8.881 anggota | 2.797 tulisan | 13.142 komentar | daftar sekarang!

Login

Setelah login, halaman posting tulisan akan terbuka.
Register   |   Lupa Password?
tekan ESC atau klik luar form ini untuk kembali

Login

Register   |   Lupa Password?
tekan ESC atau klik luar form ini untuk kembali

Kronologi Demonstrasi Mahasiswa UI 17 Agustus 2011

 
Bentrok Aksi UI 17 Agustus pedomannews.com

Bentrok Aksi UI 17 Agustus (sumber gambar: pedomannews.com)

Rabu, 17 Agustus 2011 sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan UI melakukan aksi demonstrasi di kampus UI Depok. Aksi dilakukan untuk menuntut transparansi anggaran dan evaluasi sistem BOP Berkeadilan yang dinilai sarat dengan keganjilan.

Dipilihnya tanggal 17 Agustus sebagai hari untuk unjuk rasa adalah untuk menunjukan bahwa di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Mahasiswa dan Masyarakat belum merdeka dalam hal pendidikan, yaitu masih dibelenggunya mahasiswa dengan biaya kuliah yang mahal dan ketidakjelasan sistem BOPB.

Pada pukul 08.30 massa aksi telah berkumpul di halte PNJ (Politeknik Negeri Jakarta) sambil membentangkan spanduk, dengan jumlah massa 10 orang mahasiswa. . Kemudian datang lagi 5 orang yang menysul. Selanjutnya aksi dimulai dengan berjalan menuju Raktorat UI, sesuai yang telah direncanakan.

Namun ketika masih berada di depan halte PNJ massa telah dihadang oleh barikade petugas keamanan kampus. Massa diminta menjauhi area gedung rektorat. Ketika massa berusaha untuk tetap berada di tempat, pihak keamanan kampus langsung bertindak represif dengan mendorong massa aksi dan merampas atribut aksi. Salah satu atribut aksi yang dirampas petugas yaitu sebuah bendera merah putih, yang pada akhirnya robek saat terjadi aksi tarik-menarik antara petugas keamanan kampus dengan mahasiswa.

Seiorang mahasiswa yang memegang bambu bendera merah putih pun terluka pada bagian tanganya karena mencoba mempertahankan bendera agar tidak disita petugas. Akan tetapi pada akhirnya bendera merah putih berhasil disita oleh petugas keamanan kampus dan massa dipukul mundur menjauhi kawasan gedung rektorat UI.

Mahasiswa yang tergabung dalam aksi tersebut tetap melanjutkan aksi meskipun tidak lagi di depan gedung rektorat sesuai rencana awal, yaitu dengan berjalan sambil berorasi menyusuri jalanan melewati halte Kukel, halte FE dan belok ke jalan antara FIB dan FISIP.

Sesampainya di pertigaan depan FASILKOM massa memilih jalur ke arah FH. Namun disitu massa kembali dihadang oleh petugas yang kemudian kembali mendapatkan perlakuan represif dari petugas keamanan kampus. Massa didorong dan dipukul terlebih dahulu oleh petugas, sehingga terjadilah kericuhan.

Mendapat perlakuan demikian dari pihak kampus mahasiswa beruasaha menahan diri untuk tidak membalas, dan melakukan negosiasi dengan pihak keamanan sehingga pada akhirnya massa tetap dapat melakukan aksi demonstrasi dengan berputar arah menuju halte FIB dan berakhir di Bundaran Psikologi, akan tetapi aksi masih tetap dikawal ketat oleh petugas keamanan kampus yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah massa aksi.

Sesampainya di Bundaran Psikologi kira-kira pukul 10.00 WIB massa yang menyusul bertambah lagi 3 orang perempuan.  Aksi diakhiri dengan orasi-orasi singkat dan melakukan upacara bendera di pinggir jalanan di Bundaran Psikologi. Karena bendera telah disita, upacara hanya menggunakan kain saputangan berwarna merah dan putih yang diikatkan di tiang lampu jalan.

