain profilenya, gonta ganti foto profile, become fan sana sini, ikut berbagai group tapi hanya untuk baca.
  • COLLECTORS
    Tingkat keempat adalah orang yang rajin posting link dari berbagai media, sangat rajin ngetag foto tapi jarang upload foto, ikut voting dan berbagai kuis.
  • CRITICS
    Tingkat kelima adalah orang yang suka komentar jahil di foto teman-temannya, suka bikin heboh dengan komentar provokatif di status teman, mereview note temen, berdebat di group dan kadang memaki capres tapi tidak pernah membuat tulisannya sendiri atau sekedar membuka thread baru di group
  • CREATORS
    Tingkat terakhir adalah orang yang suka upload foto, suka membuat tulisannya sendiri kemudian dipublish dalam note. Orang ini biasanya mengasuh group atau pernah membuat beberapa kuisnya sendiri. Singkatnya orang ini menciptakan konten.

Apa yang tampak di masyarakat sekarang mungkin paling banyak adalah para Critics yang memang belum bisa dilihat manfaatnya. Proses perubahan menuju Creators butuh waktu. Seberapa lama waktunya tergantung dari bagaimana kita menyikapinya, apakah proses tersebut difasilitasi atau justru malah dihambat.

Jika kita sudah sampai pada tingkat Creators maka dapat dibayangkan produktifitas yang tinggi. Jika produktifitas ini digunakan untuk tujuan organisasi atau institusi maka akan memberikan nilai tambah bahkan bisa menjadi capital buat organisasinya.

Seberapa penting masyarakat pengguna social-media perlu mempersiapkan diri menjadi para Creators adalah sama pentingnya dengan seberapa penting kita perlu menguasai teknologi baru.

Dua puluh tahun yang lalu masyakarat kita belum banyak yang menguasai teknologi PC. Sepuluh tahun kemudian PC sudah memasyarakat, tak terbayangkan orang bekerja tanpa PC. Tapi Internet (baca: Google) belum seperti sekarang. Sekarang tak terbayangkan Internet tanpa Google, tak ada informasi yang bisa diperoleh dengan lebih mudah selain menggunakan Google.

Lalu apa yang akan terjadi sepuluh tahun yang akan datang? Jawabannya adalah social-media. Dimasa yang akan datang semua produk dan layanan TI akan menggunakan social-media sebagai platform. Tahapannya pernah saya tulis di Blog saya, yang akan saya kutip sedikit.

Menurut Jeremiah Owyang seorang analis senior dari Forrester.com, social-media dimasa depan mengalami evolusi dalam lima era yang terjadi tidak secara berurutan tapi secara tumpang tindih.

Lima Era dari Social Media:

  1. Era Social Relationships: Orang menggunakan Social-media untuk saling terhubung ke orang lain dan saling berbagi informasi.
  2. Era Social Functionality: Social-media menjadi seperti sistem operasi dengan aplikasi sosial, namun identitas masih belum terpadu.
  3. Era Social Colonization: Identitas sudah terpadu dan setiap transaksi dapat diketahui karena terhubung ke dalam jaringan aplikasi sosial.
  4. Era Social Context: Pada era ini sebuah situs sosial dapat memberikan layanan sesuai dengan konteks pelanggannya. Social-media akan menjadi platform untuk semua layanan TI.
  5. Era Social Commerce: Ini era dimana masyarakat dapat menentukan bagaimana masa depan sebuah produk atau layanan.

Berikut adalah diagram rentang waktu terjadinya era era tersebut.

Lima Era Social Media

Lima Era Social Media

Dunia telah memasuki kematangan dari era Social Relationships, juga telah masuk ke era Social Functionality namun belum benar benar terutilisasi, dan mulai masuk ke era Social Colonization dengan teknologi awal seperti Facebook Connect. Identitas terpadu ini akan segera memberdayakan masyarakat untuk memasuki era Social Context dengan personalisasi konten.

