Pada tanggal 15 Mei yang lalu, akses ke Facebook dari UI mulai ditutup pada jam jam tertentu. Hal ini mengundang reaksi pro dan kontra dikalangan mahasiswa. Fenomena ini seiring dengan hebohnya kekhawatiran di masyarakat akan dampak negatif Facebook. Mulai dari kalangan bisnis hingga ulamapun ikut membahas Facebook. Dampak dari social-media memang sungguh luar biasa.

Bagaimana seharusnya kita kaum akademisi menyikapi Facebook? Untuk menjawab itu harus dipahami terlebih dahulu apa itu social-media dan aspek aspek yang menyertainya. Facebook adalah sebuah social-media dimana salah satu cirinya adalah kemampuannya dalam menghubungkan antara satu orang dengan teman-temannya kemudian saling berbagi informasi satu sama lain.

Komunikasi diantara mereka membentuk sebuah sistem sosial. Sistem sosial yang mengarah pada perubahan struktur sosial. Merubah cara bagaimana orang orang bersosialisasi. Perubahan ini pasti terjadi. Sebagai layaknya sebuah perubahan, memiliki arah. Heboh di masyarakat karena persoalan perubahan ini yang dianggap mengarah ke arah yang tidak baik.

Untuk dapat memahami perilaku yang dianggap memiliki arah negatif bisa dilihat dari tingkatan para pengguna social-media menurut perilakunya.

  • INACTIVES
    Tingkat pertama adalah orang yang hanya mendaftar lalu meninggalkan begitu saja account Facebooknya.
  • SPECTATORS
    Tingkat kedua adalah orang yang setelah mendaftar masih login sesekali hanya untuk melihat orang orang berkomunikasi di wall teman temannya, tidak pernah ikut komentar, tidak pernah ngetag apalagi upload foto.
  • JOINERS
    Tingkat ketiga adalah orang yang aktif memaintain profilenya, gonta ganti foto profile, become fan sana sini, ikut berbagai group tapi hanya untuk baca.
  • COLLECTORS
    Tingkat keempat adalah orang yang rajin posting link dari berbagai media, sangat rajin ngetag foto tapi jarang upload foto, ikut voting dan berbagai kuis.
  • CRITICS
    Tingkat kelima adalah orang yang suka komentar jahil di foto teman-temannya, suka bikin heboh dengan komentar provokatif di status teman, mereview note temen, berdebat di group dan kadang memaki capres tapi tidak pernah membuat tulisannya sendiri atau sekedar membuka thread baru di group
  • CREATORS
    Tingkat terakhir adalah orang yang suka upload foto, suka membuat tulisannya sendiri kemudian dipublish dalam note. Orang ini biasanya mengasuh group atau pernah membuat beberapa kuisnya sendiri. Singkatnya orang ini menciptakan konten.

Apa yang tampak di masyarakat sekarang mungkin paling banyak adalah para Critics yang memang belum bisa dilihat manfaatnya. Proses perubahan menuju Creators butuh waktu. Seberapa lama waktunya tergantung dari bagaimana kita menyikapinya, apakah proses tersebut difasilitasi atau justru malah dihambat.

Jika kita sudah sampai pada tingkat Creators maka dapat dibayangkan produktifitas yang tinggi. Jika produktifitas ini digunakan untuk tujuan organisasi atau institusi maka akan memberikan nilai tambah bahkan bisa menjadi capital buat organisasinya.

Seberapa penting masyarakat pengguna social-media perlu mempersiapkan diri menjadi para Creators adalah sama pentingnya dengan seberapa penting kita perlu menguasai teknologi baru.

Dua puluh tahun yang lalu masyakarat kita belum banyak yang menguasai teknologi PC. Sepuluh tahun kemudian PC sudah memasyarakat, tak terbayangkan orang bekerja tanpa PC. Tapi Internet (baca: Google) belum seperti sekarang. Sekarang tak terbayangkan Internet tanpa Google, tak ada informasi yang bisa diperoleh dengan lebih mudah selain menggunakan Google.

Lalu apa yang akan terjadi sepuluh tahun yang akan datang? Jawabannya adalah social-media. Dimasa yang akan datang semua produk dan layanan TI akan menggunakan social-media sebagai platform. Tahapannya pernah saya tulis di Blog saya, yang akan saya kutip sedikit.

Menurut Jeremiah Owyang seorang analis senior dari Forrester.com, social-media dimasa depan mengalami evolusi dalam lima era yang terjadi tidak secara berurutan tapi secara tumpang tindih.