Seusai upacara dan orasi-orasi, terjadi dialog singkat antara mahasiswa dan kepala keamanan kampus namun tidak menemukan sebuah  kesepakatan. Aksi dibubarkan sekitar pukul 10.30 WIB.

———————-Jika dikatakan disejumlah media bahwa pihak rektorat melarang aksi karena mengganggu upacara bendera itu tidak benar, karena aksi dilakukan jam 9 sementara upacara bendera telah selesai dari sekitar jam setengah 9

———————-Jika teman-teman membaca berita yang ditulis di media tentang aksi ini mohon untuk lebih bijak menilainya, karena sebagian yang ditulis dalam beberapa media antara lain :

http://www.detiknews.com/read/2011/08/17/215012/1705539/10/dilarang-demo-saat-upacara-hut-ri-mahasiswa-ui-satpam-adu-jotos#kirimkomentar

http://pedomannews.com/kampus-a-karier/berita-kampus/news/6608-bop

adalah tidak benar, dan telah banyak dibelokan dan diputarbalikan tidak sesuai dengan fakta dilapangan, serta berlebihan.

———————–SANGAT DISAYANGKAN BAHWA TERNYATA SIKAP REKTORAT UI TERHADAP MAHASISWA YANG BERUNJUK RASA PAGI TADI DI LAPANGAN, JUGA SELANJUTNYA DI MEDIA MASSA SANGATLAH MEMOJOKAN MAHASISWA, DAN BEBERAPA FAKTA DIPUTARBALIKAN OLEH PIHAK REKTORAT——————————————

SEMOGA KEBENARAN TERUNGKAP, dan TUHAN BERSAMA ORANG-ORANG TERANIAYA :)

 

-Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan UI-

 

Tags:

 
 

Tulisan Lainnya

27 Comments

 
  1. AMYunus says:

    Ya tentu. Kami akan lebih bijak. Terima kasih. Percaya ga ya tapi? Hm,

  2. Ajeng Tonia says:

    turut berduka, sering sekali rektorat dan kebijakan nya merugikan mahasiswa

  3. ehhh, kok ga ke ekspose sih di media???

  4. Udaya says:

    Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan U tuh apaan sih?? posisinya di struktural IKM UI apaan?

  5. ivan says:

    Mbok ya tahu waktu juga kalau mau demo. Orang kan sedang upacara.

  6. Tapi kenapa demonya ambil momentum 17an? di pandangan masyarakat itu aja udah terlihat ga baik terlepas dari pelaksanaan yang dilakukan setelah selesai upacara bendera, tetap aja masih dalam suasana 17an. semua yang demo apakah ikut atau melakukan upacara bendera? curious to know?

  7. anismisi says:

    astaga, memang seribu manusia seribu pendapat, seribu karakter,, jadi marilah kita evaluasi diri..
    jadi apapun yang mereka lakukan. mungkin pemikiran,cara mereka, terlepas kenapa, apa, percaya atau ga, ikm atau bukan, momentum atau bukan, saat upacra atau ga.. jdi mai berpikir dan evaluasi diri sebelum adanya kata2 yang tak berkenan, dan hanya celotehan belaka, tanpa menyadari prilaku sendiri.. makasih..

  8. hagi says:

    itu bukan seorang yg berpendidikan….. itu yg turun cuma jamur masarakat

  9. depok

  10. gua anak matan koran di Fisap dan Fib

  11. gerakan says:

    Apa sih sebenarnya kategori ontologis dari demonstrasi?

    Kalau mau demo seharusnya bawa nama pribadi saja. Misal Rahmat, ya atas nama pribadi bernama Rahmat, atau Budi, ya atas nama pribadi bernama Budi.
    Kalau sudah ada kawanan orang, melakukan sesuatu tindakan yang mereka lantas definisikan sebagai demonstrasi (meskipun kita harus tahu dulu apa itu demosntrasi?) apalagi jika membawa nama UI, saya tidak sepakat.