Jika dunia telah masuk ke era yang lebih tinggi sementara kita masih di era yang lebih rendah maka kita akan tertinggal di berbagai lini, sosial, politik, pendidikan dan ekonomi, bahkan pertahanan dan keamanan.

Langkah langkah yang mesti diambil untuk mempersiapkan diri memasuki era tersebut telah dipaparkan pada blog saya. Sekarang yang ingin saya bahas adalah kondisi kita di UI.

Sesungguhnya teman teman pengguna Facebook sudah mulai banyak yang menjadi Creators walaupun aktifitas sebagai Critics atau bahkan Collectors tidak benar benar negatif. Saya akan ambil beberapa screenshoot dari percakapan kami di Facebook.

Misalnya tentang tugas kuliah.

Walaupun aktifitas yang terjadi mungkin baru tingkatan Critics tapi bukan berarti tanpa manfaat sebab pada dasarnya konsepnya adalah knowledge exchange.

Knowledge exchange bisa terjadi antara teman kuliah.

Atau antara mahasiswa UI dengan bukan mahasiswa UI.

Pernah suatu kali dalam mata kuliah manajemen sistem informasi korporat kami sedang diskusi tentang ERP dan seperti biasa kami membuat status FB kami masing masing dengan isu yang sedang di diskusikan. Perkuliahan kamipun dapat “diikuti” oleh siapapun yang berkunjung ke profile kami. Kebetulan salah satunya adalah dosen dari Universitas lain yang sedang studi S3 di Jerman memberikan masukan pada kami melalui FB.

Diskusi menjadi lebih kaya dan hidup dengan masukan masukan yang diberikan. Secara perlahan tercipta ritme jika kami kuliah maka orang orang yang berminat muncul memberi tanggapan. Temen temen sekelas semakin antusias untuk membuka Facebook pada saat kuliah. Mungkin sekarang mereka masih banyak menjadi Spectators tapi proses terus berjalan dan mereka dibiasakan untuk menggunakan social-media sebagai media belajar.

Jika telah menjadi  Creators maka banyak hal yang bisa dilakukan. Contohnya adalah kuis dengan materi mata kuliah yang walaupun tidak resmi digunakan sebagai nilai tapi tentu bermanfaat sebagai latihan.

Apa yang tampak sekarang sebagai sesuatu yang negatif karena makan biaya besar, sesungguhnya adalah sebuah proses. Sayang sekali sebuah proses pembelajaran yang seharusnya difasilitasi oleh Universitas tapi itu tidak terjadi.

Memang butuh biaya yang besar tapi dampaknya juga signifikan. Akhir tahun ini kita sudah akan memasuki era ketiga (Social Colonization), dimana sudah mulai banyak situs situs yang menyertakan Facebook-Connect sebagai fasilitas berpartisipasi dengan situs mereka. Salah satunya adalah portal berita Detik.com

Tapi karena akses Facebook dari UI di blok maka tombol FB-Connect tersebut tidak muncul bila diakses dari UI.

Bila era Social Colonization sudah mulai matang maka hampir semua situs akan menggunakan social-media sebagai mekanisme untuk membuat identias terpadu di Internet. Bagaimana kita bisa belajar akan pergeseran paradigma ini dengan cepat kalau tidak difasilitasi. Akankah Indonesia yang besar dan luas ini bergantung hanya dari Facebook saja? Kita harus punya teknologi kita sendiri. Untuk itu perlu belajar. Ayo dong… buka lagi Facebooknya…

 

Tags:

 
 

Tulisan Lainnya

15 Comments

 
  1. ardisragen says:

    wah.. klo dilihat dari kategori diatas.. aku dah sampai creator dunk.. alhamdulilah…

    sepakat mas.. era ke depan… memang era social networking…

  2. hmm…salut buat penulis..(penulis sudah berada pada posisi Creator)..hmm.. maklum saya kenal dekat ama dia..dan rajin memposting link2 yang bermanfaat di profil FB nya..