Lima Era dari Social Media:

  1. Era Social Relationships: Orang menggunakan Social-media untuk saling terhubung ke orang lain dan saling berbagi informasi.
  2. Era Social Functionality: Social-media menjadi seperti sistem operasi dengan aplikasi sosial, namun identitas masih belum terpadu.
  3. Era Social Colonization: Identitas sudah terpadu dan setiap transaksi dapat diketahui karena terhubung ke dalam jaringan aplikasi sosial.
  4. Era Social Context: Pada era ini sebuah situs sosial dapat memberikan layanan sesuai dengan konteks pelanggannya. Social-media akan menjadi platform untuk semua layanan TI.
  5. Era Social Commerce: Ini era dimana masyarakat dapat menentukan bagaimana masa depan sebuah produk atau layanan.

Berikut adalah diagram rentang waktu terjadinya era era tersebut.

Lima Era Social Media

Lima Era Social Media

Dunia telah memasuki kematangan dari era Social Relationships, juga telah masuk ke era Social Functionality namun belum benar benar terutilisasi, dan mulai masuk ke era Social Colonization dengan teknologi awal seperti Facebook Connect. Identitas terpadu ini akan segera memberdayakan masyarakat untuk memasuki era Social Context dengan personalisasi konten.

Jika dunia telah masuk ke era yang lebih tinggi sementara kita masih di era yang lebih rendah maka kita akan tertinggal di berbagai lini, sosial, politik, pendidikan dan ekonomi, bahkan pertahanan dan keamanan.

Langkah langkah yang mesti diambil untuk mempersiapkan diri memasuki era tersebut telah dipaparkan pada blog saya. Sekarang yang ingin saya bahas adalah kondisi kita di UI.

Sesungguhnya teman teman pengguna Facebook sudah mulai banyak yang menjadi Creators walaupun aktifitas sebagai Critics atau bahkan Collectors tidak benar benar negatif. Saya akan ambil beberapa screenshoot dari percakapan kami di Facebook.

Misalnya tentang tugas kuliah.

Walaupun aktifitas yang terjadi mungkin baru tingkatan Critics tapi bukan berarti tanpa manfaat sebab pada dasarnya konsepnya adalah knowledge exchange.

Knowledge exchange bisa terjadi antara teman kuliah.

Atau antara mahasiswa UI dengan bukan mahasiswa UI.

Pernah suatu kali dalam mata kuliah manajemen sistem informasi korporat kami sedang diskusi tentang ERP dan seperti biasa kami membuat status FB kami masing masing dengan isu yang sedang di diskusikan. Perkuliahan kamipun dapat “diikuti” oleh siapapun yang berkunjung ke profile kami. Kebetulan salah satunya adalah dosen dari Universitas lain yang sedang studi S3 di Jerman memberikan masukan pada kami melalui FB.

Diskusi menjadi lebih kaya dan hidup dengan masukan masukan yang diberikan. Secara perlahan tercipta ritme jika kami kuliah maka orang orang yang berminat muncul memberi tanggapan. Temen temen sekelas semakin antusias untuk membuka Facebook pada saat kuliah. Mungkin sekarang mereka masih banyak menjadi Spectators tapi proses terus berjalan dan mereka dibiasakan untuk menggunakan social-media sebagai media belajar.

Jika telah menjadi  Creators maka banyak hal yang bisa dilakukan. Contohnya adalah kuis dengan materi mata kuliah yang walaupun tidak resmi digunakan sebagai nilai tapi tentu bermanfaat sebagai latihan.

Apa yang tampak sekarang sebagai sesuatu yang negatif karena makan biaya besar, sesungguhnya adalah sebuah proses. Sayang sekali sebuah proses pembelajaran yang seharusnya difasilitasi oleh Universitas tapi itu tidak terjadi.

Memang butuh biaya yang besar tapi dampaknya juga signifikan. Akhir tahun ini kita sudah akan memasuki era ketiga (Social Colonization), dimana sudah mulai banyak situs situs yang menyertakan Facebook-Connect sebagai fasilitas berpartisipasi dengan situs mereka. Salah satunya adalah portal berita Detik.com

Tapi karena akses Facebook dari UI di blok maka tombol FB-Connect tersebut tidak muncul bila diakses dari UI.

Bila era Social Colonization sudah mulai matang maka hampir semua situs akan menggunakan social-media sebagai mekanisme untuk membuat identias terpadu di Internet. Bagaimana kita bisa belajar akan pergeseran paradigma ini dengan cepat kalau tidak difasilitasi. Akankah Indonesia yang besar dan luas ini bergantung hanya dari Facebook saja? Kita harus punya teknologi kita sendiri. Untuk itu perlu belajar. Ayo dong… buka lagi Facebooknya…