    Pertama, suara orang-orang tersebut tidak bisa merepresentasikan seluruh civitas akademia (yang jumlahnya ribuan). Kalaupun mereka mau melakukan suatu tindakan atas nama UI, mereka harus mengubungi seluruh civitas akademia UI, satu persatu (yang kalau jumlahnya 6000, mereka harus datangi itu 6000 orang satu per satunya, lantas kemudian minta izin untuk melakukan ini dan itu). Kalau mereka tidak menghubungi 6000 orang itu misalnya, kegiatan ataupun suara yang mereka suarakan adalah atas nama pribadi ataupun kelompok tertentu. Ini berlaku juga untuk organisasi apapun di UI, termasuk BEM UI.

    Kedua, kalaupun mereka tetap kukuh bersuara atas nama UI. Orang-orang itu adalah tiranik, sok mau menangnya sendiri dan tidak menghargai ada banyak orang. Ini termasuk juga tindakan-tindakan demonstrasi yang dilakukan oleh BEM UI sendiri. Saya berpendapat mereka tidak berhak bersuara atas nama UI karena tidak representatif, dan belum meminta ijin kepada 6000orang civitas akademia UI (6000 orang ini misal).

    • Udaya says:

      ngerti sih maksudnya. tapi ga gitu juga lah. demokrasi sekarang ini mana ada yg masih langsung seperti itu.. masa timnas sepakbola Indonesia harus dipemilu-in dulu baru bisa ngatasnamain Indonesia.. ngga kan. mau ga mau kita harus nerima yg namanya perwakilan. tinggal gimana yang mewakilkan bisa mengakar ke yg diwakilkannya.

      • gerakan says:

        Hahahahaha.

        Kalau PSSI kan ada forumnya, namanya Kongres PSSI. Nah disitu kan segala macam aspirasi memang secara legal diberikan ruang. Ada aturan dan proses-prosesnya.

        Nah sekarang kalau Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan UI?? Ini kan gerombolan bentukan. Yang secara legal apapun patut dan bisa untuk dilakukan pengusutan dan tuntutan karena mereka menggunakan nama UI.

        Atau kalaupun BEM merasa juga merupakan representasi suara mahasiswa, karena mereka menggunakan jalur pemira misalnya. Itupun masih dapat kita sanksikan, karena suara partisipasi pemira adalah rendah dan tidak representatif. Baru sample saja, belum bisa dijadikan itu sebagai sebuah mandat dan legitimet.

        Ataupun juga, jika BEM ataupun organisasi lain di lingkungan kampus UI ini merasa sudah berada dalam jalur yang legitimet, kita pun masih bisa melacak, apakah proses pemilihan putusan untuk melakukan tindakan tersebut sudah ditupuskan dalam mekanisme forum yang demokratik. Saya kira, banyak sekali kegiatan yang seringkali mengatakan itu demonstrasi dsb, pertama-pertamanya pasti tidak melalui mekanisme forum yang benar.

    • Si bung gerakan ini, kritik sana sini, tapi ga berani pake nama sendiri hehe,,, btw bung ini angkatan berapa dan jurusan apa?? Tolong jawab dengan jujur ya :) Saya paham bahwa banyak sekali yang menolak bentuk demonstrasi atau aksi turun ke jalan tapi alasan yang dikemukakan oleh bung gerakan ini membuat saya yang bodoh ini makin bingung. Jadi dengan segala kerendahan hati mohon bung gerakan jawab beberapa pertanyaan saya :)

      Pertama bung bilang demo harus pake nama pribadi. Yang dimaksud demo pake nama pribadi itu seperti apa ya pendefinisiannya?? Setau saya sekumpulan mahasiswa yang demo ini telah menggunakan nama pribadi, yakni GMPP UI. Atau ini tidak termasuk pendefinisian oleh bung gerakan?