    Semoga tulisan ini bisa membuka cakrawala kita bahwa Facebook sbg social media itu sangat besar manfaatnya bagi sebahagian besar kalangan…

    Dilematis memang, saat ini MUI mengeluarkan fatwa haram atas penggunaan FB hanya berdasarkan pandangan yang bersifat subjektif..Begitu pula buat institusi UI yang ikut2an melakukan proses access block terhadap FB pada jam-jam tertentu..kan kasian yang memanfaatkan Fb sebagai fasilitas riset buat tugas akhirnya..

    Alhasil semua kembali kepada setiap masing-masing individu dalam memanfaatkan FB..

  3. iLm@N says:

    kebanyakan di antara mahasiswa UI itu masuk tahap COLLECTORS dan CRITICS ya..

    kalau ada cukup banyak (meskipun ga mayoritas) mahasiswa dan dosen UI menggunakan facebook untuk media pembelajaran, mungkin pembatasan akses facebook ini akan sangat menganggu..

    namun faktanya, ga banyak dosen dan mahasiswa UI yang melakukan seperti yang mas wibi contohin di atas.. akhirnya ya kita mahasiswa sabar dan ga kenapa-kenapa juga facebook dibatasin aksesnya.. toh ga diblok total, dan emang waktu optimal buat mainan facebook ya setelah kuliah..

    btw, gimana ya caranya supaya pelan2 banyak di antara kita yang masuk tahapan CREATORS?

  4. namun faktanya, ga banyak dosen dan mahasiswa UI yang melakukan seperti yang mas wibi contohin di atas..

    mungkin lebih tepat dikatakan belum banyak…

    btw, gimana ya caranya supaya pelan2 banyak di antara kita yang masuk tahapan CREATORS?

    lihat salah contoh diatas dimana ada teman yang sebelumnya membuat catatan dalam notepadnya tapi kemudian ikut memposting catatannya itu ke dalam komentar, sesungguhnya itu langkah maju sesuai konsep web2.0

    para Critics berpotensi besar menjadi Creators ketika dimotivasi oleh situasi yang kondusif

    situasi yang kondusif artinya bisa akses facebook :-)

  5. doni says:

    sepertinya memang Facebook belum menjadi kebutuhan utama dalam proses akademis di UI, paling tidak itu mayoritas (tidak menutup mata pada beberapa kasus yang mengangkat FB sebagai materi atau bahan kuliah)…
    dan seperti yang pernah kita dengar dari penjelasan admin, bahwa di jam-jam tertentu yang sebetulnya kebutuhan bandwith untuk mencari bahan2 kuliah di jurnal2 online, menjadi “tergusur” akibat lebih banyak mahasiswa yang mengakses fesbuk (yang lagi2 mayoritas belum digunakan untuk keperluan akademik)… Jadi kasihan kan orang yang butuh bandwith untuk mengakses ke jurnal online menjadi terhambat, padahal tujuan utama pengadaan jaringan internet di UI adalah untuk memfasilitasi keperluan akademik dari mayoritas civitas UI…
    jadi menurut saya cukup adil kok, semi-pemblokiran ini… toh masih diberi kesempatan untuk membuka di jam-jam setelah kuliah,…
    Dan mari kita pahami peraturan ini diberlakukan karena akses fesbuk melalui jaringan UI sudah tidak wajar, dalam artian, wonk dah di dalam kelas kok masih aja fesbukan *denger-denger isu di salah satu fakultas UI, seorang dosen yang tersinggung akibat mahasiswanya asik fesbukan di kelas ketika si dosen sibuk menerangkan materi kuliah, chatting-an euy*

  6. kebutuhan bandwith untuk mencari bahan2 kuliah di jurnal2 online, menjadi “tergusur” akibat lebih banyak mahasiswa yang mengakses fesbuk

    ini sudah kesimpulan, mungkin agak loncat menyimpulkannya

    sebab 1/3 proxy tidak sama dengan 1/3 bandwidth
    justru kalau dia ada dalam proxy maka akan mengurangi trafic keluar karena request dapat dilayani oleh proxy

    apa yang ada dalam proxy lebih mencerminkan jumlah request yang di cache oleh server, bisa saja satu request streaming dari youtube size-nya sama dengan 10 request ke facebook

    denger-denger isu di salah satu fakultas UI, seorang dosen yang tersinggung akibat mahasiswanya asik fesbukan di kelas ketika si dosen sibuk menerangkan materi kuliah, chatting-an euy

    kalau memang benar ini penyebabnya maka artinya ini bukan masalah bandwidth, disiplin dalam kelas harus ditegakan dengan cara yang tentunya mendidik

    tentu bisa ditegur atau dilakukan pendekatan yang lebih kreatif, tak perlu sampe diblokir, bila perlu diarahkan, kan sudah kuliah jadi gak perlu diperlakukan seperti anak SMA :-)

    tapi terlepas dari semua itu tidak dipungkiri ekses negatif dari facebook masih lebih besar ketimbang positifnya, mahasiswa masih dalam taraf mengenali “mainan baru” dan mungkin karena itu jadi masih berperilaku seperti Critics

    masih sedikit yang menjadi Creators di facebook, sekali lagi ini proses, semakin dihambat semakin panjang kita berkutat dengan ekses negatif ini

    untuk mempercepat perlu kita pikirkan sistematikanya

    menurut kurt lewin, bahavior adalah fungsi dari person dan environment, kita tak bisa mengubah person maka yang bisa kita lakukan adalah merancang environment untuk mendapatkan behavior yang diinginkan

    jika behavior yang kita inginkan adalah mahasiswa mau menggunakan facebook sebagai sarana belajar

    maka strateginya adalah memposting banyak konten yang berkaitan dengan perkuliahan dan menurut hemat saya, hal ini bisa efektif jika dosen yang memulainya

    tapi dosen tak bisa diharapkan, untuk itu perlu ada aplikasi dalam facebook yang memuat informasi perkuliahan yang sifat update tiap hari…

  7. doni says:

    @Wibisono:
    yap betul… saya setuju kalo gitu, dan kalo perlu… semua jurnal online-nyah pindahin aja ke fesbuk…. sambul menyelam minum air trus keselek…. hehehe….

  8. kalo perlu… semua jurnal online-nyah pindahin aja ke fesbuk….

    mungkin tidka harus pindah, tapi sesuai prinsip social functionality, apa yang ada dalam Lontar hanya ditampilkan dari facebook, sementara data tetep di simpan di Lontar

    pernah pake iLike di facebook?

    lagu lagu yang ada di iLike facebook tidak di host di server facebook melainkan tetap ada di server iLike, tapi bisa di play dari facebook

    untuk bisa seperti itu sistem kita harus punya OpenAPI supaya developer bisa akses data Lontar dan ditampilkan di facebook, tidak hanya Lontar, SceLe dan SIAK NG juga kalo mau bisa dilakukan hal yang sama, cuma apakah didukung oleh kebijakan? saya rasa masih jauh yah… tapi tetep harus diperjuangkan

  9. ayyeshakn says:

    Wah, tulisannya bagus punya nih..!! Cukup padat dan berisi…!!

    Tapi, waktu kemarin pas ngobrol2 sama temen2 mahasiswa dari malaysia yang baru aja main2 ke indonesia, satupun gak ada yang mengangguk kalo pas ditanya, “Punya facebook gak?”.

    Mayoritas dari mereka lebih menyukai blogs atau kalau mau chat tinggal pake YM aja, ketimbang bikin FB.

    Lagipula dengan blogs, mereka merasa lebih produktif dan tau gak sih, ada seorang teman yang hampir setiap hari meng-upload tulisannya yang padat informasi (tentunya ditulis sendiri), bahkan terkadang bernilai ilmiah, selain itu tulisan2nya ditulis dengan menggunakan bahasa inggris. Nah, kira2 kapan ya kita semua bisa seperti itu?