      Kedua mengapa yang demo tersebut harus menghubungi semua civitas akademika UI dan meminta izin mereka semua?? Saya mengasumsikan bahwa bung gerakan ini penganut direct democracy walaupun penerapan teori ini tidak tepat di sini menurut saya. Bisakah bung kasih contoh “demo yang representatif” dari jutaan demo yang pernah terjadi di seluruh dunia dimana peserta demo telah meminta izin dari SELURUH ORANG yang ingin diwakilinya?

      Ketiga bung bilang bahwa seseorang tidak berhak bersuara atas nama UI bila belum meminta izin dari seluruh civitas akademika UI. Nah bila rektor UI, mahasiswa UI, ataupun dosen UI dan bahkan organisasi UI ikut suatu konferensi dimana mereka mengatasnamakan UI, apakah ini termasuk tiran seperti yang bung maksudkan?? Sebab tak pernah tuh rektor, mahasiswa, dan dosen UI minta izin sama saya dan ribuan civitas lainnya ketika mereka mengatasnamakan UI.

      Mohon dijawab ya bung :) Oiya perkenalkan nama saya Danar Anindito mahasiswa FHUI angkatan 2007. Salam hangat :)

      • kimungs says:

        “Si bung gerakan ini, kritik sana sini, tapi ga berani pake nama sendiri hehe,,, btw bung ini angkatan berapa dan jurusan apa?? ”

        Yailah, tinggal di klik aja kayaknya usernamenya. Baru ya mas Danar Anindito di Anak UI.com ?

        • saya udah lama kenal dan sering komen di anakUI.com,, tapi baru tau kalo sekarang sistemnya kaya gini yg mengharuskan register terlebih dahulu untuk komen tanpa limit hehe,,, terimakasih atas pemberitahuannya :)

      • gerakan says:

        Hahahahaha. Saya daftar akun remsi kok di anakUI.com. Jadi kalau kamu klik profile name gerakan, di situ ada nama dan profile saya.

        {Frendy Kurniawan, Departemen Sosiologi 2006}

        Saya menggunaka nama profile gerakan, bukan tanpa sebab. Nama tersebut sekaligus menjadi visi dan tujuan profile ini dibuat: yaitu gerakan.

        Tujuan besarnya mencoba melakukan kritik terhadap seluruh rumor, dogma, ataupun sudut pandang yang terkadang kita menggunakan logika retoris ataupun biner.
        Kalau ingin berbincang lebih jauh, sangat terbuka. Anda bisa melakukan kontak. Data tersedia di dalam profile ini.

        Mungkin yang saya maksudkan adalah begini. Saya menggunakan dua terma yaitu universalitas dan partikularitas.

        Pertama. Ketika saya melakukan kritik terhadap kawan-kawan GMPP UI, saya melakukannya atas dasar kritik terhadap asumsi universalitas yang kemudian dijadikan dasar dari kawan-kawan GMPP UI. Asumsi universalitas tersebut adalah, kawan-kawan GMPP UI tidak menyadari dengan benar bagaimana posisi kompleks dari status peran yang mereka gunakan. Saya mengganggap mereka melakukan generalisasi yang terburu-buru hingga kemudian asal comot begitu saja mengambil sebuah terma (yakni GMPP UI) yang secara artikulatif jelas memberikan suasana dan pengaruh makna tersendiri. Karena ada embel-embel UI dibelakangnya.

        Dalam rasionalisasi saya, semisal ada kawan bernama A dari gerombolan GMPP UI, pastilah kawan tersebut memiliki status terdaftar secara sah sebagai mahasiswa UI. Dengan demikian, kawan tersebut dalam perannya sebagai mahasiswa UI jelas-jelas memiliki aturan dan tata cara tertentu dalam menjalankan tindakannya. Semisal ia, dalam posisi status mahasiswa UI merasa ada kebijakan yang tidak transparan dan bermasalah, tindakan pertama-tama yang harusnya kawan tersebut lakukan adalah menggunakan mekanisme yang benar sesuai tracknya sebagai mahasiswa UI. Misal, ia dapat melakukan penulisan surat terhadap pejabat/ otoritas kampus, atau juga menggunakan jalur MWA, atau juga menggunakan jalur negosiasi-dialog secara terbuka dan dalam ranah publik terhadap otoritas kampus.