  10. mierwuzzhere says:

    Yang bikin saya bingung, dari sekian banyaknya social media di dunia maya, kok cuma Facebook aja yang menuai beragam peristiwa?? sampai-sampai sempat mau dikeluarkan fatwa haram..wadoooh wadoooh~ FS aja dulu nggak segitunya -_-”

  11. @ayyeshakn:

    Mayoritas dari mereka lebih menyukai blogs atau kalau mau chat tinggal pake YM aja, ketimbang bikin FB.

    saya senang dengarnya, semoga mereka bisa lebih meningkatkan aktifitasnya di blog

    Nah, kira2 kapan ya kita semua bisa seperti itu?

    jangan minder mbak.. :-)
    FYI ini dari wordcamp

    1. B.Indonesia menduduki rangking ke #3 di WordPress.com, hanya kalah dari b.Inggris & Spanyol

    2. B.Indonesia adalah yang tumbuh tercepat nomor #2 di WordPress.com

    3. Pengguna WordPress.org dan WordPress.com cukup berimbang : ini kejutan yang cukup menarik. Ternyata cukup besar pengguna WordPress yang bisa memasangnya sendiri (download dari wordpress.org, lalu setup)

    itu hanya wordpress, belum lagi dihitung dari mesin blog lokal sepert blogdetik dan dagdigdug

    so jangan pikir kita dibawah Malaysia… :-)
    Malaysia cuma mau Ambalat… hehe gak nyambung…

    @mierwuzzhere:

    Yang bikin saya bingung, dari sekian banyaknya social media di dunia maya, kok cuma Facebook aja yang menuai beragam peristiwa??

    karena facebook sudah mulai disruptive
    akibat dari kemampuan sharing informasinya
    fs gak punya fitur social seperti itu

  12. doni says:

    @ayyeshakn:
    yuk kita sama2 membangun semangat nge-blog kita… gabung ke forum blogger UI donk di
    http://www.anakui.com/forum/topic.php?id=72
    kita sharing tentang ngeblog di sana… biar kualitas tulisan kita semakin meningkat…

  13. Adi Dharma says:

    wah, beneran di block?…sadis banget orang ITnya hehehe

    Eh, kalo bukan anak UI boleh komen gak :D

    Sebenernya yang bikin facebook booming salah satunya karena prosesnya serba instant…proses apa? proses social interactionnya, tinggal klak klik udah nyambung.

    Buat kebanyakan orang cara yg instant itu indah sekali, dengan sedikit effort pengakuan dunia luar terhadap dirinya langsung ada

    Beda dengan cara manual kaya bikin blog, personal web, portfolio, photoblog, forum, dll yang dirasa terlalu rumit untuk sebagian orang.

    Di sisi lain, nggak sedikit orang yg merasa usability dari facebook agak terbatas..itu yang mungkin bikin nggak semua orang ternyata punya facebook, atau mungkin memanfaatkan facebook cuma sebatas yang dia perlukan aja…itu jadi salah satu pembentuk tingkatan pengguna facebook seperti diatas.

    btw nice article :)

  14. ngarepZizi says:

    Apa kekurangan SCeLE dibanding FB?

  15. iLm@N says:

    # ngarepZizi
    hmm.. banyaaaak :D

    ga bisa chatting, ga bisa ngetag foto, ga bisa ngetag notes, ga bisa wall-wallan, hehe..

    sebenernya ga bisa ngebandingin SCeLE dengan FB langsung, karena yang satu itu LMS (Learning Management System), yang satunya lagi itu Social Network.. kaya bandingin apel dan jeruk deh..

    tapi kalo mau dipaksain dibandingin dengan ngambil satu parameter perbandingan buat pembelajaran, SCeLE itu menurut saya “kurang mengkoneksikan” antar orang.. lihat aja kita pasti jarang buka forum diskusi di SCeLE, bandingin dengan diskusi di notes.. kita yang ga ditag aja bisa ujug2 masuk ke notes seseorang kalo banyak temen kita ditag atau komentar di sana..

    coba SCeLE ada fitur itunya ya.. bisa2 diblok sama UI juga karena ngabisin bandwidth :D *yang ini becanda*

 

Leave a Comment

 

Gunakan Gravatar untuk menampilkan avatar.

Silakan login dulu supaya bisa ngasih komentar.