        Jika semua jalan dialogis dan memenuhi aturan yang benar tersebut diatas tidak membuahkan hasil, barulah kawan-kawan tersebut menggunakan mekanisme mediasi pihak ketiga eksternal non kampus, semisal auditor keuangan, media massa, Depdiknas, DPR, Presiden dsb.

        Baru ketiga semua jalan dan mekanisme dialogis tersebut benar-benar tidak direspon dengan baik maka kawan-kawan tersebut haruslah mencoba melakukan pembukaan aspirasi umum serta sosialisasi publik civitas akademia (dalam hal ini melakukan dengar pendapat mahasiswa, membuat surat keinginan dalam kerangka memberitahukan melakukan aksi unjuk rasa damai kepada seluruh otoritas institusi kampus termasuk ILUNI) Dengan catatan pula, bahwa seluruh pernyataan ataupun seruan yang mungkin akan disampaikan kepada pihak otoritas kampus merupakan pendapat yang partikular dan bukan mewakili seluruh suara sah civitas akademis kampus.

        Saya tidak menolak unjuk rasa, hanya menolak jika kita terlalu sering gegabah dan tidak kreatif untuk menyalurkan pendapat.

        Apalagi ketika melihat dan membandingkan kronologis peristiwa aksi unjuk rasa kawan-kawan GMPP UI saya cukup prihatin dengan kejadian-kejadian sepele yang sepertinya sungguh sangat tidak berwibawa sebagai anak-anak UI yang cerdas dan kreatif. Misal, perebutan bendera dengan satpam, pertikaian yang tidak perlu dsb. Saya pikir mereka adalah kawan-kawan yang cerdas yang mampu mengolah daya rasional dan mampu juga membuat bagaimana segala aspirasi tersebut tersalurkan tanpa harus menjadi norak. Seolah-olah di kampus ini merupakan medan pertempuran dan dengan nuansa antagonisme dan konflik yang tinggi.
        Saya percaya kita punya aturan yang secara dewasa dapat kita pergunakan.

      • gerakan says:

        Kedua. Saya menanggapi pokok ini:

        “Ketiga bung bilang bahwa seseorang tidak berhak bersuara atas nama UI bila belum meminta izin dari seluruh civitas akademika UI. Nah bila rektor UI, mahasiswa UI, ataupun dosen UI dan bahkan organisasi UI ikut suatu konferensi dimana mereka mengatasnamakan UI, apakah ini termasuk tiran seperti yang bung maksudkan?? Sebab tak pernah tuh rektor, mahasiswa, dan dosen UI minta izin sama saya dan ribuan civitas lainnya ketika mereka mengatasnamakan UI”

        Ketika rektor UI ataupun dosen UI ataupun organisasi UI secara legal dan formal menyampaikan suara, mereka berhak karena mereka sedang menggunakan status sah dan legal mereka. Inipun dengan catatan: kalaupun rektor UI berbicara atas nama UI, seluruh pendapat dan suaranya pun bukan lantas menjadi suara universalitas seluruh civitas akademia. Suara rektor UI adalah suara Bapak Gumilar dalam peran dan tanggung jawabnya sebagai eksekutif otoritas kampus. Sangat terbuka jika orang lain dalam civitas mempunyai pendapat dan suara yang berbeda. Ini pun sah dan legal.
        Begitu juga dosen, ataupun organisasi yang lain secara formal. Suara dan pernyataan mereka adalah partikular yang merepresentasi universalitas. Kita dapat melakukan tuntutan secara legal apabila mereka melanggar aturan-aturan yang ada.

        Nah berbeda dengan GMPP UI. Saya menyebut kelompok ini dengan terma gerombolan karena melihat rekam jejak dan mekanisme yang mereka gunakan dalam menyalurkan pendapat. Andaikan pada saat unjuk rasa mereka melakukan suatu tindakan melanggar hukum, pastilah tuntutan yang dilakukan bukan secara institusional melainkan secara personal. Si A merusak fasilitas publik (misal), maka tuntutannya adalah terhadap si A {analogi yang hampir afinti dengan kasus Cieukesik}.

        Kawan-kawan GMPP UI, terutama dalam status mereka secara personal sebagai mahasiswa aktif UI harusnya dapat menggunakan cara dan strategi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

        Apa komentar anda dengan tindakan mereka saling berebut dengan satpam hanya karena bendera merah putih? Apakah para satpam tersebut bukan warga negara Indonesia dengan bendera merah putih? Hingga lantas harus berebutan? Apa urgensinya juga poin transparansi anggaran kampus dengan bendera merah putih?
        Bukannya kawan-kawan tersebut seharusnya membawa bermap-map laporan keuangan yang janggal??? Hingga mereka harus berunjuk rasa. Saya masih dapat menerima jika kawan-kawan GMPP UI berebutan dengan satpam karena berkas atau file-file laporan keuangan yang janggal. Tapi kalau bendera merah putih???
        Sangat norak dan sangat tidak mencerminkan sebagai mahasiswa yang dapat berfikir!

  12. gerakan says:

    Hati-hati dengan dogma gerakan sosial, jika kita tidak paham dasar-dasar ontologisnya dengan baik.

    Kalau kita hanya jadi mahasiswa yang cuma ikut-ikutan suara senior, anak-anak BEM, anak-anak aktivis yang selalu menyeru: mahasiswa selalu menjadi penjamin perubahan di negeri ini, hati-hatilah kita semua.

    Kita tidak jauh beda dengan orang yang dogma dengan sudut pandang tertentu secara radikal!

    Berhati-hatilah dengan rumor, dogma-dogma, ajaran-ajaran, sudut pandang ataupun juga fakta-fakta yang hanya diambil dari media, TV, internet ataupun diskusi-diskusi yang sepihak.

    Banyak orang disekitar kita telah dicuci otak dengan sudut pandang yang sempit agar menjadi radikal.

    Mari kita lawan radikalisme yang tidak mempunyai dasar-dasar ontologisnya yang jelas.
    Mari kita bangun radikalisme yang benar-benar radikal!

    Salam

    gerakan.kemanusiaan@gmail.com

  13. PRP says:

    anak-anak yg demo kebanyakan dr etnis apa?
    kayaknya ditunggangi…

    tanya??

  14. ANAK2 UI NORAK!!!!

  15. Mamat says:

    Mahasiswa UI ternyata masih jauh lebih jago ototnya dibanding otaknya.

  16. gerakan says:

    Kawan-kawan yang ingin memperjuangkan transparasi keuangan kampus, dapat melihat laporan keuangan tahun pertama kepemimpinan rektor Gumlira. Tahun 2008/2009.

    Secara khusus bagi kawan-kawan jurusan akuntasi dapat memberikan pengetahuan bagaimana cara membaca laporan keuangan ini.

    Berikut linknya:

    Untuk Neraca
    http://www.ui.ac.id/id/notice/archive/4874

    Untuk Aktiva Bersih
    http://www.ui.ac.id/id/notice/archive/4875

    Untuk Cash Flow
    http://www.ui.ac.id/id/notice/archive/4876

  17. gerakan says:

    Untuk tahun 2007/2008

    Untuk Neraca
    http://www.ui.ac.id/id/notice/archive/4883

    Untuk Aktiva Bersih
    http://www.ui.ac.id/id/notice/archive/4884

    Untuk Cash Flow
    http://www.ui.ac.id/id/notice/archive/4885

  18. Ramaryam says:

    Kalo mau menyampaikan pendapat, apa harus selalu lewat demo2? Efektifkah?

 

Leave a Comment

 

Gunakan Gravatar untuk menampilkan avatar.

Silakan login dulu supaya bisa ngasih komentar.